Asal-Usul Wayang Golek Pakuan-Bogor

 Munculnya wayang Golek Pakuan-Bogor atas ide seorang budayawan Bogor, Budiman Mahadika. Ide itu terinspirasi ketika Budiman Mahardika berjalan melewati situs Batu Tulis pada tahun 2009, sehingga muncul gagasan membuat cerita sejarah Pajajaran untuk dipentaskan dalam pertunjukan wayang Golek. Gagasan tersebut disampaikan kepada ayahnya, Ki Zakir Ismail seorang dalang wayang Golek yang cukup terkenal di Bogor. Pertama kali cerita yang dibuat yakni “Munding Laya Dikusuma” . Cerita tersebut lalu dipentaskan oleh ayahnya Ki Zakir Ismail pada saat memperingati Hari Jadi Kabupaten Bogor tahun 2010 di kampung Curug  Mekar, Bogor. Dari pementasan tersebut Ki Zakir Ismail mendapat kritikan dari Kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor karena mengangkat cerita sejarah tetapi masih menggunakan perangkat boneka wayang Golek Purwa. Dari kritikan tersebut munculah gagasan Ki Zakir Ismail membuat boneka wayang Golek khusus yang disesuaikan dengan tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita sejarah Pajajaran tersebut.

Ki Zakir Ismail satu persatu membuat gambar tokoh-tokoh yang muncul dalam wayang sejarah Pajajaran. Setelah mendapat rekomendasi dari anaknya, gambar tersebut lalu dibawa ke pengrajin wayang Jaya Gumilar di Cikaret Bogor. Dalam waktu kurang dari satu tahun, Jaya Gumilar telah menyelesaikan 60 tokoh wayang Golek Sejarah/Pakuan.

Pada tahun 2010 Ki Zakir Ismail mementaskan Wayang Golek Pakuan yang ke-2 dalam rangka orang punya hajatan sunatan dari keturunan raja Bone, di Bogor. Pada pentas ke-2 tersebut Ki Zakir Ismail sudah menggunakan boneka wayang Golek Pakuan hasil kreasinya dengan mengambil cerita “Sinatria Gagak Lumayang”. Dari pentas tersebut, wayang Golek Pakuan mulai mendapat tanggapan pemerintah daerah dan masyarakat Bogor. Dalam rangka Hari jadi Kota Bogor tahun 2011 Ki Zakir Ismail diminta pentas wayang Golek Pakuan. Dan Pada tahun 2013 dalam rangka Hari Jadi Kota Bogor, Ki Zakir diundang lagi untuk pentas Wayang Golek Pakuan dengan cerita “Muding Layang Dikusuma”.  Masyarakat Bogor mulai menyenangi wayang Golek Pakuan, menurut Ki Zakir Ismail karena masyarakat ingin mengetahui jalan ceritanya berbeda dengan wayang Golek Purwa yang ceritanya sudah banyak diketahui. Panggilan pentaspun mengalir baik dalam acara tujuhbelasan maupun orang punya hajatan Saat dilakukan penelitian Ki Zakir Ismail mementaskan Wayang Golek Pakuan di Ciheram, Bogor pada tanggal 20 April 2010 dalam rangka orang punta hajatan/pernikahan.

 Fungsi Wayang Golek Pakuan

 Wayang Golek Pakuan tergolong wayang kreasi baru selain tampil sebagai suatu sajian seni juga mampu menyampaikan pesan-pesan etik yang bermanfaat, berupa pendidikan moral keutamaan hidup, dalam hubungan pribadi maupun masyarakat. Dan lebih jauh dari itu wayang Golek Pakuan sebagai salah satu bentuk seni budaya tradisional, yang dekat dengan masyarakat, dan memiliki nilai seni yang tinggi serta mengandung nilai-nilai ajaran yang luhur. Bagi masyarakat, kehadiran wayang Golek Pakuan bukanlah sekedar tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan. Wayang Golek Pakuan bukan semata-mata sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, media penyuluhan  dan media pendidikan. Dengan wayang Golek Pakuan masyarakat disamping mendapat hiburan juga dapat memperoleh informasi tentang sejarah Pajajaran dengan senang

Seni Rupa Wayang Golek Pakuan

 Bermula dari kritikan Kepada Dinas Pariwisata Babupaten Bogor, Ki Zakir Ismail mulai merancang gambar boneka wayang yang disesuaikan dengan tokoh-tokh yang muncul dalam cerita wayang Golek Pakuan. Berlatar belakang pelukis tentu tidak mengalami kesulitan bagi Ki Zakir Ismail untuk menggambar. Boneka wayang Golek pakuan tersebut raut muka maupun asesoris yang dipakai sangat berbeda dengan wayang Golek Purwa.

