Ketika kita sedang jingkrak-jingkrak kegirangan menatap gerhana bulan sap telu, disana, didalam kerangkeng Mako Brimob, ada ratapan hati kehilangan cinta. Dilain tempat, entah dimana, ada turunan Hawa menyandang resah dan gelisah. AHOK dan VERO sudah tak tahan lagi. Basuki Tjahaja Purnama menggugat dan Veronika Tan yang srimbit dengan Good Friend, Julianto Tio, sudah tak peduli. “Surat pernyataan penyerahan perkara pada kebijaksanaan hakim karena beliau (Vero) tidak hadir dan tidak menunjuk kuasa hukum,” kata pengacara Josefina Agatha Syukur.

Terhadap peristiwa AHOK dan VERO, telah mengingatkan saya akan ceritera Samba Juwing. Hati Samba rontok ketika melihat kecantikan sekar kedhaton negeri Giyantipura, Dewi Agnyanawati. Pada waktu itu dia ikut Kresna melamar Sang Dewi bagi kakaknya, Boma Narakasura. Repotnya, putri Prabu Karentagnyana ini mengira, yang akan mempersunting dirinya adalah Samba. Maka dia manggut-manggut_ketika ditanya kesediaannya kawin dengan putra Kresna. Oleh karena itu, ketika upacara _temu nantèn, yang disembah Agnyanawati bukan Boma, tetapi Samba. Gègèr. Sejak saat itu Samba dan Agnyanawati tan génggang sarambut. Dan Boma hancur berkeping.

Tragedi Trajutrisna diatas bisa disepadankan dengan rumah rangga AHOK dan VERO. Seperti halnya Agnyanawati yang tak paham akan calon suaminya, hal yang sama juga terjadi atas mbak Vero. Kalau mau dibilang salah, sebenarnya sih dia tidak salah-salah amat. Pertama, dia diajàk kawin langsung, nggak pakai dipacarin. Dua, dalam wawancara stasiun TV Berita Satu, setahunya, dulu sosok yang akan menikahinya adalah pengusaha. Jadi, yang kebayang Ahok itu pengusaha, bukan politisi.
Tanpa pacaran dan niatan kawin karena pak Indra Tjahaja Purnama yang mengidap penyakit kanker stadium 4 ingin agar anak sulungnya segera kawin, diakui Ahok. Dia bilang: “Ya udah, akhirnya aku datang ke Emaknya Veronica bilang mau menikah. Emaknya aja kaget waktu itu, ‘Eh, anak gue bunting ya?’. ‘Enggak, kita orang gereja enggak bunting-buntingin dulu nih’,” kata Ahok.
Di Jaman Now, cinta kilat dan pondasi berumah tangga diatas pasir telah membuktikan bahwa tak cukup kuat diterpa badai.

Kita tak tahu kelak kan jadinya. Tapi dengan ceritera Bedhah Lokapala, kita bisa berandai-andai. Danapati juga pernah patah hati ketika ayahandanya menyerobot Dewi Sukèsi. Tapi dia tak mau rebah dan menyerah. Patah hati dia transformir menjadi semangat lebih untuk membangun Lokapala. Ketika dia bertempur melawan Dasamuka untuk mempertahankan negri, Betara Nerada melerai dan berkata kepada Danapati: “Hentikan pertempuran. Bila kamu mau mengalah, kamu akan muksa dan menjadi dewa.” Danapati: “Tapi siapa gerangan yang akan membunuh wong édan ini?” Narada: “Tak ada yang bisa membunuhnya. Walau begitu, Rama dan Anoman akan mengalahkannya. Sudahlah, lupakan kata-ku ini.” _Mak del…, Danapati muksa. Dia menjadi dewa di Wukir Kaliasa, dengan nama Betara Kuwera.

Semoga peristiwa AHOK san VERO ditransformir menjadi semangat lebih dan jangkar kehidupan. MERDEKA.
TANCEP KAYON