DUA IBU TELADAN JAGAD PEWAYANGAN

(Refleksi Hari Ibu Melalui Wayang)

Prof. Dr. Bani Sudardi

(Guru Besar UNS/ Dewan Pakar SENAWANGI)

Tanggal 22 Desember adalah hari ibu dan untuk memperingati perjuangan ibu- ibu Indonesia di dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurut Wikipedia hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu.  

Dalam dunia pewayangan ada dua ibu yang sangat istimewa. Kedua ibu tersebut adalah Dewi Gandari dan Dewi Kunti. Meskipun keduanya termasuk ibu yang istimewa, namun ada beberapa hal yang menjadikan keduanya menjadi berbeda.

Dewi Kunti adalah istri dari Raja Pandu Dewanata yang berkuasa di Hastina. Pada suatu hari, Pandu dan istrinya sedang berada di hutan memburu binatang. Suatu masa, ada dua ekor kijang sedang bermesraan di dalam hutan tersebut. Pandu kemudian memanah kijang tersebut. Ternyata kijang tersebut adalah jelmaan seorang Brahmana bernama Resi Kindama bersama istrinya. Pandu kemudian dikutuk bahwa dia akan meninggal dunia ketika sedang bercumbu dengan istrinya. Karena kutukan tersebut, Pandu menjadi sangat sedih dan Ia memutuskan untuk tinggal di hutan sementara kerajaan Hastina diserahkan kepada kakaknya yang bernama Destarata.

Pandu Dewanata  merasa sedih karena dia tidak akan memiliki anak. Namun demikian, Kunti memiliki cara bahwa dia memiliki Aji Pameling yang dapat mengundang satu orang dewa untuk menganugerahi anak. Aji Pameling pemberian Resi Druwasa pun kemudian diterapkan dan Kunti berhasil memiliki tiga anak yaitu Yudhistira, Bima, dan Arjuna. Istri Pandu yang lain yaitu Dewi Madrim juga diajari ilmu tersebut dan akhirnya Dewi Madrim juga melahirkan anak kembar bernama Nakula dan Sadewa.

Dengan demikian, maka ada Lima anak yang berstatus sebagai anak Pandu. Kelima anak tersebut kemudian diberi gelar sebagai Pandawa yang artinya keluarga Pandu. Dari sini sudah tampak keteladanan Kunti, yang dalam hidupnya tidak hanya diam tetapi selalu berusaha menyelesaikan satu masalah. Di samping itu, Kunti adalah contoh seorang ibu yang adil. Keadilannya ditunjukkan dengan memberikan Madrim juga mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan anak dengan cara mengajarkan Aji Pameling kepada Madrim sehingga dapat mendatangkan Dewa untuk memberi anugerah anak. Lahirlah anak kembar Nakula dan Sadewa.

Kunti adalah teladan seorang ibu yang ikhlas dan penyayang. Ketika Madrim meninggal, maka Kunti dengan ikhlas menyayangi dua anak Madrim, yaitu Nakula dan Sadewa sebagai anaknya sendiri. Ini adalah sebuah teladan kasih sayang yang luar biasa.

Selama Pandawa masih kecil, maka Kunti selalu mendampinginya. Ketika Kurawa akan mencelakai Pandawa dengan tipu daya akan membakar Pandawa di Balai sigala-gala, maka Kunti tetap mendampinginya. Atas usaha Kunti dan bantuan patih Widura, maka Pandawa dapat selamat dari pembakaran keji kaum Kurawa.

Kunti adalah seorang wanita pendiam, namun kata-katanya diperhatikan oleh anak-anak. Bahkan, anak-anak menganggap kata-kata Kunti adalah sesuatu yang harus dipatuhi. Selanjutnya, dalam memilihkan guru, Kunti mencari guru yang arif dan bijaksana. Guru Pandawa adalah batara Krisna yang tidak lain silsilahnya masih Saudaraku Kunti. Dalam lakon Bima Bungkus, Kunti harus memelihara anak lima yang masih kecil-kecil. Di antara anak itu ada yang istimewa. Anak tersebut lahir masih dalam keadaan terbungkus ari-ari sehingga anak tersebut harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Anak tersebut adalah Bima yang selama 2 tahun dia berada dalam ari-ari dan sampai akhirnya ari-ari itu ditusuk oleh Gading seekor gajah sakti putra Batara Gana bernama Gajahsena. Cerita ini menggambarkan, bahwa Kunti menjaga anaknya dengan sangat baik, bahkan anak yang memerlukan bantuan.

