CERITA KORBAN MANUSIA DALAM DUNIA PEWAYANGAN JAWA

Bani Sudardi

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sebelas Maret/ Dewan Pakar Senawangi

Sebentar lagi kita akan memasuki hari raya Idul Qurban atau hari raya haji. Menurut kalender hal tersebut akan dirayakan pada tanggal 6 Juni 2025. Hari Raya Idul Qurban adalah sebuah hari raya untuk napak tilas yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim ketika beliau diuji Allah untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail. Maka ketika perintah itu betul-betul akan dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim, Allah Subhanahu Wa ta’ala menggantinya dengan seekor kambing gibas. Dari peristiwa itu, umat Islam memperingatinya dengan melakukan qurban dengan menyembelih binatang ternak yang sudah ditentukan seperti unta, kambing, sapi, dan kerbau. Allah memerintah menyebelih manusia sebagai ujian belaka. Sekaligus merupakan larangan untuk menyembelih manusia sebagai kurban.

Dalam dunia pewayangan ada juga cerita yang mirip dengan cerita penyembelihan kurban tersebut. Lakon tersebut merupakan sebuah lakon carangan yang sering disebut berjudul Bekakak Semar atau Semar Gugat. Lakon tersebut memang memiliki variasi pada tiap-tiap dalang tergantung pada  sanggit masing-masing. Lakon ini juga ada versinya dalam bahasa Melayu dengan judul Hikayat Agung Sakti.

Diceritakan bahwa kebencian Batara Guru kepada Semar tidaklah dapat berhasil surut. Hal itu karena setiap kali ada program-program Batara Guru yang akan diterapkan kepada Pandawa selalu saja mengalami kegagalan karena campur tangan Semar. Apalagi istri Batara Guru yang bernama Batari Durga cita-citanya untuk memuliakan anaknya bernama Dewa Srani selalu gagal akibat ulah Semar.

Suatu saat para Pandawa sedang ziarah ke makam leluhur mereka Prabu Palasara. Melihat hal itu Batara Guru merasa ini adalah kesempatan emas untuk dapat menyingkirkan Semar dari marcapada agar proyek-proyek dan program-program Batara Guru yang diterapkan untuk para Pandawa dapat dilaksanakan dengan baik dan dapat menghancurkan Pandawa.

Ketika para Pandawa sedang nyadran berkumpul di sekitar candi Prabu Palasara, maka Batara Guru merasuki Arjuna dan mengaku sebagai titisan Palasara.

“Wahai anak cucuku kuberkatilah kalian ke makam leluhurmu. Semoga negara Amarta bisa adil makmur dan bahagia. Akulah Palasara yang manjing ke dalam diri Arjuna,” kata roh yang manjing dalam diri Arjuna. “Untuk kemuliaan negeri Amarta kakekmu berpesan buatlah sesaji pengorbanan. Menurut perintah Jawata pengorbanan yang harus kamu lakukan ialah membuat bekakak Semar. Karena dialah manusia tertua di pulau Jawa ini sehingga bekakak Semar akan menjadikan negeri aman dan makmur demikianlah perintah para Jawata yang diilhamkan kepada kakekmu ini,” kata roh dalam diri Arjuna.

Para Pandawa kaget setengah mati mendapat perintah dari leluhurnya itu. Namun tiada berapa lama Batara Guru yang manjing ke dalam diri Arjuna dan mengatakan

“Baiklah Semar adalah panakawanku maka akulah yang punya kewajiban untuk membuat bekakak Semar itu” kata Arjuna tanpa ekspresi.  Arjuna segera menuju Karangkedempel untuk menemui Semar. Dengan ramah Semar segera menerima tuannya yang tidak biasanya datang ke kediamannya.

“Ole ole ole ole Ada apa Bendara datang ke gubuk hamba tidak seperti biasanya. Adakah perintah dan dawuh yang penting yang harus hamba laksanakan,” kata Semar ramah.

Arjuna dengan dingin menerima sapaan Semar ini. Semar merasa aneh dengan sikap tuannya. Lebih kaget lagi ketika tuannya berkata.

