WAYANG GOLEK MENAK SENTOLO

 Di Yogyakarta dan sekitarnya, keberadaan wayang golek Menak dipelopori oleh Ki Widiprayitna, yang mempunyai nama kecil Regut, seorang dalang yang pada awalnya terkenal sebagai dalang wayang kulit purwa. Ia dilahirkan sebagai keturunan dalang wayang kulit purwa baik dari pihak ayah maupun ibu pada tahun 1892 di desa Klebakan, Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta. Ayahnya bernama Ganda Pawira  atau Redi Pawira (Redi Pawira adalah nama yang diberikan oleh Gusti Sutejo sebagai abdi dalem dengan pangkat Bêkêl dhalang). Kakeknya bernama Ganda Ikrama, kakek buyutnya adalah Ganda Leksana. Sejak usia 10 tahun sudah mulai serius belajar mendalang dengan cara mengamati pertunjukan wayang kulit yang dilakukan oleh ayahnya. Pada usia 12 tahun sudah berani mendalang utuh siang hari, dan selanjutnya seiring bertambahnya usia iapun terkenal sebagai dalang wayang kulit purwa.

Pada sekitar tahun 1923, Widiprayitna belajar pertama kali tentang teknik memainkan wayang golek Menak kepada Pawirojoso, seorang dalang wayang Menak abdi dalêm Bupati Kulon Progo di Pengasih yaitu K.R.T. Notoprajarto yang mempunyai satu kotak wayang golek Menak dan pemeliharaannya dipercayakan kepada Pawirojoso. Wayang golek Menak tersebut pada tahun 1925 pernah dipergelarkan dalam rangka perayaan pasar malam Sekaten di alun-alun utara Yogyakarta. Keinginan belajar ini timbul setelah ia beberapa kali menyaksikan pertunjukan wayang golek Menak di daerah Kutoarjo yang memang pada waktu itu wayang golek Menak sudah populer dengan dalangnya bernama Ki Marda, tokoh dalang dari desa Pahitan, dan di Kebumen dengan tokoh dalangnya Ki Paiman dari desa Kaibon, Kebumen.

Pada awal tahun 1948 Djawatan Penerangan Kabupaten Kulon Progo berusaha agar dapat mempunyai jenis wayang golek Suluh, sebagai pengembangan dari wayang kulit suluh yang sudah ada jauh sebelumnya dan juga dimiliki oleh jawatan tersebut, dengan dalangnya yang cukup terkenal yaitu Ki Sukrawa. Fungsi utama dari penciptaan wayang suluh tersebut adalah sebagai media penerangan sekaligus tentu saja adalah berfungsi sebagai media hiburan. Usaha tersebut cukup berhasil sebab di daerah kecamatan Samigaluh, Kulon Progo terdapat seorang pengrajin yang mampu membuat wayang golek, meskipun ia mengalami kesulitan karena kebiasaannya adalah membuat profil wayang golek dengan motif topeng, sedangkan yang diminta adalah wajah seperti manusia senyatanya. Pada pertengahan tahun tersebut ia telah berhasil membuat dua buah wayang golek suluh, yaitu tokoh orang belanda dan tokoh orang Indonesia, dengan bentuk wajah meniru dari wayang kulit suluh.

Berawal dari pengalaman tersebut, Widiprayitna kemudian semakin tertarik untuk mengembangkan wayang golek yang pada waktu itu sangat terkenal di Kebumen dan di Kutoarjo. Ia kemudian berusaha mendalami wayang golek Menak terutama dalam gerak wayang dengan cara selalu aktif melihat pertunjukan wayang golek Menak dengan dalang Ki Merda dari desa Pahitan, Kutoarjo. Di dalam proses tersebut Ki Widiprayitna kemudian sangat akrab dengan dua dalang wayang golek Menak lainnya yang bermaksud sama, yaitu Ki Sindu Harjataryana dari Kebumen, serta Ki Guna Darsono dari Kutoarjo. Bahkan Ki Widiprayitna juga membeli beberapa wayang buatan Ki Guna Darsono yang juga mempunyai koleksi wayang buatan Ki Merda.

