Asal-Usul Wayang Kulit Cirebon

Wayang Kulit Cirebon, hidup dan berkembang bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Cirebon yang dibawa para Wali. Berdasarkan sejarah (babad Cirebon), Pakeliran wayang Kulit pertama di Cirebon dilakukan oleh Sunan panggung atau Sunan Kalijaga sebagai dalangnya yang diringi gamelan sekaten Cirebon. Dari pengaruh ajaran agama yang dibawa para Wali Sembilan   itulah sehingga muncul tambahan tokoh panakawan menjadi sembilan yakni : Semar, Curis, Bitarota, Ceblok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung, dan Gareng. Kehadiran sembilan panakawan ini didasarkan pada lambang Wali Sanga, hal ini disebabkan bahwa masyarakat Cirebon percaya awal  keberadaan agama Islam di Indonesia  ini karena jasa-jasa para Wali Sanga.

Dalam bahasa Cirebon, kata “wayang” memiliki arti bayangan. Kata lain wayang adalah “ringgit” artinya Sunan Giri yang “nganggit”. Maksudnya Sunan Giri yang memikirkan atau mengarang kecuali wayang Gunungan dibuat oleh Sunan Gungjati. Tokoh wayang dewa yang mempunyai kedudukan tertinggi disebut “Girinata” mempunyai makna Sunan Giri yang menata atau mengatur.

Sedang menurut babad Cerbon yang dikutip Rafan S. Hasyim dalam bukunya Seni tatah dan Sungging Wayang Kulit Cirebon, sangat jelas disebutkan bahwa  Sunan Kalijaga merupakan pencetus pembuatan Wayang Kulit Cerbon. Dalam babad Cerbon disebutkan

Suhunan Ing Kalijaga anyaosaken kang ringgit, umatur susuhunan Bonang, sumangga didamel kalih, rempug sakhatahing wali, miwah gusti Sunan ratu, Kajoran kinen damela, ken nyitak dados kalih, ingkang kajiyat in Pangeran Kajoran”

Artinya :

Sunan Kalijaga berkenan menyerahkan wayang , Sunan Bonang meminta agar dibuatkan dan diperbanyak, semua wali menerimanya, Gusti Sunan ratu (Sunan Purba) segera memerintahkan Pangeran Kajoran).

“Gelise ingkang carita, ringgit wis cinithak kalih, kajoran wis winastanan, pangeran Kalang reki, wus katur ing para wali, sampun dados sakati, kang dinamela”

Artinya :

Segera setelah itu, wayang sudah diperbanyak, Pangeran Kajoran diberi gelar, dengan nama Pangeran Kalang, sudah diterima oleh para Wali, wayang yang diproduksi sudah mencapai jumlah seribu.

“Sawise nganggit gamelan, amangun keramat wali, pasarean ing astana, dinamel kalaning wengi, anuju ing taun alip, ping sadasa riyaya, terape ing bada isa, waktu subuh sampun radin, sigra bubar sakathaning wali sanga”

Artinya :

Setelah membuat arasemen gamelan, membangun tajug (di Gunung Sembung) pada malam itu, tahun alif, tanggal 10 Lebaran Idul Adha, tepatnya setelah sholat isya’ diadakan pergelaran sampai waktu subuh setelah itu para wali kembali ke kediaman masing-masing (Rafan S. Hasyim, 2012 : 2-6).

Dari tiga bait syair, tembang sinom diatas dapat disimpulkan bahwa, Sunan Kalijaga merupakan pencetus pertama pembuatan wayang Cerbon. Pangeran Kajoran orang pertama yang memproduksi wayang cerbon. Tempat pertama kali diadakan pertunjukan wayang Cerbon adalah di Bangsal Pringgitan di depan komplek Astana Nurgiri Ciptarengga pada tanggal 10 Dzulhijah sekitar tahun 1480-an. Atas dasar tersebut, maka dengan kesepakatan pada dalang di Cirebon tanggal 10 Zulhijah ditetapkan sebagai hari Pedalangan Cirebon.

