RAHWANA LAHIR Sebuah Obituari buat Bapak Sudarko

Oleh : Prof. Dr. Bani Sudardi
(Guru Besar UNS/Anggota Dewan Pakar Senawangi

Bagaikan petir yang menyambar di pagi hari, sebuah berita tentang wafatnya Bapak Sudarko mengagetkan kita. Bagaimana tidak, sehari sebelumnya beliau masih menulis bagian dari BANJARAN RAHWANA yang beliau tulis di group WhatsApp Pakar Senawangi dan facebook.

Untuk mengenang pakar bidang pewayangan Jawa ini, saya akan menuliskan tentang kajian pernaskahan tentang cerita Rahwana Lahir. Kisah ini merupakan obsesi Bapak Sudarko sebelum mengahadap sang Khalik. Sugeng tindak Pak Darko. Meski secara fisik saya belum berkenalan, tetapi saya merasa dekat dengan beliau karena nama saya SUDARDI dekat sekali dengan nama beliau SUDARKO. Ini nama khas orang Jawa karena adik-adik saya namanya SUDARNO dan SUDARSIH.

Dalam kebudayaan Jawa, khususnya dalam tradisi Jawa baru terdapat sebuah ajaran yang dianggap sebagai suatu ajaran yang keramat yang disebut sebagai sastra Jendra Hayuningrat Panggruating Diyu. Ajaran ini konon merupakan ajaran yang dimiliki oleh Resi Wisrawa  yang diberikan kepada Dewi Sukesi sebagai bagian dari sayembara memperebutkan Dewi Sukesi. Diceritakan bahwa Dewi Sukesi mau diambil sebagai istri apabila calon suaminya dapat membunuh pamannya,  seorang raksasa yang bernama Jambu Mangli. Raksasa ini sebenarnya mencintai Sukesi, tetapi Sukesi tidak tertarik kepadanya.

Syarat yang kedua adalah calon suaminya tersebut harus dapat menjelaskan tentang sebuah kitab atau sebuah ajaran yang disebut sebagai “sastra jendra  hayuningrat pangruwating diyu”. Sampai saat ini masyarakat Jawa masih ada yang percaya bahwa ajaran tersebut merupakan suatu ajaran rahasia. Ajaran tersebut tidak dapat dituliskan, tetapi harus dijelaskan. Sastra Jendra hayuningrat ini sangat menarik dan banyak dipentaskan sebagai lakon wayang Jawa.

Kisah Suksesi dan Begawan Wisrawa ini adalah bagian dari kisah dalam Ramayana, yaitu di kandha (bab) terakhir yang disebut Uttarakanda. Namun demikian, kisah tentang sastra jendra itu tidak disebutkan dalam kisah-kisah  Ramayana di Jawa.

Sebagaimana diketahui bahwa kisah Ramayana sudah masuk ke Jawa sejak  abad ke-9 dan menjadi relief utama di Siwagrha (Candi Prambanan). Ramayanan merupakan kakawin tertua di dalam sastra Jawa Kuna. Dalam kakawin itu belum ditemukan tentang ajaran sastra jendra tersebut.

Pada masa raja Darmawangsa Teguh dari Medang (991-1016) muncul karya sastra prosa berjudul Uttarakanda. Karya ini merupakan saduran Ramayana , bagian terakhir. Dalam karya ini juga tidak muncul istilah sastra jendra.

Kisah sastra jendra dalam tradisi India adalah kisah tentang kelahiran  Rahwana yang versi In dia berjudul Rahvanotpatti. Dalam tradisi Jawa Kuna, teks tersebut berjudul Kakawin Arjunawijaya yang merupakan gubahan empu Tantular dari masa Majapahit. Cerita ini sangat terkenal dan menyebar di Jawa, Bali, dan Sunda. Dalam bahasa Jawa Baru kisah ini menjadi lakon wayang dengan judul Lampahan Arjuna Sasrabahu. Hal ini menunjukan bahwa teks ini merupakan teks yang digemari orang Jawa sejak masa lalu sampai saat ini.

