NATAL DALAM DUNIA PEWAYANGAN JAWA

Oleh Prof. Dr. Bani Sudardi

(Guru Besar UNS/Dewan Pakar Senawangi)

Hari Natal adalah hari perayaan lahirnya Isa Almasih. Hari ini pada umumnya diperingati oleh saudara-saudara yang berarti agama Kristen. Secara internasional, hari Natal jatuh pada tanggal 25 Desember. Namun demikian, ada beberapa aliran dalam agama Kristen yang hari natalnya jatuh di hari lain. Seperti Kristen Advent tidak mengakui tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Isa Almasih. Sementara Kristen Koptik percaya Natal jatuh tanggal 7 Januari.

Natal sudah menjadi bagian kebudayaan dunia. Perayaan Natal mempengaruhi dinamika sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Sedikit yang tahu bahwa Natal ternyata juga masuk ke dalam dunia pewayangan Jawa. Cuma sepertinya, lakon yang berhubungan dengan Natal ini jarang dipentaskan. Pementasan cerita Natal, dalam masyarakat Jawa biasanya diadakan melalui pementasan wayang Wahyu. Wayang jenis ini adalah wayang kreasi baru yang muncul di Surakarta dengan mengambil cerita-cerita yang lama dan perjanjian baru dan berkembang di lingkungan masyarakat Kristen.

Di dalam kebudayaan Jawa secara umum, cerita tentang Natal ini juga masuk dalam cerita pewayangan. Cerita tersebut muncul dalam serat Paramayoga yang diperkirakan ditulis oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito. Di dalam surat tersebut, terdapat interaksi antara tokoh Batara Guru dengan Nabi Isa (Nabi Ngisa). Munculnya kisah yang berkaitan dengan Natal ini pun dapat dipahami karena semasa hidupnya ronggowarsito banyak bergaul dan bekerja sama dengan orang-orang belanda yang beragama Kristen. Misalnya, kerja sama dengan C.F. Winter menyusun kamu bahasa Jawa Kuna.

Kisah interaksi Batara Guru dan Nabi Ngisa itu dijadikan penjelas dalam wayang , yaitu Batara Guru menjadi lumpuh sehingga harus naik sapi Andini. Pada adegan selanjutnya Batara Guru juga menjadi putih tenggorokannya karena meminum air dari Telaga Upas yang merupakan kejadian dari burung merpati yang dikirim oleh Nabi Ngisa,

Diceritakan bahwa pada waktu itu Batara Guru tinggal di Kahyangan Gunung Tangguru. Tersiarlah kabar bahwa di negeri Bani Israil Nabi Ngisa sudah dilahirkan.Ibunya bernama Dewi Maryam. Hal itu menjadikan Batara Guru ingin melihat nabi Isa. Batara Guru segera memerintahkan seluruh anaknya yang berupa para dewa untuk mendampinginya karena Batara Guru ingin melihat wajah Nabi Isa. Batara Guru dan anak-anak lalu menggunakan pakaian siluman sehingga tidak bisa dilihat dan sebentar saja sudah sampai di depan Nabi Isa.

Diceritakan pada waktu itu Nabi Isa sudah berumur 1 bulan. Ketika kedatangan Bandara Guru dan rombongannya, nabi Isa sedang dipangku oleh ibunya sebagaimana bayi pada umumnya. Melihat hal itu, batara Guru mencibir dan  heran karena di lingkungan para dewa bayi itu sudah bisa terbang dan berjalan-jalan. Karena itu, Batara Guru  lalu berkata.

“Ini   ada bayi yang akan menjadi orang paling unggul di bumi, tetapi kenapa waktu bayi masih seperti bayi biasa melumah seperti itu,” katanya.

 Perbuatan Batara Guru itu menjadikan Dia terkena kutuk. Dalam sekejap kaki kirinya menjadi lumpuh. Namun, bagi Batara Guru lumpuh kaki tidak masalah karena dia bisa terbang. Karena itu, meskipun kakinya lumpuh  tidak menjadikan Batara Guru menjadi sadar. Dia justr sangat marah dan ingin membunuh Nabi Ngisa dan Dewi Maryam. Batara Guru minta bantuan seluruh dewa-dewa ngikutinya.

Batara Guru dan para Dewa lalu mengeluarkan seluruh jaya kawijayan dan pengabaran. Tetapi, yang terjadi ternyata di luar dugaan. Batara Guru dan para dewa yang akan membunuh nabi Ngisa dan ibunya, justru jatuh lalu pingsan. Ketika bangun, Batara Guru merasa kalah lalu pergi menjauhi Nabi Ngisa dan ibunya.

Setelah Nabi Ngisa dewasa, Nabi Ngisa sudah memiliki banyak sahabat yang mengikutinya. Suatu hari salah satu sahabatnya berkata.

“Dhuh Kanjeng Nabi sebaiknya Paduka melebur para dewa yang mengaku Tuhan yang sekarang tinggal di Gunung Tangguru,” kata sahabat.

Nabi Ngisa lalu diam tidak menjawab karena tidak tahu dan tidak mendapat wangsit dari Allah Tangala. Tetapi para sahabat lalu mengejar terus agar mengambil tindakan terhadap para dewa. Akhirnya Nabi Ngisa meminta petunjuk Allah Tangala. Betul yang disampaikan Allah bahwa diijinkan mengambil tindakan kepada para dewa tersebut.