Sunan Kalijaga adalah putra Tumenggung Wilatikta dari Tuban, dalam menyebarkan agama Islam Sunan Kalijaga memadukan adat-istiadat serta budaya yang berkembang pada saat itu dengan ajaran Islam. Budaya sebagai eksistensi agama dan agama sebagai aktualisasi budaya. Oleh karena itu metode syi’ar Islam yang dibawakan oleh para Wali selalu dilambangkan dengan seni budaya agar manusia dapat menghayati agamanya.

Cirebon adalah salah satu tempat terbesar di tanah Jawa, yang merupakan pusat pengembangan budaya wayang kulit, sebagaimana diriwayatkan dalam ” Babad Cirebon”, tentang perjalanan Sunan Kalijaga atau Sunan Panggung sampai turun temurun kepada para dhalang (seniman) di Cirebon.

“Jeng Sunan Cerbon anyumbadani Lokajaya mangun makebonan, sinareng wangun kelampahan Jaya Sampurna, adus saban daluh ing wayang seperteloning wengi. Kasuhur tangga desa, katah sami suhud, Ki Katim murid pembajeng. Antawis dinten Kalijaga medek arsanipun Jeng Susuhunan Cerbon, prapti sampun ing arsa. Ngandika Susuhunan Cerbon, “Kados pundi ingkang sukarya rayi?”. Ngandika Jayeng Kalijaga, “Nuhun Sunedra surananing supena, kala dalu nyupena mundi wulan”. Jeng Sunan uninga sedyanipun, ngandika “Rayi iki bakal pikantuk ganjaran putri Ratna Winaon, putra mami, pinasti jodone lan rayi jum’ah ajeng kadaupaken”. Kalijaga matur Sumangga. Jayeng Kalijaga seba’danipun nikah lajeng jumenang imam lan remen manggung wayang kinarya syi’ar Islam, ngantosa dumugi ing tedak-tedaipun. Jeng Kalijaga kagungan putra jalu ingkang peparap Raden Nurkalam minangka ingkang yuga dados dhalang saturun-turunnipun ing Cerbon”.

Artinya :

Jeng Sunan Cirebon mengijinkan Lokajaya untuk bermukim dan membangun perkebunan, sambil menjalankan kelakuan Jayasampurna, mandi setiap jam tiga malam. Termasyur di tetangga desa, banyak yang mempercayai, Ki Katim sebagai murid yang pertama. Antara hari kemudian Kalijaga datang menghadap Jeng Susuhunan Cirebon, datang sudah di hadapan. Bertanya Jeng Susuhunan Cirebon: “Bagaimana ada kepentingan apa Rayi?” menjawab Jayeng Kalijaga:”Mohon petunjuk tentang mimpi, semalam bermimpi menyangga bulan”. Jeng Sunan mengetahui maksudnya, lalu berkata: “Rayi itu akan memperoleh jodoh seorang putri namanya Ratna Winaon, putra Saya, bakal pasti jodohnya dan Rayi hari Jum’at akan dinikahkan”. Kalijaga bersedia. Jayeng Kalijaga sesudah nikah lalu diangkat jadi imam (pemimpin) agama, lalu gemar manggung wayang untuk mensyi’arkan agama Islam, hingga samapai ke turun-turunannya. Jeng Kalijaga mempunyai putra laki-laki yang bernama Nurkalam, maka Beliaulah sebagai penerus dalang sampai turun temurun di Cirebon”. (Nurteja)

Sunan Kalijaga setelah menemukan hakekat dan kema’rifatan Islam di Cirebon, maka beliau semakin rajin usahanya untuk menyempurnakan bentuk wayang kulit beserta ritual pagelarannya, semua disesuaikan dengan muara ilmu keislaman. Hal ini karena Sunan Kalijaga ingin mengislamkan orang-orang di Jawa dan Cirebon khususnya, yaitu dengan memunculkan karya seni budaya sebagai medianya. Adapun kesempurnaan yang dilambangkan ke dalam eksistensi wayang kulit itu, merupakan suatu gambaran-gambaran atau suatu perumpamaan syare’at agar semua umat manusia lebih mudah dan lebih jelas memahami ajaran Islam. Karena berda’wah dengan menggunakan alat peraga itu lebih dominan serta langsung dirasakan percontohannya oleh semua yang melihatnya. Jadi bukan berda’wah, arti da’wahnya itu menduga, jadi kesan syi’arnya tidak halus seperti peragaan atau pagelaran wayang kulit, karena tidak ada kesan yang nyata, bahwa percontohan orang-orang yang benar dan orang-orang yang salah itu dibuktikan dengan lakon wayang pada saat itu. Jadi syi’arnya itu lebih menyentuh pada nilai-nilai rasa manusia itu sendiri, bukan saja sekedar rasionya atau angan-angan Islamnya.

