Romo Karl Edmund Prier SJ beserta empat orang lainnya terluka gara-gara disabet pedang oleh Suliono cah mBanyuwangi. Pada waktu itu sedang ada Misa Mingguan, 11 Februari 2018 pukul 07:30 di Gereja St. Lidwina Bedog, desa Trihanggo, Kec. Gamping, Sleman, Yogyakarta. Atas kejadian itu Buya Syafi’i Ma’arif ngendika, penyerangan itu adalah aksi biadab. “Sangat menyesalkan. Ini sangat melukai Indonesia,” imbuhnya saat mengunjungi gereja St. Lidwina hari itu juga. Tidak hanya Romo Prier yang terkena sabetan samurai, Bhiksu Mulyanto juga kena gerudug dan diusir meninggalkan Desa Babat, Kec. Legok, Tangerang, karena dituduh menggunakan tempat tinggalnya menjadi tempat ibadat. Dilain pihak, tanggal 27 Januari 2018, pengasuh pondok pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Bandung, KH. Umar Basri, yang juga pengurus NU, sehabis wiridan diserang orang gendheng dengan teriakan: “Ini mah neraka semua.”

Atas kejadian-kejadian diatas, Ketua Umum DPP GP Asor, gus Yaqut Cholil Qoumas bilang: “Kami minta aparat kepolisian usut tuntas kasus ini dan apa motif di belakangnya. Jangan asal dibilang pelakunya diduga gila. Masak dari semua kejadian pelakunya gila semua. Aneh.” Wah, POLRI kena getahnya. Padahal kejadian diatas tidak hanya semata-mata pidana, tetapi pemahaman akan Pancasila yang masih MANGRO TINGAL atau mendua, juga ikut berperan didalamnya.

Sikap MANGRO TINGAL atas Pancasila pernah dialami Basudewa, ketika ditantang adu jago oleh putra tirinya, Kangsa. Sudah jelas, latar belakang adu jago itu adalah kudeta, lha kok dituruti. Sepertinya Basudewa goyah akan sumber hukum dasar negeri Mandura. Gotong royong menjadi acuan utama, bukan kekerasan, dalam hal ini adu jago, yang taruhannya negeri Mandura atau Sengkapura. Ya sudah, kacau. Sebenarnyalah sejak awal sudah terlihat kelemahan Basudewa. Daripada ribut dengan Kangsa, dia lebih memilih mengungsikan ketiga anaknya, Kakrasana, Narayana, dan Lara Ireng ke Kademangan Widarakandang. Tapi toh akhirnya harus diakui bahwa pilihan itu ternyata tak menyelesaikan soal. Beruntung ada Bima, yang dengan rela menjadi jago Kasepuhan, untuk melabrak habis jago Kanoman, Suratrimantra.

Sebenarnyalah, sikap MANGRO TINGAL tentang Pancasila “beneran”dan Pancasila “gethok-gethokan” masih berlangsung hingga sekarang. Padahal kedua-duanya disebut “harga mati”. Mungkin kekurang-jelasan Inilah yang menyebabkan sikap POLRI dinilai oleh sementara pihak kurang mak jegeeer, seperti halnya menyikapi masalah sosial yang lain. Oleh karenanya, untuk menanggapi peristiwa-peristiwa diatas, suara Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, yang dipimpin ideolog Yudi Latif perlu didengar. Dia bisa menjelaskan, apakah kejadian itu masih bisa ditolerir oleh Pancasila atau tidak. Sikap MANGRO TINGAL seperti halnya Basudewa harus diakhiri, agar tidak terjadi usaha coup d’etat kayak di Mandura. MERDEKA
TANCEP KAYON