Asal-Usul Wayang Jawa Timuran

 Istilah wayang Jawa Timuran ialah konvensi pertunjukan wayang Kulit  di wilayah Brangwetan artinya di seberang timur daerah aliran Sungai Brantas yang secara geografis mengacu pada wilayah pusat pemerintahan Majapahit tempo dulu. Daerah yang dimaksudkan adalah Kabupaten Mojokerto, Jombang, Surabaya (Kodya), eks karisedenan Malang (Malang, Pasuruhan, Probolinggo dan Lumajang). Istilah Jawatimuran ini diperkirakan muncul sesudah tahun 1965 dan semakin populer sekitar tahun 1970 –an  seiring dengan didirikannya Pendidikan Formal Sekolah Karawitan Konservatori Surabaya.

Tentang istilah yang digunakan untuk menyebut seni pedalangan atau pewayangan di Jawa Timur, sebenarnya di Surabaya khususnya, telah memiliki istilah yang telah lama popular yaitu dengan penyebutan Wayang Jekdong suatu istilah yang bersumber dari bunyi kepyak (=Jeg) yang berpadu dengan bunyi kendhang bersama Gong Gedhe. Ada lagi yang menyebut Wayang Dakdong bunyi kendhang dengan bunyi gong besar, yang terjadi ketika sang dalang melakukan kabrukan tangan (berantem) di awal adegan perangan. Namun istilah tersebut tak bisa  merata di seluruh kawasan etnis Jawa Timuran ( di luar kota Surabaya ) karena sebutan tadi timbul bukan dari para seniman dalang itu sendiri tapi  dimungkinkan istilah lama itu timbul dari suara penonton, konon istilah ini dilansir oleh dalang terkenal Ki Nartosabdo. Justru bagi dalang yang lebih tua, mendengar sebutan wayang jekdong atau dakdong merasa direndahkan (diejek).

Dilihat dari  bahan, peralatan, maupun pertunjukannya secara fungsional tidak berbeda jauh dengan Seni Pedalangan versi daerah lain (Surakarta, Yogjakarta). Namun secara detail terdapat perbedaan baik seni rupa wayang, karawitan, cerita maupun penampilan yang bersifat kedaerahan

Secara  teritorialnya Seni Pedalangan Jawatimuran dapat dibagi menjadi 4 versi kecil yakni:

  • Versi Lamongan meliputi Kabupaten Lamongan dan sekitarnya, sering disebut gaya pasisiran .
  • Versi Mojokertoan, meliputi Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto dan sekitarnya.
  • Versi Porongan, meliputi daerah Kabupaten Sidoarjo, Surabaya dan sekitarnya.
  • Versi Malangan, meliputi Kabupaten Malang dan sekitarnya.

Ke-4 versi tersebut mempunyai ciri-ciri yang berbeda, namun perbedaannya sangat kecil, kecuali versi Malangan yang terpengaruh oleh kesenian topeng yang gamelan menggunakan nada pelog.

Ciri Wayang Jawatimuran

Menurut Jumiran Ranta Atmaja, ada enam ciri khas wayang Jawatimuran yakni :

