Cah bagus-bagus kok tersangka korupsi. Siapa kira Gubernur Jambi generasi ke-8, Zumi Zola Zulkifli yang masih muda belia (38 th.), yang pinternya ora ilok, dimana gelar Master-nya diambil di London Metropolitan University, yang sukses memimpin Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yang multi talenta sebagai aktor sinetron ‘Ku Tlah Jatuh Cinta’, yang sak abreg tanda penghargaan (kurang lebih 10 buah), yang dikudang-kudang Presiden Jokowi untuk bisa menyiapkan infrastruktur yang bisa menopang pertanian hingga perikanan, lha kok glèthèk pethèl-é, malah jadi tersangka penerima gratifikasi Rp.6 miliar bersama Plt. Kepala Dinas PU dan PR. “Yang Rp.6 miliar itu diterima sendiri maupun bersama dengan tersangka lainnya ARN,” kata juru bicara KPK, Febri Diansyah.

KORUPSI ZUMI ZOLA ZULKIFLI ZAMAN NOW – KORUPSI 4 Z NOW didunia wayang juga ada dalam ceritera Pandhawa Ngèngèr. Ketiga adik ipar Prabu Matswapati, Kencakarupa, Rupakenca dan Rajamala adalah koruptor klas kakap negeri Wiratha. Negeri itu hampir rontok karena korupsi dan ancaman Dwi Tunggal Astina-Trigatra, Duryudana-Susarman.
Ketika Kencakarupa ngoyak-oyak Salindri, nama samaran Drupadi, yang lari ketengah pasar, dia bertemu Ki Lurah Pasar Wijakangka, yang tak lain adalah Puntadewa. Pada waktu itu Wijakangka sedang menghitung uang pajak Pasar Gedhé hari itu. Melihat uang banyak, matané ijo dan lupa Salindri. Dia bertanya: “Berapa besar pajak hari ini?” Wijakangka (W): “Lumayan. Bulan ini terkumpul 6 miliar réal.” Kencakarupa (K): ” Bagus. Berikan uang itu kepadaku!” W: “Lho, tidak mungkin Pengeran. Ini adalah uang Sunuwun Matswapati, yang harus disetor ke kas negara, yang pada gilirannya akan digunakan untuk membiayai keperluan negeri Wiratha.” K: “Ah, kokèhan cangkem…” Terjadilah pergumulan berebut pundi-pundi uang. Ketika tangan Kencakarupa terayun kearah kepala Wijakangka, tiba-tiba mak byar dari gelung keling keluar sinar dan menjelma menjadi raksasa putih, Dewa Amral. Kencajarupa kami gilan, lari tunggang langgang meninggalkan Sar Gedhé sambil teriak-teriak: “Gendruwo … gendruwo … gendruwooo…”

Peristiwa Pasar Gedhé negeri Wiratha bisa disepadankan dengan KORUPSI 4 Z NOW. Siapapun yang korupsi dinegeri ini, bisa disimbulkan sebagai Kencakarupa bersaudara. Korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio yang kata kerjanya corrumpere yang maknanya ‘busuk’ atau ‘rusak’. Karena ‘busuk’ ya harus dibuang. Masak barang busuk didudukkan disinggasana terhormat?
Kalau direnung, semua ketidak-beresan yang terjadi dinegeri ini, penyebabnya ya korupsi. Bung Anas Urbaningrum Ketua Umum Demokrat, Ustaz Luthfi Hasan Ishaaq Presiden PKS, Pak Setnov Ketua Umum GOLKAR, adalah Manggala Parpol penyangga politik negara, telah terlibat korupsi sak ho-hah. Bila demikian, bisa dibayangkan seperti apa kwalitas aksi lapangan partai yang mereka pimpin. Partai Demokrat elektabilitasnya sempat anjlok. PKS tak mampu berbuat banyak terhadap pak Fahri Hamzah yang dianggap mbaléla. Pak Jusup Kalla harus sering turun gunung agar GOLKAR tetap lurus dalam koridor garis politiknya dsb. Memangnya yang disampaikan Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa tentang gizi buruk di Asmat bukan karena korupsi? Ya enggak lah. Bila ditarik ke KORUPSI 4 Z NOW, seperti apa dan bagaimana perasaan pendukung abang Zumi Zola, terutama warga PAN di Propinsi Jambi. MERDEKA
TANCEP KAYON