SALAH TEMBAK DALAM DUNIA PEWAYANGAN

Oleh Prof. Dr. Bani Sudardi

(Guru Besar UNS/Dewan Pakar SENAWANGI)

Seorang polisi merasa tersinggung karena mobilnya dipepet sekelompok pemuda di Semarang. Merasa tidak nyaman, maka ditunggunya kelompok pemuda itu dan dor dor dor. Tiga peluru keluar dari moncongnya. Pemuda-pemuda itu roboh. Dua orang terluka dan satu orang tewas.

Ini aneh lagi. Seorang AIPTU di Bengkulu pagi-pagi buta mendengar suara pintu menderit. Di rumah seorang polisi terdengar suara aneh. Mencurigakan. Dikira maling. Ooooh. Segera saja ambil pisto dan dor dor dor. Jasad roboh mengaduh. Siapa itu? Oh ya Allah ternyata anaknya sendiri. Anak tersebut tewas bersimbah darah oleh tangan ayahnya sendiri yang ternyata seorang polisi. Apakah hal seperti itu tergolong salah tembak?

Dalam dunia pewayangan yang sudah muncul ribuan tahun ini, kisah tentang salah tembak tercatat dalam beberapa cerita. Kadang-kadang konsekuensi salah tembak itu sangat berat yaitu menuntut imbalan nyawa bagi yang melakukannya. Hanya saja, konteks dan ceritanya tentu saja berbeda dan ceritanya dibuat lebih indah dan dramatis.

Kisah salah tembak terjadi dalam cerita Arjuna Sasrabahu. Raja besar ini memiliki Patih bernama Patih Suwanda atau nama kecilnya Sumantri. Sumantri ini terkenal berjawah tanpan dan cekatan. Sumantri memiliki adik yang wajahnya tidak tampan orang sering menyebutnya sebagai Buta  Bajang atau raksasa kerdil. Raksasa ini bernama Sukrasana.  Meskipun raksasa kerdil Sukrasana termasuk raksasa yang sakti. Dia sangat mencinta kakaknya dan tidak mau pisah jauh dari kakanya.

Ketika Prabu Arjunasasrabahu meminta patih Suwanda untuk mendatangkan Taman Sriwedari, maka Patih Suwanda kebingungan karena tidak bisa. Tetapi, Sukrasana justru mampu memindahkan taman itu. Karena Sukrasana yang memindahkan taman itu, maka ia merasa bebas bermain-main di dalam taman. Nah, ketika Taman Sriwedari dimasuki para putri, mereka kaget semua karena di dalam Taman ada raksasa kecil. Mereka menjerit dan ketakutan. Ketika Sumantri datang betapa malunya dia karena ternyata raksasa itu adiknya sendiri. Dengan setengah bingung dia mengusir adiknya itu agar keluar dari taman. Tetapi Sumantri tidak mau.  “Ola kang. Ola akang cumantri. Aku ola gelem lunga,” katanya cedhal. Sumantri menjadi marah besar di antara kebingungan dan rasa malu. Maka dia segera mengambil anak panah dan diarahkan ke Sukrasana. Maksudnya sih supaya Sukrasana takut, tetapi raksasa itu ternyata tidak mau. Karena agak bingung, gugup dan malu pegangan panahnya lepas dan menembus dada Sukrasana.

Mengaduh Sukrasana dadanya tertembus panah dan darah mengucur dari luka. Sumantri sangat menyesal atas kejadian ini. Sebelum dia menghembuskan nafas yang terakhir, dia berpesan kepada Sumantri. “Aku akan tetap menunggu Kakang di Pintu Surga. Kalau sewaktu-waktu sedang berperang melawan raksasa, maka aku akan datang menjemputmu Kang. Kita akan naik surga bersama-sama,” katanya sambil menghembuskan nafas yang terakhir.

Arti pesan ini, bahwa Sukrasana akan menjemput maut Sumantri di suatu masa. Kalau dalam peristiwa salah tembak, mungkin ini semacam hukuman yang akan diterima, setidaknya mendapat peringatan keras atau sanksi, atau justru dicopot dari jabatannya.

