Para Wakil Presiden negeri kita, mulai dari Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, Pak Adam Malik, sampai dengan Pak JK, tidak ada yang se-PD pak Muhaimin Iskandar. Ketua Umum PKB ini bilang: “Saya masih optimis Pak Jokowi akan mengajak saya.” Padahal, temuan tiga lembaga survei papan atas tak menunjukkan kecenderungan itu, bahkan tak menemukan nama pasangan Jokowi-Imin.
Survei paling anyar yang dilakukan 21 hari lalu oleh Populi Center menemukan, elektabilitas Jokowi-Putrane Pak Beye, AHY mencapai 50,8 persen jika berhadapan dengan Prabowo-Anies Baswedan yang memperoleh 27,8 persen. Survei Poltracking Indonesia yang dilakukan dari tanggal 7 Januari – 3 Februari 2018 menghasilkan Jokowi-Agus Harimurti Yudhoyono mendapat elektabiitas 43 persen, jika berhadapan dengan Prabowo Subianto-Anies Baswedan 30,9 persen. Sedang survei Indo Barometer yang tak menghadap-hadapkan dengan Prabowo-Anies mempertontonkan, Jokowi-AHY bisa mendapat elektabilitas 38,6 persen. Survei ini dilakukan pada 23-30 Januari 2018.

Percaya diri yang luar biasa juga ditunjukkan oleh Boma Narakasura dalam ceritera Wahyu Senapati. Berharap bantuan ayahandanya, Kresna yang titisan Wisnu, dan ibundanya, Betari Pertiwi dari kahyangan Ekopertala, dia bersaing melawan Gatutkaca. Pada waktu itu yang menjadi Ketua KPU adalah Semar. Setelah berkelai sembilan hari sembilan malam tak ada yang menang tak ada yang kalah, dan karena sudah ngrusak-ngrusak-ke kahanan, maka Kyai Badranaya me-nyetop yang lagi sadhuk-sadhukan. Dia bertanya kepada Setija: “Dasar sampeyan apa kok ingin menjadi Senapati?” Setija: “Saya-lah yang paling jago. Selama masih bisa ngambah lemah, saya kalis dari bilahi. Tujuanku jelas, menaikkan kewibawaan dan kekuasaan.” Semar: “Baiklah. Lha kalau sampeyan apa Gus?” Gatutkaca: “Saya sekedar memenuhi panggilan untuk ber-dharma Wa Semar.” Semar: “Sampeyan tahu, resiko seorang Senapati adalah gugur dalam pertempuran?” Gatutkaca: “Tahu Wa. Dan saya siap menanggungnya.” Semar: “Benar?” Gatutkaca: “Benar Wa.” Sineksen jagad sak isine – Sampak Titir Rajapati.

Ceritera Wahyu Senapati diatas bisa disepadankan dengan keinginan Cak Imin menjadi Cawapres-nya Pak Jokowi. Bharatayuda Jaman Now adalah Pilpres 2019 dan lima tahun pemerintahan selanjutnya. Dengan pengalaman empat tahun memerintah, saya menduga keras Pak Jokowi membutuhkan wakil yang SUPER LOYAL untuk bisa melakukan misi Banteng Moncong Putih beserta koalisinya, yaitu berdikari untuk Indonesia Raya terutama dalam hal pangan, energi, pertahanan, dan keuangan. Padahal didepan hidung sudah menghadang, kesenjangan kaya-miskin, isu PKI, isu penzoliman terhadap ulama, teror, narkoba, korupsi, ruwetnya ekonomi dunia, seperti penolakan minyak sawit Indonesia oleh Uni Eropa dsb.

Dilain pihak, ternyata Pak Muhaimin Iskandar masih belum mau menunjukkan SUPER LOYAL yang dibutuhkan. Walau sudah pasang baleho dimana-mana, tapi sampai hari ini sikapnya durung genah. Ketua DPP PKB Muhammad Lukman Edy mengatakan: “Cak Imin kita tawarkan ke Jokowi, tapi tidak menutup kemungkinan ke Prabowo. Tidak menutup peluang juga untuk bikin poros baru selain poros dengan Jokowi dan Prabowo.” Wah, kalau nanti sudah jadi Wakil Presiden, tapi masih mblendra-mblendre, terus bagaimana ya?

Sebenarnyalah, mengingat persoalan bangsa enam tahun kedepan, siapapun Calon Presiden-nya, pastilah membutuhkan Calon Wakil Presiden yang SUPER LOYAL. Untuk apa menang kalau hanya akan ngrepot-ngrepoti saja. MERDEKA.
TANCEP KAYON