Gregeten kepada Petugas Lapas yang kong-kalingkong sama bandar narkoba, Pak BUWAS protes: “Ini bagaimana? Kalau saya, saya cincang-cincang. Kenapa? Itu penghianat negara loh. Jangan main-main. Dia aparat negara, tetapi mengkhianati negara”. Ya, siapa orangnya yang tidak geram. Di tahun 2017 saja, 90 persen kasus narkoba yang ditangani BNN dikendalikan dari bui. “Silakan Kemenkumham kalau mau sanggah,” imbuhnya.
Lucunya, Menkumham Yasonna H Laoly malah ngguyu nyekekek atas kedongkolan Komjen (Pol) Budi Wasesa. Dia bilang: “Ha-ha-ha, ya itu biar beliau saja. Komentar beliau saja.” Lho, malah ngece? Dia kembali berkilah bahwa dirinya telah minta kepada BNN untuk menempatkan orang untuk ikut mengawasi. “Mana orang-orangnya? Kemarin sudah saya sediakan tempat supaya kami jaga bersama. Kami minta dari mereka juga untuk ikut. Tapi kan sampai saat ini enggak ada,” imbuhnya.

Pertengkaran dua Nayaka Praja ini juga terjadi dalam ceritera Gojali Suta. Pada waktu itu Arjuna protes kepada Kresna, gara-gara Boma Narakasura tega hanjejuwing Samba terkait cinta segitiga, Boma, Agnyanawati, dan Samba. Kresna: “Itu urusan rumah tangga Boma dan hukum yang berlaku di Trajutrisna.” Arjuna: “Apakah hukum bisa meniadakan etika, sehingga Boma bertindak kejam atas nama hukum. Lebih dari itu, Petruk telah bersaksi bahwa tindakan Setijo itu karena bujukan Garuda Wilmuka. Kakaprabu tahu, saya bisa kawin dengan adikmu Subadra ya karena jasa Samba. Kalau panjenengan melakukan pembiaran, aku akan melabrak anak lanang-mu yang mulang sarak itu.” Kresna bingung. Hari itu juga dia pergi ke Trajutrisna dan tutur-tutur kepada Boma: “Setija, jangan sekali-kali kamu berani melawan pamanmu Arjuna. Secara kodrati, hubunganku dengannya bagaikan kuntum bunga dan tangkainya, menjadi satu kesatuan. Bila kamu berani melawannya, sama saja kamu berani melawan aku.” Setija menganguk, tapi hatinya melawan.

Cerita Gojala Suta bisa disepadankan dengan pembiaran petugas lapas yang kong-kalingkong dengan narapidana pengedar narkoba. Tiga bulan setelah dilantik, BUWAS melontar gagasan untuk menjaga lapas dengan buaya. Itulah gaya Kepala BNN menyampaikan kepada publik, termasuk Menkumham, bahwa Indonesia telah benar-benar SOS narkoba. Dengan semangat tinggi, didepan rapat Kabinet Kerja-Kerja-Kerja, dia urai kegelisahannya akan darurat narkoba yang telah terjadi sejak 1971. Harapannya bersambut ketika Presiden Jokowi langsung memerintahkan Menkumham untuk menindak-lanjuti jalan keluar yang ditawarkannya. Ketika sampai akhir masa jabatan ternyata ora netes, seperti halnya Arjuna, dia melakukan “protes”. Kepada penggantinya, Irjen (Pol) Heru Winarko, dia mengingatkan, kerja BNN hanya akan menemui kesia-siaan bila tak ada perbaikan sistem pengawasan di Lapas. “Kalau masih begini, nanti Pak Heru juga akan keteteran,” pesannya.

Sekarang Pak Buwas sudah usai masa tugas. Banyak orang bertanya: “Terus mau apa pak?”. Kalau saya boleh mewakili-nya, jawaban-ku tegas: “Saya akan mengajak anda menuntut petugas lapas yang kong-kalingkong dengan nara pidana, termasuk yang kong-kalingkong dengan Togiman alias Toge alias Tony, bandar narkoba yang sudah divonis dua kali hukuman mati, tapi nggak mati-mati. Dia tetep hidup, bahkan bisa mengendalikan peredaran narkoba dari lapas. Bila Jassona H Laoly masih “ha-ha hI-hI…”, ya apa boleh buat, arep tak elok-ke dosane.” Itu baru BUWAS. MERDEKA
TANCEP KAYON