Usaha tersebut mendapat dukungan dari saudaranya yaitu U.J. Katija Wirapramuja yang pada waktu itu bekerja di Jawatan Penerangan Kabupaten Kulon Progo yang kebetulan mempunyai koleksi buku Sêrat Ménak lengkap. Wirapramudja pernah belajar mendalang di Pasinaon Dhalang Surakarta (PADHASUKA) dan lulus tahun 1935, oleh karena itu tidak terlalu asing dengan dunia wayang. Widiprayitna kemudian membeli seperangkat wayang golek Menak dari daerah Prembun, Kebumen.

Berdasarkan sumber cerita yang diperolehnya dari Wirapramuja, maka Widiprayitna kemudian membuatnya menjadi lakon Ménak berdasarkan pengalamannya sebagai dalang wayang kulit Purwa, termasuk dalam hal ini adalah interpretasi karakter atau perwatakan tokoh maupun sanggit ceritanya. Beberapa lakon hasil dari kreatifitasnya antara lain: Iman Suwangsa Sumpêna, Iman Suwangsa Takon Bapa, Ganggamina Ganggapati, Kuraisin têtulung, Patinè Samaduna, Iman Suwangsa Tundhung, Umarmadi Têluk, Gêntho Kêlêng, Bêdhah Ngêrum, Bêdhah Sêrandhil, Bêdhah Mêsir, Bêdhah Kélan, Bêdhah Yujana, Bêdhah Mukadam, Umarmaya Ngêmis, Lairé Sêkar Dwijan, Amir Ngajiman, Sénopati Burudangin, Tugu Wasésa, Panggih Pênggi Prênjak, Marmaya Maling, Jayèngrana Sulub, Banakamsi Gandrung, Muninggar Gandrung, Jayèngrana Gandrung, Raja Béla Kubur, Sayêmbara Ngêrum, Béstak Bêthèk, Radèn Kalaranu, Amir Anjilin Tandhing.

Widiprayitna berkesempatan untuk mementaskan wayang golek Menak pertama kali pada siang hari tahun 1948 dalam rangka perayaan hari kemerdekaan RI di kecamatan Sentolo, disaksikan oleh Dr. Ruslan Abdulgani sewaktu menjabat sebagai Sekretaris Jendral Kementrian Penerangan di Yogyakarta. Baru pada tahun 1953 Widiprayitna berkesempatan mendalang wayang golek Menak semalam suntuk untuk yang pertama kali, dalam perayaan ulang tahun Paguyuban Anggoro Kasih di Sentolo dan disiarkan langsung oleh Stasiun RRI Yogyakarta guna memasyarakatkan jenis wayang tersebut. Pergelaran tersebut dinilai berhasil, maka secara tetap RRI Yogyakarta menyiarkan pergelaran wayang golek Menak dengan dalang Widiprayitna setiap tiga bulan sekali. Tidak lama setelah itu ia mulai dikenal masyarakat luas sebagai dalang wayang golek Menak bahkan ketenarannya sampai di luar wilayah, seperti di Jawa Timur maupun di Jawa Barat.

Pengalaman mendalang wayang golek Menak di luar Yogyakarta adalah di Banyuwangi, Jawa Timur, kemudian di Bandung yang diselenggarakan oleh Direksi Balai Besar P.J.K.A. (sekarang P.T. KAI) dalam peringatan berdirinya lembaga tersebut. Pergelaran di Bandung yang kedua pada waktu adalah atas usaha Wirapramudja dengan RS. Darya Mandalakusuma yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala siaran Sunda RRI Bandung dan seniman dalang R. Ujang Parta Suanda. Pergelaran yang silenggerakan untuk keperluan pribadi tersebut hanya disaksikan oleh para dalang, pesinden serta beberapa keluarganya. Setelah menyaksikan pergelaran tersebut, salah satu keluarga R. Ujang Parta Suanda yaitu Ujang Enjuh seorang dalang di Sukabumi, dititipkan kepada Ki Widiprayitna untuk dilatih teknik memainkan wayang golek Menak.

Kepopuleran Ki Widiprayitna membawanya mengikuti misi kesenian pemerintah RI ke Eropa Timur dan Rusia pada tahun 1958 dengan tugas mendalang wayang golek serta sebagai penabuh pergelaran tari. Pada tahun 1961, putera Ki Widiprayitna yaitu Sukarno yang pada waktu itu masih duduk di kelas 4 Sekolah Guru Pendidikan Djasmani (setingkat SLTA) menggantikan ayahnya dengan tugas yang sama mengikuti misi kesenian pemerintah RI ke India, RRC,  Rusia, dan Mesir.