Cerita kelahiran Rahwana atau Kakawin Arjunasasrabahu mengisahkan tentang keluarga Raja Sumali yang dikalahkan oleh Dewa Wisnu.  Sumali ini mempunyai anak Sukesi. Baik Sumali maupun Sukses adalah bangsa raksasa (diyu) . Sumali sangat dendam kepada Wisnu dan menginginkan membalas dendam. Untuk itu, ia menginginkan anaknya yang bernama Sukesi menikah dengan pria yang sakti yang bukan bangsa diyu. Kebetulan, setelah dikalahkan Wisnu, ketrajaan dikuasai oleh Wisrawa yang merupakan manusia keturunan dewa yang sakti. Sumali dan Sukesi sangat kagum pada Wisrawa. Karena itu, agar sifat diyu (raksasa) hilang dan memiliki anak sakti, maka Sukesi si raksasa dikawinkan dengan  Wisrawa. Sebenarnya makna pangruwating diyu ada di sini. Tetapi orang Jawa memberikan tafsir yang berbeda.

              Hasil perkawinan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan. Anak pertama lahir berupa seorang biru dengan kepala 10 yang kemudian diberi nama Dasamuka. Dasamuka adalah seorang campuran antara darah brahmana dan kesatria. Karena itu, Dasamuka menjadi seorang yang sangat Sakti. Dia merupakan pengabdi Dewa Siwa sehingga mendapat Anugerah kesaktian-kesaktian luar biasa.  Yang diharapkan dewi Sukesi dan Sumali sebenarnya sudah tercapai, hanya saja wujud dasamuka ini sangat mengerikan.

Anak yang kedua lahir dalam bentuk raksasa yang sangat besar. Anak tersebut diberi nama Kumbakarna. Raksasa ini sangat Sakti, tetapi kesukaannya adalah makan dan tidur. Meskipun demikian, raksasa ini berhati mulia dan tahu akan kebenaran. Kumbakarna karena mengingatkan Dasamuka untuk mengembalikan Dewi Sita yang telah diculiknya supaya keadaan menjadi damai. Hal ini justru membuat marah tasamuka.

Anak yang ketiga adalah seorang ksatria yang tampan bernama Gunawan Wibisana. Tokoh ini memiliki kebaikan dan tahu akan kebenaran serta sudah mengingatkan Dasamuka agar Dewi Sita dikembalikan. Namun demikian, dasamuka justru marah dan mengusir Gunawan Wibisana dari kerajaan Alengka.

Anak yang keempat seorang raseksi yang bernama Sarpanaka. Ra seksi ini memiliki tangan yang memiliki kuku yang memiliki racun seperti racun seekor ular. Sarpanaka memiliki sifat jahat dan sangat gemar bermain seks.

Jadi sebenarnya yang dimaksud sastra jendra pangruwating diyu adalah cerita tentang perkawinan Dewi Sukesi yang Raksasa dengan resi Wisrawa yang manusia dalam rangka meruwat keadaan diyu atau raksasa sehingga anak turunnya menjadi anak turun yang baik-baik. Tujuan tersebut tidak sepenuhnya terlaksana. Dalam hal kesaktian, hampir semua anak Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa adalah sakti-sakti.

Dalam hal wujud, dari empat anak yang dilahirkan hanya satu anak yang berwujud manusia. Satu anak tersebut bernama Gunawan Wibisana yang merupakan seorang yang sakti dan memiliki jiwa untuk membela kebenaran. Gunawan Wibisana ini terusir dari Alengka  karena pertengkaran dengan Dasamuka. Gunawan Wibisana lalu ikut berjuang bersama Sri Rama dalam menumpas angkaramurka. Berkat kehadiran Gunawan Wibisana inilah Dasamuka dapat ditewaskan karena hampir semua rahasia pasukan Dasamuka ada dalam diri Gunawan Wibisana. Dia mengetahui kelemahan semua orang Alengka. (Minggu 12 November 2024)