Dengan metode wayang kulit, Sunan Kalijaga berhasil mengislamkan umat manusia, dan dikarenakan beliau mensyi’arkan ajaran Islam itu dengan senantiasa di atas pentas atau panggung wayang, kemudian beliau diberi gelar Sunan Panggung atau Pangeran Panggung. Seyogyanya memakai gelar Sunan artinya Susuhunan atau junjungan manusia yang berderajad pada jaman para Wali karena keilmuanya.Sedangkan gelar Pangeran adalah predikat atau sebutan dari orang jaman dahulu, yang telah lulus ilmu kepangeranannya atau ma’rifatullah. Apabila ada yang menyebutkan bahwa Sunan Panggung itu berbeda dengan Pangeran Panggung, bukan berarti beda orangnya tetapi hanya gelar atau sebutannya saja. Itupun menurut silsilah sejarah Cirebon yang ada, namun yang namanya sejarah bukan untuk diperdebatkan, akan tetapi perlu kita arifi atau kita maklumi keberadaannya. Mengapa? Karena sejarah boleh berbeda versi menurut si penemu masing-masing, sedangkan penemuan orang itu belum tentu sama, sehingga terjadilah berbagai versi dalam sejarah. Walaupun banyaknya versi atau perbedaan sejarah di Cirebon atau di Jawa umumnya, yang harus dapat kita simpulkan adalah tujuan dari sejarah, yaitu mengikuti jejak ketauladanan beliau dalam agama, untuk menemukan ilmu keislaman yang sesungguhnya. Karena agama Islam itu diturunkan semenjak jaman Nabi Muhammad SAW hingga sekarang masih jelas pertanggungjawabannya dalam silsilah secara turun temurun kepada para putra dan pengikutnya. Maksudnya supaya menemukan ajaran Islam atau menjadi umat Islam bukan sekedar faktor keturunan atau karena dilahirkan oleh orang Islam, lalu otomatis bisa dijamin keislamannya.

Banyak dalang Cirebon sampai sekarang senantiasa menuliskan silsilah keturunannya berasal dari keturunan Sunan Panggung atau Sunan kalijaga. Seperti yang disampaikan Nurteja dalang Keraton Kanonam Cirebon yang mengaku masih keturunan Sunan Panggung dengan urutan sebagai berikut : Sunan Panggung menikah dengan Ratu Ratna Winaon mempunyai anak Raden Nurkalam, Nurkalam mempunyai anak Ki Bayalangu, Bayalangu mempunyai anak Ki Kertawangsa, Kertawangsa mempunyai anak Ki Anggasraya, Anggasraya mempunyai anak Ki Rangkep, Ki Rangkep mempunyai anak Ki Sentor, Ki Sentor mempunyai anak Ki Konten, Ki Konten mempunyai anak Ki Nataprawa, Ki Nataprawa mempunyai anak Ki Lindri, Ki Lindri mempunyai anak Ki Koncara, Ki Koncara mempunyai anak Ki Priyoga. Ki Priyoga mempunyai anak Ki Kacaprawa. Ki Kacaprawa mempunyai anak Ki Suraprana, Ki Suraprana mempunyai anak Ki Nurteja (Wawancara 11 Mei 2013).

