Sehabis bertemu dengan Presiden Jokowi, Ketua Umum Partai Politiki sing ayune ora ilok, mbak Grace Natalie mengatakan: “Dikasih (oleh Presiden Jokowi) tips-tips PSI agar bisa mencapai target dan menang Pemilu 2019.” Ketika ditanya TIPS PRESIDEN, dia bilang: “Rahasia dong. Tapi tadi beliau banyak kasih ide-ide dan seru-seru, keren-keren idenya.” Lha lak tenan. Ferry Juliantono dari GERINDRA ambil oper peranan Fadli Zon protes: “Pak Jokowi sekarang terang benderang mempertontonkan sikap yang terlalu kebelet (menjadi Presiden lagi), sehingga beliau mengabaikan beberapa prinsip yang seharusnya sebagai Presiden tak dilakukan.”

Presiden yang dikritik karena menerima mbak Grace Natalie, mbak Tsamara Amany, dan mas Raja Juli Antoni, mengingatkan saya akan Guru Bangsa Astina, Bhisma. Sejak Pandawa dan Kurawa masih kanak-kanak, tak henti dia memberi pelajaran budi pekerti luhur dan tata pemerintahan. Tak ada titik-koma yang dikurangi, demikian pula tak ada waktu yang ditambah atas satu trah yang telah terpolarisasi menjadi dua kelompok itu. Prinsip keadilan dipegung teguh oleh orang suci dari Peretapan Talkanda ini.

Karena panggula-wenthah yang berbeda, Pandawa berkembang menjadi ahli ke-tata-negara-an yang mengabdi kepada masyarakat atau Pamongpraja. Sebaliknya, Kurawa juga berkembang menjadi ahli ke-tata-praja-an tapi yang menguasai rakyat atau Pangrehpraja. Singkat ceritera, Kurawa memang jago, tapi brutal. Hari ke-10 perang Bharatayuda, Duryudana berang karena selalu keliru dalam memenuhi permintaan terakhir Bhisma.

Didepan raga tak berdaya, yang terbaring diatas panah dengan bantal onggokan tombak, dia tega berkata sengak: “Paman Sengkuni dan kamu Dursasana. Mari kita tinggalkan manusia (Bisma) sekarat ini.” Sekejap Bisma terkejut, tapi dia tetap tersenyum. Tiba-tiba dari antariksa terdengar suara kereta kencana merapat. Berbinar-binar Raden Dewabrata bersenandung Asmarandana: “Kene-kene wong ayu, caket-a pun kakang. Aku sudah tidak tahan lagi berpisah denganmu. Tugasku sudah usai bukan? Ulurkan tanganmu dan mari ber-gandheng tangan menghadap Sang Khalik.” Gendhing Monggang dan mak brebel….. air mataku berurai.

Sikap Resi Bisma terhadap Pandawa dan Kurawa bisa disepadankan dengan sikap Presiden Jokowi. Seperti halnya Bisma yang harus adil dan taat sumpah menjaga negeri Astina, hal yang sama juga berlaku bagi Presiden. Pak Jokowi yang mulai berlatih tinju ini harus tetap adil dan taat akan Sumpah Presiden yang pernah diucapkan pada bulan Oktober 2014 lalu. Disamping itu, adalah kuwajiban bagi setiap warga negara, terutama Partai Politik untuk menjaga sikap adil dan taat sumpah Presidennya. Untuk itulah kritik sangat dibutuhkan.

Dilain pihak, GERINDRA yang telah menempatkan dirinya sebagai gudang kritik karena berseberangan, juga harus bisa adil dan taat asas kritik. Dalam hal TIPS PRESIDEN kepada PSI, partai berlambang kepala garuda ini juga harus bisa menjelaskan, prinsip apa yang telah dilanggar Presiden Jokowi sehingga Wakil Ketua Umum-nya, Ferry Juliantono bisa berkesimpulan bahwa Pak Jokowi selak kebelet menjadi Presiden lagi.

Demikian pula tuduhan Wasekjen PKS, Mardani Ali Sera bahwa “Presiden offside”, juga memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dia harus bertutur kepada publik, mengapa pertemuan pimpinan teras PKS dengan Presiden Jokowi pada tanggal 15 Desember 2015 di Istana Negara tidak dianggap offside.

Sebenarnyalah, penjelasan-penjelasan itu perlu, agar jangan sampai mbak Grace dengan gaya anak-mudanya bilang: “nDesa, ah.” MERDEKA.
TANCEP KAYON.