Pedekar itu namanya MARK RUTTE. Selasa 2 Juli 2024, setelah merampungkan tugasnya sebagai Perdana Menteri Belanda, dia pulang menggunakan sepeda. Uih… geger. Predikat: sederhana, jujur, rendah hati, menghias dibelakang namanya.
Suasana diatas, juga ada dalam cerita Pandawa Muksa. Yudistira: “Putuku Parikesit. Tugas kami sudah usai. Selanjutnya, Pandawa akan bertapa di Gunung Himawat. Biarlah eyang-eyangmu pergi tanpa upacara dan sorak-sorai. Kami sudah iklas.” Parikesit tersedu-sedu.
Perangai MARK RUTTE bisa disepadankan dengan Pandawa. Rasa syukur sebagai Perdana Menteri, diwujudkannya dalam gaya hidup sederhana, disiplin dan ora neka-neka. Ia pernah hanya bersepeda, ketika pergi ke Istana Kerajaan, menghadiri pertemuan dengan Raja Belanda, Willem-Alexander. Hi…hi…hi… viral.
Kemarin, RI punya gawe: pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, di Gedung Rakyat Senayan, berikut upacara PISAH SAMBUT di Istana Merdeka. Setelah itu, dengan diantar oleh Presiden Prabowo, Pak Jokowi dan Ibu pergi ke Bandara Halim, untuk pulang ke Solo.
Di Bandara Adi Soemarmo, beliau-nya dijemput ratusan ribu pendukungnya dan diarak pulang kekediaman. Uih … jejel-riyel, tumpuk-undung.
Apapun yang terjadi, selama pejalanan dari Senayan – Solo, pasti menuai pro-kontra. Orang yang “Anti Jokowi” akan mencemo’oh: “Mengapa tidak seperti MARK RUTTE?”. Sedang “Para Pendukung” akan mengacungkan jempol dan berkata: “Mengapa harus sama. Bukankah Belanda diakui Spanyol sebagai negeri merdeka sudah sejak 376 tahun lalu atau 30 Januari 1648”. Ah, sudahlah, jangan bertengkar lagi. MERDEKA
TANCEP KAYON
SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Geguritan: MAWAR. Oleh Romo Dr. Ign. Kuntoro Wiryomartono SJ. Suara: Dr. G. Subanar SJ – “… Dadi tuwaking ati ora teteg … “ – Senin, 21 Oktober 2024.
Pandawa dan Drupadi.