Nabi Ngisa lalu mengambil tanah liat lalu dikepal-kepal membentuk burung. Yang terjadi adalah burung merpati yang benar-benar hidup lalu burung merpati itu memiliki racun di paruhnya. Burung itu dilepas lalu dikirim kepada Batara Guru.

Kedatangan burung merpati itu sudah diketahui oleh Batara Guru. Ia segera memerintahkan para dewa untuk menghadapi burung tersebut. Belum sampai terjadi pertemuan maka datanglah burung merpati itu. Hebatnya burung merpati itu ternyata bisa bicara.

“Hai sang batara Guru. Hai sang Pasopati kedatangan saya di sini membawa perintah nabi Ngisa yang mengajak kamu dan bala tentaramu untuk mengikuti agama Yang Maha Suci yang menguasai seluruh dunia. Ingatlah kamu semua jangan mengaku sebagai Tuhan di bumi. Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang wajib disembah. Kalau kamu tidak mau maka istanamu pasti saya rusak,” demikian kata burung tersebut.

Mendengar hari itu, batara Guru justru menjadi marah. Lalu dia segera memerintah para dewa untuk menyerang burung tersebut. Ternyata burung tersebut bisa terbang tinggi sehingga para dewa berada di bawahnya lalu dari paruh burung itu keluar racun yang racun itu menyebar ikut angin sehingga mengalir deras seperti hujan. Para dewa merasa ketakutan mengikuti burung merpati yang terbang di langit tersebut. Selanjutnya kayangan Junggringsalaka menjadi kacau balau karena racun burung itu telah menyakiti para dewa. Pada waktu itu para bidadari dan penghuni khayangan merasa sakit oleh panasnya racun yang panasnya 10 kali lebih panas dari api. Para dewa dan dewi sangat menderita lalu mereka melarikan diri tetapi burung   itu tetap mengikuti dan tidak berhenti menjatuhkan racunnya.  Para dewa kemudian bubar tidak karuan,  hanya batara Wisnu yang tidak lari dan tidak terpengaruh oleh racun yang dibawa oleh burung tersebut.

Sementara Batara Guru beserta istri dan anak-anak selalu saja diikuti oleh burung yang terbang itu. Batara Guru lalu ingat bahwa dia memiliki anak bernama Batara Wisnu yang sangat sakti lalu ia berkata kepada Batara Wisnu

“Hai anakku Wisnu ketahuilah kalau peristiwa ini terjadi terus maka   saudara-saudaramu semua  akan menemui ajal. Karena itu cepatlah tolong kami semua,” kata Batara Guru sedih.

Batara Wisnu kemudian segera menyiapkan diri untuk melawan burung merpati itu ia lalu mengambil senjata cakra dan dilepaskan kepada burung merpati itu. Burung itu langsung jatuh di tanah Padang di lereng gunung Merapi lalu menjadi telaga yang disebut Telaga Upas. Istimewanya telaga airnya bening, tetapi mengandung racun yang sangat kuat.

Setelah lenyap burung merpati itu  dan menjadi Telaga Upas, lalu terdengarlah suara menggelegar yang sangat keras yang besar dan suasana menjadi gelap gulita. Matahari tidak tampak. Para dewa kemudian menjadi bingung setelah 3 hari matahari muncul tetapi cahayanya sangat panas. Karena itu, itu mereka segera mencari tempat minum lalu terlihatlah  sebuah telaga yang bening. Telaga itu telaga Upas yang sangat berbahaya.

Para dewa dan dewi segera mendekati Telaga Upas. Mereka sama sekali tidak tahu tentang asal-usul telaga itu dan mereka berebut untuk minum airnya tapi setelah minum para dewa itu jatuh pingsan lalu meninggal dunia.

Batara Guru datang ke Telaga paling akhir. Dia kaget melihat para dewa dan dewi berjatuhan mati semua. Batara Guru mencoba minum air, ternyataair itu terasa panas. Air hanya sampai tenggorokan lalu disemprotkan keluar.   Hal itu meninggalkan jejak bahwa Batara Guru warna kerongkongannya menjadi belang putih. Karena itu, Batara Guru sering disebut Sang Hyang Nilakanta (Dewa Yang Tenggorokannya Putih)

Melihat para bidadari dan para dewa itu meninggal maka Batara Guru ingat memiliki pusaka berupa air kehidupan sehingga para dewa dan bidadari dihidupkan dengan air tersebut. Karena peristiwa ini Batara Guru kemudian pergi ke Timur dan melihat pulau yang panjang maka pulau yang panjang atau dawa. Kemudian ia tingga di Pulau Dawa itu dan diberi nama pulau Jawa. Seejak itu Batara Guru tinggal di gunung di Pulau Jawa yang disebut Gunung Lawu. Kayangan Batara Guru disebut Arga Dumilah.

TANCAP KAYON

Di atas langit masih ada langit. Batara Guru yang merasa paling sakti ternyata dipermalukan oleh Nabi Ngisa tanpa melalui pertempuran.