Oleh : Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum. (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, UNS/Dewan Pakar Senawangi)
Seorang Kapolres Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama AKBP Fajar Widya Dharma Lukman Atmaja mengagetkan masyarakat. Bagaimana tidak. Seorang Kapolres yang merupakan penegak hukum puncak di tingkat Kabupaten atau Kota diketahui melanggar hukum dan sangat mengerikan. Dia telah melakukan tindakan asusila terhadap anak-anak di bawah umur, hasil perbuatannya lalu direkam serta di unggah di situs dewasa, serta dijual kepada masyarakat internasional di Australia. Lebih ngeri lagi, penegak hukum ini juga ditemukan mengkonsumsi narkoba.
Kisah penegak hukum yang melanggar hukum bukanlah satu kisah yang baru. Kalau kita mau jujur, kisah seperti itu dalam berbagai versi dan bentuknya hampir dapat kita temukan setiap hari di media massa. Sebagai misal, ada jaksa, hakim, anggota DPR, menteri, lurah, yang melakukan pelanggaran hukum.
Kisah pelanggaran hukum oleh aparat juga terdapat dalam dunia pewayangan. Salah satu tokoh yang terkenal melanggar hukum adalah Sumantri atau yang juga disebut sebagai patih Suwanda.
Sumantri adalah seorang pemuda desa yang melamar pekerjaan di Maespati. Dia memiliki adik sakti, tetapi buruk rupa bernama Sukasrana. Meskipun buruk rupa Sukasrana ini amat sayang kepada kakaknya dan tidak mau ditinggalkan. Ketika Sukasrana tahu bahwa kakaknya telah pergi, ia pun segera menyusulnya.
Sumantri pergi melamar kerja secara diam-diam. Lamarannya diterima oleh Prabu Arjunasasrabahu. Dia segera mendapatkan tugas untuk melamar Dewi Citrawati. Karena dia memang pemuda sakti dan terdidik, maka tugas melamar Dewi Citrawati dapat dilaksanakan dengan mudah. Namun hal itu justru menimbulkan kecongkakan dan kesombongan.
“Prabu Arjunasasrabahu menyuruh saya melamar Dewi Citrawati karena dia tidak memiliki kemampuan. Saya hanya diperalat. Kalau demikian, aku akan menguji ilmunya,”katanya.
Sumantri merasa dia lebih berharga dari rajanya. Ada rasa Congkak dan sombong di dalam dirinya, di samping dia ingin mencoba kesaktian rajanya. Di sini sebenarnya sudah terjadi suatu pengkhianatan pada diri Smantri karena sesungguhnya Sumantri menjalankan perintah itu dalam rangka mengemban amanat. Pemuda ini telah lupa apa yang menjadi tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara di Maespati.
Benar saja setelah Sumantri bertemu dengan Prabu Harjuna Sasrabahu, dia segera mengungkapkan bahwa dia ragu akan kesaktian Prabu Harjuna Sasrabahu. Karena itu Sumantri ingin menguji Prabu Harjuna Sasrabahu supaya tidak ada kesan bahwa dirinya di peralat.
” baiklah Smantri,” kata Prabu Harjuna Sasrabahu. “Kalau demikian Aku turuti kemauanmu. Tetapi karena aku ini adalah raja yang besar, maka tidak pantas aku bertempur dengan seorang pemuda yang belum jelas asal-usulnya. Karena itu kamu akan saya beri pakaian kebesaran raja dan mahkota supaya pertempuran kita menjadi pertempuran yang seimbang,” kata Prabu Harjuna Sasrabahu.
Sumantri pun segera menyanggupi syarat tersebut, setelah Sumantri berganti pakaian kebesaran maka pertempuran pun segera dimulai dengan berhadap-hadapan.
Sumantri sebenarnya salah satu titisan Wisnu sementara Prabu Harjuna Sasrabahu juga seorang titisan Wisnu. Keduanya memiliki kemampuan yang pilih tanding.
Terjadilah suatu perang yang sangat dahsyat, keduanya memiliki kekuatan yang seimbang. Perang tersebut merupakan salah satu perang paling dahsyat di dunia pewayangan. Konon perang tersebut disaksikan juga oleh para dewata yang ingin melihat dua titisan Wisnu berperang.
Setelah perang berlangsung lama, dan tidak ada kepastiannya, maka Sumantri pun mengambil senjata pamungkasnya berupa cakra Baskara. Senjata ini sebenarnya hanya boleh digunakan untuk menghancurkan musuh-musuh.
Panah Cakrabaskara kemudian mengeluarkan api yang sangat besar berkobar-kobar dan berputar-putar yang sangat menakutkan Bagi siapapun yang melihatnya. Senjata itu kemudian dilepaskan dan melesat menuju dada prabu harjuna sasrabahu.
Kejadian luar biasa munculah, terjadi suatu suara dahsyat akibat benturan Cakra Baskara dan tubuh Prabu Harjuna Sasrabahu. Prabu Harjuna Sasrabahu terpelanting ke belakang beberapa langkah tetapi kuda-kudanya masih berdiri kokoh. Dia sangat terkejut akibat munculnya senjata pamungkas dari dewata tersebut. Karena keterkejutannya kemudian tubuhnya menjadi bergetar sampai menggetarkan jagat raya. Tubuh Harjuna Sasrabahu menjadi raksasa yang sangat besar dalam triwikrama.
