“Sekarang, kan, beliau punya power dan authority di Jakarta. Saya yakin Danau Sunter bisa dibikin seperti ini. Setuju enggak penonton? Mari (kira) sampaikan ke Pak Anies dan Pak Sandi,” kata Menteri Susi agar Danau Sunter bisa dibikin seperti di Geneva, Swiss.

Walau mengatakan tak menantang balik, tapi Gubernur Anies melawan. Dia bilang, yang kotor tidak hanya Danau Sunter, tapi perairan Kepulauan Seribu juga kotor. Oleh karena itu dia minta agar Bu Susi juga ikut bersihkan. “Oh, bukan tantang balik. Kita sama-sama bersihin. Saya bersihin danau, Bu Susi bersihin perairan,” imbuhnya.

Berbeda dengan bro-nya yang melakukan PERLAWANAN, Wakil Gubernur Sandi menanggapinya dengan sumèh dalam nuansa KONCO-AN. Dia bilang: “Teruma kasih Bu Susi, sudah bikin adrenalin kami terpacu. Kami terima tatangannya Bu Susi. Kami akan buat plan untuk mem beauty Danau Sunter.” Dan cak-cek, cak-cek, pembangunan Danau Sunter dia sempurnakan. Pokoknya, sekarang Danau Sunter sudah jooosss.

Sikap Wagub DKI Sandiaga Uno diatas juga diperlihatkan Bima terhadap Begawan Durna. Karena “percaya” bahwa gurunya itu tak berniat mencelakainya, maka dengan militansi tinggi Bima naik Gunung Gohmuka mencari Kayu Gung Susuhing Angin. Disana dia memperoleh anugerah ngèlmu, untuk mencapai tataran yang lebih tinggi, yang pertama-tama dilakukan manusia adalah mengendalikan Pancahindriya.

Setelah itu, bila Bima memang ingin mencapai kwalitas kemanusiaan yang lebih tinggi lagi, dia disuruh mencari Banyu Perwitasari di Samudera Minangkalbu. Bima: “Dimanakah itu Bapa?”. Durna: “Aku juga tidak tahu, sebab arahnya tergantung pada krenteging ati. Kalau kata hatimu keutara, ya pergilah keutara. Namun, bila kata hatimu keselatan, ya pergilah keselaran, dan seterusnya.” Sekali lagi dengan sikap “percaya”, di samudera tempat bersemayam naga siluman yang bersisik merah, hitam, kuning, dan putih, Bima berhasil menguasai empat nafsu manusia, yaitu amarah, aluamah, mutmaunah, dan supiah.

Dengan penguasaan semban nafsu diatas, Bima bisa berjumpa Dewa Ruci, sejati-jatinya Guru Kang Maha Hurip. Itulah out put”percaya”, KONCO-AN bukan PERLAWANAN.

Ceritera Dewa Ruci yang dasarnya bukan curiga tapi “percaya”, bisa disepadankan dengan sikap Wagub Sandiaga Uno terhadap Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dalam kasus Danau Sunter. Bang Sandi “percaya”, apa yang dikatakan Bu Susi tidak untuk menyindir atau intervensi kinerjanya. Itulah kunci Inggris_bagi pembuka sebuah kerja-sama. Setelah Danau Sunter beres, gantian dia tantang Mentri _nyèntrik ini nyebur danau yang sudah mèmper danau di Geneva, Swiss. Akhirnya bisa dibilang, tema Festival Danau Sunter adalah Susi vs Sandi. Susi akan addling- mendayung, sedang mas Sandi akan berenang. Keruan saja warga DKI suk-suk-an, berbondong-bondong ketepian Danau Sunter untuk melihat pertandingan langka.

Susi sudah sampai bendera digaris finish. Dia sudah memegang bendera tapi tak diangkat. Melihat lawannya tertinggal dibelakang, segera dia terjun keair menjemput Sandi. Setelah itu mereka berenang bareng, meraih bendera dan mengangkatnya bersama.

Susi senang, makanya dia bilang: “Luar biasa.” Sandi juga senang, makanya dengan santai dia bilang: “Memang perempuan lebih kuat dari laki-laki.” Pagi itu Warga DKI bersorak-sorai, bertepuk tangan, bersuit-suit sambil melompat-lompat kegirangan. Itulah out put “percaya”, KONCO-AN bukan PERLAWANAN.

Lho, dimana pak Gubernur? Oh, beliau sudah meninggalkan tempat sebelum acara usai. MERDEKA.
TANCEP KAYON