TETEP BANTENG

Mak teplek … hari ini Pramono-Rano duduk dipunggung Banteng Moncong Putih. Untuk maju dalam Pilgub Jakarta. PDI-P TETEP BANTENG.

TETEP BANTENG juga ada dalam cerita Rebutan Senapati. Semar berkata kepada Gatotkaca dan Boma Narakasura yang sedang bersaing. Katanya: “Siapa yang menang dalam perkelaian ini, dialah yang berhak menjadi Senapati Pandawa dalam Bharatayuda.“

Dalam Pilkada Jakarta 2024, PDI-P harus memilih satu diantara dua. Ideologi partai atau tambahan jumlah suara. Ideologi partai berarti memilih Pramana Anung. Bila berharap tambahan suara, berarti memilih Anies Baswedan.

Masih belum lupa, tragedi ideologis dalam Pilkada DKI 2017. Rabu, 15 Februari 2027, Nenek Hindun nyoblos Ahok-Jarot. Ribut. Isu ideologis mengemuka. Sehingga, tatkala Nenek Hindun meninggal dunia, keluarganya kesulitan menyolatkan di Musola Al-Mu’minum. Atas peristiwa itu, Anies hanya bilang: “Nggak ada, nggak ada. Nanti saya berikan tertulis saja soal itu.” Weleh … weleh …

Saat memberi arahan kepada para calon kepala daerah yang diusung partainya, Ibu Ketum mengatakan: “Ngapain ku suruh dukung Pak Anies? … Ya tinggal, mau nggak ‘nurut’, ya?”

Bersegera, Anies menerjemahkan kata “nurut”. Menurutnya, “nurut”: merujuk kepada amanat konstitusi, cita-cita bernegara, cita-cita untuk mewujudkan Indonesia satu, yang beragam, tetapi bersama. Yaaaaa … orang Indonesia ya begitu. Itu mah bukan “nurut” versi Megawati.
Sebenarnyalah, cerita Rebutan Senapati bisa jadi pegangan agar TETEP BANTENG dan memberi suasana segar organisasi. MERDEKA.

TANCEP KAYON
SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Romo Dr. Ign. Kuntoro Wiryomartono SJ. – MAWAR: … embun ndhuwur godhong, nyunar bening inten mencorong. Suara: Romo. G. Subanar SJ – Rabu, 28 Agustus 2024.