Pak Paspampres minta agar Gubernur DKI tidak ikut naik podium mendampingi Presiden Jokowi untuk menyerahkan Piala Presiden. Anies menurut dan Anies menang. Mengapa? Pertama, dikesankan, bahwa karena jasa Anies-Sandi-lah maka Persija menjadi juara. Oleh karenanya, Gubernur Anies dibopong-bopong dan dipeluk-peluk Jakmania di Balai Kota. Dua, karena berita pencegahan Pak Paspampres itu mak sreng… digoreng menjadi viral yang mengundang simpati. Koordinator Forum Rakyat, Lieus Sungkharisma MENGGORENG BOLA: “Pembawa acara sudah menyebut gubernur Jakarta untuk ikut ke panggung penyerahan hadiah. Tapi entah kenapa tiba-tiba dilarang. Mustahil petugas Paspampres tidak kenal wajah pak Anies.”
Wajan penggorengan bola kedua berasal dari Wasekjen Gerindra, Andre Rosiade. Dia angkat bicara: “Namanya (Anies) last minute dicoret dan ditahan paspampres”.

MENGGORENG BOLA seperti diatas juga terjadi dalam ceritera Samba Juwing. Sepulang dari menghadap ibundanya, Betari Pertiwi di kahyangan Ekapertala, Boma Narakasura menemui Samba seraya berkata: “Adhiku lanang bocah bagus Samba. Kalau kamu memang mencintai Agnyanawati, pondhonglah dia kemari. Saya-lah yang akan mengawinkan kamu berdua. Setelah itu boyonglah dia pulang ke Paranggaruda untuk menjadi pendampingmu sampai kaken-ninen.” Samba sungkem bahagia dan saking gembiranya, tanpa pamit dia pergi menjemput Agnyanawati. Setelah Samba pergi, Garuda Wilmuka MENGGORENG BOLA: “Lho, Sinuwun ini bagaimana? Apa jengandika tidak memperhatikan Samba yang tanpa pamit mak kluyur …… begitu saja pergi meninggalkan ruangan. Hamba perhatikan, matanya melotot, mantheleng penuh benci. Dari mulutnya memantul senyum penghinaan, seolah-olah berkata: “Memangnya kamu ini siapa? Kau kira, tanpa kamu aku nggak bisa kawin sama Agnyanawati? Ah, gombal……” Mak bel… Boma kobong, waringuten. “Sambaaaa…..”, dia meraung. Samba dijejuwing.

Peristiwa celoteh Garuda Wilmuka bisa disejajarkan dengan MENGGORENG BOLA di Gelora Bung Karno. Komentar-komentar yang tidak proporsional bisa memanaskan situasi, terutama di tahun politik. Berulang-ulang saya putar video kejadian dan saya simak dengan seksama. Ternyata pembawa acara tak terdengar menyebut nama Gubernur Anies, seperti yang disiarkan mas Lieus Sungkharisma. Kesimpulanku, arek siji iki “ngarang” bae. Dia juga mengharuskan Paspanpres minta maaf kepada Gubernur Anies yang terhinakan dan warga DKI. Lho, Pak Paspanpres itu salahnya apa? Dia kan hanya melaksanakan tugas sesuai protap. Padahal yang terjadi adalah, SC tidak professional. Anies adalah Gubernur DKI, yang berhak mendampingi Presiden Jokowi untuk menyerahkan Piala Presiden kepada Sang Juara, Persija. Bukankah Gubernur Basuki Tjahaja Purnama juga dipersilahkan mendampingi Presiden untuk kasus yang sama di tahun 2015. Boleh saja bung Maruarar Sirait mengaku bahwa tidak ada pencoretan nama Gubernur Anies pada saat-saat terakhir seperti yang dibilang Andre Rosiade. Boleh saja dia bilang bahwa kesalahan ada padanya dan karenanya dia minta maaf kepada publik. Tapi yang jelas, kejadian itu telah memberi forum kepada Garuda Wilmuka Jaman Now untuk MENGGORENG BOLA. Bukankah deru mesin politik ditahun politik sedang bergema? MERDEKA
TANCEP KAYON

SUD
Pengamat Wayang

Semarang – Rabu, 21 Februari 2018.