Selain Sunan Panggung yang disebut dalam Babad Cerbon, tokoh lain yang mempunyai peranan penting dalam sejarah wayang Cirebon adalah Pangeran Surya atau Pangeran Kajoran. Menurut Kyai Irsyad al Amin yang dikutif Rafan S. Hasyim, Pangeran Surya berasal dari Sampang Madura. Pangeran Surya merupakan veteran perang melawan Portugis di Sunda Kelapa (Jayakarta). Pangeran Surya tidak kembali lagi ke Madura atau ke Demak untuk bergabung kembali dengan pasukannya. Pangeran Surya lebih memilih menetap di Cirebon dan diberi tugas oleh Sunan Gunung Jati membantu Ki Muntalarasa (Ki Gede Kemlaka) yang sedang kesulitan menghadapi musuh yang sering menyerang Desa kemlaka. Masyarakat Desa Kemlaka tidak ada yang mengenal kalau Pangeran Surya adalah perintis reproduksi wayang Cirebon yang pertama. Masyarakat Desa Kemlaka hanya menyaksikan pergelaran wayang kulit pada setiap tahun ketika ngunjung Pangeran Kajoran (nama populer Pangeran Surya). Dalang terakhir yang mengadakan pergelaran wayang di areal makam Pangeran Kajoran adalah Ki Gluwer tahun 1984. Pernikahannya dengan Nyi Ageng Maloka tidak dikaruniani anak yang menyebabkan pangeran kajoran sebagai seniman penatah/penyungging wayang kulit terputus, sebab tidak ada yang melanjutkan. (rafan S. Hasyim 2012 : 8-9)

Tokoh lain yang dikenal sebagai perintis Wayang Kulit Cirebon adalah Ki Miyun. Menurut Ki Sujanapriya berdasarkan penuturan Ki Kandeg yang dikutif Rafan S. Hasim menyatakan kalau Ki Miyun bersama istrinya adalah pendatang yang hijrah ke Cirebon melalui jalur laut. Keduanya masuk Cirebon melalui buk Simuntuk (Desa Kalisapu), kemudian menuju Pasambangan Jati. Ki Miyun terkenal seorang penatah terkenal di daerah asalnya. Karena kemampuannya membuat wayang Ki Miyun oleh Panembahan Ratu I diangkat menjadi dalang Keraton Cirebon dan diberi gelar Ngabehi Dalem Kawitan. Gelar ini mempunyai makna bahwa Ki Miyun merupakan pelopor seni tatah Sungging Wayang cirebon pada masa pemerintahan Panembahan Ratu I yang memerintah Cirebon tahun 1568-1649). Keahlian Ki kawitan dalam tatah sungging wayang kulit diwariskan kepada putranya Ki Bluwer. Bakat Ki Bluwer dilanjutkan Ki Gumer. Ki Gumer seniman serba bisa. Dia juga perintis wayang wong Cirebon. Kemampuan Ki Gumer diturunkan kepada putranya Ki Sanggalamsi. Ki Sanggalamsi mewariskan kemampuannya kepada Ki Konjem yang kemudian menurunkan Ki Kartasasmita yang mendapatkan gelar dari Keraton Kasepuhan Ki Ngabehi Kartasasmita. Kemampuan Ki Ngabehi Kartasasmita dilanjutkan putranya Ki Kawentar. Ki Kawentar mewariskan kepada Ki darma Rum. Ki darma Rum dilanjutkan putranya Ki Kandeg. Kemampuannya membuat Wayang diturunkan kepada Ki Ahmad Kadrawi yang tinggal di Desa Karangreja. Ki Ahmad Kadrawi sangat populer sebagai pembuat wayang sekitar tahun 1960-1980-an. Tahun 1990-an kemampuan Ki Ahmad dilanjutkan putranya, Paslun. Paslun memiliki bakat membuat wayang namun sayang dia tidak melanjutkan profesi ayahnya sebagai seniman pembuat wayang sampai sekarang (Rafan S. Hasim 2012 : 11-12)

 Fungsi Wayang Kulit Cirebon

Keberadaan wayang Cirebon dapat bertahan hingga saat ini karena adanya beberapa faktor baik unsur internal maupun eksternal. Unsur internal meliputi para seniman pedalangannya baik dalang, nayaga maupun sinden. Sedang unsur eksternal adalah para penonton atau pendukung wayang kulit itu sendiri. Bertahannya pergelaran wayang kulit Cirebon menurut Rafan S. Hasim  karena secara sosial masih fungsional. Keterkaitan antara unsur internal yang terdiri dari komunitas dalang dan para pendukungnya masinh sangat kuat, sehingga keberadaan wayang sebagai sebuah anasir budaya masih dibutuhkan  keberadaannya (2012 : 23)

