“Saya tidak tahu, tiba-tiba diajak ke sekitar Lubang Buaya terus digeser ke mana,” demikian petikan SURAT CINTA BUNG KARNO kepada Ratna Sari Dewi. Artinya, Tuduhan Bung Karno berkhianat dan dukung PKI tak terbukti. Oleh karena itu wajar, bila TAP MPRS No.: XXXIII Tahun 1967 resmi mencabut.
Nama baik Gunawan Wibisana habis diobrak-abrik Rahwana, karena dia memihak Rama Regawa. Tapi, ketika Rahwana “mati” ditangan Rama, nama baik-nya direhabilitir kembali. Dia tidak terbukti berkhianat atas negeri Alengka.
Memang, dalam buku “Dibawah Bendera Revolusi”, ada salah satu tulisan Bung Karno yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Bung Karno berusaha mencari titik temu para pengikut ketiga ideologi itu, untuk melawan Belanda, guna Indonesia Merdeka.
Dalam perkembangannya, Marxisme menjadi Partai Komunis. Tapi Bung Karno tidak masuk kesana. Beliau mendirikan PNI yang nasionalistis.
Ditahun 1948, terjadilah Pemberontakan PKI di Madiun, yang dipimpin Muso. Bung Karno murka. Maka pada 19 September 1948 di RRI Yogyakarta, beliau meledak, katanya: “Ikut Musa dengan PKI-nya … atau ikut Sukarno-Hatta … “.
Dijaman Demokrasi terpimpin, Bung Karno menawarkan Kabinet NASAKOM. Konsep itu ditentang oleh Partai Katolik dan Masyumi. Ketika Bung Karno bertanya kepada Ketua Umum Partai Katolik, tentang Kabinet NASAKOM, Pak Kasimo menjawab: “Ha … ha … ha … kami tidak setuju.”
Seperti halnya Gunawan Wibisana, jangan gampang menuduh orang menjadi anggota PKI. Berdosa. MERDEKA.
TANCEP KAYON.
SUD
Pengamat Wayang.
Geguritan: MAWAR, oleh Romo Dr. Ign. Kuntoro Wiryomartono SJ. Suara: Romo Dr. G. Subanar SJ – “… godhong-godhong ijo pulih seger royo-royo …”
Semarang, Rabu 2 Oktober 2024.
