Rabu 12 Juni 2024, Presiden Jokowi mengatakan, judi telah menimbulkan korban jiwa. Benar. Soalnya, Sabtu, 8 Juni 2024, Briptu FN di Asrama Polres Mojokerto, telah membakar suaminya, Alm. Briptu RDW, gegara gajinya habis untuk judi online.
Dalam cerita Pandawa Dhadhu, negeri Indraprasta ludes, dan bahkan jatuh ketangan Kurawa. Ya sudah, kapokmu kapan. Soalnya, Sengkuni dengan buah dhadhu yang terbuat dari tulang-belulang ayah biologisnya, Kala Setibar, memplekotho Pandawa dalam permainan itu.
Pendawa Dhadhu bisa disepadankan dengan tragedi bakar suami. Setelah mengetahui, gaji ke-13 suaminya: Rp.2,8 juta tinggal Rp.800 ribu, mak byur …. suaminya diguyur bensin dan meninggal dirumah sakit.
Berjudi adalah mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakan berdasarkan kebetulan, dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang atau harta yang lebih besar daripada jumlah uang atau harta semula. Dalam perspektif yang lebih luas, berjudi juga bisa dilakukan atas bermacam-macam hal, termasuk judi politik/hukum. Artinya, bila akhir-akhir ini terjadi keributan, jangan-jangan disana juga ada perjudian. Contoh: Keputusan MA no.23 P/HUM/2024, tertanggal 29 Mei 2024 tentang syarat batas umur seseorang bisa ikut Pilgub. Intinya, dicitrakan: eee … siapa tahu KPU setuju mengubah batas umur 30 tahun, dari ‘saat pendaftaran’, menjadi ‘saat pelantikan’ Calon Gubernur. Sehingga siapa tahu ada keuntungan disana.
Sebagai korban, Pandawa terus-menerus berharap akan menang, walau sudah entek-entekan. Hal sama juga berlaku bagi PAK PULISI dan JUDI. Sebaliknyha, Sengkuni sebagai bandar judi politik/hukum, sangat sulit membuktikan langkah judinya secara hukum. MERDEKA
TANCEP KAYON.
SUD
Pengamat Wayang
Semarang – Sing eling lan waspada – Selasa, 18 Juni 2024.