Sampai saat ini (2014) ketika  penelitian berlangsung sudah ada 60 tokoh boneka wayang Golek Pakuan hasil kreasi Ki Zakir Ismail antara lain :

  1. Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran)
  2. Nyi Ambet Kasih (istri Prabu Siliwangi)
  3. Nyi Subang Larang (istri Prabu Siliwangi)
  4. Nyi Kentring Manik Mayang Sunda (istri Prabu Siliwangi)
  5. Nyi Mas Linggang Pakuan (istri Prabu Siliwangi)
  6. Walangsungsang (anak ke-1 Prabu Siliwangi x Nyi Subang Larang)
  7. Raden Gurugantangan (Walangsungsang ketika masih kecil)
  8. Rara santang (anak ke-2 Prabu Siliwangi x Nyi Subang Larang)
  9. Pangeran Sengara (anak ke-3 Prabu Siliwangi x Nyi Subang Larang)
  10. Surawisesa (anak ke 1 Prabu Siliwangi x Nyi Kentring Manik Mayang Sunda)
  11. Munding Laya Dikusuma (anak ke-2 Prabu Siliwangi x Nyi Kentring Manik Mayang Sunda).
  12. Pangeran Sarosahan (anak ke-3 Prabu Siliwangi x Nyi Kentring Manik Mayang Sunda)
  13. Prabu Linggabuwana (raja Sunda)
  14. Rara Linsing (istri Prabu Linggabuwana0
  15. Rakean Mangkubumi Bunisora Suradipati (Perdana Menteri)
  16. Rakean Anapakem (patih)
  17. Rakean Buyutmantri (Patih)
  18. Dewi Citraresmi Dyah Pitaloka (anak)
  19. Niskala Wasu Kencana (anak)
  20. Arya Rangga Gading (Patih Pajajaran)
  21. Arya Taji Malela (Patih Pajajaran)
  22. Arya Natadani (Patih)
  23. Arya Kidang Pananjung (Patih)
  24. Arya Kidang Kencana (patih)
  25. Arya Gelap Nyawang (Patih)
  26. Girindra Jaya wardana (Raja Majapahit)
  27. Guntur Bumi (patih)
  28. Begawan Layung Kemendung (Guru Kian Santang)
  29. Ki Gedeng Tapa (Mertua Prabu Siliwangi)
  30. Ki Gedeng Kawung Anten (mertua Syarif Hidayatullah)
  31. Nyi Mas Kawung Anten
  32. Maulana Hasanuding (anak sunan Gungjati)
  33. Dewi Winahon (adik Maulana Hasanudin)
  34. Pangeran Jayakarta anak pangeran Huda dari Pasai)
  35. Amuk Marugal (anak Kentring Manis Raja Japura Cirebon)
  36. Ali Murtada (murid Syek Abdul Qodir Jaelani)
  37. Gajahmada (Patih Majapahit)
  38. Hayam wuruk (Raja Majapahit)
  39. Jonggrang Kalapitung (ombak besar)
  40. Dewi Pohaci Wirumanangge (Bidadari)
  41. Guriang Tuju (Simbol Jenderal Aponso)
  42. Acining Bumi
  43. Acining Hawa
  44. Aciningg Air
  45. Acining Api
  46. Sabdopalon
  47. Cepot
  48. Dawala
  49. Roh Kian santang
  50. Dewi Rengganis (pacar Kian Santang)
  51. Dewi Kinawati (pacar Surawisesa)
  52. Naga Samudra
  53. Paksi Nagaliman
  54. Maung Lodaya
  55. Elang (burung)
  56. Sewu Raksa (perampok)
  57. Raksa Pati (perampok)
  58. Aki Panyumpit (pemburu)
  59. Panah Kilat Mahendra
  60. Gunungan

 

 Unsur Pertunjukan Wayang Kulit Cirebon

Cerita/Lakon

Pada dasarnya pertunjukan wayang tidak dapat lepas dari lakon, karena lakonlah yang mengungkapkan hal ihwal perilaku utama itu sendiri (Poespowardoyo 1978 :119). Kata lakon berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata laku mendapat akhiran-an. Bentukan demikian dalam bahasa Jawa banyak jumlahnya,umpamanya tuju-an menjadi tujon, tuku-an menjadi tukon, babu-an menjadi babon, sendhu-an menjadi sendhon dan sebagainya (Soediro satoto 1985 :13)

Menurut Panuti Sudjiman dalam buku suntingannya  Kamus Istilah Sastra, mendefinisikan lakon yaitu karangan berbentuk drama yang ditulis dengan maksud untuk dipentaskan. Lakon merupakan istilah lain daripada drama (1984:46)

Dalam Kamus Bahasa Jawa, lakon diartikan jalannya cerita wayang (Prawiraadmadja 1980 : I: 280; Poerwodarminto 1939 :259). Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan lakon yaitu :

Peristiwa nyata atau karangan yang disampaikan  kembali di dalam pentas dengan tindak-tanduk (mimik atau pantomimik) melalui benda perantara hidup (manusia) atau benda mati (boneka atau wayang) sebagai pemain. Demi kesempurnaan komunikasi dengan publik, lakon itu dilengkapi dengan wacana timbal balik  (dialog) atau tunggal (monolog) diiringi dengan tata suara, musik (gamelan) dan cahaya. Pada lakon tradisi diperkuat dengan antawecana sebagai prolog dan suluk. Dalam pergelaran ini, lakon dipimpin oleh dalang (sutradara) dan lakon sendiri merupakan benda-benda mati (Hassan Sadhily 1983 :1943)

Menurut Bambang Murtiyoso, pengertian lakon dalam dunia pedalangan mempunyai makna yang berbeda-beda bergantung  pada konteks pembicaraannya. Lakon dapat berarti tokoh utama pada peristiwa di dalam sebuah cerita yang disajikan. Pengertian lakon ini tersurat dalam pertanyaan lakone sapa (lakonya siapa)? Istilah lakon juga dapat berarti alur cerita, hal ini dapat diketahui dengan pertanyaan : lakone kepriye (lakonnya bagaimana) ? Arti lain lakon adalah judul repertoar cerita yang disajikan, seperti yang terkandung dalam pertanyaan : lakone apa? (1992:20).