Raksasa tersebut kemudian Meraung menggetarkan dunia kemudian menangkap Sumantri dan diinjaknya tubuhnya. Sumantri teriak-teriak minta ampun.
“Ampun Gusti. Saya percaya Gusti memang mahasakti. Maafkanlah hambamu ini. Hamba mengakui salah dan khilaf.
Perlahan tubuh Harjuna Sasrabahu mengecil dan mengecil dan kembali ke bentuk semula. Lalu dia berkata. Kesalahan Sumantri adalah menggunakan Cakra Baskara yang seharusnya hanya untuk menghancurkan angkara murka tetapi justru ditujukan kepada rajanya tepat ia mengabdi. Ini dapat dikatakan sebagai pagar makan tanaman.
“Hai Sumantri, atas Jasamu mendapatkan Dewi Setyawati kamu saya angkat menjadi Patih. Tetapi karena perbuatanmu yang clonthangan kepada raja, maka kamu saya hukum untuk memindah taman Sriwedari ke Mahespati, “kata Prabu Arjunasasrabahu.
“Sendika Gusti,”kata Sumantri ringkas dan mohon diri.
Sumantri merasa bingung bagaimana sebuah taman bisa dipindah ke tempat lain. Ia merasa ini satu pekerjaan muskil. Perintah ini dianggapnya tidak lain sebagai satu bentuk hukuman yang tidak ada akhirnya. Dengan gontai Sumantri pergi dari hadapan Prabu Harjuna Sasrabahu. Pikirannya Sumatri kisruh bercampur baur.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara yang tidak asing lagi. Datanglah adiknya Sukasrana yang berteriak-teriak memanggil-manggil namanya.
“Kakang. Kakang di mana kamu selama ini kenapa kamu tinggalkan aku,” katanya.
“Maafkan Adi aku sengaja tidak mengajakmu karena aku sedang mengabdi kepada Prabu Harjunasasrabahu.
“Kalau cuma mengabdi kenapa saya tidak boleh ikut. Kan saya bisa bantu-bantu Kakang kalau ada pekerjaan,”kata Sukasrana.
“Hari ini saya ada masalah besar. Rasa-rasanya ingin mati saja” Sumantri mengeluh..
“Masalah apa itu Kakang,” kejar Sukasrana.
“Saya ditugaskan Prabu Harjuna Sasrabahu memindahkan taman Sriwedari. Bukankah itu satu pekerjaan yang tidak mungkin. Mana ada taman bisa dipindah, “ tutur Sumantri.
“Hahaha itu satu perkara gampan,” jawab Sukasrana. “Taman Sriwedari itu adalah sebuah taman pujan dari Dewa Wisnu. Taman itu muncul akibat dipuja oleh Batara. Karena itu taman itu bisa dipindah dengan cara dipuja juga. Serahkan saja pada saya, tapi saya minta Kakang jangan meninggalkan saya lagi. Karena kalau kakak meninggalkan diriku hatiku akan terasa sangat sangat sedih
“Baiklah Adhi kalau demikian. Segeralah pindah Taman Sriwedari itu ke negeri Maespati.
Sukasrana merasa senang dan berjoget-joget. Hatinya gembira karena kakak yang dicarinya selama ini sudah ditemukan. Iya Bun segera mempersiapkan diri untuk memindahkan taman Sriwedari. Dalam sekejab taman berpindah akibat ulah samadhi Sukasrana.
Semua orang kaget, bingung, dan heran. Datanglah Prabu Harjunasasrabahu meninjau lokasi bersama para istri. Melihat rajanya datang, Sumantri bingung.
“Hai Sukasrana pergilah. Sang Prabu Harjunasasrabahu datang,” pintanya.
“Ogah Kakang. Apa janji Kakang?”
“Jangan begitu aku malu punya adik jelek rupa,” desak Sumantri
“Ogah Kakang, aku ingin bersama Kakang,” jawabnya.
Akhirnya Sumantri tidak sabar. Segeralah dihunus panah cakrabaskara. Lalu panah sakti itu di arahkan ke dada adiknya.
“Pergilah aku sudah membawa cakrabaskara,” bentak Sumantri
“Tidak kakang. Aku tidak mau ,” jawab Sukasrana, sang raksasa kerdil itu.
Entah apa yang terjadi Sumantri menjadi gugup dan panah sakti itu lepas dari genggamannya melesat menembus dada adiknya yang langsung jatuh terjerambat ke bumi.
“Aduh kakang kamu tiga kepada saya,” tangis Sukasrana pilu sambil meregang nyawa. Rohnya melayang kelangit bersemayang di pangrantunan, tempat semayam roh menunggu kepastian
Demikianlah Sumantri dalam menjalankan tugasnya telah melupakan janji-janji dan telah merusak keluarganya sendiri yang seharusnya dijaga. Mungkin cerita ini tidak plek dengan kisah mantan Kapolres Ngada, tetapi temanya sama. Penghianatan terhadap tugas dan kewajibannya sebagai abdi negera. HIKMAH DAN PELAJARANNYA SUMANGGA. TANCEP KAYON.