Wayang golek Menak mulai mengalami kemunduran dalam hal kuantitas pertunjukannya, terutama setelah terjadinya pemberontakan PKI pada tahun 1965,  karena situasi dan kondisi masyarakat akibat gejolak politik dan keamanan pada waktu itu sangat mencekam sehingga pertunjukan kesenian jarang sekali dilakukan. Di kalangan seniman memilih untuk sementara tidak aktif berkesenian, karena takut dianggap sebagai bagian atau anggota PKI karena pernah mengadakan pergelaran yang dilakukan oleh PKI. Seperti diketahui bahwa sebelum pemberontakan PKI, kesenian tumbuh subur dengan seringnya kegiatan kesenian yang diselenggarakan oleh PKI.

Setelah organisasi PKI dilarang dan dibekukan serta anggota-anggotanya ditangkap, termasuk beberapa seniman yang dianggap sebagai anggota aktif, banyak seniman yang menghentikan sementara kegiatan berkeseniannya bahkan bersembunyi karena takut ditangkap. Setelah situasi kembali mereda dan kehidupan kesenian mulai menggeliat, Ki Widiprayitna dan Sukarno yang pada waktu itu sudah bekerja sebagai guru di SMP Negeri I Sentolo berusaha untuk menghidupkan kembali wayang golek Menak. Pada sekitar tahun 70-an sampai awal tahun 80-an wayang golek Menak sempat kembali bergairah dan Ki Widiprayitna pada bulan-bulan tertentu banyak menerima permintaan dari masyarakat untuk mendalang wayang golek Menak dalam acara-acara hajatan terutama perkawinan.

Wayang golek Menak kembali mengalami penurunan setelah Ki Widiprayitna sakit-sakitan hingga meninggal pada tahun 1982. Sepeninggal Ki Widiprayitna maka jejak wayang golek Menak di Sentolo selanjutnya diteruskan Ki Sukarno sebagai anak maupun cucu-cucu Ki Widiprayitna seperti Trsino Santosa, S.Kar.,M.Hum (dosen Pedalangan ISI Surakarta, kandidat Doktor di ISI Surakarta), Ki Yuwono, S.Kar, Dr. Dewanto Sukistono, M.Sn (dosen Pedalangan ISI Yogyakarta), serta beberapa orang yang ikut kepada Ki Widiprayitna yaitu Ki Darso Sumarto dan Ki Suparman, serta  Ki Sudarminto yang juga belajar kepada Ki Widiprayitna, Ki Sukarno sebagai dalang wayang golek Menak pada waktu itu juga cukup diakui, meskipun kuantitas tanggapan tidak seperti pada masa ayahnya, tetapi banyak pihak baik pribadi maupun instansi dari dalam maupun luar negeri yang datang untuk berbagai kepentingan.

Beberapa pihak luar negeri berdasarkan buku tamu tersebut misalnya dari kalangan lembaga pada tanggal 28 Maret 1979 datang Malcom Tobias Slepperd bersama 5 orang anggota team dari Voyagers Films Pty Ltd, Australia, yang berkepentingan untuk pembuatan film dokumenter tentang kebudayaan dan keindahan alam di Jawa, dengan surat izin shooting film dari Departemen Penerangan RI No.032/SK/DIRJEN RTF/DIR-DPF/V/1979 tgl 19 Maret 1979. Pada tanggal 11 Mei 1979 datang Michael Macintyre bersama 4 orang anggota team dari BBC Television London dengan pendamping M.N. Pontoh, pada waktu itu menjabat sebagai Direktur Pembuatan Film Departemen Penerangan RI di Jakarta, juga untuk pembuatan film dokumenter tentang Kebudayaan Asia. Kedua rombongan tersebut masih sempat mendokumentasikan wayang golek Menak dengan dalang Ki Widiprayitna meskipun kondisinya sudah jauh menurun, dan kemudian beberapa adegan lainnya dilanjutkan oleh Ki Sukarno. Selain dari instansi, ada juga beberapa orang dari luar negeri yang khusus belajar tentang wayang golek Menak Yogyakarta, diantaranya Garrett Kam dari Honolulu, Hawai, Joke Kooy dari Amsterdam, Drudy Childs dari Ann Arbor, Amerika, Jan van der Putten dari Leiden, Belanda, Coudrin Gildas dari Perancis, Diane T Hokin dari Kedutaan Besar New Zealand di Jakarta, Roger A  Long Dari University of Hawaii, Heimun Muksic, Emily Guthin serta David Stainton dari Boston, Amerika, Dr. Martin Kehr dari Heidelberg dan Trangot Auffarth dari Calw, Jerman, Frank Sommerkamp dari Landstrasse, Beatrice Thalmann dari Swiss, dan beberapa yang lain yang tidak tertulis di buku tamu. Ia juga mencoba untuk mengadakan beberapa usaha-usaha pengembangan, misalnya dengan menambah beberapa property sebagai pendukung, antara lain berupa kursi, payung kerajaan dan tombak sebagai simbol kebesaran dalam adegan kerajaan, menambah perhiasan tambahan seperti perhiasan praba yang dipasangkan pada punggung wayang dan kêlat bahu yang dipasang pada masing-masing lengan atas dan terbuat dari kulit.