Bertitik tolak dari pengertian lakon di atas, sumber lakon yang dipakai wayang Golek Pakuan adalah cerita sejarah Pejajaran dengan tokoh utama Prabu Siliwangi. Pakuan Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Pajajaran adalah ibu kota Kerajaan Sunda Galuh yang pernah berdiri pada tahun 1030-1579 M di wilayah barat pulau Jawa. Lokasinya berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya sehingga Kerajaan Sunda Galuh sering disebut sebagai Kerajaan Pajajaraan. Asal-usul dan Arti Pakuan terdapat dalam berbagai sumber.

  1. Naskah Carita Waruga Guru (1750-an). Dalam naskah berbahasa Sunda Kuna ini diterangkan bahwa nama Pakuan Pajajaran didasarkan bahwa di lokasi tersebut banyak terdapat pohon pakujajar.
  2. KF. Holle (1869). Dalam tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg (Batutulis di Bogor), Holle menyebutkan bahwa di dekat Kota Bogor terdapat kampung bernama Cipaku, beserta sungai yang memiliki nama yang sama. Di sana banyak ditemukan pohon paku. Jadi menurut Holle, nama Pakuan ada kaitannya dengan kehadiran Cipaku dan pohon paku. Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar (“op rijen staande pakoe bomen”).
  3. GP. Rouffaer (1919) dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian “paku”, akan tetapi harus diartikan “paku jagat” (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. “Pakuan” menurut Fouffaer setara dengan “Maharaja”. Kata “Pajajaran” diartikan sebagai “berdiri sejajar” atau “imbangan” (evenknie). Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti “Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit”. Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa Pakuan Pajajaran didirikan tahun 1433.
  4. Ng. Poerbatjaraka (1921). Dalam tulisan De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata “Pakuan” mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno “pakwwan” yang kemudian dieja “pakwan” (satu “w”, ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang Sunda kata itu akan diucapkan “pakuan”. Kata “pakwan” berarti kemah atau istana. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti “istana yang berjajar”(aanrijen staande hoven).
  5. H. ten Dam (1957). Sebagai seorang pakar pertanian, Ten Dam ingin meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi perkembangan sejarah. Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian “Pakuan” ada hubungannya dengan “lingga” (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian “paku”

H. ten Dam berpendapat bahwa “pakuan” bukanlah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibu kota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Kata “pajajaran” ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk laporan Kapiten Wikler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang terletak antara “Sungai Besar” dan “Sungai Tanggerang” (sekarang dikenal sebagai Ci Liwung dan Ci Sadane). Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama “Pajajaran” muncul karena untuk beberapa kilometer Ci Liwung dan Ci Sadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam pengertian Ten Dam adalah Pakuan di Pajajaran atau “Dayeuh Pajajaran”. Sebutan “Pakuan”, “Pajajaran”, dan “Pakuan Pajajaran” dapat ditemukan dalam Prasasti Batutulis (nomor 1 & 2) sedangkan nomor 3 bisa dijumpai pada Prasasti Kebantenan di Bekasi. Dalam naskah Carita Parahiyangan ada kalimat berbunyi “Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata” (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata). Sanghiyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut “pakuan” itu adalah “kadaton” yang bernama Sri Bima dan seterunya. “Pakuan” adalah tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton, kedaton atau istana. Jadi tafsiran Poerbatjaraka lah yang sejalan dengan arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan, yaitu “istana yang berjajar”. Tafsiran tersebut lebih mendekati lagi bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri. Diperkirakan ada lima (5) bangunan keraton yang masing-masing bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Inilah mungkin yang biasa disebut dalam peristilahan klasik “panca persada” (lima keraton). Suradipati adalah nama keraton induk. Hal ini dapat dibandingkan dengan nama-nama keraton lain, yaitu Surawisesa di Kawali, Surasowan di Banten dan Surakarta di Jayakarta pada masa silam. Karena nama yang panjang itulah mungkin orang lebih senang meringkasnya, Pakuan Pajajaran atau Pakuan atau Pajajaran. Nama keraton dapat meluas menjadi nama ibu kota dan akhirnya menjadi nama negara. Contohnya : Nama keraton Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang meluas menjadi nama ibu kota dan nama daerah. Ngayogyakarta Hadiningrat dalam bahasa sehari-hari cukup disebut Yogya. Pendapat Ten Dam (Pakuan = ibu kota ) benar dalam penggunaan, tetapi salah dari segi semantik. Dalam laporan Tome Pires (1513) disebutkan bahwa bahwa ibu kota kerajaan Sunda itu bernama “Dayo” (dayeuh) dan terletak di daerah pegunungan, dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung. Nama “Dayo” didengarnya dari penduduk atau pembesar Pelabuhan Kalapa. Jadi jelas, orang Pelabuhan Kalapa menggunakan kata “dayeuh” (bukan “pakuan”) bila bermaksud menyebut ibu kota. Dalam percakapan sehari-hari, digunakan kata “dayeuh”, sedangkan dalam kesusastraan digunakan “pakuan” untuk menyebut ibu kota kerajaan. Karena lokasi Pakuan yang berada di antara dua sungai yang sejajar maka Pakuan disebut juga Pajajaraan.