“Wahai kakang Semar ini perintah Jawata hari ini diperintahkan untuk membuat bekakak dirimulah yang harus dijadikan bekakak,” kata Arjuna. Menurut perhitungan Batara Guru, kalau Semar lenyap, maka Pandawa  pun pasti akan lenyap  dari muka bumi ini.  Batara Guru menggunakan siasat “nabok nyilih tangan”.

  Tiba-tiba saja Semar bergulung-gulung terguling-guling menangis. Anak-anaknya segera datang menanyakan perihal ayahnya yang seperti kesurupan.

“Jawata macam apa yang memerintahkan untuk membuat bekakak dari tubuh hamba wahai tuanku. Ole ole. Iki Jawata edan. Gemblung,” kata Semar.

Arjuna kemudian meludah dikunjung Semar sambil berkata

“Kamu tidak perlu tahu karena itu urusan Jawata. Arjuna segera meloncat hendak meringkus Semar. Semar yang sakit hati kemudian menghindar.

“Aduh ! Kurang ajar. Ini ada Arjuna meludahi kuncung Semar. Ini pasti bukan kehendak Arjuna. Biar saya gugat. Saya obrak abrik Kayangan Junggringsaloka,” katanya. Semar tiba-tiba menghilang dengan jasadnya.

“Tua bangka kurang ajar. Ke mana kamu wahai Semar. Datanglah ke sini saya buat bekakak untuk kemuliaan negeri Amarta. Semar sudah hilang lenyap dari pandangan Arjuna. Entah ke mana arahnya tidak ada yang tahu.   

Pada waktu itu Batara Guru sedang dihadap segala para dewa sedang mengadakan pertemuan agung. Ketika itu seorang pemuda tampan datang ke kahyangan. Dari luar pemuda itu sudah berteriak- teriak memecah keheningan. Para Batara menyingkir dengan kaget.

“Mana yang namanya Batara Guru. Saya dari Arcapada memprotes kebijakan para dewata. Kenapa yang tinggal di kahewangan hanya para dewa. Kenapa orang Ngarcapada tidak boleh disembah seperti dewa,” kata pemuda tersebut.

“Hai manusia, siapaka jeneng sira dan kenapa jeneng sira tidak dapat berlaku sopan di hadapan  Sang Pramesti Guru,” kata Batara Indra.

“Hai manusia. Enyahlah dari sini atau kubakar jeneng sira hidup-hidup, “ kata Sang Hyang Agni atau atara Brama.

“ Hai manusia. Apa kehendak jeneng sira, berani maju di penghadapan jeneng hulun. Jeneng sira pasti bukan sabarang manungsa wantah dene jeneng sira bisa mbedhah Sela Matangkep” kata Batara Guru .

“Hai Dewa kabeh. Yo aku iki Bagus Wicaksana. Sakwise tutug uripku ing donya. Sekarang saya pengin jadi dewa. Saya pengin berkuasa di Kahyangan,” kata pemuda yang mengaku bernama Bagus Wicaksana itu.

“Kalian jangan keladuk. Bakal terkena tulah. Tidak dapat manusia menjadi Dewata. Karena semua ini sudah menjadi ketentuan Sanghyang Jagat Pratingkah,” kata Batara Guru.

“Tidak peduli itu. Ternyata Dewata juga tidak adil dalam menjalankan kuasa. Tidak semua doa-doa hambanya di Marcapada dapat dipenuhi. Bahkan, Jawata sering membuat nasib manusia di Martapada sangat menderita. Menyingkirlah biar nasib manusia ditentukan sendiri oleh manusia. Aku ingin menjadi dewa” bantah Bagus Wicaksana.

“Jangan kebablasan Jeneng sira,” kapal Batara Guru.

“Hai anak-anak para dewa keluarkan semua kesaktian jeneng kita dan hancurkanlah manusia biadab ini serta masukkanlah ke dalam kawah Candradimuka,” perintah Batara Guru selanjutnya.

Terjadilah pertempuran seru antara Bagus Wicaksana melawan para dewa. Yang aneh bahwa semua senjata para dewa tidak dapat melukai pemuda itu  ketika mengenai kulitnya. Manusia itu juga mengeluarkan kentut yang membuat semua batara sempoyongan hampir pingsan. Para batara lalu rame-rame mengadu kepada batara Guru sambil tangisnya.