Pada masa sekarang wayang golek Menak secara rutin dapat ditemukan dalam bentuk kemasan pertunjukan wisata, yang diselenggarakan di pendapa Sri Manganti Kraton Yogyakarta, setiap hari Rabu pukul 10.00 – 12.00, dengan dalang diantaranya Ki Sukarno, Ki Suparman, serta beberapa dalang yang bersedia mendalang wayang golek Menak. Wayang golek Menak juga masih sering dipergelarkan untuk kepentingan sosial masyarakat, meskipun tidak sebanyak wayang kulit purwa.

  1. Bentuk dan Struktur Pertunjukan

 Wayang golek Menak secara umum terbuat dari bahan kayu untuk bagian kepala, badan, serta tangan. Pada bagian kepala dan tangan biasanya digunakan jenis kayu yang paling ideal yaitu jaranan. Jenis kayu ini apabila sudah kering mempunyai sifat keras, ringan, tidak mudah pecah serta tidak mudah diserang hama. Kelemahannya bahwa jenis kayu ini pada masa sekarang sangat jarang ditemukan dan pertumbuhannya sangat lambat. Pada bagian badan biasanya digunakan jenis kayu yang lebih ringan, seperti kayu waru, séngon, pulé dan sebagainya, sedangkan bagian sogol dan tuding biasa digunakan bahan bambu kayu yang keras. Selain bahan utama kayu, semua tokoh wayang golek Menak Yogyakarta selalu menggunakan pakaian yang terdiri dari dua macam, yaitu baju serta kain penutup atau jarit. Bahan baju inipun disesuaikan dengan tokoh wayang, untuk kalangan atas seperti raja, ksatria, puteri, pendeta, dan sebagainya menggunakan bahan dasar kain jenis bludru yang diberi hiasan berupa manik-manik, serta kain jarit dengan berbagai motif.

Secara umum, bentuk wayang golek Menak dapat dibagi menjadi tiga bagian pokok, yaitu bagian kepala, bagian badan serta bagian busana wayang. Bagian kepala terdiri dari muka, irah-irahan, serta leher. Bagian badan terdiri dari bahu, badan, tangan, serta bokongan, sedangkan busana wayang terdiri dari pakaian (baju, kain/jarit, sabuk), perabot (keris, pedang, sampur), serta perhiasan (gombyok sumping, anting-anting, kalung ulur, gelang). Semua tokoh dalam wayang golek Menak Yogyakarta menggunakan baju dengan berbagai macam bahan dan perhiasan sesuai dengan tokoh wayang. Bagian kepala dan bagian badan dihubungkan dengan sebuah tangkai yang disebut dengan istilah sogol dengan bentuknya yang khas, berfungsi untuk memegang dan menggerakkan wayang, khususnya bagian kepala untuk dapat menoleh ke kanan dan ke kiri. Sogol ini dipasang dengan cara  menembus bagian badan wayang dari bokongan sampai bahu dalam posisi longgar supaya badan mudah diputar dan bergerak naik turun, serta sebagian leher wayang dengan posisi kencang atau melekat erat agar kepala tidak lepas. Pada bagian tangan dan badan dihubungkan dengan tali, begitu juga pada bagian lengan atas dengan lengan bawah sehingga tangan wayang bisa bergerak bebas ke segala arah. Pada masing-masing telapak tangan wayang dipasang sebuah tangkai yang disebut dengan istilah tuding yang berfungsi untuk menggerakkan wayang.