Kehancuran

Pakuan Pajajaran hancur, rata dengan tanah, pada tahun 1579 akibat serangan pecahan kerajaan Sunda, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Kerajaan Sunda ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak dimungkinkan lagi penobatan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja, raja Kerajaan Sunda. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman. Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.

Kisah Prabu Siliwangi

Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran. Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasit.Kitab yg di tulis dengan menggunakan bahasa.sunda kuno di dalam selembar kulit Macan putih yg di temukan di desa pajajar Rajagaluh Jawa Barat.

Prabu Siliwangi seorang raja besar pilih tanding sakti arif  dan bijaksana. Memerintah Ia merupakan  putra Prabu Anggalarang atau Prabu Dewa Niskala Raja dari kerajaan Gajah dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau kerajaan Galuh di Ciamis Jawa Barat.
Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Sejak kecil beliau diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati di kerajaan Singapura
(sebelum bernama kota Cirebon).

Setelah Raden Pemanah Rasa Dewasa beliau kembali ke kerajaan Gajah untuk Mengabdi kepada ayahandanya Prabu Angga Larang/Dewa Niskala. Setelah itu Raden Pemanah Rasa menikahi Putri  Ki Gedeng Sindangkasih yang bernama Yyi Ambet Kasih.
Sebagai seorang putra raja beliau tidak betah tinggal diam di istana, Raden Pamanah Rasa kerap mengembara menyamar menjadi rakyat jelata dari daerah satu ke daerah lainya, menolong yang lemah dan memberantas keangkaramurkaan. Raden pamanah rasa juga gemar bertapa dan mencari kesaktian. Di dalam pengembarannya, ketika beliau hendak beristirhat di curug atau air terjun, curug itu bernama Curug Sawer yang terletak di daerah Majalengka, Raden pemanah Rasa dihadang oleh siluman harimau putih, pertempuran pun tak terelakkan.

Raden Pamanah Rasa dan siluman harimau putih yang diketahui memiliki kesaktian tinggi itu pun bertarung sengit hingga setengah hari, namun kesaktian Prabu Pamanah Rasa berhasil memenangi pertarungan dan membuat siluman harimau putih tunduk kepadanya.
Harimau putih itu memberi sebuah pusaka yang terbuat dari kulit macan.
Dengan pusaka itu beliau bisa terbang laksana burung, menghilang tak terlihat oleh mata (ajian halimun), berjalan secepat angin (ajian sepi angin). Harimau itupun memutuskan untuk mengabdi kepada Raden Pamanah Rasa sebagai pendamping beliau. Dengan tunduknya raja siluman harimau putih, maka meluaslah wilayah kerajaan Gajah. Salah satunya kala kerajaan Gajah menundukkan kerajaan-kerajaan yang memeranginya. Siluman harimau putih juga turut membantu Raden Pamanah rasa saat kerajaan Pajajaran diserang oleh pasukan Mongol pada Masa kekaisaran Kubilai khan. Karena jasa-jasa anaknya yang begitu besar dalam kejayaan kerajaan Gajah, maka diangkatlah Raden Pemanah Rasa sebagai raja kedua di kerajaan tersebut. Prabu Pamanah Rasa pun selanjutnya mengubah nama kerajannya menjadi kerajaan Pajajaran. Yang berarti menjajarkan atau menggabungkan kerajaan Gajah dengan kerajaan harimau putih. Seiring meluasnya wilayah kerajaan Gajah, Prabu Pamanah Rasa kemudian membuat senjata sakti yang pilih tanding. Beliau menyuruh Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata pisau berbentuk harimau sebanyak tiga buah, dalam tiga warna, yaitu Kuning, Hitam, Putih. Senjata pertama yang berwarna hitam,dibuat dari batu yang jatuh dari langit yang sering disebut meteor, yang dibakar dengan kesaktian Prabu Pamanah Rasa dalam membentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut.  Senjata kedua dibuat dari air, api yang dingin, yang warnanya kuning dibekukan menjadi besi kuning, Senjata ketiga dari besi biasa yang direndam dalam air hujan menjadi putih berkilau. Senjata itu selesai dalam waktu tujuh hari. Pengeran Pamanah Rasa memikirkan nama untuk senjata sakti tersebut, tepat ayam berkokok ditemukan nama untuk ketiga barang tersebut, pisau pusaka itu di beri nama KUJANG (senjata berbentuk harimau), dikarenakan pusaka itu ada tiga, maka kujang tersebut di beri nama Kujang Tiga Serangkai ,yang artinya berbeda-beda tetapi tetap sama. Senjata itu berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di gagangnya. Ukiran harimau di gagang Kujang konon sebagai pengingat terhadap pendamping setianya, siluman harimau putih. Dan pusaka itu yg kini menjadi lambang dari propinsi Jawa Barat,

