Pak Jusup Kalla mengatakan: “Ditahun yang akan datang, tahun 2019, dimana pileg bersamaan dengan pilpres, disatukan, itu adalah pemilu yang terumit didunia ini.” Dihari yang sama, pada ulang tahunnya yang ke-71, Megawati Soekarnoputri menyuguhkan teater Satyam Eva Kayate kepada para undangan, termasuk pak JK dengan pesan: “Semoga apa yang disampaikan pertunjukan ini dapat membuat kita sekedar melupakan tahun politik ini, yang katanya akan menegangkan, kayaknya. Kalau kita harus bertempur ya kita ‘tempur yang baik’ demi demokrasi.”

Mencermati tahun politik yang MENEGANGKAN dan TERUMIT DIDUNIA, wayang telah memberi contoh ‘tempur dengan baik’ dalam ceritera Karna Tanding. Dua hari menjelang Bharatayuda, Karna Basusena dengan rela menyerahkan segala atribute kedigdayaan kepada seorang Brahmana. Anting Mustika yang bertengara ketika bahaya mengancam dan Kotang Kerei Kaswargan yang membuat kebal akan sembarang kalir senjata, direlakan begitu saja sambil bertanya: “Bagaimana mungkin jengandika bisa membawa sipat kandelku ini, wong keduanya telah menyatu kedalam ragaku? Ketahuilah hai Sang Maha Yogi, hanya dewata yang mampu melepaskannya.” Pertapa itu menjawab: “Jangan risaukan, aku pasti bisa melepaskannya.” Segera Karna diblèjèdi. Dalam kesakitan, Sang Basukarno berkata: “Jengandika bukan pertapa, tetapi ayahanda spiritual adik-ku Arjuna, Pukulun Sang Hyang Indra.” Sang Begawan palsu kejodhèran. Namun demikian, dalam keiklasan, tak ada benci dan dendam dihati Basukarna.

Dalain pihak, diatas kereta Kyai Jaladara dengan sais Nata Dwarawati Prabu Sri Bhatara Kresna, Arjuna tersedak ragu ketika harus menghadang anak lanang dewa Matahari. Dalam keadaan gendhulak-agendhulik , titisan Whisnu menyalak: “Arjuna, semangatmu kok kayak tai gigi, loyo-loyo. Dengan semangat seperti itu, mana mungkin kamu mampu melihat dengan hati, makna Bharatayuda Jayabinangun.” Arjuna dipulasara, dan setelah itu dirangkul dengan penuh kasih sayang, sambil berkata teduh: “Salah satu ajaran Bhagawat Gita adalah ‘Lakukan sesuatu yang baik karena itu baik, titik. Selebihnya bukan urusan kita.’ Nah, sekarang sepenuhnya ada ditanganmu.” Arjuna bangkit menyala, tapi tiada benci dan dendam diatas kereta Jaladara.

‘Tempur dengan baik’ adalah tiada benci dan dendam, betapapun tahun politik Indonesia adalah yang terumit di dunia. Tapi, terumit didunia tidak harus _copy paste_Pilkada DKI yang dihiasi sogok sembako, SARA, saracen, dendam, kebencian serta intervensi politik. Pada waktu itu Ketua Umum PAN, pak Zulkifli Hasan mengatakan, bahwa ada intervensi Pak Jusup Kalla dalam pencalonan Anies Baswedan. Dan itu diakui oleh Wakil Presiden kita dengan mengatakan: “Pengalaman saya waktu mengusulkan Anies Baswedan ke Pak Prabowo, langsung saja diterima tanpa syarat-syarat.”

Pak JK, yang nota bene Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia, dalam pidato pembukaan Muktamar VII DMI tahun lalu mengatakan, pengelola mesjid harus bisa memastikan, penyebaran kebencian, paham radikal serta kampanye tidak terjadi di masjid.” Berbahaya jika ada kelompok radikal menguasai masjid.”
Uih, betapa indahnya pernyataan itu. Semoga tahun politik yang diduga akan memproduksi KETEGANGAN dan TERUMIT DIDUNIA adalah ajang ‘tempur dengan baik’, tiada benci dan dendam, yang pada gilirannya akan berbuah senyum damai atas bangsaku. MERDEKA
TANCEP KAYON