Jumat 3 Mei 2024, Pak Menko Luhut bilang: “Jangan membawa orang-orang Toxic ke dalam pemerintahan Anda.” Yang dalam Bahasa Jawa-nya: “Aja Cedhak Kebo Gupak”. Wathathithah … ribut. Soalnya dia tidak menyebut nama, siapa ‘Kebo Gupak’ itu. Para pembesar Partai bisanya hanya ribut. Tapi tak berani menerka, siapa Si Toxid. Kecuali Budiman Sudjatmiko. Itupun tidak sampai menyebut nama.
Dalam cerita Gatotkaca Gandrung, Kresna membiarkan Gatotkaca menebak, apa makna ceritanya. “Tatkala cintaku kepada Wak-mu Dewi Rukmini dihalangi Pandita Durna, saya tidak putus asa. Prinsipku, lebih baik jadi daripada urung. Kulompati pagar keputren negeri Widarbo, kucuri pujaan hatiku,” demikian tuturnya.
Mak brubut … sampai lupa pamit, Gatotkaca terbang ke keputren Madukara. Dia curi Dewi Pregiwa. Wassalam.
Cerita Kresna bisa disepadankan dengan dongengnya Pak Menko Luhut. Seperti halnya Gatotkaca, Budiman Sudjatmiko-pun paham. Sehingga pada Minggu 5 Mei 2024 dia bilang, Si Toxic adalah individu, bukan parpol. Mereka adalah orang-orang yang tidak mendukung hilirisasi, digitalisasi, optimalisasi sumber daya manusia, makan siang gratis dan IKN. Bila jalan pikiran itu yang dipakai, disana muncul nama-nama Ganjar Pranowo, Mahfud MD, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, yang baru saja usai bertanding. Untuk Mas Ganjar dan Pak Mahfud MD, kelihatannya sulit menerima tawaran bergabung dengan Prabowo-Gibran. Kalau Cak Imin sih, dengan latar belakang tertentu, ada kemungkinan dia bersedia bergabung. Tinggal Anies Baswedan. Walau Prabowo-Anies sudah bersalam-salaman, tapi sulit membayangkan, Prabowo akan memberi tawaran kepada Anies untuk bergabung. MERDEKA.
TANCEP KAYON.
SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Selamat merayakan Hari Kenaikan Isa Almasih – Kamis, 9 Mei 2024.