Fungsi sosial wayang kulit Cirebon masih terus bertahan mengikuti dinamika perkembangan zaman. Dari masa ke masa wayang kulit Cirebon memiliki fungsi yang fleksibel. Pada zaman awal perkembangan Islam hingga berdirinya pusat kekuasaan Islam di Cirebon, wayang digunakan sebagai media penyebaran agama Islam (2013 : 23)

Pada masa kolonial wayang digunakan sebagai sarana perjuangan menentang kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Memasuki era kemerdekaan pergelaran wayang kulit lebih difungsikan  sebagai alat untuk mengkampanyekan program-program pemerintah (2012 : 25-28). Kehiduan Wayang Kulit Cirebon tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat untuk melaksanakan upacara-upacara adat antara lain:

  1. Sedekah Bumi, masa panen padi dengan menampilkan lakon Bumi Loka.
  2. Mapag sri, dengan menampilkan lakon Sri Sedana.
  3. Barikan, menjelang tanam padi dengan menampilkan lakon Barikan.
  4. Nadran (sedekah laut) menampilkan lakon Budug Basu dll.
  5. Lungguhan (Kulun-kulun) yakni pelantikan Kuwu
  6. Ruwatan anak sukerta
  7. Hajatan dll

Pengaruh dari kondisi masyarakat yang demikian tersebut menimbulkan semakin besarnya minat masyarakat untuk mengapresiasi pertunjukan wayang kulit  wayang maupun seni lukis wayang sebagai imbasnya

Seni Rupa Wayang Cirebon

 Berawal dari upaya memenuhi kebutuhan pakeliran Wayang Cirebon seperti posisi pagelaran, penokohan, wanda dan sebagainya telah memberi warna tersendiri sebagai ciri khas seni rupa wayang Cirebon antara lain:

Dari segi tokoh wayang

  1. Kemangmang, adalah sejenis hantu yang hanya memiliki kepala berambut api yang menyala-nyala. Selain mengidentikan dengan hantu api, Kemamang merupakan simbol api, matahari atau sejenisnya. Kemamang memiliki wajah berbentuk kala atau raksasa. Bentuk kemamang memiliki raut wajah raksasa, dua mata berbentuk bulat, hidung lebar menghadap ke muka, mulut meringis dengan taring panjang, lidah menjulur ke bawah.
  2. Kayon atau Gunungan Cirebon memiliki dua muka dengan berbeda sunggingan (warna cat) yang disebut siang malam. Ada tiga jenis daun dalam gunungan Cirebon yaitu tumpengan, godong kluwihan dan godong waringin. Selain itu ada tiga unsur yang tidak boleh ditinggalkan dalam komposisi gunungan Cirebon yaitu burung sebagai hewan atas, ganesha atau gajah sebagai hewan tengah dan ular sebagai hewan bawah.
  3. Dari pengaruh falsafah hidup orang Cirebon dan ajaran Agama, muncul tokoh panakawan yang berjumlah sembilan antara lain: Semar , Curis , Bitarota, Ceblok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung,

Dari segi pewarnaan

  1. Dari segi pewarnaan, pelukis Wayang Cirebon bukan hanya memilih warna yang senada, tetapi kadang-kadang juga menunjukkan keberaniannya memadukan warna-warna yang kontras seperti halnya biru dengan merah, hitam dengan kuning dll. Komposisi warna yang satu dengan yang lainnya tidak saling mengalahkan tetapi terjalin dengan batas yang jelas antara warna yang satu dengan yang lainnya.

Dalam upaya memberi efek sifat dan perwatakan tokoh wayang yang dilukis, diambil     beberapa motif warna seperti :

  1. Sekabra                   : warna merah lebih dominan.
  2. Rujak wuni               : abang papag ijo/biru (merah bertemu dengan hijau atau biru)
  3. Kembang pari          : biru papag ijo (biru bertemu hijau)
  4. Walang kerik            : oranye/violet di pinggir.
  5. Menyan kobar          : seperti warna kemenyan yang dibakar.
  6. Mega mendung        : komosisi warna yang emrupakan perpaduan dari warna yang paling muda samapai warna yang paling tua.