Bagian kepala secara garis besar dibagi menjadi dua bagian pokok, yaitu bagian muka dan perhiasan penutup kepala atau irah-irahan. Bagian-bagian tersebut secara umum sangat dipengaruhi atau bahkan meniru bentuk-bentuk pada wayang kulit purwa yang kemudian disesuaikan dan dibuat ke dalam bentuk tiga dimensi. Motif-motif tatahan dalam perhiasan atau ornamentasi bagian irah-irahan juga meniru dari mtoif tatahan pada wayang kulit purwa tetapi dengan bentuk yang jauh lebih sederhana, sekedar memberikan ruang  untuk pewarnaan atau sunggingannya.

Bentuk mata, terdiri dari 7 macam: 1) gabahan untuk tokoh; 2) alusan kêdhêlèn untuk tokoh katongan; 3)  kêdhondhongan untuk tokoh gagahan, patih, rasêksa (raksasa laki-laki) maupun rasêksi (raksasa perempuan), tokoh Limbuk serta panakawan Jiweng dan Bladhu; 4) kiyip/kriyipan untuk tokoh patih Bestak, serta pendeta raksasa; 5) plolongan untuk tokoh panakawan Toples; 6) plêlêngan untuk tokoh raksasa; 7) pênanggalan untuk abdi atau pendeta usia tua.

Bentuk hidung, terdiri dari 4 macam: 1) mancung untuk tokoh alusan; 2) sêmbada untuk tokoh katongan bermata kêdhêlèn; 3) nyanthik palwa untuk tokoh gagahan, rasêksan, dugangan; 4) janma untuk tokoh panakawan dan dugangan.

Bentuk mulut terdiri dari 7 macam: 1) damis untuk alusan; 2) mèsêm untuk alusan dan gagahan; 3) pringisan untuk gagahan; 4)  gusèn untuk gagahan; 5) gusèn tanggung untuk gagahan; 6) prèngèsan untuk raksasa; 7) mènjêb, ndomblé, susur, mlêcu, serta nyoro untuk dhagêlan berbagai karakter.

Bentuk kumis terdiri dari 6 macam: 1) lêmêt untuk alusan; 2) lêmêt luk untuk gêcul; 3) capang untuk gagahan dan rasêksan; 4) sanggan untuk gagahan dan rasêksan; 5) sumpêl untuk gêcul; 6) sapumêgar untuk gêcul.

Bentuk janggut terdiri dari 6 macam: 1) ukêl cêkak untuk gagahan; 2) lugas cêkak untuk gagahan dan dugangan; 3) lugas tanggung untuk gagahan dan pêndhitan; 4) ukêl tanggung untuk gagahan dan rasêksan; 5) lugas dawa untuk gagahan dan rasêksan; 6) ukêl dawa untuk rasêksan.

Bentuk cambang terdiri dari 5 macam: 1) corèkan lugas untuk alusan putran; 2) corèkan ngudupturi untuk gagahan dan pêndhitan;  3) sêritan ukêl untuk gagahan; 4) sêritan lugas untuk gagahan dan dugangan; 5) wok untuk gagahan.

Bentuk irah-irahan pada wayang golek Menak Yogyakarta juga banyak meniru pada wayang kulit purwa. Bentuk irah-irahan dan tata rambut ini dapat dibedakan menjadi 27 macam dilengkapi dengan perhiasan tambahan, seperti jamang, sumping  yang menempel di bagian telinga, kanthong gêlung, serta gêlapan atau blêdhègan atau garudha mungkur yang berfungsi sebagai kancing jamang. Bentuk jamang dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu jamang tracap digunakan untuk tokoh raja atau putran, jamang pilis untuk putran atau putrèn, jamang paès untuk putrèn, serta jamang kagok untuk gagahan atau rasêksan rucah. Bentuk sumping pada umumnya berbentuk mangkara dan mangkaranata. Sumping ini tidak digunakan pada tokoh yang memakai sorban kéyongan, sorban udhêng gilig, kanigara, kanigara nyamat, kêthon, blangkon, ikêt udharan, gêlung sanggul, gêlung kondhé, serta gêlung bokoran. Kanthong gelung biasanya dipakai pada tokoh yang memakai irah-irahan gelung kéyongan dan têkês Motif bentuk gêlapan atau blêdhègan sebagai kancing jamang dalam wayang golek Menak terdapat empat macam, yaitu blêdhègan dengan utah-utahan pendek, blêdhègan dengan utah-utahan panjang, blêdhègan dengan ukuran kecil serta motif garudha mungkur dan semua bermata dua. Gêlapan dengan utah-utahan pendek digunakan pada tokoh yang memakai irah-irahan céwas lungsèn, mêkutha, topong, topong songkok, sedangkan gêlapan dengan utah-utahan panjang dipakai pada tokoh yang memakai irah-irahan céwas dan lungsèn tèmpèn. Gelapan ukuran kecil dipakai pada tokoh yang memakai irah-irahan gêlung gêmbêl, gêlung kêling, serta gêlung kéyongan, sedangkan garudha mungkur dipakai pada tokoh yang memakai irah-irahan céwas dan kanigara.  Bentuk irah-irahan tersebut adalah: mekutha, topong, topong songok, lungsèn tèmpèn, cewas, cewas lungsen, gelung keling, gelung gembel, gelung supit urang, gelung keyongan, gelung bokoran, tekes, grudhan, serban keyongan, serban udheng gilig, kanigara, kanigara nyamat, kethon, iket blangkon, iket udharan, topi, sedangkan bentuk tata rambut terdiri dari enam macam yaitu:  gelung kondhe, gelung sanggul, gundhulan, kuncung, gombak, rambut gimbal.