  • Dalam pergelaran wayang kulit gagrag Jawatimuran mempunyai karakteristik  tersendiri  dengan  memiliki  empat  jenis  pathet, yaitu pathet Sepuluh (10), pathet Wolu (8), pathet Sanga (9), dan pathet Serang, sedangkan di Jawa Tengah lazim mengenal tiga pathet, yaitu pathet Nem (6), pathet Sanga (9), dan pathet Manyura.
  • Fungsi kendang dan kecrek sebagai pengatur irama gending amat dominan. Kultur wayang Jawa Timuran dipilah dalam beberapa subkultur yang lebih khas, mengacu ke estetika etnik (keindahan tradisi lokal) yakni subkultur Mojokertoan, Jombangan, Surabayan, Pasuruhan dan Malangan.
  • Konvensi pedalangan Jawa Timuran hanya menyajikan dua panakawan yakni Semar dan Bagong. Konvensi ini taat pada cerita relief candi Jago Tumpang cerita Kunjarakarna, punakawan hanya dua Semar dan Bagong. Dalam seni tradisional yang lain, punakawan juga dua orang yakni Bancak dan Doyok atau cerita Damarwulan hanya dua yakni Sabdopalon dan Naya Genggong.
  • Dalang Jawa Timuran tidak menyajikan adegan Gara-Gara secara khusus yakni munculnya Semar, Gareng, Petruk dan Bagong pada tengah malam. Kemunculan punakawan dan adegan lawak disesuaikan dengan alur cerita atau lakon yang dipentaskan.
  • Bahasa dan susastra pedalangan Jawa Timuran amat dominan didukung oleh bahasa Jawa dan dialek lokal Jawa Timuran. Maka munculah bentuk sapaan Jawa Timuran, misalnya arek-arek, rika, reyang.
  • Pada awal pertunjukan ki dalang mengucapkan suluk Pelungan. Suluk Pelungan terkait dengan doa penutup pada adegan tancep yang diucapkan ki dalang yang isinya
    • ki dalang memperoleh berkah dan keselamatan dalam menggelar kisah kehidupan para leluhur.
    • pemilik hajat semoga dikabulkan permohonannya, niat yang suci/tulus dalam selamatan tersebut.
    • Para pendukung pertunjukan wayang (para pengrawit, biyada, dan sinoman) serta semua penonton selalu rahayu, selamat sesudah pementasan tersebut berakhir

Fungsi Wayang Kulit Jawatimuran

 Keberadaan wayang Jawa Timuran dapat bertahan hingga saat ini karena adanya beberapa faktor baik unsur internal maupun eksternal. Unsur internal meliputi para seniman pedalangannya baik dalang, nayaga maupun sinden. Sedang unsur eksternal adalah para penonton atau pendukung wayang kulit itu sendiri. Bertahannya pergelaran wayang kulit Jawa Timuran karena secara sosial masih fungsional. Keterkaitan antara unsur internal yang terdiri dari komunitas dalang dan para pendukungnya masih sangat kuat, sehingga keberadaan wayang sebagai sebuah anasir budaya masih dibutuhkan  keberadaannya.

Fungsi sosial wayang kulit Jawa Timuran masih terus bertahan mengikuti dinamika perkembangan zaman. Bagi masyarakat Jawa Timur, wayang masih dianggap penting diantaranya untuk ruwat sukerta, haul, sunatan, bersih desa dll.

Dalang

Sebagian besar dalang Gaya Jawa Timuran belajar dengan cara ‘nyantrik’ kepada dalang senior, sekalipun ada beberapa dalang yang sebelum nyantrik belajar secara formal di sekolah atau membaca , namun untuk benar-benar terjun sebagai dalang Jawa Timuran  masih diperlukan proses nyantrik.

Profesi dalang merupakan pekerjaan untuk mencari nafkah, sehingga terjadi persaingan diantara para dalang. Maka sebelum tahun 1970 masih sering terjadi perang batin (santet) antar dalang. Namun mulai tahun 1989 setelah berdirinya  Paripuja (Paguyuban Ringgit Purwa Jawa Timuran) yakni wadah untuk mempersatukan para dalang maka dalang mulai bersatu dan bersaing secara sehat. Dan secara rutin mengadakan pentas secara periodik. (Wardono 4 Juni 2013).

Perkembangan Wayang Jawatimuran

Seni Pedalangan Jawa Timuran atau Wayang Jawa Timuran, pada masa sekarang masih hidup dan berkembang. Namun perkembangannya terbatas dalam kawasan etnis seni budaya daerah Jawa Timuran, di antaranya di wilayah Kabupaten Jombang, Mojokerto, Malang Pasuruan, Sidoardjo, Gresik, Lamongan dan di pinggiran kota Surabaya.Ini pun sebagian besar berada di desa-desa, bahkan ada yang bertempat di pegunungan.

