Dalam kampanye di Rawamangun, Kamis, 19 Januari 2017, Anies menjanjikan program rumah DP 0% untuk mengatasi kesulitan warga yang ingin punya rumah. “Jadi menabung dulu di bank selama 6 bulan yang tabungannya bisa nilainya sampai 10%. Dari situ dihargai sebagai pengganti DP-nya,” katanya. Tentang lokasi, dia menyerahkan sepenuhnya kepada warga, persis seperti KPR. Yang membangun rumah bukan Pemprof DKI, tetapi Pemprof akan menyiapkan program pembiayaan melalui mekanisme kredit rumah dengan DP 0%.
Uih… betapa indahnya bayangan itu, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rutin sebesar UMR DKI yang pada waktu itu Rp.3.355.750,–/bulan atau yang lebih rendah lagi, seperti tukang becak, bisa memiliki rumah dan tanah Hak Milik seperti perumahan KPR.

Janji rumah dengan DP 0% kepada warga DKI pernah disampaikan Dursasana kepada tukang satang Sungai Cingcinggoling, Tarko dan Sarko. Untuk bisa menang dalam perang Bharatayuda, Dursasana ditugaskan mencari tumbal, yang akan dibakar sebagai sesaji kepada Sang Hyang Rudra. Informan Kadipaten Banjarjunut membetitahu, tukang satang Tarko dan Sarko bisa dibujuk menjadi tumbal. Dalam pertemuan dihari pertama Dursasana bertanya: “Berapa penghasilanmu sehari?”. Tarka: “Paling banyak Rp.60.000,–“. Dursasana: “Nih, saya kasih Rp.500.000,–, tolong seberangkan aku kesebelah.” Tarko dan Sarko senang bukan buatan. Hari berikutnya, ketika Dursasana kembali dari seberang, dia bertanya lagi: “Kamu sudah punya rumah atau belum?”. Sarka menjawab: “Ya belum to nJeng Pengéran. Mana mungkin kami yang berpenghasilan Rp.1,5 juta per bulan bisa memiliki rumah.” Dursasana mengumbar harapan: “Ayo, ikut aku ke Astina. Disana kalian akan dimuliakan. Kamu akan saya beri rumah, sandang, pangan, dan kehidupan lebih dari cukup. Tapi kamu harus setia kepada Nusa dan Bangsa.” Tarko dan Sarko menjawab serentak: “Siaaap…,” dan berangkatlah mereka ke Astina. Setibanya dialun-alun selatan, Tarko dan Sarko dipaksa naik keatas tumpukan kayu perapian, piranti pembakaran tumbal. Keduanya terperanjat dan meronta. Tapi sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Mak bel… mereka mati dak siya terpanggang geni manghalad-halad, diiringi sampak tlutur ratapan kutuk bagi Dursasana.

Kurang bejané, nasip warga DKI yang dijanjikan rumah sejenis KPR dengan DP 0% bisa seperti Tarko dan Sarko. Buktinya, yang di ground-breaking adalah rumah kué lapis yang adalah rumah susun, bukan seperti rumah KPR. Warga juga tak bebas memilih lokasi seperti janji. Mau tak mau lokasinya ya di Pondok Kelapa, yang dibangun oleh para pengembang, yang harganya Rp.185 juta dan Rp.320 juta, dengan skema yang belum jelas. Dengan demikian Tarko dan Sarko belum tahu, setiap bulan mereka harus menabung berapa, berapa cicilan tiap bulan dan sampai kapan, siapa yang akan mendapat rumah lapis di Klapa Village. Yang terakhir, mereka juga belum tahu, berapa harus bayar listrik, air, keamanan, kebersihan dan thèthèk mbengèk uba rampé rumah susun.

Betapapun, kebijakan Gubernur Anies harus diberi kesempatan, karena dia dipilih oleh 58% warga Jakarta yang dijanjikan rumah seperti KPR dengan DP 0%.
Somoga warga DKI terutama para pemilihnya tidak terkaget-kaget, seperti ketika saya masih kecil, selalu diajak main Simbok-ku dengan permainan CILUUUB…BHA. MERDEKA
TANCEP KAYON