Motif tatahan wayang golek Menak mengacu pada motif tatahan wayang kulit purwa, hanya bentuknya lebih sederhana dan secara umum hanya menggunakan empat macam motif yang disebut pecahan,  yaitu mas-masan, inten-intenan, tratasan, serta seritan. Tratasan berupa pahatan atau goresan panjang, hampir sama dengan langgatan dalam wayang kulit hanya bentuknya pendek berjajar. Motif mas-masan terdiri dari mas-masan lugas dan mas-masan pucuk baik tegak maupun miring, motif inten-intenan bentuknya bulat-bulat, sedangkan seritan berfungsi sebagai penggambaran rambut, baik kumis, cambang, maupun rambut kepala.  Meskipun motif tatahan wayang golek mengacu pada wayang kulit purwa tetapi secara bentuk jelas berbeda, karena tatahan pada wayang golek tidak menghasilkan lubang seperti pada wayang kulit purwa, motifnya lebih sederhana karena hanya berfungsi untuk memberikan ruang pada motif warna atau  sunggingannya saja,  oleh karena itu detil bentuknya tidak terlalu dominan.

 Sunggingan dalam wayang golek mempunyai ciri khusus seperti dalam wayang kulit yaitu teknik gradasi atau tingkatan warna tertentu. Sunggingan dalam wayang golek hanya dilakukan khususnya pada bagian kepala, yaitu bagian muka atau disebut ulat-ulatan dan tutup kepala atau irah-irahan beserta kelengkapannya yaitu jamang dan sumping. Motif yang digunakan adalah meniru motif sunggingan pada wayang kulit purwa meskipun bentuknya lebih sederhana. Beberapa motif sunggingan yang digunakan dalam wayang golek Menak Yogyakarta adalah: tlacapan,kelopan,cawèn, balesan, drenjeman, bludiran, isèn-isèn, serta mas-masan.

Sunggingan dalam wayang golek Menak pada masa sekarang menggunakan bahan utama cat air modern dan bukan cat minyak. Jenis yang digunakan adalah acrylic, movilex atau poster colour berbagai warna untuk warna sunggingannya, serta bahan brom untuk warna emas.  Pada saat pengenceran acrylic atau poster colour  dicampur dengan sedikit lem kayu agar cat lebih melekat kuat, pada masa sekarang jenis yang cukup praktis dan modern adalah lem PVA atau polyvinil Asetat yang biasanya berbentuk kemasan cairan yang sangat kental. Sebelum disungging maka perlu diberi warna dasar putih terlebih dahulu dengan bahan cat tembok atau bisa juga acrylic.

Beberapa warna yang biasa dipergunakan adalah hitam, putih, merah, oranye (kapuranta), hijau, kuning, biru, ungu (mronggén), dan warna emas atau brom. Sepanjang pengamatan Ki Sukarno dan pengalamannya sampai saat ini Ki Widiprayitna belum pernah menggunakan prada mas atau prada plastik untuk warna emas karena rumit dan harganya jauh lebih mahal. Gradasi atau tingkatan warna biasanya paling banyak tiga tingkatan dengan perbedaan warna yang cukup kontras.