“Aduh Sang Hyang Pramesti. Mohon ampunlah Kami tidak dapat menyelesaikan pekerjaan ini. Manusia itu ternyata sangat Sakti dan mengeluarkan hawa yang sangat memabukkan,” kata para Dewa. Batara Guru lalu Mengheningkan Cipta sejenak sambil menunggu kedatangan Bagus Wicaaksana.

“Ayo para dewa keluarkan semua Kesaktianmu. Ayo keluarkan semua kemlayan dan Aji joyokawijayan,” tantang Bagus Wicaksana. “Ayo ini Batara Guru di tengah jalan majulah ke sini menghadapai manusia,” kata Bagus Wicaksana.

Batara Guru ketika melihat Bagus Wicaksana datang, dia tidak mengeluarkan senjata ataupun melarikan diri. Dia kemudian turun dari lembu Andini dan menyampaikan hormat kepada Bagus Wicaksana.

“Aduh Kakang Semar. Saya sungguh minta maaf kalau telah berbuat yang tidak baik terhadap Kakang Semar,” kata Batara Guru. “Sekarang saya pasrah semuanya. Kalau Kakang Semar ingin menjadi raja di kahewangan, saya persilakan,” tangis Batara Guru.

“Hai Guru. Apa salahnya Semar ini. Sampai kamu menyuruh Pandawa untuk membuat bekakak Semar. Semar itu sejak dulu menerima nasibnya sebagai hamba. Meskipun pada hakikatnya kamu tahu sendiri bahwa saya adalah Batara Ismaya yang bertugas di bumi untuk memberi  percontohan dan keselamatan,” kata Semar.

“Beginilah Kakang Semar. Dewata juga masih punya rasa, ketika istri dan anakku Dewa Srani merajuk ingin menghancurkan Pandawa, maka aku selalu tidak tega. Aku semata-mata ingin menuruti kehendak anak dan istri,” kata Batara Guru

“Hai Guru. Penguasa itu harus selalu adil. Hukum harus diterapkan kepada siapa saja, bahkan kepada Anak dan istrimu sekalipun,” kata Semar. “Kalau kamu tidak berbuat adil, maka pasti akan muncul suatu pemberontakan, suatu peperangan, dan isak tangis para kawula,” ajar Semar. “Semar itu kurang apa. Di dunia tidak menjadi penguasa. Apa yang diirikan bagi Semar. Hanya menjadi hamba tanpa imbalan apa pun dan siap menerima keluh kesah,” lanjutnya

“Baik Kakang Semar. Aku mengaku khilaf dan mohon ampun,” rajuk Batara Guru.

“Baiklah aku mengampuni Engkau hai Guru,” kata Semar selanjutnya. “Hati- hatilah memegang kuasa atas dunia karena kesalahan sedikit saja akan memberikan penderitaan bagi para Kawula,” kata Semar. “Lagi pula buat apa kamu memerintahkan membuat bekakak Semar. Toh daging Semar itu juga tidak lezat, bahkan mungkin beracun karena tidak pernah mandi,” katanya kemudian.

“Baik- baik Kakang Semar. Aku mohon ampun,” Batara Guru berkata sambil memelas.

“Kalau kamu sudah sadar akan dosa-dosamu. Baiklah aku kembali ke Marcapada dalam wujud asliku sebagai Semar Badranaya,” kata Semar. “Kalau kalian ingin makan daging bekakak, buatlah bekakak dari ayam, sapi, atau kambing. Hentikan perintah untuk membuat bekakak dari manusia,” kata Semar dalam wujud aslinya sebagai hamba.

Semar kemudian meninggalkan kayangan dengan menari megal-migol tidak ada yang mengira bahwa tokoh jenaka itu adalah titisan Dewata yang lebih berkuasa daripada Batara.

Sesampainya di Amarta, Semar menjelaskan semuanya. Mereka membatalkan membuat bekakak Semar. Sebagai rasa syukur para Pandawa kemudian membuat bekakak ayam dan dimakan bersama-sama.

TANCEP KAYON.

 Kekuasaan yang digunakan dengan tidak adil akan menimbulkan bencana bagi diri sendiri dan sesama.