Suatu ketika Syekh Quro datang ke negeri Pajajaran beserta para santrinya termasuk Nyi Mas Subang larang. Rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang sekitar 1416 M lalu mendirikan sarana ibadah sekaligus tempat tinggal a. Setelah beberapa waktu berada dipelabuhan Karawang,Syekh Quro menyampaikan dakwah-dakwahnya di mushola yang dibangunya (sekarang Mesjid Agung Karawang ). Dari urainnya mudah dipahami dan mudah diamalkan, ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang. Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya, Nyi Subang Larang. Berita kedatangan Syekh Quro, rupanya terdengar oleh Prabu Anggalarang yang pernah melarang penyebaran agama Islam di muara jati, sehingga Prabu Anggalarang mengirim utusannya untuk menutup pesantren Syekh Quro dengan paksa. Utusan yang datang adalah Putra Mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa.  Sesampainya di depan pesantren Raden Pemanah Rasa tertambat hatinya oleh alunan suara merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang,”Saat menlantunkan ayat-ayat Al-Qur’an,” Prabu Pamanah Rasa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa, menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya. Beliau pun menyampaikan keinginanya untuk mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya. Pinangan tersebut diterima tapi,dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus, yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berdzikir. Selain itu, Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja.

Semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah. Di tanah suci Mekkah, Prabu Pamanah Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget, ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek. Dan Kekek itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan, Dua Kalimah Syahadat yang makna pengakuan pada Allah SWT, sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya. Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa atau Prabu Silihwangi masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh, mulai dari itu, Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya. Setelah itu Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke kraton Pajajaran,untuk melangsungkan pernikahannya dengan Nyi Subang Larang waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M, pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro. Hasil dari pernikahan tersebut mereka dikarunai 3 anak yaitu:

  1. Raden Walangsungsang/kian santang ( 1423 Masehi)
  2. Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi)
  3. Raja Sangara ( 1428 Masehi).

Nama Siliwangi pun dikenal sebagai raja yang mencintai rakyatnya. Dia meminta agar pajak hasil bumi tidak memberatkan rakyat. Dia juga mengatur pemerintahan dengan cukup baik sehingga Pajajaran disegani. Kemudian Prabu Silihwangi Menikahi putri Prabu Susuktunggal Raja dari kerajaan Sunda, yang bernama Kentring Manik Mayang Sunda. Jadilah antara Raja Sunda dan Raja Galuh yang seayah ini menjadi besan. Pada tahun 1482 , Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Raden Pemanah Rasa atau Jaya Dewata. Demikian pula dengan Prabu Susuktunggal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini (Jayadewata). Dengan peristiwa yang terjadi pada tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan Prabu Siliwangi. Beliau memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai “Susuhunan” karena ia telah lama tinggal di sina menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan.

Prabu Silihwangi memerintah selama 39 tahun (1482 – 1521). Pada masa inilah Pakuan Pajajaran mencapai puncak perkembanganya gemah ripah loh jinawi, daerah kekuasaanya sepertiga pulau Jawa yg terbentang luas dari ujungkulon sampai ke dataran tinggi Dieng Jawa Tengah.Wilayah ini kala itu di sebut tataran Sunda.

Setelah Prabu Silihwangi di tinggal Nyi Subang Larang ke Rahmat Allah, istri yang paling di cintainya. Beliau mulai melupakan Islam yang pernah di ikrarkanya, beliau lebih memilih kembali memeluk agama yang dianut leluhurnya (sunda wiwitan). Sedangkan Raden Walangsungsang yang juga putra mahkota Kerajaan Pajajaran berkeinginan untuk berguru agama Nabi Muhammad SAW. Lalu, ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya, Prabu Siliwngi. Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana. Pangeran Walangsungsang lahir dikeraton Pajajaran bertepatan dengan Tahun 1423 Masehi. Pada masa mudanya ia memperoleh pendidikan yang berlatar belakang kebangsawanan dan politik, kurang lebih 17 tahun lamanya ia hidup di Istana Pajajaran.

