Nanti akan lebih banyak lagi koruptor yang KAMI THOTHOLEN bila permohonan Setya Novanto menjadi Justice Collaborator, JC dikabulkan KPK. Sekarang mantan Ketua DPR itu sedang diuji, apakah dia telah mengakui segala kesalahan dan bersedia memberi informasi akurat antas perbuatan pihak-pihak lain yang lebih besar dan luas. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, penyandang JC, juga telah memberi informasi benar dan luas, sehingga Ketua Umumnya sendiri, bung Annas Urbaningrum masuk bui.

Tentang koruptor lain yang akan diungkap oleh Setnov, pengacara Firman Wijaya mengatakan: “Yang lebih penting soal JC bagi saya pada pak Nov adalah soal keadilan. Fairness process. Kenapa kok saya yang diburu. Kenapa nama-nama lain hilang. Itu jadi harapan dalam pengajuan JC.”

Menjadi saksi JC juga dialami Gunawan Wibisana dalam seri Ramayana. Gunawan menolak dengan sangat tabiat Dasamuka menculik Shinta. Berteguh pada sikap itu, kedharang-dharang dia tinggalkan Kadipaten Singgelapura untuk mengabdi kepada titisan Wisnu, Sang Rama Regawa. Bukanlah usaha mudah untuk bisa mengabdi, apalagi ada penolakan dari Narpati Sugriwa. Tapi dengan sabar dia buktikan kesungguhannya. Dia bongkar isi dapur negeri Alengka, seperti: Kepala intel Kalamarica, divisi teror yang dipimpin Yuyurumpung, Bajulsengara, dan Garulangit, kuku beracunnya Sarpakenaka, kutuk Jambumangli atas keturunan Wisrawa, Kumbakarna, menguak siapa sebenarnya Indrajid, si anak lanang Dasamuka dll. Informasi-informasi inilah yang menjadi kunci kemenangan.

Walau niatnya bisa dibilang bertolak belakang, tetapi langkah mantan Ketua Umum GOLKAR menjadi JC bisa disepadankan dengan langkah Wibisana. Niat Setnov menjadi JC adalah kepentingan pribadi, agar mendapat keringanan hukuman dan pengakuan bahwa dia bukan pelaku utama, serta ti-ji, ti-bèh, mati siji mati kabèh. Landasan sikap ini beda dengan Gunawan. Putra bungsu pasutri Begawan Wisrawa-Dewi Sukèsi ini adalah rahmatan li’lalamin, menjadi berkat bagi semesta alam. Tak ditemukan vested pribadi disana. Idealismenya utuh, orientasi menjunjung tinggi kebenaran dan menghapus loba serta rakus ora méngo-méngo- tak peduli itu saudaranya sendiri.

Tapi, apapun motivasinya, keterangan akurat Setnov sangat diperlukan untuk bisa mengungkap korupsi. Dengan begitu, paling tidak saya dan anda akan memperoleh jawab, apakah Pansus Angket DPR itu sejati-jatinya Pansus, atau hanya Pansus-nya makluk cat katon cat ora untuk akal-akalan menutup aib dan pukulan balik. Kita juga akan tahu, apakah tuduhan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, bahwa kasus e-KTP hanyalah omong kosong mainan Agus Rahardjo, Novel Baswedan, dan Nazaruddin.

Sebenarnyalah, bila Setnov menjadi Justice Collaborator, akan banyak Nayaka Buta Cakil, Pengusaha Buta Rambutgeni, dan Politisi Buta Terong pada KAMI THOTHOLEN takut masuk bui. MERDEKA.
TANCEP KAYON.