Ibunda Banteng Moncong Putih menabuh Kendhang Loro menggiring MENYURA di PULAU DEWATA. Dengan teriakan metal, dia guncang kawasan Inna Grand Bali Beach, dimana Rakernas PDI-P diselenggarakan. “Dengan ini saya nyatakan calon Presiden PDI Perjuangan, Bapak Insinyur Joko Widodo,” katanya. Ya sudah, horeg… karena para peserta ternyata tak mengira. Tak usah menunggu esok, bersegera Partai GERINDRA bereaksi. Ketua DPP A Riza bertutur, justru karena Jokowi yang diusung, Prabowo menjadi semakin optimis menang. Mengapa? Karena Pemerintahan Jokowi telah gagal menyelesaikan masalah pengangguran, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, utang luar negeri, harga sembako dll. “Itu berarti memberi energi bagi penantang (Prabowo),” imbuhnya.

Mencari peluang untuk menang, juga dilakukan Brajadhenta dalam ceritera Brajadhenta-Brajamusthi. Putra ke-3 Prabu Tremboko ini tak rela bila Gatutkaca yang blasteran menjadi raja Pringgandani. Dengan menyimpan ambisi rapat-rapat, dia berpendapat, hanya darah asli denawa yang berhak duduk diatas singgasana yasan Prabu Tremboko, dan itu adalah dirinya. Oleh karenanya, diam-diam dia minta bantuan Astina dan kadhéwatan Dhandhangmangoré. Padahal, sebelum wafat, pengganti Tremboko, Harimba telah menjelaskan, dengan perkawinan Bima dan Arimbi, Pandawa dan Pringgandani telah bersumpah untuk mengakui bertumpah darah dan berbangsa yang satu, yaitu Amarta.

Sebatas bersaing tanpa harus berdarah-darah untuk menjadi penguasa Pringgandani, bisa disepadankan dengan irama rerantaman Kendhang Loro MENYURA di PULAU DEWATA. Mega dengan bendera Banteng Ketaton telah mengelus-elus jagonya, tukang kayu kulon Tasikmadu, bersiap naik ring phibu. Dipihak yang berseberangan, jauh sebelum mbak Mega menabuh Kendhang Loro, bahkan jauh-jauh hari sebelum Pilkada DKI 2017, Prabowi Subianto telah berdiri tegak _ateteken landhéyan_bendera kepala garuda.

Tapi perlu dicatat, saat ini baik di Prenggandani maupun di tanah air, sudah pating sliwer para durjana yang akan menggoncang ring phibu. Kelihatannya adoh tanpa wangenan, tapi yèn cedhak tanpa sesénggolan, berita hoax, ujaran kebencian dan tabiat SARA, telah menjadi mendung diatas Pringgondani dan ‘Negeri Elok Amat Kucinta’. Kabareskrim POLRI, Komjen (Pol) Ari Dono Sukamanto menggambarkan, saat ini Indonesia sedang mengalami darurat akal sehat. Penggoreng dan penyebar hoax justru kerap dianggap menjadi pahlawan. Padahal tabiat inilah yang berpotensi merobek persatuan negeri. Gus Savic Ali dari persaudaraan Gusdurian mengungkap fakta, bahwa 80% pelaku hatespeech berdasar agama di medsos berasal dari akun-akun kelompok politik partisan. Inilah yang saya sebut sebagai cedhak tanpa sesénggolan – sangat dekat tapi justru tak terjangkau.

Yang pungkasan, sedemikian kuat pengaruh perusuh dalam Pikada, pemilu legislatif dan Pilpres, sebaiknya kita mewajibkan diri kita sendiri menjadi saksi partikelir non parpol di setiap TPS seantero negeri. Dengan demikian, bila Sengkuni dan Durga mencoba thumuk-thumuk mendekati TPS, kita bisa berteriak: “Pak Panwasluuu… tuh ada gendruwo yang mau bikin kacau.” Sebab, hanya dengan pemilihan yang bersih, wong cilik bakal bisa gumuyu. MERDEKA.
TANCEP KAYON