Pada suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Ia menuruti panggilan mimpi untuk berguru agama nabi kepada Syekh Nurjati, seorang pertapa asal Mekah di bukit Amparan Jati Cirebon.Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati,Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Resi Danuwarsi. Kemudian Beliau pergi menuju Gunung Dihyang di Padepokan Resi Danuwarsih, masuk wilayah Parahiyangan Bang Wetan. ResiDanuwarsih adalah seorang Pendeta Budha yang menjadi penasehat Keraton Galuh, ketika Ibukota Kerajaan masih di Karang Kamulyan Ciamis. Sulit dibayangkan bagaimana keteguhan Sang Pangeran yang muslim, berguru kepada seorang Pendeta yang secara lahiriah masih beragama Budha. Tetapi mungkin saja secara hakiki sang Danuwarsih sudah Islam meskipun tingkah lakunya masih Hindu-Budha. Tetapi yang Jelas kedatangan Putra Sulung Prabu Siliwangi di Padepokan Gunung Dihyang disambut suka cita oleh pendeta Danuwarsih. Dan untuk menyempurnakan kegembiraan tersebut, sang Guru menikahkan putri satu-satunya yang bernama Endang Geulis. Darinyalah lahir seorang putri yang bernama Nyai Mas Pakungwati yang kelak kemudian hari menjadi permaisuri Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Begitupun Rara Santang adik Walangsungsang yang juga berkeinginan untuk mempelajari agama nabi, Rarasantang amat bersedih hati ditinggalkan pergi oleh kakaknya. Ia terus menerus menangis. Jerit hatinya tak tertahankan lagi hingga akhirnya ia  pun pergi meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Lalu, Prabu Siliwangi mengutus Patih Arga untuk mencari sang putri. Ia tidak diperkenankan pulang jika tidak berhasil menemukan Rarasantang. Namun, usaha Patih Arga sia-sia belaka karenanya ia tidak berani pulang. Akhirnya, ia mengambil keputusan mengabdi di negeri Tajimalela. Sementara itu, perjalanan Rarasantang telah sampai ke Gunung Tangkuban perahu dan bertemu dengan Nyai Ajar Sekati. Rara Santang diberi pakaian sakti oleh Nyai Sekati sehingga ia bisa berjalan dengan cepat. Nyai Sekati memberi petunjuk agar Rarasantang pergi ke gunung Cilawung menemui seorang pertapa. Di gunung Cilawung, oleh ajar Cilawung nama Rarasantang diganti menjadi Nyai Eling dan diramal akan melahirkan seorang anak yang akan menaklukkan seluruh isi bumi dan langit,dikasihi Tuhan, dan menjabat sebagai pimpinan para wali. Selanjutnya, Nyai Eling diberi petunjuk agar meneruskan perjalanan ke Gunung Merapi.

Sementara iti Resi Danuwarsi yang juga dikenal dengan nama Ajar Sasmita, yang tengah mengajar Walangsungsang. Sang Danuwarsi mengganti nama Walangsungsang menjadi Samadullah dan menghadiahi sebuah cincin bernama Ampal yang berkesaktian dapat dimuati segala macam benda. Ketika keduanya tengah asyik berbincang-bincang tiba-tiba datanglah Rarasantang yang serta merta memeluk kakaknya. Di Gunung Merapi, Walangsungsang di nikahkan dengan Indang geulis putri dari Resi Danuwarsi. Sesuai dengan petunjuk Resi Danuwarsi, Samadullah beserta istri dan adiknya meninggalkan Gunung Merapi menuju bukit Ciangkup. Indang Geulis dan Rarasantang “dimasukkan” ke dalam cincin Ampal.

Di bukit Ciangkup tempat bertapa seorang pendeta Budha bernama Sanghyang Naga. Samadullah diberi pusaka berupa sebilah golok bernama golok Cabang yang dapat
berbicara seperti manusia dan bisa terbang. Setelah mengganti nama Samadullah, Sanghyang Naga memberi petunjuk agar Samadullah melanjutkan perjalanan ke Gunung Kumbang menenemui seorang pertapa yang bergelar Nagagini yang sudah teramat tua. Nagagini adalah seorang pendeta yang mendapat tugas dewata untuk menjaga beberapa jenis pusaka: kopiah waring, badong bathok (hiasan dada dari tempurung), serta umbul-umbul yang harus diserahkan kepada putera Pajajaran. Atas petunjuk Nagagini,Walangsungsang kemudian berangkat ke Gunung Cangak. Nagagini memberi nama baru bagi Walangsungsang, yakni Karmadullah. Ketika tiba di Gunung Cangak, Walangsungsang melihat pohon kiara yang setiap cabangnya dihinggapi burung bangau. Walangsungsang bermaksud menangkap salah seekor burung bangau itu, tetapi khawatir semuanya akan terbang jauh. Ia teringat akan pusakanya kopiah waring yang khasiatnya menyebabkan ia tidak akan terlihat oleh siapapun termasuk jin dan setan. Kopiah Waring segera ia pakai, lalu ia mengambil sebatang bambu untuk membuat bubu yang dipasang disalah satu cabang kiara. Dalam bubu itu diletakkan seekor ikan. Burung-burung bangau tertarik melihat ikan dalam bubu hingga membuat suara berisik dan menarik perhatian raja bangau (Sanghyang Bango) yang segera mendekati “rakyatnya”. Raja Bango berusaha mengambil ikan dalam bubu, namun ia terjebak masuk ke dalam perangkap dan tak dapat keluar, dan akhirnya ditangkap oleh Walangsungsang. Raja Bango mengajukan permohonan agar tidak disembelih, dan ia menyatakan takluk kepada Walangsunsang serta mengundangnya untuk singgah di istananya guna diberi pusaka. Di dalam istana, Raja Bango berubah menjadi seorang pemuda tampan dan menyerahkan benda pusaka berupa: periuk besi, piring, serta bareng. Periuk besi dapat dimintai nasi beserta lauk pauknya dalam jumlah yang tidak terbatas, piring dapat mengeluarkan nasi kebuli, sedangkan bareng dapat mengeluarkan 100.000 bala tentara.Sanghyang Bango memberi nama Raden Kuncung kepada Walangsungsang yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Jati.