Melihat daerah propinsi Jawa Timur yang begitu luas dan jumlah penduduk yang sangat padat itu, berarti kehidupan seni Pedalangan Jawa Timuran tersebut hanya berada dalam wilayah yang sangat sempit. Sedang arus kesenian dari daerah lain mengalir ke Jawa Timur dengan sangat derasnya, termasuk seni Pedalangan gaya Surakarta dan Yogyakarta. Demikian pula seni budaya dari negara lain pun tidak ketinggalan hadir di tengah-tengah masyarakat Jawa Timur begitu cepat dan mudah berkembang.

Dengan masuknya seni budaya dari luar akan berpengaruh  besar terhadap masyarakat untuk tidak mencintai seni budaya daerah setempat. Dalam hal ini terutama kesenian daerah Jawa Timur dengan mudah akan tersingkir, atau setidak-tidaknya akan menghambat kesenian daerah setempat di dalam pelestarian berikut pengembangannya.

Menurut Jumiran Rantaatmaja atas dasar pengaruh-pengaruh seperti tersebut diatas, maka tidak sedikit orang menyatakan bahwa hal  itulah yang akan mempercepat proses kemunduran  sementara orang mengkhawatirkan terhadap kepunahannya, bila tidak ada usaha-usaha pembinaan dari  pihak yang berwenang  atau yang merasa handarbeni. Hanya usaha pembinaan itulah yang diharapkan oleh para seniman  dalang Jawatimuran, yang sebagian besar terjadi dari rakyat kecil.

Pergelaran-pergelaran yang diadakan secara rutin patut kita junjung tinggi, namun hal ini belum merupakan suatu  pelestarian, sebab sesuai pertunjukan tanpa ada bekas-bekasnya. Tak ada lagi pembicaraan, perenungan ataupun permasalahan apa-apa, lebih-lebih sampai pada pembinaan.

Dalam pengembangan Wayang Jawatimuran terdapat berbagai kendala yang sifatnya internal yakni kurangnya keterbukaan diantara para dalang. Para dalang sangat tertutup untuk membicarakan pedalangan Jawatimuran baik cerita maupun unsur-unsur lainnya. Hal ini disebabkan antara lain, takut salah, dan  takut ditiru orang lain karena berhubungan dengan ekonomi. Namun sejak tahun 1994 para dalang jawa Timuran mulai terbuka dan mau menggali informasi dan pada tahun 1990 an pemerintah sudah memfasilitasi kegiatan pewayangan lewat festival. (Wardono 4 Juni 2013).

Seiring munculnya televisi  dan layar tancep tahun 1985 prekwensi pedalangan Jawa Timuran mengalami penurunan. Namun sejak tahu 1997 sejak reformasi prekwensi pedalangan Jawa Timuran mengalami peningkatan sangat tajam.  (Wardono 4 Juni 2013).

Unsur Pertunjukan Wayang Kulit Jawa Timuran

Cerita/Lakon

 Pada dasarnya pertunjukan wayang tidak dapat lepas dari lakon, karena lakonlah yang mengungkapkan hal ihwal perilaku utama itu sendiri (Poespowardoyo 1978 :119). Kata lakon berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata laku mendapat akhiran-an. Bentukan demikian dalam bahasa Jawa banyak jumlahnya,umpamanya tuju-an menjadi tujon, tuku-an menjadi tukon, babu-an menjadi babon, sendhu-an menjadi sendhon dan sebagainya (Soediro satoto 1985 :13)

Menurut Bambang Murtiyoso, pengertian lakon dalam dunia pedalangan mempunyai makna yang berbeda-beda bergantung  pada konteks pembicaraannya. Lakon dapat berarti tokoh utama pada peristiwa di dalam sebuah cerita yang disajikan. Pengertian lakon ini tersurat dalam pertanyaan lakone sapa (lakonya siapa)? Istilah lakon juga dapat berarti alur cerita, hal ini dapat diketahui dengan pertanyaan : lakone kepriye (lakonnya bagaimana) ? Arti lain lakon adalah judul repertoar cerita yang disajikan, seperti yang terkandung dalam pertanyaan : lakone apa? (1992:20).

