AWAL YANG BAIK

Diawali dari teguran Menseskab, Mayor Teddy kepada Menteri Desa, Yandri Susanto. Yang menyalah-gunakan institusinya untuk keperluan pribadi. Itu adalah AWAL YANG BAIK. Kita pernah mengalami AWAL YANG TIDAK BAIK. Demi “demokrasi” dan “HAM”, kita membiarkan setiap “hidung” omong sesuka hatinya: menghina, meremehkan dll.

Suka menghina juga ada dalam diri Dasamuka. Merasa tak tertandingi, tabiat menghina-pun meraja-lela. Dia menghina Kumbakarna dan Gunawan Wibisana, ketika kedua adiknya itu mem-veto perbuatannya menculik Shinta. 

Makian Dasamuka bisa disepadankan dengan AWAL YANG TIDAK BAIK. Apapun alasannya, menghina adalah jahat.

Bahwa ketika Presiden mengajak para pembantu-pembantunya, baris-berbaris dengan pakaian loreng-loreng di Gunung Tidar, lalu ada kekhawatiran akan terjadi militeristik, ya wajar. Bukankah kita sudah bersepakat, negara kita bukanlah negara militer.    

Bahwa jumlah Menteri dan Wakil Menteri dianggap terlalu banyak, ya wajar juga. Kan kita punya pengalaman? Bung Karno pernah membentuk Kabinet Dwikora I dengan 101 Menteri. Dan Kabinet Dwikora II, yang terdiri dari 132 Menteri. Dan semua kacau.

Dinegeri Alengkadiraya Baru dibawah Prabu Gunawan Wibisana, AWAL YANG TiDAK BAIK dari Kesatrian Bikukung, dimana Indrajid bermukim, bisa diselesaikan dengan tegas tapi penuh kemanusiaan. 

Hal serupa juga diharapkan dari Pemerintahan Prabowo. Mereka yang suka menghina dan merasa paling pinter, sebaiknya diakhiri. Mari kembali ke sifat Bangsa: gotong-royong dan pandai mengendalikan diri. Selamat datang etika Pancasila, dirgahayu AWAL YANG BAIK. MERDEKA.

TANCEP KAYON

SUD

Pengamat Wayang

Semarang – Geguritan: MAWAR. Oleh Romo Dr. Ign. Kuntoro Wiryomartono SJ. Suara: Dr. G. Subanar SJ – “… Apa uripku tetep seger, awet mudha dadi sumber…” – Minggu, 27 Oktober 2024