GURU DALAM DUNIA WAYANG

Oleh : Prof. Dr. Bani Sudardi
(Guru Besar UNS/Anggota Dewan Pakar Senawangi)

Tanggal 25 November adalah hari guru. Ini suatu hal yang sangat menarik. Hampir tidak ada orang yang tidak pernah berguru. Guru yang terdekat adalah kedua orang tua kita. Dari merekalah kita memperoleh berbagai ilmu dasar. Salah satu ilmu dasar adalah bahasa. Kedua orang tua kita yang mengajarkan bahasa. Karena itu ada sebutan bahasa Ibu. Nggak bisa dibayangkan kalau seseorang tidak mampu berbahasa. Dia akan menjadi sempit dan membingungkan. Namun demikian, dalam kehidupan, guru yang utama adalah tempat kita menuntut ilmu secara formal untuk mendapatkan makna khusus. Ada juga guru yang tidak formal seperti bapa guru (orang tua), guru laki (suami),

Dalam dunia pewayangan dikenal ada 3 jenis guru. Ketiganya adalah guru yang (1) mengajarkan ketrampilan, (2) guru yang membersamai kehidupan, dan (3) guru yang menerangi kehidupan. Banyak guru-guru yang termasuk tiga golongan di atas.

Yang pertama adalah guru Drona. Guru ini adalah model guru yang mengajarkan ketrampilan. Aspek pembelejaran tidak menyentuh kalbu. Pembelajaran model ini sangat penting karena mengantarkan  para siswa memiliki kemampuan kompetitif.  Drona mengajarkan ketrampilan. Salah satu hasil yang luar biasa adalah kemampuan Arjuna. Satriya ini merupakan murid kesayangan Drona karena ketrampilannya. Dalam cerita sayembara Drupadi, Arjuna dapat memanah tanpa melihat langsung sasarannya. Karena kemampuan memanah yang luar biasa ini Arjunan dijuluki Sawyasaci  yang artinya kedua tangannya bisa untuk memanah dan Dananjaya yang artinya satriya mahir memanah.

Kemampuan tersebut adalah kemampuan lahiriyah. Drona tidak mengajarkan aspek mental spiritual sehingga Drona  banyak berperang dengan Pandawa. Dalam etika berguru, melawan guru adalah suatu aib. Bahkan, kematian Drona pun sebenarnya rekayasa para Pandawa itu. Menunjukan bahwa Drona hanya mengajarkan aspek kompetensi, tetapi tidak mengajarkan aspek kognitif.

Ketika Drona mengajarkan aspek spiritual dengan mengajar Bima mencari air suci, maka tindakan Drona semata-mata ,menduga-duga. Air suci perwitasari itu sebenarnya tidak ada. Guru Drona hanya menduga-duga dan tujuan itu hanya untuk melemahkan Bima dan Pandawa. Dalam hal ini, Drona bukanlah guru sejati. Model guru yang kedua adalah guru yang selalu membersamai. Model guru ini dalam cerita pewayangan ditunjukkan oleh Sri Batara Krisna. Secara lahiriah, batara Krisna adalah kakak ipar dari Arjuna. Namun, secara batiniah bandara Krisna adalah titisan pada Batara Wisnu yang bertugas untuk memayu hayuning bawana.

Batara Krisna memiliki kedudukan sebagai teman yang guru sekaligus guru yang teman. Dia adalah seorang pendamping kesatria yang siap memberikan saran dan pertolongan bila diperlukan. Diceritakan bahwa dalam perang Mahabharata bandara Krisna tidak terlibat dalam peperangan, tetapi pada hakekatnya inti dari kemenangan Pandawa adalah arahan dari Batara Krisna. Dalam kehidupan sehari-hari  Batara Krisna ini hadir di sekitar kehidupan kita.   Sepertinya teman, sahabat, kenalan, tetangga, dan sebagainya. Mereka bisa memberikan nasihat-nasihat kepada kita, kadang tidak harus kita minta.

Kehadiran terpenting bandara Krisa tampak dalam percakapan antara Krisna dan Arjuna yang diabadikan dalam Bhagawadgita. Inti dari Bhagawadgita adalah ketika Arjuna sebagai pahlawan utama pandawa merasa luluh hatinya dan hilang semangatnya. Keadaan itu memang dapat dimengerti karena dalam perang Mahabharata ini yang berperang adalah masih saudara-saudara. Misalnya kita munculkan Resi Bisma. Resi ini  kakek dari para Pandawa. Resi Bisma termasuk guru para Pandawa dan termasuk pembela para Pandawa bila Pandawa mengalami kesulitan. Dalam cerita ini resi Bisma dibunuh oleh Srikandi istri Arjuna dan penyempurnaannya melalui panah-panah arjuna yang Jumlahnya ribuan sehingga Resi Bisma ini terbaring di atas tanah tersangka oleh anak-anak tajam.

Korban selanjutnya adalah Pendeta Drona. Tokoh ini adalah guru para Pandawa dan Kurawa. Pendeta inilah yang mengajarkan keterampilan berperang kepada Arjuna dan saudara-saudara. Pendeta dulu  tewas oleh tipu daya Krisna dan Yudistira sehingga ia menjadi kehilangan semangat dan kepalanya dipenggal oleh  Drestajuma. Mahabharata adalah perang saudara yang sangat tragis. Bagaimana tidak tragis, orang tua para Pandawa dan orang tua para kurawa adalah kakak beradik.

Maka wajarlah kalau Arjuna menjadi kehilangan semangat dalam berperang karena yang diperangi adalah orang-orang yang selama ini dekat dan dipahami. Namun demikian, batara Krisna lalu menyadarkan Arjuna bahwa peperangan itu harus berjalan. Yang dilakukan oleh Arjuna bukanlah suatu penganiayaan, melainkan ini adalah bentuk Dharma seorang Ksatria dalam menjaga ketentraman dunia.

Jenis guru yang ketiga adalah guru sejati. Guru ini sebenarnya tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari selalu menyertai kita. Orang sering menyebut guru ini adalah hati nurani kita. Dalam dunia pewayangan, guru sejati ini dimunculkan sebagai Dewa Ruci.  Guru sejati ini memberikan arah tentang kehidupan kita dan mengajarkan  hakikat dari semua kehidupan.

Selamat hari Guru. Sukses selalu Guru Indonesia.