Dari segi motif

Bila dilihat dari motif busana Wayang Cirebon ini sangat terpengaruh kerajinan batik Cirebon. Beberapa motif batik khas Cirebon yang dituangkan dalam lukisan wayang diantaranya

  1. Liris
  2. Cengkehan
  3. Sembagen
  4. Selendang Juana
  5. Wadasan

Motif batik tersebut sampai sekarang merupakan pokok pengembangan motif batik khas Cirebon

Unsur Pertunjukan Wayang Kulit Cirebon

Cerita/Lakon

 Pada dasarnya pertunjukan wayang tidak dapat lepas dari lakon, karena lakonlah yang mengungkapkan hal ihwal perilaku utama itu sendiri (Poespowardoyo 1978 :119). Kata lakon berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata laku mendapat akhiran-an. Bentukan demikian dalam bahasa Jawa banyak jumlahnya,umpamanya tuju-an menjadi tujon, tuku-an menjadi tukon, babu-an menjadi babon, sendhu-an menjadi sendhon dan sebagainya (Soediro satoto 1985 :13)

Menurut Panuti Sudjiman dalam buku suntingannya  Kamus Istilah Sastra, mendefinisikan lakon yaitu karangan berbentuk drama yang ditulis dengan maksud untuk dipentaskan. Lakon merupakan istilah lain daripada drama (1984:46)

Dalam Kamus Bahasa Jawa, lakon diartikan jalannya cerita wayang (Prawiraadmadja 1980 : I: 280; Poerwodarminto 1939 :259). Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan lakon yaitu :

Peristiwa nyata atau karangan yang disampaikan  kembali di dalam pentas dengan tindak-tanduk (mimik atau pantomimik) melalui benda perantara hidup (manusia) atau benda mati (boneka atau wayang) sebagai pemain. Demi kesempurnaan komunikasi dengan publik, lakon itu dilengkapi dengan wacana timbal balik  (dialog) atau tunggal (monolog) diiringi dengan tata suara, musik (gamelan) dan cahaya. Pada lakon tradisi diperkuat dengan antawecana sebagai prolog dan suluk. Dalam pergelaran ini, lakon dipimpin oleh dalang (sutradara) dan lakon sendiri merupakan benda-benda mati (Hassan Sadhily 1983 :1943)

Menurut Bambang Murtiyoso, pengertian lakon dalam dunia pedalangan mempunyai makna yang berbeda-beda bergantung  pada konteks pembicaraannya. Lakon dapat berarti tokoh utama pada peristiwa di dalam sebuah cerita yang disajikan. Pengertian lakon ini tersurat dalam pertanyaan lakone sapa (lakonya siapa)? Istilah lakon juga dapat berarti alur cerita, hal ini dapat diketahui dengan pertanyaan : lakone kepriye (lakonnya bagaimana) ? Arti lain lakon adalah judul repertoar cerita yang disajikan, seperti yang terkandung dalam pertanyaan : lakone apa? (1992:20).

Bertitik tolak dari pengertian lakon di atas, sumber lakon yang dipakai dalam wayang Kulit Cirebon adalah Ramayana dan Mahabharata. Sesuai dengan difungsikanya  wayang Cirebon sebagai sarana penyebaran agama Islam pada zaman Sunan Kalijaga, maka cerita wayang yang berasal dari literatur Hindu digubah dalam versi Islam.  Maka munculah lakon-lakon kreasi baru yang dikenal dengan sebutan lakon anggit atau carangan. Begitu juga lakon babad dan srepeng yang mempertemukan tokoh mitologi hindu dengan para wali atau tokoh dewa-dewa dalam agama Hindu bertemu dengan para nabi. Ada lakon Awang-Uwung, Serat Adam Winangun, Ada lakon yang mempertemukan Sang Hyang Wenang dengan Nabi Sulaiman, lakon Nabi Sis Sabda Guru, lakon Nabi Nuh, dan lakon Wisnu sabda Guru (Rafan S. Hasyim 2012:23-24)

Bahasa

Bahasa Cirebon dipengaruhi oleh budaya Sunda karena keberadaannya yang berbatasan langsung dengan kebudayaan Sunda, khususnya Sunda Kuningan dan Sunda Majalengka dan juga dipengaruhi oleh Budaya China, Arab dan Eropa hal ini dibuktikan dengan adanya kata “Taocang (Kuncir)” yang merupakan serapan China, kata “Bakda (Setelah)” yang merupakan serapan Bahasa Arab dan kemudian kata “Sonder (Tanpa)” yang merupakan serapan bahasa eropa (Belanda). Bahasa Cirebon mempertahankan bentuk-bentuk kuno bahasa Jawa seperti kalimat-kalimat dan pengucapan, misalnya ingsun (saya) dan sira (kamu) yang sudah tak digunakan lagi oleh bahasa Jawa Baku.

