OBITUARI KI WARSENA SLENK

Oleh : Prof. Dr. Bani Sudardi

(Guru Besar UNS/Dewan Pakar SENAWANGI)

Pada hari Kamis Pon, tanggal 12 Desember 2024 pukul 04.15 WIB dunia pedalangan berduka kehilangan seorang maestro pedalangan yang sangat berjasa dalam mengangkat wayang dalam arena kebudayaan dunia. Telah meninggal dunia seorang maestro pedalangan  Ki Warsena Slenk.  Beliau meninggal di Rumah Sakit  PKU Muhammadiyah Solo. Kita berdoa semoga Ki Warsena Slenk mendapatkan tempat yang sesuai di hadapan Tuhan Yang Mahaesa

Nama aslinya adalah Ir. Warseno Hardjodarsono, M.Si. lahir 18 Juni 1965 adalah seniman yang lahir dari bakat alam. Beliau adalah putra dari seorang dalang kondang di Klaten yang bernama Ki Harjadarsana. Ki Warsena Slenk masih adik kandung Ki Anom Suroto yang merupakan maestro dalang  saat ini.  Ki Harjadarsana yang juga merupakan dalang terkenal di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (tahun 1950-1975). Di samping itu ia pernah belajar pedalangan selama dua semester di STSI Surakarta. Gaya pakelirannya pada awalnya mengikuti gaya kakaknya, Ki Anom Suroto. Namun kreatif dia dapat menemukan ciri khas gaya pakelirannya yang komunikatif dan selalu dekat dengan kalangan muda yang cenderung hura-hura atau slengekan. Warseno terkadang mengkolaborasikan berbagai musik etnis dan Barat dan banyak melakukan eksperimen kreatif dengan memadukan beberapa aliran musik seperti rock, punk, rap yang dipadukan dengan gamelan. Hasilnya adalah musik gamelan kolaboratif yang digandrungi kawula muda, wayang campursari. Kata slenk berasal dari kata slengekan bahasa Jawa, yang dapat diartikan unik, aneh, atau beda dengan lainnya.

Ki Warseno Slenk adalah dalang yang sangat memperhatikan pendidikan. Meskipun pada masanya sebagai dalang dia termasuk dalam yang laris, namun dia selalu berusaha untuk meningkatkan Kemampuan akademiknya. Mungkin sedikit orang yang tahu bahwa  Warsena Slenk adalah lulusan Fakultas Pertanian, Universitas Tunas Pembangunan Solo. Banyak yang mengira, bahwa dia adalah lulusan sekolah seni. Setelah itu dia juga menempuh pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada. Yang terakhir, Ki Warsena Slenk berhasil menyandang gelar doktor dari Fakultas Ekonomi,  Universitas Sebelas Maret. Menurut catatan pada waktu itu, beliau adalah satu-satunya dalang yang bergelar doktor.

Di samping dikenal sebagai dalang yang kreatif dan digemari oleh Kawula Muda, di Warsena Slenk adalah seorang pengusaha yang berkaitan dengan dunia seni. Dia adalah pemilik dua Stasiun Radio di Surakarta yaitu radio Suara Slenk. Radionya  memiliki keunikan yaitu selalu menyiarkan aspek seni budaya, termasuk di dalamnya menyiarkan pagelaran wayang yang sering  dipentaskan oleh Ki Warseno Slenk pada setiap hari kelahirannya yaitu Setu Legi. Berkat usahanya di bidang radio ini teman-teman sering bergurau bahwa Ki Warsena Slenk meskipun tidak laku mendalang tetapi tetap bisa hidup dengan tenang. Namun demikian, yang pasti dari kedua radio ini suara dan ide-ide dalang tersebut dapat disampaikan kepada masyarakat secara merata ke pelosok-pelosok  di mana radio tersebut bisa dijangkau.

Slank adalah seorang dalang yang sangat mengedepankan aspek moral dan keluhuran budi. Dalang ini sangat memprihatinkan lunturnya moral dan etika generasi muda. Generasi muda perlu mendapat nasihat. Penasihat itu digambarkan sebagai Kresna.

“Kresna dari dasar tembung (kata) ‘kres’ itu tajam ‘na’ itu terang. Nah, jadi di tengah pergolakan generasi milenial akan lunturnya etika dan moralitas, perlu ada tokoh yang tajam menasehati mereka agar cepat kembali kejalan yang lebih terang”  tuturnya dalam suatu kesempatan.

Ki Warsena adalah seorang dalang yang berprestasi. Pada tahun 1995 dia dinobatkan sebagai Dalang Favorit Greget Dalang Indonesia dalam rangka memperingati Indonesia emas ke-50 yang menampilkan 50 dalang di keraton Surakarta secara  berturut-turut. Disamping menggeluti profesi sebagai dalang, Ki Warseno Slenk juga diangkat sebagai staff ahli BPIP (Badan Pembinaan Idiologi Pancasila)

Taufiq Hidayat dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah mengadakan penelitian tentang ajaran moral dalam  lakon Semar Mbangun Kayangan. Dalam penelitian tersebut Taufiq mencoba mendeskripsikan dan menganalisis wayang kulit lakon Semar Mbangun Kahyangan sanggit Ki Warseno Slenk dan relevansinya dengan pendidikan agama Islam.   Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lakon Semar Mbangun Kahyangan yang disanggit oleh Ki Warseno Slenk mempunyai maksud bahwa seorang Semar akan membangun kejiwaan para kawula dan pepunden-nya. Dalam lakon ini banyak mengandung nilai pendidikan moral, baik yang moral yang terpuji maupun tercela. Moral yang terpuji di antaranya: religius, adil, demokratis, mandiri, peduli sosial, syukur, jujur, dan menghargai orang lain. Adapun moral yang tercela di antaranya: marah (ghaḍab), dengki (ḥasad), sombong (takabbur), dan membunuh. Terdapat relevansi antara nilai pendidikan moral dalam lakon Semar Mbangun Kahyangan sanggit Ki Warseno Slenk dengan pendidikan agama Islam, di antara relevansinya terdapat dalam beberapa komponen pendidikan, yakni tujuan pendidikan, fungsi pendidikan, metode pendidikan.

Hal di atas, menunjukan bahwa Ki Warsena Slenk memadang peduli terhadap moral bangsa, khususnya di kalangan genetrasi muda.

Selamat jalan Ki Dalang Warsena Slenk/12 Desember 2024