Bertitik tolak dari pengertian lakon di atas, sumber lakon yang dipakai dalam wayang Kulit Jawatimuran adalah Ramayana dan Mahabharata. Disamping itu juga berkembang Lakon Carangan, dan Carang Sedapur. Contoh lakon carangan seperti wahyu Saptorojo, Wahyu Makutharaja, Togog mBalelo, Wahyu Sidomukti. Wahyu Hidayatjati dll. Dalam wayang Jawa Timuran juga terdapat Lakon Jabur yakni menggabungkan lakon Mahabharata dengan cerita Menak yakni dalam lakon “Perkawinan Angkawijaya dengan Dewi Kuraisin”.

Menurut Wisma Nugraha,  kekhasan tradisi pakeliran gaya Jawa Timuran selain aspek bahasa  dialeg Jawa Timuran adalah kekuatan tradisi lisannya.. Sebagian besar dalang Gaya Jawa Timuran belajar dengan cara ‘nyantrik’ kepada dalang senior, sekalipun ada beberapa dalang yang sebelum nyantrik belajar secara formal di sekolah atau membaca, namun untuk benar-benar terjun sebagai dalang Jawa Timuran  masih diperlukan proses nyantrik karena sumber lakon pakeliran gaya Jawa Timuran sebagian besar masih tersimpan  di dalam dunia pergelaran lewat kuasa, memori dan sanggit dalang.  Dari berbagai sumber lesan tersebut olek dalang Ki Surwedi dikumpulkan dan ditulis dalam sebuah buku dengan judul “Layang Kandha Kelir” yang bersumber dari cerita lisan yang beredar di komunitas penggemar wayang kulit Gaya Jawatimuran yang telah melembaga (2010 : ix)

Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Jawatimuran tidak lepas dari bahasa Jawa Timuran , yang dianggap bukan Bahasa Jawa baku. Ciri khas Bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan seringkali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya Bahasa Jawa Baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab. Bahasa Jawa Dialek Surabaya dikenal dengan Boso Suroboyoan. Seperti :

  • ora – nggak (tidak)
  • sliramu – poro/riko (kamu)
  • piye/dospundi – yak opo (bagaimana)
  • dalan – embong (jalan)
  • bocah-bocah – arek-arek (anak-anak)
  • rampung – mari (selesai)
  • kenopo – lapo (kenapa)
  • arep nyangdi – kate ndi (akan kemana)
  • teng – nang (ke)
  • kidul – (kedul)
  • mulih – moleh (pulang)
  • kowe – kon (kamu)

Sedang suara tokoh wayang biasanya disesuaikan dengan nada gamelan misalnya :

  • Janaka memakai nada 6 gedhe
  • Puntadewa nada 2
  • Werkudara nada 3 atau 5
  • Nakula 5
  • Sadewa nada 1 tinggi
  • Kresna nada 1 tinggi dan 6 kecil

Dalam pertunjukan wayang Jawa Timuran ada tokoh-tokoh tertentu yang menggunakan basa wantilan berbeda dengan tokoh wayang yang ada di Surakarta seperti :

Drona

Aco bopo, kaceplus, pindang bulus, enak encus, waluh gembol monyor-monyor, gedebog basah kunyur-kunyur.

Sengkuni

Sareran-sareran bejane, bubutan dowo, bok awur-awur.

