Di Palangkaraya, pasangan John Krisli-Maryono beberkan mahar politik Rp.500 juta. Di Cirebon, calon Walikota wurung, pak Brigjen (Pol) Siswandi menuding PKS minta mahar sampai miliar-an. Yang paling heboh adalah Jawa Timur. Gara-gara isu mahar politik, Surabaya gègèr kepati. Peristiwa itu menggelitik bang Karni Ilyas menyuguhkan acara ILC di TVOne, dengan tema Mahar Politik, La Nyalla vs Prabowo. Ora kedhèp saya nonton acara itu, kesimpulannya: DHUWIT kok PATING SLIWER. Dari tayangan itu jutaan orang bisa saksikan, untuk bisa bersaing dalam Pilkada Jawa Timur, calon Gerindra harus punya uang paling sedikit Rp.300 miliar. Lebih dari itu, Sekjen Forum Umat Islam, bapak Al Kaththath berceritera tentang kekecewaannya, karena lima calon Gubernur, yang salah satunya La Nyalla, yang diajukan kepada Gerindra, PKS, dan PAN untuk mendapat rekomendasi, ternyata tak dipenuhi. Setelah itu dia minta agar permintaan dari yang dia sebut sebagai Imam Besar Umat Islam, bapak Rizieq Shihab bisa dilaksanakan.

Mengamati ramainya PILKADA Serentak 2018, terlebih di Jawa Timur, saya ingat betapa ributnya Lesmana Mandrakumara ketika mencari Wahyu Cakraningrat. Konon, barang siapa kasinungan Wahyu itu, dia akan menurunkan raja-raja besar dikemudian hari. Singkat ceritera, Wahyu Cakraningrat sudah mangéjawantah dan membawa Lesmana keatas Gunung Mahamèru. Dari sana dia menunjukkan gemerlapnya dunia dan bertanya: “Kalau itu semua kuserahkan padamu, apa yang akan kamu lakukan?.” Spontan Lesmana menjawab: “Pertanyaan bodoh. Bila aku dapat berkuasa atas dunia itu, ya akan kugunakan untuk memenuhi keinginanku, bersuka ria sesuka hatiku.” Wahyu Cakraningrat kecewa. Dengan wajah murung dia berkata kepada pasangannya, Betari Widayat: “Ayo yayi, mari kita tinggalkan wong dhèglèng ini. Mari kita cari yang lebih pantas.” Lesmana: “Lhooo… aku nyur piyééé…” Lesmana gulung koming sampai bantuan datang.

Peristiwa diatas Gunung Mahamèru bisa disepadankan dengan suasana Pilkada Serentak 2018. Bila tujuan menjadi Kepala Daerah hanya sekedar meraih kuasa untuk mengumbar loba, niscaya hanya gulung koming seperti Lesmana. Karena mahar politik, bisa jadi dia menang. Dengan solidaritas agama dan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan, mungkin dia bisa menjadi Gubernur dan lalu bersuka-ria. Padahal, bagi orang gagah, kemenangan bukanlah hal yang harus dirayakan yang mengundang pesta-pora. Bagi yang terkaruniai, menang justru derita yang membahagiakan. Menang adalah panggilan ke-Nabi-an, yang mampu bersyukur karena diparingi kesempatan untuk melayani. Semua tertera dalam Sumpah/Janji Kepala Daerah. Bila tujuannya pelayanan, tak kan ada gumam DHUWIT kok PATING SLIWER. MERDEKA.
TANCEP KAYON.