Nganti mlongo saya menyimak wawancara mBak Nana dengan Gubernur Anies dalam acara Mata Najwa di Trans TV, Rabu, 24 Januari 2018 – 100 hari Anies Sandi – Kontroversi Tanah Abang. Dengan enteng Gubernur Anies menjawab: “Coba kita lihat Jati Baru 10, sudah tidak ada lagi jalan, 100% dipakai untuk perdagangan, dan tidak ada dari kita yang bicara jalan itu untuk dagang. Jati Baru 10, yang persis ada disampingnya. Jadi memang ini adalah satu solusi yang akan menimbulkan ‘keseimbangan baru’. ‘Keseimbangan baru’ itu apa? Yang selama ini biasa dengan rute kendaraan, bergeser. Yang selama ini terbiasa dengan jalan kaki, ada pergeseran. Yang mau ke grosir, bergeser. Jadi memang perlu waktu untuk penyesuaian. Ini sebuah ‘tata kelola baru’ yang sedang kami lakukan.” Lho, kok bertengara permanen? Bukankah ketika hari pertama penataan dia bilang, penataan yang sekarang dilakukan sifatnya masih ‘sementara’?

Menyimak gestur terperangah mBak Najwa setelah memperoleh jawab Gunernur Anies seperti diatas, saya ingat akan dialog PÈTRUK vs CANTRIK SAPTA ARGA. Pada waktu itu Begawan Abiyasa sudah masuk ke sanggar pamujan. Sedang Arjuna, Semar, Gareng dan Bagong juga telah meninggalkan paséban. Yang masih tinggal hanya Petruk dan Cantrik. Tiba-tiba Ki Lurah Kanthong Bolong bertanya: “Mas Cantrik. Walau sudah puluhan tahun sapeyan nyantrik disini, tapi saya berani taruhan, kalau sampéyan pasti belum pernah diajarkan ilmu istimewa tiada tara.” Cantrik: “Ah, ya tak mungkin to kang Petruk. Setahu saya, banyak sekali ilmu yang telah diajarkan Sang Begawan kepada saya.” Petruk: “Kalau begitu, apa kamu sudah pernah diajarkan mantran suci ‘Ana suwara tanpa rupa, ana ganda tanpa suwara, yèn teka ngambra-ambra’?”. Cantrik: “Lho, apa itu?”. Petruk: “Itu Ilmu Jaman Now.” Cantrik: “Waduh…, begini saja kang Petruk. Terimalah uang Rp.100.000,– ini. Tapi tolong ajari aku ilmu Jaman Now tadi.” Uang segera diterima, dan mak kluyur… Petruk pergi sambil mengatakan: “Itu namanya ‘kentut’.” Wkwkwk… Cantrik gulung koming sambil menggerundel: “Lha wong kentut kok harganya Rp.100.000,–. Aduh, matik aku.”

Peristiwa Sapta Arga diatas bisa disepadankan dengan Kontroversi Tanah Abang. Kita sempat terkagum-kagum dengan ucapan Anies Baswedan yang indah, Tanah Abang akan dijadikan Transit Oriented Development (TOD). Sementara kita masih menebak-nebak, sebulan kemudian Pak Gubernur memberi jawab. TOD itu ya Tanah Abang sekarang ini, bentuk solusi yang dia sebut sebagai ‘Keseimbangan Baru’ atau ‘Equilibrium Baru’. Oleh karenanya dia bilang: “Yang namanya keseimbangan baru, pasti ada penyesuaian. Yang penting, ini adalah masa transisi. Kalau masa transisi, ya equilibrium baru.”
Oleh karenanya semua harus menyesuaikan, sebab yang dilakukan itu adalah ‘tata kelola baru’, yang sifat sementaranya berjangka panjang, untuk tidak mengatakan permanen.

Sesungguhnyalah, meng- interpretasi kan pernyataan orang yang sangat pandai mengolah kata, tidak boleh take it for granted. Bisa-bisa warga DKI bernasib seperti Cantrik dalam dialog PETRUK vs CANTRIK SAPTA ARGA. Kecuali kalau mereka memang mau seperti itu. MERDEKA.
TANCEP KAYON.