Tata busana dalam wayang golek Menak yang paling utama terdiri dari baju untuk bagian atas serta kain/jarit untuk bagian bawah. Selain itu untuk tokoh-tokoh tertentu biasanya ditambah dengan kelengkapan lain, seperti keris, sampur, maupun perhiasan. Jenis kain untuk baju sebagain besar menggunakan bahan beludru yang diberi hiasan berbahan motte dengan motif disesuaikan dengan tokoh yang menggunakannya, biasanya dari kalangan kerajaan.

Ragam gerak wayang golek Menak yang dipopulerkan Ki Widiprayitna sebenarnya terinspirasi dari wayang topéng pêdhalangan Yogyakarta yang pada waktu itu cukup popular. Gerak wayang golek Menak Yogyakarta pada dasarnya merupakan kombinasi antara gerak keseharian dan gerak yang telah mengalami distorsi atau stilisasi. Ragam gerak wayang golek Menak secara umum dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu ragam gerak dasar dan ragam gerak perang. Masing-masing ragam gerak masih dibagi lagi menjadi dua, yaitu gerak dasar berpola dan gerak dasar tidak berpola, serta gerak perang berpola dan gerak perang tidak berpola. Ragam gerak dasar tidak berpola merupakan gerak-gerak lepas yang tidak terikat dengan pola karawitan, sedangkan ragam gerak dasar berpola merupakan rangkaian dari gerak-gerak dasar yang disusun menjadi sebuah struktur dan  terikat dengan pola karawitan.

Perwatakan atau karakterisasi dalam wayang golek Menak banyak dipengaruhi oleh karakter tokoh wayang kulit, meskipun dalam wayang golek beberapa tokoh dapat diinterpretasikan lebih longgar sesuai dengan kebutuhan lakon. Perwatakan tokoh wayang dalam wayang golek Menak Yogyakarta dapat digolongkan ke dalam 12 tipe karakter pokok yaitu gagahan, bambangan, putrèn, katongan, raja, patihan, pendhitan, raseksan, geculan, emban, putran, kéwanan, dengan 3 sub karakter yaitu lanyap, tanggung, dan luruh.

Pola penyajian wayang golek Menak semalam suntuk secara umum mengacu pada pola penyajian wayang kulit purwa gaya Yogyakarta, terutama dalam pembagian wilayah pathet, yaitu Pathet Nem, Pathet Sanga,dan Pathet Manyura, meskipun tidak semua urutan adegan ditampilkan. Beberapa ricikan atau instrumen gamelan lengkap yang biasanya digunakan dalam pergelaran wayang golek Menak adalah: gendèr barung, gendèr penerus, slenthem, kendhang, bonang barung, bonang penerus, gambang, suling, siter, rebab, kethuk kenong, kempul gong, demung, saron, serta peking. Selain itu, masih ada sebuah instrumen khas dari wayang golek Menak Yogyakarta yang disebut rojèh. Instrumen ini berupa dua lempengan besi berbentuk segi empat, permukaannya dibuat agak cekung dengan tebal masing-masing sekitar tiga milimeter, disusun bertumpuk beralaskan papan kayu. Alat ini dibunyikan dengan cara dipukul dengan gandhèn yang terbuat dari kayu, atau bisa juga dengan palu besi sehingga menimbulkan suara yang sangat keras. Alat ini berfungsi untuk memberikan penekanan rasa terutama dalam adegan perang untuk menghasilkan kesan kerasnya benturan yang disebabkan oleh pukulan, tendangan, bantingan, dan sebagainya.