Kunti selalu mengajarkan anaknya tentang Darma dan ajaran itu selalu dipenuhi anaknya. Pandawa terkenal sebagai satriya pemberani, sopan santun, jujur dan ksatriya. Pandawa terkenal sebagai satriya yang kuat prihatin.

Ibu teladan yang kedua adalah Dewi Gendari yang merupakan istri Destarata. Ibu ini adalah ibu yang sangat setia kepada suaminya. Ketika diketahuinya bahwa suaminya seorang buta, maka ia bersumpah untuk tidak akan membuka matanya agar bisa menikmati kebutaan sebagaimana suaminya.

Gendari juga seorang wanita yang ingin membahagiakan suaminya.  Ketika ia tahu bahwa Kunti sudah melahirkan anak, maka Gendari juga meminta kepada Dewata agar dianugerahi anak. Permintaannya luar biasa, dia meminta anak 100 agar suaminya bahagia dan dapat bersaing dengan anak-anak Dewi Kunti.

Ketika 100 anaknya lahir, sebenarnya Gendari sangat sayang kepada anak-anak. Dia didik anak-anak berbuat sesuai Dharma. Tetapi tampaknya, karena yang mendidik anak-anak adalah adiknya yang bernama Sangkuni, pendidikan anak-anak tidaklah sukses. Hal ini disebabkan karena Sengkuni sebenarnya ingin agar anak Gendarilah yang menjadi raja di Hastina dengan cara menyingkirkan anak-anak Pandu. Karena pendidikan Sengkuni yang diliputi oleh dendam dan akal busuk maka jadilah anak-anak yang sering disebut sebagai Kurawa menjadi anak-anak yang jauh dari sifat kastria dan bersifat culas.

Meskipun demikian, sebagai seorang ibu Gendari masih sangat menyayangi anak-anak. Dia selalu mendoakan keselamatan anak-anak. Bahkan dalam bagian akhir Mahabharata,   Gendari rela amal baiknya Menutup Mata selama hidupnya diberikan kepada Duryudana agar anaknya mendapatkan keselamatan dalam perang besar tersebut. Namun, Duryudana menutup pahanya dengan daun pisang sehingga paha tersebut tidak terberkati dan menjadi kelemahannya.

Kisah ini menunjukkan, bahwa seorang ibu yang baik tidaklah cukup untuk melahirkan anak-anak satria. Seorang ibu yang baik, harus juga menyediakan guru yang baik sebagaimana Dewi Kunti yang menyediakan Sri Kresna sebagai guru anak-anak sehingga Pandawa mengalami kesuksesan dalam kehidupan.  Kalau zaman sekarang, seorang anak harus disekolahkan sampai memadai.

 Pada sisi lain, Kunti tetaplah seorang manusia sehingga Kunti juga memiliki kekurangan seperti sebelum ia menikah ia sudah memiliki anak bernama Basukarna. Tokoh inilah yang nantinya akan menjadi pahlawan Kurawa yang akan berhadapan langsung dalam perang tanding dengan Pandawa, khususnya dengan Arjuna. Tokoh ini membela Kurawa karena merasa sudah diberi derajat dan pangkat sehingga ia merasa sudah berhutang budi kepada Kurawa, khususnya kepada Duryudana yang sudah mengangkat dirinya menjadi raja di kerajaan Awangga. Meskipun Basukarna seorang antagonis yang melawan Pandawa, orang Jawa tetap menganggap Basukarna sebagai seorang teladan. Hal ini digambarkan dalam Serat Tripama sebagai berikut.

yogya malih kinarya palupi

Suryaputra Narpati Ngawăngga

lan Pandhawa tur kadange

lèn yayah tunggil ibu

suwita mring Sri Kurupati

anèng nagri Ngastina

kinarya gul-agul

manggala golonganing prang

bratayuda ingadêgên senapati

ngalaga ing Korawa 

Demikianlah, dua contoh Ibu teladan dalam dunia pewayangan. Dua Ibu yang berjuang sungguh-sungguh untuk kebaikan dan kesuksesan anak-anak, bangsa, dan negaranya. Cerita wayang ini juga mengajarkan, sosok Ibu tidak dapat berdiri sendiri. Harus ada sosok Bapak dan sosok guru. Kalau salah mencari guru, maka akan salah juga arah kehidupannya.

TANCEP KAYON