Bila sampeyan tidak nonton acara ILC di TVOne hari Selasa, 13 Februari 2018 berarti rugi. Mengapa? Disana, ketika membahas “Teror ke pemuka agama, adakah dalangnya?”, para narasumber pada NGAMUK-AN. Dengan nada berang mereka kritik pak polisi yang tidak cekatan dan berperi-laku tidak adil terhadap ulama yang sama-sama di bacok. Aktifis muda Mustofa Nasrawardaya menyoal: “Belasan kali ulama Islam dihajar dan dibantai, tapi Densus nggak pernah turun. Ada apa? Tapi, demikian gereja dihajar, Densus turun dengan sangat lengkap pasukannya….”

Setelah pak polisi kena damprat, gantian ilmuwan Rocky Gerung dengan nada geram mengritik Presiden Jokowi. Dia bilang: “….beliau (Presiden) bilang begini ‘Jangan kita lupakan keindahan kerukunan, karena selama ini kita telah hidup rukun’. Sebagai ucapan, itu sastrawi…. Tapi isi informasinya nol.”

Namun, diakhir acara, pak Mahfud MD memberikan penyejukan. Tentang pak polisi yang terpojok dia bilang: “Mari kita persilakan polisi untuk bekerja lebih keras, untuk mengungkap (dalang dibalik peristiwa kekerasan) ini, tentu dibantu oleg kita semua, institusi-institusi negara, parpol, ormas dll.” Sedang tentang upaya menjaga kerukunan, dia menyarankan: “Jangan terlalu ekstrim, terlalu pemarah. Karena sebenarnya agama itu pembawa damai. Adalah salah (bila) anda itu beragama, (tetapi) bila hidup anda tak damai.”

Penyejukan yang dihembuskan mantan Ketua MK, Fahfud MD, juga pernah dilakukan Prabu Salya dalam ceritera Kresna Duta. Sebelum Kresna tiba, di parepatan agung negeri Astina, suasana NGAMUK-AN juga terjadi. Duryudana dan Sengkuni berselisih paham dengan Durna tentang negeri Indraprasta yang masih dikuasai Kurawa. Akhirnya Prabu Salya berkata: “Sudahlah ngger, anak Prabu Duryudana. Rucat-en kemarahanmu itu. Walau tidak seluas dan seindah Indraprasta, tapi negeri Mandaraka termasuk negeri papan atas, sejajar dengan Mandura, Wirata, Dwarawati, Cempalaradya dll. Jika jengandika bersedia mengembalikan negeri Amarta, dengan rela dan tulus iklas, negeri Madras berikut semua isi dan jajahannya akan kupersembahkan kepada Anak Prabu Duryudana. Saya sudah tua kok ngger. Umurku bulan lalu sudah 73 tahun. Saya mau lengser keprabon dan akan madhepok di gisiking samodra lor. Pun bapa akan memanfaatkan sisa hidup, nyingkur kadonyan memperkuat pancatan munggah Mahameru, memenuhi panggilan Hyang Manon.

Muara dari apa yang disampaikan Salya atau Narasoma dan Mantan Menhankam jaman Presiden Gus Dur diatas adalah sama, yaitu damai. Ada dua tujuan, mengapa Salya menawarkan negerinya kepada sang menantu. Pertama, Pandawa memperoleh perlakukan adil. Dua, perang Bharatayuda bisa dihindari, sehingga suasana damai antara Pandawa dan Kurawa bisa terjaga.

Bacaan saya akan ajakan Pak Mahfud MD kepada kita semua untuk membantu pak polisi, paling sedikit juga punya maksud ganda. Pertama, institusi negara (termasuk DPR/DPRD/MPR/DPD), Partai Politik, Ormas, ilmuwan, termasuk Rocky Gerung dll supaya lebih meningkatkan kwalitasnya, sehingga mereka lebih laik membantu dan lebih berwibawa untuk mendesak POLRI agar mampu berbuat adil. Dua, menghindari penyebab perpacahan, yaitu suka marah-marah dan perilaku ekstrim.

Kalimat terakhir yang disampaikan satu-satunya narasumber yang tidak bersikap NGAMUK-AN dalam acara ILC diatas adalah: “Orang beragama itu tidurnya nyenyak, makannya enak, selalu senyum dengan orang lain, disenangi oleh orang lain.” Siapa mereka? Antara lain ya Kelompok Srikandi Lintas Iman, Majlis Dzikir Gus Durian (MDG’s) D.I. Yogyakarta, yang keraya-raya datang kegereja St. Lidwina berdzikir memberikan dukungan, pak Ahmad Muttaqin Alim berikut isterinya ibu Jirhas Ranie dan masyarakat sekitar yang gugur gunung, agar mereka tidak kijenan. MERDEKA
TANCEP KAYON