Nazaruddin dan Fahmi Hamzah ULENG gara-gara saling bongkar tindak korupsi. Mantan Bendahara Partai Demokrat itu bilang: “Saya akan menyerahkan segera berkas ke KPK tentang korupsi yang dilakukan oleh Fahri Hamzah. Nanti akan saya serahkan ke KPK datanya dengan jelas, posisi dia sebagai Wakil Ketua Komisi III, dimana saya nyerahkan uangnya, dimana dan berapa angkanya, dia menerima yang beberapa kali. Nanti saya akan sampaikan. Insyaallah, bukti yang saya serahkan ini cukup untuk membuat Fahri jadi tersangka.”

Tentu saja mantan petarung PKS yang dituding makan duit ini ngamuk. Dia ganti menuding Nazar telah membuat persekongkolan dengan KPK. “Ya saya lawan. Saya gulung ini Nazar dan kawan-kawannya, saya gulung ini! Coba tunjuk diri saja,” katanya dengan geram.

Melihat ULENG dua tokoh senasip, sama-sama di persona non grata_kan oleh induk politik mereka masing-masing, saya mencoba baca ulang skandal Cupumanik Astagina yang terjadi di Padhépokan Gratina, terletak di _lengkèhing Gunung Sukendra. Saking khusuknya bertapa dan bermatiraga, sampai-sampai Begawan Gotama yang memimpin padhépokan lupa akan kuwajiban sebagai suami. Ya sudah, bu Gotama atau Dewi Indradi yang masih kinyis-kinyis_mencari jalan keluar sendiri. Melihat _titah haus, Betara Surya yang terkenal thuk-mis_berkelébat mendekat. Tak usah tanya _ba atau bu, seusai bertugas memutar marahari dikala siang, sebelum pulang ke Kahyangan Ekacakra, dia mampir dulu ke Gratina untuk tugas malam hari. Agar bu Indradi tidak kesepian tatkala mas Surya bertugas, dewa matahari ini memberi hadiah mainan Cupumanik Astagina, yang daya kemampuannya bisa melihat keindahan lumahing bumi kureping langit.

Pada suatu hari, ketika Cupumanik sedang on air, bu Gotama mak leeer… ketiduran. Celakanya, Dewi Anjani masuk kamar sang ibu – kejodheran. Dewi Indradi bilang: “Kamu boleh ikut nonton, asal jangan bilang kepada siapapun bahwa Cupumanik ini berasal dari Betara Surya.” Repotnya, ketika ibu dan anak ini sedang asyik internetan, tiba-tiba Begawan Gotama datang dan bertanya: “Dari mana barang itu kau peroleh?” Anjani: “Cupumanik Astagina ini milik ibu.” Khawatir rahasianya terbongkar, sang ibu membantah mentah-mentah, dan terjadilah ULENG antara ibu dan anak.

Peristiwa ULENG diatas bisa disepadankan dengan ULENG antara bang Fahri dan bang Nazar tentang rahasia korupsi yang saling mereja tuduhkan. Akibat dibukanya rahasia Wakil Ketua DPR non fraksi ini oleh Nazaruddin, rakyat menjadi tahu seberapa tinggi konsustensinya akan sumpah jabatan yang diucapkan. Sebaliknya, rakyat akan menaruh hormat kepada bang Fahri Hamzah, bila dia bisa menggulung skandal atau persekongkolan pemberantasan korupsi yang pendhak byar dia katakan. Kita berharap, teka-teki korupsi diatas dapat dibawa kepengadilan. Biarlah Dewi Themis atau Dewi Keadilan yang bertutup mata, bisa bersabda dengan adil dan jernih, karena selain bunyi pasal per pasal peraturan perundang-undangan, etika juga bersemayam salam setiap tarikan napas.

Bang Fahri dan bang Nazar silakan ULENG. Tapi asal tahu saja, bahwa benarlah pendapat Empu Tantular dalam Serat Sota Soma – Tan Hana Dharma Mangrwa – tiada kerancuan dalam kebenaran. MERDEKA.
_TANCEP KAYON.