Narada

Aco bopo, kedeklik bongla-bangle 2 x, anak putu kito, mangan jangan gude, gedhene sak gundul-gundul, biang semprong, mati kobong, legiya-legiye, mangan srebe entek sak tempek, uthuk uber-uber 2 x.

Togog

Korobeyang-korobeyung, budal neng gunung oleh-olehe kenthang sak karung, ketebar-ketebur, eh-eh.

Semar

Au sabar awir-owar, wayang wedok ndangak, e lae dikethok koyo lombok, di tugel koyo galeng, dirajang koyo brambang, diiris koyo tomis.

Tingkatan bahasa yang digunakan dalam percakapan wayang kulit, menunjukan perbedaan derajat antara seorang anak terhadap orang tua atau sifat kaula terhadap gusti (pengagung) dan sebagainya seperti :

  1. Bahasa ngoko yaitu bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan orang sebaya yang sudah akrap atau kepada orang yang lebih muda yang tidak sederajat.
  2. Bahasa madya yaitu bahasa ngoko yang kecampur dengan bahasa krama, digunakan untuk pergaulan denga orang yang belum akrab.
  3. Bahasa krama yaitu bahasa yang digunakan pada orang yang sebih dihargai, baik orang tua, pimpinan atau orang muda yang berderajat.
  4. Bahasa krama inggil yaitu bahasa halus untuk orang yang sangat dihargai, misalnya menghadap raja, pengagung dan sebagainya.
  5. Bahasa kedaton yaitu bahasa para sentana atau abdi keraton yang digunakan untuk dialog dengan sesama dihadapan seorang raja dalam keraton.
  6. Bahasa Kawi (sansekerta) yaitu bahasa yang sangat halus dan digunakan untuk tetembangan dan tembang (suluk) dalam adegan wayang

 

Sabet 

Dalam wayang Jawatimuran terdapat beberapa sabet perang antara lain :

  1. Perang dugangan/gagahan yakni perang antara Gatutkaca dengan tokoh sabrang. Dalam perang ini terdapat beberapa bentuk sabetan Gatutkaca yakni dali nyampar banyu, jagur dan Sikatan nyember walang.
  2. Perang alus digunakan untuk tokoh wayang bambangan
  3. Perang sidang atau perang penjalin pinentang seperti Arjuna dengan sabrang bagus
  4. Perang Tholi Thothit atau Perang Candu Cinukit yakni digunakan untuk perang Bagong dengan tokoh lain.

Gending/lagu

 Struktur penggunaan gending dalam wayang Jawa Timuran :

  1. Gending ayak 10 dalang mulai masuk panggung
  2. Dalang mulai memukul kotak, gending gandakusuma
  3. Kalau dalam adegan jejer ada tamu, gending gedog tamu
  4. Jebol panggung, gending sapujagat, gagak setro atau gedog rancak. Kalau raja sabrang gending jula-juli
  5. Ajar kayon, gending ayak
  6. Paseban Jobo, gending ayak arang
  7. Perang, ayak kerep dan alap-alap
  8. Goro-goro, gending norosolo, lambang, dudo bingung
  9. Begal buto, ayak
  10. Adegan kraton, gunungsare, jonjang, perkutut manggung, samirah, cokronegoro, luwung
  11. Perang, ayak songo,
  12. Serang, ayak serang.

 

Seni Rupa Wayang Jawa Timuran

Pengertian rupa wayang adalah wayang ditinjau dari sudut estetika seni rupa. Wayang merupakan ungkapan seni melalui bentuk, ukuran, komposisi, warna dan ornament-ornamen serta pola-pola dan model ragam hias tradisional yang diinspirasikan oleh cerita yang bersumber dari India seperti  Mahabharata, Ramayana serta sumber-sumber ceritera lainnya. Dari sumber cerita wayang, lahirlah tokoh-tokoh  berujud boneka dengan karakter tertentu, yang dibuat dari berbagai bahan antara lain kulit, kayu, kain, logam, tanduk dan ada juga kombinasi antara beberapa bahan. Sebagai sebuah karya seni, tokoh-tokoh itu  dihias dengan ornament dan ragam hias yang khas dengan suatu teknik dan garapan seni yang tunduk pada kaidah-kaidah estetika seni rupa baik dalam bentuk, komposisi, ukuran dan warnanya.