Sarana manusia di dalam menyampaikan hasratnya kepada orang lain dalam berkomunikansi adalah bahasa. Namun sebelum manusia dapat menguasai bermacam-macam bahasa, tentunya lebih dahulu mengenal dan memperoleh bahasa dari faktor lingkungan keluarga yang disebut bahasa ibu. Semenjak kecil bahasa ibu sangat dominan serta berpengaruh bagi perkembangan sikap dan pola pikir sang anak, jika tidak ditanamkan cara berbahasa yang baik, maka tidak mengerti bagaimana tata krama berbicara terhadap orang tua, saudara dan teman dalam lingkungannya. Sebab hilangnya budaya bahasa yang baik dengan sendirinya akan berdampak negatif terhadap si anak, kemudian akhirnya tidak dapat membedakan antara arang tua dan teman bahkan bisa jadi orang tuanya dianggap seperti pada teman sebaya. Apalagi pengaruh budaya dan bahasa asing yang tidak memakai etika dalam berbahasa dengan orang tua, sehingga sangat bertentangan dengan adab sopan santun kita orang timuran yang dikenal dengan kehalusan tutur kata dan berbudi bawalaksana.

Dengan hilangnya etika bahasa, terjadilah kesenjangan jiwa manusia dalam kesadaran hidupnya seperti seorang anak berani pada orang tua, murid berani pada guru, bawahan berani pada pimpinan dan sebagainya. Kenyataan sudah banyak membuktikan, bahwa begitu drastisnya penurunan grafik norma-norma susila dan peradapan atau akhlak manusia semakin merosot. Hal ini terjadi salah satu akar penyebabnya kita lalai dengan keluhuran budaya awal yang telah diwariskan orang tua melalui tingkatan bahasa jawa dalam media pewayangan di pakeliran, seperti:

  1. Bahasa ngoko yaitu bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan orang sebaya yang sudah akrap atau kepada orang yang lebih muda yang tidak sederajat.
  2. Bahasa madya yaitu bahasa ngoko yang kecampur dengan bahasa krama, digunakan untuk pergaulan denga orang yang belum akrab.
  3. Bahasa krama yaitu bahasa yang digunakan pada orang yang sebih dihargai, baik orang tua, pimpinan atau orang muda yang berderajat.
  4. Bahasa krama inggil yaitu bahasa halus untuk orang yang sangat dihargai, misalnya menghadap raja, pengagung dan sebagainya.
  5. Bahasa kedaton yaitu bahasa para sentana atau abdi keraton yang digunakan untuk dialog dengan sesama dihadapan seorang raja dalam keraton.
  6. Bahasa Kawi (sansekerta) yaitu bahasa yang sangat halus dan digunakan untuk tetembangan dan tembang (suluk) dalam adegan wayang

Tingkatan bahasa yang digunakan dalam percakapan wayang kulit, semua itu menunjukan perbedaan derajat antara seorang anak terhadap orang tua atau sifat kaula terhadap gusti (pengagung) dan sebagainya. Perlu diadakan percontohan demikian karena kita manusia antara satu dengan yang lainnya mempunyai derajat berbeda. Walaupun benar hakekat manusia itu adalah sama, baik Nabi, Wali ataupun manusia jaman sekarang, tapi yang membedakan itu kesyare’atan atau lahiriyahnya yang disebut derajat. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penempatan bahasa sesuai dengan derajat masing-masing, supaya dapat menghormati dan menimbulkan rasa kasih sayang sesama manusia.

