Presiden Jancukers, wong bagus Sujiwo Tejo alias Jack Setengah Gendeng bercuit: “Seorang ahli survei ngetwit bahwa tuntutan dan ekspresi mahasiswa ‘Kartu Kuning’ UI (adalah) wajar, begitu pula tindakan Paspampres.” Menurut dia, yang tidak wajar justru komen-komen di medsos yang digoreng demi jagoannya masing-masing. Sekarang, gorengannya tidak hanya di medsos, tapi juga dimedia-media jalur utama, walau Presiden Jokowi mengatakan: “Ya yang namanya aktivis muda, ya namanya mahasiswa, dinamika seperti itu biasa-lah. Saya kira, ada yang mengingatkan, itu bagus sekali.” Ya sudah, nggembos.

Karena dengan cara semprit kartu kuning Saadit Taqwa istana bergeming, sekarang yang digoreng bukan hanya tiga substansi tuntutan, tapi sudah merambah kepada kinerja Pemerintahan Jokowi. Akibatnya, penilaian politik pragmatis tak bisa disembunyikan lagi. CALL TINGGI agar Presiden Jokowi maksimum dicukupkan satu periode saja karena gagal kinerja mulai berkibar. Itulah bacaan saya atas cuitan Jack Setengah Gendheng.

CALL TINGGI didunia wayang pernah dilakukan Rama Regawa terhadap Dasamuka. Dalam sebuah perundingan rahasia yang direkayasa oleh Kumbakarna, dengan gigi gemeretak Dasamuka bicara menahan murka: “Hai Rama Regawa! Silakan ambil Shinta ditaman Soka. Saya berani sumpah, Shinta masih suci seperti ketika pertama kali kuambil dari tengah hutan. Setelah itu mari kita perang tandhing, bertempur satu lawan satu.

Kalau aku mati, kamu berhak memondong Shinta kembali ke Pancawati, demikian pula sebaliknya.” Rama Regawa melakukan aksi CALL TINGGI: “Jangan rendahkan Shinta menjadi barang taruhan. Dia adalah babu baboning jagad, titisan Dewi Widowati, yang menebar kesejahteraan umat manusia. Sedang aku, Rawa Regawea, adalah utusaning adil, yang bertugas menumpas kusumalaningrat, leleketheking jagad, gelah-gelahing bumi, panuksmaning jajalanat. Menghancurkan keangkara-murkaan yang kau sandang, dengan sendirinya Shinta akan kembali kepangkuanku.” Dasamuka memaki: “Drohuuuun…”. Mak sret … pedang Mentawa terhunus. Sebelum pedang berkelebat, bersegera Kumbakarna menahan tangan kakaknya, dan mak wet … Anoman membuat veiligstelling, dengan menyambar Rama, dibopong terbang kepakuwon Swelagiri.

CALL TINGGI Rama bisa disepadankan dengan wacana yang digoreng politisi demi jagoannya masing-masing. Ketika gempuran Wakil Ketua Umum GERINDRA, Fadli Zon dan Wakil Ketua Umum PAN, Helmi Rais untuk menghentikan Presiden Jokowi satu periode saja, serta Rapot Merah PKS bagi Pemerintahan Jokowi-JK tak mampu menurunkan elektabilitas, “semprit kartu kuning” BEM UI menjadi sangat laik dijadikan pintu masuk CALL TINGGI. Bersegara jamhur PAN, Amien Rais menggaris-bawah-i BEM UI dengan memberikan kartu merah kepada Presiden Jokowi. Kinerja Presiden Jokowi dinilai blas ora ana sing apik, bahkan telah menyengsarakan rakyat. Seandainya Pak Amien masih muda dan masih menjadi Ketua MPR seperti jaman Pemerintahan Gus Dur, aksi CALL TINGGI niscaya akan beroperasi lagi.

Tak ketinggalan, Fadli Zon mengerek bendera CALL TINGGI dengan membuat sanjungan sajak bagi Zaadit Taqwa berjudul ‘Sajak Peluit Kartu Kuning’. Senada dengan sikap Amien Rais, kayaknya pencerca ulung dari pakuwon GERINDRA ini sudah sampai ketingkat tak sabar menunggu, karena dadi-a banyu emoh nyawuk, dadi-a godhong emoh nyuwek.

Anehnya, dari PKS nyaris tak terdengar pernyataan menggebu seperti halnya PAN dan GERINDRA. Mungkin partai politik ini sudah cukup puas dengan CALL TINGGI dalam bentuk aksi mas Zaadit Taqwa beserta ‘peluit kartu merah-nya”. MERDEKA
TANCEP KAYON