Bentuk dan corak wayang kulitnya condong pada gaya Yogyakarta, terutama wayang perempuan (putren). Hal ini membuktikan bahwa sejak runtuhnya kerajaan Majapahit, kebangkitan kembali wayang kulit Jawatimuran dimulai sebelum terjadinya perjanjian Giyanti yang  membagi  kerajaan  Mataram  menjadi  Kasultanan  Yogyakarta
dan  Kasunanan  Surakarta.  Konon  tercatat  bahwa  wayang  gagrag Surakarta  merupakan  perkembangan  kemudian  setelah  perjanjian Giyanti terlaksana.

Ciri khas wayang kulit Jawatimuran yang mencolok terdapat pada  beberapa  tokoh  wayang  yang  mengenakan  busana  kepala (irah-irahan) gelung yang dikombinasi dengan makutha (topong atau kethu dewa). Ciri lain terdapat pada tokoh wayang Bima dan Gathotkaca, yang di Jawa Tengah berwajah hitam atau kuning keemasan, namun di Jawa Timur berwajah merah. Beberapa tokoh dalang Jawatimuran menyatakan bahwa warna merah bukan berarti melambangkan watak angkara murka namun melambangkan watak pemberani. Selain itu tokoh wayang Gandamana pada wayang Jawa Tengah memiliki pola penggambaran karakter  (wanda) yang mirip dengan Antareja atau Gathotkaca, tetapi pada wayang kulit Jawatimuran Gandamana tampil dengan wanda mirip Dursasana atau Pragota.

Perbedaan yang paling mencolok antara wayang Jawa Timuran dengan Solo atau Jogja adalah pada pewarnaan yang saling bertolak belakang. Jika Solo dan Jogja dominan menggunakan warna merah kekuningan dan menghindari hijau kebiruan namun justru wayang Jawa Timuran justru menggunakan warna yang ‘dibenci’ dengan  mengunggulkan warna biru, biru dengan aksen putih.Perbedaan tersebut banyak tidak dipahami oleh penatah wayang Jawa Timuran maupun komunitas pedalangan. Padahal wayang pesisiran seperti yang pernah berkembang  di Gresik, Surabaya,  Lamongan, Sidoarjo dan sekitarnya umumnya berwarna hijau kebiruan.

Selain segi pewarnaan terdapat perbedaan pada wayang Solo, Jogja atau Jawa Tengahan yang dilengkapi   peran punakawan atas Semar, Petruk, Gareng dan Bagong maka pada wayang Jawa Timuran formasinya terdiri atas Semar, Bagong dan Besut. Disamping itu pada Wayang Jawa Timuran terdapat tokoh khas antara lain :

  1. Klamat Harun (pengikut tokoh kanan seperti Gatutkaca, Antarja, Anoman dll)
  2. Mujeni dan Pak Mundu (pengikut tokoh kiri bila tidak ada Togog dan Bilung)
  3. Setiap kera bermata 2 meskipun Dewi Anjani

Ciri khas seni rupa wayang Jawa Timuran lainnya dari anatomi tubuhnya, tatahan maupun sunggingan antara lain :

  • Dodot bermotif kawung
  • Sampur depan ndugang
  • Lubang mata lebih sipit dibanding gaya Solo
  • Kumis seperti pancing
  • Gelung tidak sambung
  • Kalung ditatah bubukan
  • Talipraba tumpuk dua
  • Celana untu walang
  • Pelemahan polos merah
  • Tatahan lebih agal
  • Ulur-ulur pecah tengah

