Surat Terbuka
UNTUK MAS KANJENG KI DALANG ENTHUS

MAS KANJENG,
Saya terpana ketika kita ketemu diruang rapat Pak Franky Welirang, Tanjungpriok, Jakarta. Sampéyan terlihat langsing untuk tidak mengatakan kurus. Tapi saya menjadi lega ketika cengkeraman tangan, tatapan mata, serta suaramu masih tetap nggeni seperti 25 tahun lalu, ketika kita berjumpa kala pertama di Miniatur Indonesia.
Di malem-Setu, 7 Desember 2017, saya bertekat menunggui pergelaran jengandika sampai tancep kayon, untuk tidak sekedar hanya menikmati, tapi juga untuk mengusir keraguan, bahwa sampéyan tetap sehat lahir batin. Akhirnya saya gembira, karena handika tetep semangat, jalan ceritanya mulih, antawacana utuh, sabetan prima, dramatisadi tak nguciwani, dan yang penting, penggemar sampèyan tak kenal jeda dan Pak Franky-pun tertawa.
Usai pergelaran, sambil berjabat-tangan perpisahan, aku bergumam: “Élok tenan bocah siji iki.”

MAS DHALANG,
Saya tahu, selain melakukan tugas ke-Bupati-an dan ndhalang, handika pasti sedang sibuk mengikuti proses laga PILKADA Serentak, yang coblosan nya jatuh pada hari Rabu Pon, 27 Juni 2018 – pas weton-ku. Untuk itu perkenankanlah saya ndongèng dedongèngan yang pasti sering panjenengan gelar, yaitu adegan Kunti-Karno Basuséna, ditepian Sungai Gangga, dibawah rindangnya wit kastuba, Kadipaten Panggombakan.
Kunti jelih-jelih ketika disapa “Radèn Ayu” oleh Karna. “Karna, mengapa kamu panggil aku Radèn Ayu? Aku ini ibumu yang telah mengandungmu sembilan bulan sepuluh hari,” ratap Dewi Prita. Karna mbrabak, tapi hanya sekejap. Setelah itu dengan suara bertopeng, biar nampak tak acuh cenderung dingin, dia menyahut: “Raden Ayu, perkara mengandung aku tak tahu, karena jauh dari jangkauan. Yang kuketaui, “hambamu” ini, sekali lagi, hambamu ini adalah anaknya Bapa-Biyung Nada, kusir negeri Astina.” Sunyi-senyap. Kicauan burung lenyap, angin berhenti, air Bengawan Gangga serasa ora mili.Tiba-tiba lamat-lamat terdengar sesenggukan isak tangis Dewi Kuntinalibrata, diiringi suara dhandhang, gaok…gaok…gaok…
Karna memecah sunyi: “Baiklah Sang Dèwi, mari kita berbagi, sithik édhing. Bila aku gugur dalam palagan, Pandawa tetap lima. Sebaliknya, bila Arjuna yang gugur, saya akan bergabung, sehingga Pandawa tetap lima. Setelah itu, aku akan menyapa Raden Ayu dengan …… ‘Kanjeng Ibu’. Selamat tinggal – Tan Hana Dharma Manguwa.” “Karnaaa…..,” Kunti kantaka rebah tak sadarkan diri.
Dalam ceritera Karna Tandhing, Karna yang sudah jadi layon, kelihatan tersenyum diatas pangkuan ibundanya Kunti, ya… sebuah pangkuan, usapan tangan dan sapuan air mata kasih sayang, yang ketika dialam fana, belum pernah dia rasakan dari biyung sejati jatinya biyung.

MAS KANJENG KI DHALANG ENTHUS SUSMONO,
Saya tak pernah membayangkan jengandika kalah, karena dimata saya handika adalah kebanggaan jagad wayang, yang kasinungan Karna Basusena sekaligus Panengah Pandawa.
Sesungguhnyalah, keduanya tak pernah kalah, demikian juga jengandika. Keduanya adalah Sang Juara sejati, demikian pula handika. Yang terakhir, keduanya adalah sosok yang BERANI MENANG, bukankah jengandika juga demikian? Anak lanang Enthus, lelungsèn dak bebakali, kami berdo’a untuk Anda. MERDEKA.
TANCEP KAYON