Setibanya di gunung Jati, Walangsungsang menghadap Syekh Nurjati yang juga bernama Syekh Datuk Kafi yang berasal dari Mekah, dan masih keturunan Nabi Muhammad dari Jenal Ngabidin. Lalu, Walangsungsang berguru kepada Syekh Nurjati dan menjadi seorang muslim dengan mengucapkan syahadat. Setelah ilmunya dianggap cukup, Syekh Datuk Kafi menyuruh Walangsungsang untuk mendirikan perkampungan di tepi pantai. Walangsungsang memenuhi perintah gurunya. Ia pun berangkat menuju Kebon Pesisir, berikut istri dan adiknya, yang di “masukkan” ke dalam cincin Ampal. Perkampungan baru yang akan dibukanya kelak dikenal dengan nama Kebon Pesisir, sedangkan pesantrennya diberi nama Panjunan. Dalam pada itu, Syekh Datuk Kafi memberi gelar kepada Walngsungsang dengan sebutan Ki Cakrabumi. Selanjutnya,Cakrabumi membuka hutan dengan Golok Cabang. Dengan kesaktian Golok Cabang, hutan lebat telah dibabat dalam waktu singkat. Ketika goloknya bekerja membabat hutan, pohon-pohonan roboh dengan mudah, lalu golok mengeluarkan api dan membakar kayu-kayu hutan sehingga dalam waktu singkat pekerjaansudah selesai. Sementara Walangsungsang tidur mendengkur. Hutan yang dirambah cukup luas sehingga pendatang-pendatang baru tidak perlu bersusah payah membukahutan. Dalam waktu singkat, pedukuhan baru itu sudah banyak penduduknya,dan mereka menamakan Cakrabuwana dengan sebutan Kuwu Sangkan. Kuwu Sangkan sendiri tidak bertani karena pekerjaannya hanyalah menjala ikan dan membuat terasi. Jemuran terasi yang dibuatnya membentang ke selatan hingga Gunung Cangak di tanah Girang. Suatu ketika, ia pulang ke rumahnya yang terletak di Kanoman, ternyata gurunya, Syekh Datuk Kahfitelah berada disana. Ketika Syekh Datuk Kahfi menemui Walangsungsang di KebonPesisir, ia menganjurkan supaya Walangsungsang dan adiknya menunaikan ibadah haji ke Mekah. Di mekkah kemudian mereka berkenalan dengan patih dari mesir yg sedang mencari permaisuri untuk rajanya,dari perkenalan itu akhirnya raja mesir menikah dengan nyi Rara Santang dengan maskawin sorban Nabi Muhammad saw, Rara Santang tinggal di Mesir bersama suaminya dan  Kian Santang Pulang kembali ke pulau Jawa.

Ketika Rarasantang sedang hamil tersiarlah kabar bahwa raja Mesir wafat saat berkunjung ke negeri Rum di kerajaan saudaranya. Kesedihan Rarasantang yang sedang hamil tua itu tak terbayangkan lagi mendengar kematian suaminya, apalagi masa kehamilannya telah mencapai usia 12 bulan. Rara Santang di karuniahi anak kembar yaitu syarif hidayatulloh dan Syarif Arifin. Ketika mereka berdua dewasa, tahta kerajaan mesir di turunkan ke pada Syarif Hidayatullah tapi beliau menolaknya dan memberikanya pada adik kembarnya Syarif Arifin.

Syarif Hidayatullah lebih memilih berdakwah ke pulau Jawa di tanah leluhurnya. Setelah sampai di Muara Jati beliau bertemu dengan Walangsungsang, uwaknya yang telah berganti nama Pangeran Cakrabuana, kemudian di nikahkanlah Syarif Hidayatullah dengan putri uwaknya yang bernama Nyi Mas Pakung Wati. Kemudian Syarif Hidayatullah diangkat menjadi Waliyulloh dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagaiIngkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.

Pada tahun 1479 M, kedudukan Pangeran Cakrabuana sebagai Raja di keraton Pakungwati kemudian digantikan Sunan Gunung Jati. Beliau lalu mendirikan Kesultanan Cirebon sebagai pusat penyebaraan Agama Islam di wilayah Sunda. Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulai oleh Syarif Hidayatullah dengan membentuk Dewan Dakwah Sembilan Wali atau Wali Songo sebagai tokoh Ulama penyebar Agama Islam di Jawa. Dan kemudian Syarif Hidayatullah diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka , Kuningan , Kawali (Ciamis),Sunda Kelapa , dan Banten.

