Saking murkanya, paling sedikit 3x Pak Béyé menggunakan kata JUHAD, ketika dia melakukan konferensi pers di Kantor DPP Partai Demokrat, untuk menggugat pengacara pak Setnov, Firman Wijaya. Pak Béyé bilang: “Inilah perjuangan saya, inilah JIHAD saya, JIHAD untuk mendapatkan keadilan dinegara yang sangat saya cintai… Saya katakan tadi, saya akan melakukan JIHAD untuk sebuah keadilan…”

Mengapa Pak Béyé bisa ngamuk, sampai-sampai menggunakan kata sakral yang sedang ngetren dijaman Now, JIHAD, ya karena dia merasa difitnah dan dicemarkan nama baiknya. Dengan keterangan saksi Mirwan Amir, Firman Wijaya menganggap Pak Béyé adalah kekuasaan besar dibalik proyek e-KTP. “Mirwan bilang, dia sampaikan kepada pemenang Pemilu 2009, bahwa urusan e-KTP ini ada masalah, jangan dilanjutkan. Tapi instruksinya tetap diteruskan. Jadi jelas yang namanya intervensi, ini yang disebut kekuasaan besar,” celotehnya.

Tokoh wayang ber-pahit lidah, penebar sakit hati, yang menjadi salah satu picu Pandawa Dhadhu adalah Pancali alias Drupadi. Dalam ceritera Sesaji Rajasuya, Duryudana kecebur balumbang yang dibangun didepan balairung istana Undraprasta. Tentu saja kejadian itu mengundang tertawa 100 kepala pemerintahan negara sahabat, 7 brahmana suci nan sakti, puluhan haksahini prajurit serta tak terhitung banyaknya kawula Amarta yang hadir disitu. Disela gelak tertawa, tiba-tiba Dewi Drupadi bergumam: “Dasar anak orang buta, Drestarastra.” Mak cep… gaung tertawa terhenti. Dan mak klépat , tanpa pamit, Duryudana meninggalkan parepatan agung sambil berkata: “Hai Drupadi. Mungkin ayahandaku bisa menerima. Tapi aku, anak-é lanang ora trima. Saya bersumpah akan menuntut balas berikut bunganya. Mari paman Sengkuni, kita tinggalkan upacara haram oleh para kafir ini.”

Ucapan si Pahit-Lidah Drupadi bisa disepadankan dengan ucapan Firman Wijaya, sehingga mendorong Pak Béyé untuk mengatakan “This is my war” dan “JIHAD”, yang akan ditempuh sampai kapanpun juga. Lha ya siapa orangnya yang ora serik atiné, dibilang menjadi aktor dibalik mega korupsi yang membuat geleng kepala. Tidak hanya Pak Béyé, si-bungsu Ibas juga mau ditarik-tarik ke urusan itu oleh terdakwa Setnov, sehingga Presiden SBY mengeluh: “Air susu dibalas air tuba.” Bersyukur, Pak Béyé tetap berpikiran jernih, dengan lapor ke Bareskrim POLRI.

Sebenarnyalah, ya memang harus begitu. Dari pengadilan yang terbuka akan ketahuan, seperti apa peranan Pak Béyé dalam proyek e-KTP? Tipe pengacara seperti apakah Firman Wijaya itu? Bagaimanakah halnya dengan anak anung (hebat) anindita (rupawan) Ibas, yang bolak-balik diisukan terlibat? Mirwan Amir itu hanya pion pesuruh konspirasi besar atau pembual ecek-ecek? Dan dengan kejadian ini, sudah cukupkah syarat menjadi Justice Collaborator bagi Setya Novanto? Rakyat berhak tahu dan karenanya harus blak kotang, jangan ada yang ditutup-tutupi. Lebih dari itu, dari perkara ini kita akan mendapat pemahaman, tentang apa sebenarnya yang disebut dengan laku JIHAD, dan dalam kondisi bagaimana JIHAD diterapkan.

Seperti halnya Duryudana yang akan menuntut balas plus bunga, apakah Firman Wijaya juga akan seperti Drupadi dalam ceritera Pandawa Dhadhu? MERDEKA.
TANCEP KAYON