Wanda

 Wanda dapat ditafsirkan sebagai pengejawantahan melalui bentuk (wayang) yang menggambarkan dasar lahir batin dalam kondisi mental tertentu.Watak dasar dari pribadi tertentu dalam seni rupa wayang kulit purwa dilukiskan dengan pola-pola pada mata, hidung, mulut, warna wajah/muka, perbandingan dan posisi ukuran tubuh, dan juga oleh suaranya (yang dibawakan oleh dalang)

Suasana batin/mental pada setiap watak dilukiskan melalui ekspresi raut muka/wajah, nuansa warnanya proporsi panjang garis  yang menghubungkan titik-titik tertentu  pada tubuh  dan besarnya sudut-sudut tertentu. Namun bagi mereka yang baru  mulai mempelajari hal ini , barangkali agak sulit juga  untuk membedakan suasana-suasana batin  ini satu demi satu.

Secara sederhana, tingkat-tingkat suasana batin  tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut :

  1. lega atau berkenan
  2. merdika atau bebas/netral
  3. suka atau gembira/bahagia
  4. duka atau marah
  5. sungkawa atau sedih/muram.

Dengan cara mengolah dan merubah nuansa-nuansa warna pada wajah sudut-sudut tertentu, proporsi setiap garis, pembuat wayang dapat menyalurkan maksudnya dalam mengekspresikan suasana batin dari pada watak dasar yang dimaksudkan. Ada pula sejenis wanda yang disebut wanda kaget (wanda yang mengekspresikan rasa terkejut) yang digunakan pada tokoh Baladewa,. Sayang sekali wanda ini tidak dibakukan secara pasti dan universal, sehingga perbedaan-perbedaan suasana batin ini hanya berlaku terbatas pada suatu kelompok tertentu, atau setidak-tidaknya pada beberapa kelompok dalam satu aliran/mazhab pedalangan.

Menurut Wardono pada wayang kulit Jawa Timuran, hanya ada beberapa tokoh wayang yang mempunyai wanda antara lain :

  1. Arjuna wanda mbethuthut (susah) dengan ciri-ciri muka agak tunduk lurus, warna muka hitam
  1. Arjuna wanda kemanten (seneng) dengan ciri-ciri muka agak ndangak, warna muka hitam
  2. Gatutkaca kedukan (wedi/takut) dengan ciri-ciri muka nunduk, jangkah agak lebar
  3. Dursasana wanda girap dengan ciri-ciri muka lurus, hidung besar, warna orange
  4. Baladewa wanda geger dengan ciri-ciri warna putih, kaki jangkah

 

Daftar Pustaka

 Bambang Harsrinuksmo dkk,

1999    Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jakarta : Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia.

Gorys Keraf

Ekspedisi dan Deskripsi. Ende-Flores : PT. Nusa Indah

Gottschalk, Louis

Mengerti Sejarah. Terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta : UI Press.

Mulyono, S

  1. Wayang, Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya. Jakarta : PT. Gunung Agung

Murtiyoso, Bambang

“Pertumbuhan Dan Perkembangan Seni Pertunjukan Wayang” Laporan  Penelitian

Nanang Henri Riyanto

“Wayang Timplong Nganjuk, Asal usul dan kehidupannya” .Skripsi

Sutopo, FX.HB.

1988    “Teknik Pengumpulan Data dan Model Analisisnya dalam Penelitian Kualitatif”. Makalah Ceramah STSI Surakarta.

Umar Kayam

Seni Tradisi Masyarakat. Jakarta : Sinar Harapan.

Surwedi

2010    Layang Kandha Kelir. Bantul : Lembah Manah

Surwedi

2007    Layang Kandha Kelir, Yogyakarta : Bagaskara -Forlanda

http://id.wikipedia.org

http://heroesoesanto.blogspot.com/2011/03/wayang-kulit-purwa-jawa-timur.html