Pada dasarnya di dalam pergelaran wayang golek Menak Yogyakarta mempunyai perbendaharaan gending-gending tersendiri sesuai dengan wilayah pathet dan berbeda dengan wayang kulit purwa. Bentuk khas tersebut khususnya di dalam jejer pertama selalu menggunakan gending Ketawang Gendhing Kabor Topèng Laras Sléndro Pathet Nem dilanjutkan inggah ladrang. Selain dilanjutkan dengan inggah ladrang, untuk jejer sabrang atau tokoh dengan karakter gagahan bisa juga dilanjutkan dengan bentuk inggah Lancaran Béndrong yang diisi dengan motif-motif gerak kiprahan. Di dalam wilayah Pathet Nem, gending-gending khas wayang golek Menak Yogyakarta adalah ayak-ayak Kembang Jeruk Sléndro Pathet Nem, srepeg Kembang Jeruk Sléndro Pathet Nem, Sampak Gosongan Sléndro Pathet Nem. Di dalam wilayah Pathet Sanga, terdapat beberapa bentuk gending yang khas misalnya Ayak-ayak Kembang Jeruk Sléndro Pathet Sanga, Srepeg Kembang Jeruk Sléndro Pathet Sanga, Srepeg Gedhog Sléndro Pathet Sanga untuk adegan perang, Sampak Gunturan Sléndro Pathet Sanga. Sedangkan untuk wilayah Pathet Manyura terutama bentuk gending srepegan yaitu srepeg Gégot, Srepeg Gambuh, Srepeg Sastradatan, Sampak Sastradatan, serta Sampak Gunturan. Bentuk ayak-ayakan biasanya menggunakan Ayak-ayak Sléndro Manyura yang biasa dipergunakan dalam pergelaran wayang kulit purwa gaya Yogyakarta.

 Sulukan wayang golek Menak sebagian besar mengacu pada wayang kulit purwa, hanya cakepan atau syairnya disesuaikan dengan kebutuhan. Sulukan seperti halnya pada gendhing juga terbagi menjadi tiga wilayah pathet, yaitu Pathet Nem, Pathet Sanga, serta Pathet Manyura. Di dalam pergelaran wayang golek Menak semalam suntuk, biasanya menggunakan 20 jenis sulukan yang terdiri dari jenis lagon 6 buah, kawin 4 buah, ada-ada 7 buah, serta suluk 3 buah. Rincian dari jenis sulukan tersebut adalah sebagai berikut: 1). Lagon Suléndro Pathet Nem Wetah; 2) Lagon Suléndro Pathet Nem Jugag; 3)  Lagon Suléndro Pathet Sanga Wetah; 4) Lagon Suléndro Pathet Sanga Jugag; 5) Lagon Suléndro Pathet Manyura Wetah; 6) Lagon Suléndro Pathet Manyura Jugag; 7) Kawin Girisa Suléndro Pathet Nem; 8) Kawin Sekar Asmaradana Suléndro Pathet Nem; 9) Kawin Sekar Pangkur Suléndro Pathet Nem; 10) Kawin Sekar Gambuh Suléndro Pathet nem; 11) Ada-ada Suléndro Pathet Nem Wetah; 12) Ada-ada Suléndro Pathet Nem Jugag; 13) Ada-ada Suléndro Pathet Nem Cekak; 14) Ada-ada Suléndro Pathet Sanga Wetah; 15) Ada-ada Suléndro Pathet Sanga Jugag; 16)  Ada-ada Suléndro Pathet Manyura; 17) Ada-ada Galong Suléndro Pathet Manyura; 18)  Suluk Plencung Wetah Suléndro Pathet Nem; 19) Suluk Plencung Jugag Suléndro Pathet Nem; 20)  Suluk Galong Suléndro Pathet Manyura. Selain itu terdapat sulukan yang hanya digunakan apabila diperlukan untuk mendukung suasana sedih, yaitu Suluk Tlutur Wetah Suléndro yang dapat digunakan pada semua wilayah pathet.

Tata panggung wayang golek Menak berbeda dengan wayang kulit purwa, terutama pada panggung dalang. Di dalam wayang golek Menak tidak menggunakan gawang untuk membentangkan kelir seperti wayang kulit purwa. Selain itu posisi debog atau batang pisang juga lebih tinggi dari wayang kulit, untuk menyesuaikan teknik cepengan dan sabetan. Penataan debog pada wayang golek Menak terdiri dari dua macam, yaitu untuk area permainan wayang atau disebut debog panggungan dua buah, serta debog untuk simpingan dua buah di sisi kanan dan kiri. Debog panggungan ditempatkan sejajar antara posisi di muka dan di belakang, tetapi biasa juga ditata dengan posisi di depan lebih tinggi dari yang berada di belakang. Debog panggungan maupun debog simpingan ditata dengan menggunakan alat yang bernama tapak dara yang terdiri dari dua buah untuk panggungan dan dua buah untuk simpingan. Pada bagian depan depan panggung wayang, yaitu mulai dari ujung debog simpingan kanan sampai dengan ujung debog simpingan kiri, ditutup dengan bentangan kain hitam agar bagian bawah debog tidak terbuka.

smr/redaksi SENA WANGI/2019