Di Kisahkan, setelah kerajaan-kerajaan kecil bawahan Pakuan Pajajaran berhasil di taklukan oleh kesultanan Demak dan Cirebon,dan rakyat Pajajaran hampir seluruhnya masuk Islam dan para pejabat tinggi Pajajaran kebanyakan lari kedaerah Banten yaitu daerah Badui Kabupaten Rangkas dan ada yang ke Garut serta ke Cirebon. Rakyat dan pembesar kerajaan Pajajaran yang tidak mau masuk Islam dan  masih setia mengikuti ajaran terdahulunya yang masih bertahan di kerajaan Pajajaran, keadaan itu membuat Prabu Siliwangi bersedih hati, ketenangan, kedamaian dan ketentraman batinnya yang selalu bergejolak tentang iman, karena Prabu Siliwangi bersikeras mengikuti ajaran terdahulunya dan Prabu Silihwangi tidak mau mengikuti ajaran istrinya meski secara hakiki Prabu Siliwangi telah masuk Islam melalui istri nya yang kedua yaitu Nyi Subang Larang anak Ki Gedeng Tapa. Diantara istri dan putra putrinya Prabu Silihwangi merasa berdosa tidak meneruskan ajaran islam yang pernah diikrarkannya pada sumpah perkawinannya dengan Nyi Subang Larang dengan maskawin berupa tasbih dipondok pesantren syeh Quro di Karawang.

Prabu Siliwangi merasa malu dengan istri dan putra putrinya serta cucunya yang menjadi Waliulloh Sunan Gunung Jati, anak dari Rara Santang apa lagi pada waktu itu Prabu Silihwangi terkalahkan pasukan Islam dan rakyat Pajajaran hampir seluruhnya masuk Islam.Pada suatu hari berkat kesaktiannya, Prabu Siliwangi mengetahui kedatangan cucunya, Sunan Gunung Jati yang bermaksud ingin mengajaknya kembali memeluk Islam. Dalam hatinya, ia merasa malu kalau sampai tunduk kepada cucunya. Dengan kesaktian pusakanya, sebilah, ia berjalan ke tengah alun-alun Pajajaran dan membaca mantra aji sikir, lalu pusaka Ecis ditancapkan ke tanah. Seketika itu, negara dan rakyat Pajajaran lenyap dan Sirna ke Alam ghaib, Pusaka Ecis itupun berubah pula menjadi rumput ligundi hitam.

Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang datang kaget karena kerajaan Pajajaran beserta rakyatnya telah hilang berpindah ke alam ghaib dan berubah menjadi hutan belantara. Sebelum pergi beliau berucap “Rakyat Pajajaran yang bersembunyi di hutan seperti harimau”Seketika itu pula perkataan Waliullah di kabulkan oleh Allah swt. Rakyat Pajajaran selamanya akan menjadi harimau sampai rumput ligundi itu dicabut. Kegagalan Sunan Gunung Jati dalam mengislamkan kakeknya, Prabu Silihwangi membuat Pangeran Walangsungsang harus turun tangan mengislamkan ayahandanya, Prabu Silihwangi. Dengan ilmu Saepi Angin hanya dalam sekejap beliau melesat ke Pajajaran yang telah berubah menjadi hutan belantara.

Berkat kesaktian ajian trawangan  Walangsungsang berhasil menemukan ayahandanya, Prabu Silihwangi yang menggunakan ajian halimun.Namun usaha Kian Santang pun sia-sia untuk merubah pendirian ayahandanya, sang prabu tetap bersikukuh tidak mau memeluk Islam. Akhirnya sang prabu beserta pengikutnya merubah wujud mereka menjadi harimau sebagai bukti bulatnya tekad sang prabu untuk tetap mengikuti ajaran leluhurnya. Prabu Siliwangi pun memilih menghilang atau ngahyang di kawasan hutan Sancang, saat terdesak oleh Kejaran putra sulungnya Pangeran Walangsungsang yang bersikeras mengajak ayahandanya untuk masuk Islam. Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi menghilang bukan berdasarkan perang melawan anak dan cucunya melainkan hanya semata-mata tidak ingin membanjiri darah dengan anak cucunya apa lagi Prabu Siliwangi adalah ayah yang bijaksana dan raja yang penuh wibawa pada rakyatnya. Hikayat ini di tulis Berdasarkan : Kitab Suwasit, Babad Ttanah Karawang, Naskah Martasinga (http://kisahdanbabad.blogspot.com/2013/02/perjalanan-sang-prabu-silihwangi.html), Minggu, 24 Februari 2013.

Dari kisah Prabu Siliwangi tersebut oleh Budiman Mahardika sudah dibuat 3 sinopsis lakon untuk keperluan pentas wayang Golek Pakuan Ki Zakir Ismail antara lain : Sinatria Gagak Lumayung, Munding Laya Dikusuma dan Caraka Caruban Negara. Dengan uraian

 

Daftar Pustaka

Gorys Keraf

Ekspedisi dan Deskripsi. Ende-Flores : PT. Nusa Indah

Gottschalk, Louis

Mengerti Sejarah. Terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta : UI Press.

Mulyono, S

  1. Wayang, Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya. Jakarta : PT. Gunung Agung

Murtiyoso, Bambang

“Pertumbuhan Dan Perkembangan Seni Pertunjukan Wayang” Laporan  Penelitian

Nanang Henri Riyanto

“Wayang Timplong Nganjuk, Asal usul dan kehidupannya” .Skripsi

Sutopo, FX.HB.

1988    “Teknik Pengumpulan Data dan Model Analisisnya dalam Penelitian Kualitatif”. Makalah Ceramah STSI Surakarta.

Umar Kayam

Seni Tradisi Masyarakat. Jakarta : Sinar Harapan.

Bambang Harsrinuksmo dkk,

1999    Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jakarta : Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia.

http://id.wikipedia.org