Aku mlongo didepan KompasTV ketika Megawati meraung dahsyat dihadapan kadernya yang bersemboyankan “Biar Gèpèng asal Bantèng” pada HUT Ke-45 PDI-P: “Nyalakan api pergerakan, satukan diri, singsingkan lengan, kepalkan tangan persatuan, dan gemakan pekik merdeka sejati. Karena tujuan kita adalah Indonesia Raya. Merdeka-Merdekaaa-Merdekaaaaa….! Seolah kena gendam AJI GINENG, ribuan massa kaya gabah dèn interi mengepal tangan keatas sambil menirukan teriakan ibunya weeerrr……
Uih, seketika aku teringat peristiwa 57 tahun lalu, ketika Bung Karno berpidato dialun-alun Yogyakarta, Selasa, 19 Desember 1961, didepan Taruna AMN dan lautan manusia – Tri Komando Rakyat – TRIKORA. “Gagalkan, hai seluruh rakyat Indonesia, gagalkan pendirian Negara Papua itu! Hai, seluruh rakyat Indonesia, kibarkan bendera Sang Saka Merah Putih di Irian Barat itu! Siap sedialah akan datang mobilisasi umum. Mobilisasi umum mengenai seluruh rakyat Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda,” demikian Bung Karno dengan AJI GINENG membakar semangat bangsanya, dibawah derasnya hujan hing mangsa rendheng.

AJI GINENG dimiliki raja negeri Himahimantaka, Niwatakawaca. Aji ini tersembunyi di-langit-langit dalam wujud suara seperti Aji Gelap Ngampar, sehingga musuh akan gemetar ketakutan. Dia juga bisa mempengaruhi massa untuk bertekuk lutut dan tunduk akan segala perintah. Yang terakhir, AJI GINENG juga punya daya gendam asmara yang jooos. Dalam cerita Begawan Cipta hening, Betari Supraba hampir kena pengaruh aji ini, dan mak krekep jatuh kedalam pelukan Niwatakawaca. Dalam keadaan kritis Arjuna menyerang. Gelut. Merasa berada diatas angin, Niwatakewaca terbahak, dan mak weeesss… panah Pasupati menancap cethak, mak regudug…… raja raksasa itu njengkelit, mati.

AJI GINENG juga dimiliki Bung Karno yang sempat me- reinkarnasi barang sejenak keraga Megawati Soekarnaputri. Pada waktu itu saya berharap, pidatonya itu disambung dengan lagu Padamu Negri. Tapi bersyukurlah, yang keluar adalah lagu kesenangan mbakyuku tatkala masih di SR Karanganyar 1, Surakarta, “Diufuk Timur”, sehingga aku luput dari perangkap AJI GINENG. Aku sepakat dengan apa yang dipidatokan Bung Karno tentang Pancasila via Mega. Aku setuju dengan pidato Pemimpin Besar Revolusi yang digelorakan kembali oleh Soekarnoputri di Convention Center Senayan, Rabu, 10 Januari 2018. “Enyahkanlah pikiran pragmatis, singkirkan mental individualis. Jangan kompromis terhadap hal-hal prinsip yang menyangkut kehidupan dan keselamatan rakyat. Gelorakan jiwa gotong-royong, nyalakan suluh perjuangan,” katanya dengan suara nyaring, yang blas, ora kami sosolen.
AJI GINENG Bung Karno telah menyadarkan dan menggerakkan kita untuk lurus pada cita-cita Proklamasi, diatas dasar bukit karang Pancasila. MERDEKA.
TANCEP KAYON