Bani Sudardi
(Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UNS/Dewan Pakar Senawangi)
Dokter adalah suatu pekerjaan yang mulia. Anak-anak sampai dengan tahun 1980-an menjadikan dokter sebagai salah satu cita-cita paling favorit. Dalam pandangan ini, dokter dipandang sebagai orang yang suka menolong orang yang sedang menderita sakit. Suatu kejadian yang luar biasa dan sangat merusak citra dokter adalah peristiwa yang terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.
Dokter tersebut bukanlah dokter yang seharusnya, tetapi dokter yang sedang menempuh pendidikan lanjut Program Pendidikan Dokter Spesialis atau pendidikan setara S2. Tetapi apa yang dilakukan ditempat pendikan lanjut itu sungguh merusak citra seorang dokter. Dokter yang menempuh pendidikan spesialis bidang anestesi atau pembiusan justru menggunakan keahlian itu untuk membius keluarga pasien atau bahkan pasien untuk dapat melampiaskan nafsu seksnya. Ini sungguh perbuatan yang tidak terpuji. Kita bersyukur aparat segera menindak tegas dan memprosesnya secara hukum.
Dalam cerita pewayangan penyalahgunaan wewenang itu terjadi dalam cerita Mahabharata. Epos besar itu mengajarkan kepada kita bahwa perilaku menyalahgunakan wewenang dapat menimbulkan satu bahaya besar bagi kemanusiaan. Dalam Mahabharata hal itu dikatakan sebagai penyebab utama perang besar tersebut.
Diceritakan bahwa sepeninggal Pandu Dewanata yang menjadi raja di Hastinapura pada waktu itu, amanat lalu diserahkan kepada Destarata untuk menjadi raja Hastina sementara menunggu anak-anak Pandu dewasa dan bisa memegang tampuk pemerintahan Hastinapura.
Ini adalah amanat yang harus dijaga. Namun demikian, di dalam kehidupan ini manusia seringkali diliputi oleh hawa nafsu. Kalau dalam kasus Dokter yang sedang menempuh PPDS itu diliputi hawa nafsu dalam hubungan dengan seks maniak, maka Destarata ini diliputi oleh hawa nafsu dalam hubungan dengan kekuasaan. Secara mentalitas, Destarata sebenarnya mempunyai dasar sebagai seorang yang baik. Tetapi karena dia buta, maka dia tidak dapat berpikir jernih karena informasi-informasi hanya sebatas dari para pembisik di sekitarnya.
Ada dua orang pembisik yang sangat gigih di sekitar Destarata. Pembisik tersebut adalah Sangkuni yang merupakan kakak ipar Destarata dan Duryudana yang merupakan anak sulungnya. Kedua tokoh ini ingin agar amanah yang disampirkan kepada Destrarata tidak perlu dikembalikan kepada anak-anak Pandu atau Pandawa.
Banyak cara licik yang dilakukan oleh Sangkuni dan Destarata untuk menyingkirkan para Pandawa itu. Sudah tidak ada lagi kata amanah, tetapi yang ada adalah bagaimana kekuasaan terhadap Hastinapura dapat tetap dipegang oleh Duryudana dan orang-orang di sekitarnya.
Selanjutnya terjadilah serentetan lakon-lakon yang berakumulasi untuk terjadinya perang besar Mahabharata itu. Salah satu cerita yang menarik adalah Lakon Bima Racun. Lakon ini menceritakan ketika para Kurawa yang dipimpin oleh Duryudana mengajak Bima untuk syukuran karena Bima telah mendapatkan ilmu kesempurnaan dari Dewa Ruci. Dalam rangka syukuran tersebut, Bima diundang untuk makan-makan dengan keluarga Kurawa. Hanya karena ini syukuran khusus untuk Bima, maka saudara-saudara ya tidak boleh ikut dan senjata Bima harus ditinggalkan. Menurut penjelasan Duryudana tidak pantaslah dalam suasana gembira dan syukuran ini seseorang membawa senjata.
Bima yang lugu itu pun menyanggupi hal tersebut. Pada hari yang ditentukan Ia datang ke Hastinapura Dan disambut meriah oleh 100 orang Kurawa. Bima dipuji-puji kayaknya seorang pahlawan sejati.
“Ayo Kakang Bima, kita berpesta pora merayakan prestasi yang gilang gemilang yang telah Kakang capai. Kami keluarga kurawa menyampaikan selamat dan ikut berbahagia secara tulus dan ikhlas,” kata Duryudana ketika memberi sambutan. Kurawa yang 100 itu pun tepuk tangan dan tertawa riang. Bima merasa sangat gembira jerih payahnya mencari ilmu kesempurnaan hidup dihargai oleh adik-adik keponakannya.
Bima tidak tahu bahwa di balik tepuk tangan dan makanan yang lezat itu ada tipu daya yang akan dialaminya. Di dalam makanan tersebut disisipkan racun yang berbahaya dan dapat membuat seseorang tewas seketika.
Hal yang diharapkan oleh Duryudana betul-betul terjadi. Selepas Bima menikmati makanan dan minuman yang terasa lezat itu, Bima lalu pingsan tidak sadarkan diri. Sekiranya bukan Bima, racun itu pasti sudah menghancurkan seluruh usus. Tapi karena Bima memang ditakdirkan menjadi manusia yang kuat, racun itu hanya menjadikannya dia pingsan tidak sadarkan diri.
Para Kurawa berteriak kegirangan lalu Bima segera diikat agar tidak membahayakan. Tubuh Bima yang tidak sadar itu kemudian digotong oleh para Kurawa dibawa ke sebuah sumur yang konon berisi ular yang sangat beracun. Bima lalu dimasukkan ke dalam sumur itu tenggelam.
Sumur tersebut bernama Sumur Jalatunda. Menurut perkiraan para Kurawa Bima pasti mati karena di samping ia akan tenggelam, tubuhnya juga akan hancur dimakan oleh ular atau terkena racun ular yang sangat berbahaya itu.
Demikianlah contoh perilaku Duryudana yang telah menyelewengkan amanat untuk menjaga para Pandawa. Dengan segala tipu dayanya Duryudana melakukan tindakan-tindakan licik. Tindakan tersebut tampak dalam lakon Bale Sigala-gala, Bima Ruci, Pandawa Dadu, dan lain-lain. Harapan kita semua semoga peristiwa-peristiwa yang menyalahgunakan amanat dan merugikan masyarakat tidak terjadi lagi. Tancep Kayon.