Peristiwa lain yang terjadi mirip seperti cerita Patih Suwanda, adalah cerita tentang resi Bisma. Resi ini sudah bersumpah tidak akan menikah. Tapi demi kepentingan adik tirinya, dia ikut sayembara. Dia memenangkan sayembara Putri Amba. Waktu itu Putri Amba sudah dimenangkan oleh seorang raja, tetapi oleh Bisma putri tersebut direbut di tengah jalan dan raja tersebut bisa dikalahkan. Tetapi di tengah jalan ada masalah besar. Putri Amba tidak mau menikah dengan adik tiri Bisma. Ia memilih dikembalikan kepada raja yang sudah memenangkan sayembara atau dinikahi oleh Bisma. Bisma pun berlapang dada dengan mengantarkan Putri tersebut ke pada raja yang sudah memenangkan sayembara. Tetapi Raja itu kemudian merasa tidak terhormat Karena dia sudah dikalahkan oleh Bisma maka diusirlah dewi Amba. Karena sudah diusir, dia lalu pergi kepada Bisma. Mau nggak mau Bisma harus menikahinya. Karena Bisma sudah bersumpah tidak mau menikah maka Bisma pun jadi bingung. Karena itu, dengan agak marah dan bingung dia keluarkan panah saktinya. Dia suruh Dewi Amba untuk pergi dari hadapannya, tetapi karena Amba pun tidak tahu harus ke mana maka dia tidak mau pergi. Akhirnya lama-lama panah Bisma mengendor, akibatnya anak panah itu melesat ke dada hamba dan jatuhlah wanita cantik itu ke tanah. Bisma tertegun kaget. Sangat menyesal hatinya. Apalagi sebagai satriya sangat aib membunuh seorang wanita. Sebelum dia meninggal dunia, dia berpesan kepada Bisma bahwa nanti di inkarnasi selanjutnya dia akan menuntut kematian kepada Bisma. Bisma mengangguk dan menyadari kesalahannya. “Aku menunggu Dewi Amba. Aku akan menebus dosaku ini,” kata Bisa lirih. Maka dalam cerita Baratayuda, Dewi Amba ini menjelma ke dalam diri Srikandi dan menurut cerita Srikandillah yang menghabisi resi Bisma dibantu oleh Arjuna. Inilah cerita salah tembak dalam pewayangan yang akhirnya membawa korban kematian Resi Bisma itu sendiri.

Kisah salah tembak yang ketiga, sepertinya tidak murni salah tembak. Karena ini cerita bukan senjata. Ceritanya tentang Dewi Kunti yang diberi Aji Pameling oleh Resi Druwasa yang mana ajian tersebut bisa mendatangkan seorang Dewa. Bila Dewa datang, maka Dewa akan memberi Anugerah berupa kehamilan. Nah repotnya ini, karena merasa memiliki ajian kan harus dicoba. Ketika sedang mandi di tengah siang hari dewi Kunti mencoba ajian dari Resi Druwasa itu. Dampaknya apa? Dewi Kunti didatangi oleh Batara Surya. “Ada apa cucuku kau memanggil Aku. Akulah Batara Surya,” kata Batara Surya. ” Aduh pukulun, tidak ada apa-apa. Saya hanya mencoba aji pameling saja,” kata Kunti. ” Tidak bisa demikian cucuku. Kau harus meminta sesuatu,” kata Batara Surya. “Oh oh tidak pukulun. Aku tidak minta sesuatu,” katanya.

“Baiklah kalau demikian. Engkau akan ku anugerahi anak yang akan ku letakkan di rahimu. Peliharalah baik-baik wahai cucuku,” kata Batara Surya sambil meninggalkan Kunti. “Oh, bagaimana ini pukulan. Aku kan belum menikah bagaimana aku bisa mengandung,” tangisnya. Tapi itulah konsekuensi dari suatu salah tembak sebuah ajian. Akhirnya Dewi Kunti mengandung dan hamil lah serta lahirlah seorang bayi yang sehat yang diberi nama Karna. Dia diberi nama demikian, karena dia dilahirkan melalui telinga. Konsekuensi dari salah tembak Kunti ini adalah terjadinya perang besar Mahabharata yang salah satu tokohnya adalah Adipati Karma anak Kunti sendiri, melawan para Pandawa yang juga anak kunti. TANCEP KAYON

(Dalam Pepatah Jawa Sapa Nandur Ngundhuh Sapa Gawe Nganggo yang artinya Siapa berbuat harus bertanggung jawab).