Ketika saya ngguyu kepingkel-pingkel, isteri saya bertanya heran: “Memangnya ada apa to pak?”. Saya menjawab: “Nih, baca sendiri!”. Nah, sekarang gantian ‘cintaku’ yang kekelen ketika membaca celotèh pak Wagub kita, Sandi: “Mungkin salah satunya adalah pelatihan standar pelayanan, olah raga, bagaimana cara genjot becak yang bagus.” Welha, mau ngajari tukang becak genjot becak?
Barangkali saking bingungnya dikritik, ya sudah, demikian merasa menemukan pencerahan, lalu dia bilang, bécaknya menggunakan tenaga listrik, sehingga nantinya abang becak harus dilatih genjot becak listrik. Sedang wujud becak listik, dia omong sak kecekel-é: “Oh (becak lama) sudah harus diganti dan kalo lihat di New York ada namanya New York Cap yang terbesar didunia.”
Uih, pokoknya dia mau semua dan semau-maunya. Kemarin maunya itu, sekarang maunya ini, besuk lain lagi, begitu seterusnya. Tapi ya mau bagaimana lagi, wong ya ISIH BOCAH. Adhuh biyuuung, matik aku.

Mengamati model broer kita ini, entah bagaimana, saya ingat akan Lesmana Mandrakumara. Putra Duryudana ini tabiatnya memang semua mau dan semau-maunya. Dalam ceritera Gatutkaca Gandrung, sampai termèhèk-mèhèk dia jatuh cinta kepada Pregiwa. Padahal semua orang tahu, putri Arjuna-Dewi Manuhara ini tinggal menunggu sepasar lagi untuk kawin dengan Gatutkaca. Ya sudah, gègèr genjik. Tapi, setelah melalui proses berliku, dia lari pontang-panting karena mau diglitho Irwan, èh… keliru, Jabang Tetuka.
Setelah gagal mempersunting Pregiwa, dia juga jatuh cinta sama Pregiwati. Gagal mengawini Pregiwati, dia juga gelem sama Siti Sendari. Wah, pancen geleman.

Lesmana yang semua digelemi , bisa disepadankan dengan sikap Mas Sandi tentang abc-nya DKI, termasuk becak. Dia tak mau tahu, betapa para pendahulunya, termasuk Bang Yos, habis-habisan berusaha agar becak tak beroperasi di DKI, tanpa harus melanggar HAM dan tanpa membentur-benturkan antara si kaya dan si miskin. Tapi sebenarnya sih abang becak juga tidak salah-salah amat. Tuntutan akan ketertiban Ibu Kota Negara, sungguh tak terjangkau. Akibatnya, yang nampak adalah sikap tidak disiplin, suka melanggar lalu-lintas, parkir sembarangan, beroperasi dimana-mana dll. Karena merasa senasip, solidaritasnya sangat tinggi. Repotnya, entah dihembuskan oleh siapa, abang becak punya yargon ampuh, yang sangat gampang mengundang dukungan karena iba, yaitu “Dupèh wong mlarat terus disiya-siya”. Ini sungguh berbahaya, terutama pada Tahun Politik.

Aja kaya bocah cilik, sebaiknya jangan abaikan peringatan Bang Yos. Jangan take it for granted atas informasi jumlah becak yang tak lebih dari 500 unit, hanya karena laporan bahwa becak asal Indramayu, Brebes dll sudah didorong balik kanan. Coba ditelaah kembali, apa benar abang-abang becak di Jakarta menolak saudara-saudara mereka sekampung datang ke Ibu Kota nggenjot becak, walau tak ber- KTP DKI. Tolong dicermati pendapat anak buah Haji Lulung, Riano P Ahmad dari Fraksi PPP DPRD DKI, yang menyambut baik rencana becak listrik seperti di Paris dan Amsterdam.

Di Tahun Politik, mobilisasi becak ke Jakarta bukan ‘buih politik’ seperti Pak Wagub DKI bilang. Mobilisasi itu nyata, dan adalah arus politik yang bisa menggelisahkan warga, termasuk mereka yang digiring. Jikalau sikap populis yang ora cetha bongkot pucuk-é seperti diatas tetap menjadi pilihan, maka beban DPRD DKI akan semakin serius, karena partnernya ISIH BOCAH. MERDEKA.
TANCEP KAYON.