Baru saja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bilang bahwa stok pangan mencukupi, harga beras stabil tanpa harus mengimpor, lha kok sebulan kemudian, 12 Januari 2018, Pak Wapres mengkoreksi bahwa stok beras kurang dan Indonesia akan impor 500.000 ton dari Thailand dan Vietnam. Untuk mencermati impor beras, sebaiknya kita kesampingkan dulu apa yang disampaikan komentator LSM, Rizal Ramli tentang “komisi” dan “usaha merusak Pemerintahan Jokowi” yang dikaitkan dengan impor beras. Yang pasti, harga BERAS NAIK. Pada hari Jum’at, 12 Januari 2018, di Pasar Induk Cipinang, harga beras medium tembus Rp.12.000,–/Kg, diatas harga eceran tertinggi Rp.9.450,–/Kg. Sedangkan beras premium Rp.13.000,–/Kg, naik dari HET Rp.12.800,–/Kg. Hal yang sama juga terjadi didaerah-daerah.

Bicara tentang BERAS NAIK yang mengundang spekulasi, saya teringat akan ceritera Pandawa Ngèngèr. Pada waktu itu Pandawa bersepakat setahun ngèngèr_di Wirata, setelah 12 tahun hidup dihutan gara-gara kalah dalam permainan dadu. Dinegeri itu harga pangan sedang merangkak naik saking banyaknya korupsi dan _pating clomètnya isu politik yang ora genah bongkot-pucuk-é. Ini terjadi menjelang episoda Rajamala. Jadilah Puntadewa Lurah Pasar, Bima menjadi jagal, Arjuna menjadi guru tari, Drupadi menjadi pelayan pribadi Dewi Utari, Nakula dan Sadewa blusukan kedesa-desa membangun pertanian dan meningkatkan kesehatan rakyat.

Ceritera Pandawa Ngèngèr bisa disepadankan dengan mengatasi BERAS NAIK di Indonesia. Seperti halnya Nakula, yang dengan spirit Betara Aswin, tanpa berisik ber holobis kontul baris bersama rakyat memproduksi pangan, hal yang sama seharusnya dilakukan Menteri Pertanian. Sebenarnya, dengan semangat itu, Pak Andy Amran Sulaiman tak kan mudah terbuai dengan sukses produksi pangan dll. Bila rompi semangat bapa spiritual Nakula itu terlupakan, nisvaya akan gaduh karena memproduksi koreksi satu kekoreksi yang lain. Tetapi rupa-rupanya ribut Kabinet kerja-kerja-kerja sedang nge-trend, termasuk umyek tentang siapa yang harus impor beras. Ketika Menteri Perdagangan Enggartiasto menunjuk PT. PPI, langsung dikoreksi oleh Pak JK dengan mengatakan: “Yang mengimpor itu BULOG, bukan PPI. Salah itu.
Sejak Jum’at saya sudah suruh koreksi itu. Harus BILOG yang mengimpor.” Wèlèh, dalam dua hari sudah mengkoreksi dua kali koreksi pula.

Sebenarnyalah, BERAS NAIK saja sudah mengundang bang Rizal Ramli berspekulasi, apalagi gaduh. Jika regejegan tetap berlarut, maka Kelompok Oposisi mendapat forum untuk merakit target. Bukankah PKS sudah siap dengan amunisi Rapor Merah Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK Bidang Ekonomi? Bukankah Fadly Zon juga sudah mengantongi peluru politik ber-merk “Empat Kejanggalan Impor Beras”? Yang terakhir ini lebih dahsyat. Wakil Ketua Umum PAN, yang adalah putra Bapak Amien Rais, Hanafi Rais telah menginsyaratkan sesuatu yang dia sebut sebagai “sentimen populisme Islam”, karena Presiden Jokowi dia nilai gagal mengatasi three top bidang ekonomi, yang salah satunya adalah harga pangan.
Lit-ing dongèng, mengapa harus berisik? Memangnya dengan berisik bisa menyelesaikan BERAS NAIK? Ya enggak lah. Nakula dengan spirit Betara Aswin telah memberi tawaran pemecahan masalah. Ning ya uwis, sak karepmu. MERDEKA.
TANCEP KAYON