Gending/lagu

 Dalam pertunjukan Wayang Kulit Cirebon terdapat dua jenis Gamelan yang digunakan yaitu gamelan prawa dan pelog. Gamelan Prawa berasal dari  kata Purwa yang artinya kawitan (asal-mula). Sebab asal mula gamelan yang digunakan untuk mengiringi pagelaran wayang kulit, adalah gamelan Prawa. Yaitu gamelan yang memakai nada (iringan) tinggi dan kencang, serta jumlah nadanya:

  1. Nada Susul
  2. Nada Miring
  3. Nada Sanga
  4. Nada Sepuluh
  5. Nada Panjang (blong)

Karena Raden Makdum Ibrahim sebagai perakit gamelan atau pembuat gamelan, maka terkenal dengan sebutan Sunan Bonang, dan gelar itu diambil dari salah satu nama karawitan (gamelan) yang beliau buat, yaitu bonang. Hal ini karena untuk mengenang jasa-jasa beliau yang begitu gigih dan sangat besar perhatiannya dalam pengembangan agama Islam secara kultur di pulau Jawa khususnya.

 SIMBOLISME DAN NILAI FILOSOFIS,WAYANG KULIT CIREBON

Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa lepas dari simbol. Hubungan antara manusia dengan simbol-simbol sangat erat sekali bahkan  kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dengan simbol. Begitu eratnya hubungan manusia dengan simbol sampai manusia pun disebut  sebagai makhluk yang hidup dalam simbol-simbol. Manusia berpikir, berperasaan dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis, ungkapan yang simbolis ini merupakan ciri khas manusia, yang  membedakannya dengan hewan. Salah seorang filosof Ernst Cassirer, berpendapat bahwa manusia sebagi hewan yang bersimbol memang ada benarnya dengan bukti tersebut di atas. Filosof tersebut menegaskan bahwa manusia itu tidak pernah melihat, menemukan dan mengenal dunia secara  langsung kecuali melalui berbagai simbol. Kenyataan memang sekadar fakta-fakta tetapi sebenarnya  mempunyai makna psikis, karena simbol mempunyai unsur pembebasan dan penglihata tersendiri. Lebih lanjut lagi penggunaan simbol ini menjadi begitu penting karena adanya suatu kondisi dimana kedekatan dan keindahan menjadikan ssesuatu yang di yakini itu hadir di tengah-tengah mereka

Kata simbol berasal dari bahasa Yunani yaitu, symbolos  yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan segala sesuatu   hal kepada  seseorang. Atau bisa dikatakan,Simbol adalah semacam tanda, yang mengandung maksud tertentu, karena symbol merupakan suatu objek, kejadian, bunyi bicara atau bentuk-bentuk tertulis yang diberi makna oleh manusia. Manusia dapat memberi makna kepada setiap kejadiaan, atau objek yang berkaitan dengan pikiran gagasan dan emosi

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan

Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.

Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu. Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan ). Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan. Paul Nartorp (1854 – 1924 ) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya . Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan. Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika ). Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika ) Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama ). Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )

Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat. Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “. Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal. Harold H. Titus (1979 ): (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan al_m yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.

Hasbullah Bakry: Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu. Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan. Prof.Dr.Ismaun, M.Pd. : Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.

Bertrand Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak bisa dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu ( http://brenda-syero.blogspot.com)

Bertitik tolak dari pengertian simbol dan filsfat diatas, menurut dalang Keraton Kanoman Ki Nurteja pada Wayang Kulit Cirebon terdapat tokoh-tokoh wayang maupun peralatan pentas yang diyakini sebagi simbol tertentu dan mempunyai nilai-nilai filosofis antara lain:

  1. Panakawan Cirebon

Dalam wayang Cirebon terdapat tokoh Panakawan yang jumlahnya sembilan yakni : Semar, Curis, Bitarota, Ceblok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagalbuntung, dan Gareng. Kehadiran panakawan sembilan ini didasarkan pada  lambang Wali Sanga, hal ini disebabkan bahwa masyarakat Cirebon percaya awal keberadaan Islam di Indonesia ini karena jasa-jasa para Wali Sanga yang menciptakan  tatanan baru peradapan  dan kebudayaan orang-orang Jawa plus Indonesia yang hingga dewasa ini masih bisa dirasakan oleh kita bersama. Keberadaan Panakawan  merupakan perlambang demokrasi tertinggi di masyarakat. Dari sini pulalah timbul rasa batin bahwa  di dalam masyarakat suara rakyat adalah suara Tuhan. Panakawan walaupun rupanya jelek-jelek, tetapi mereka adalah kekasih Pandawa. Pandawa adalah penegak segala unsur dan anasir kebenaran, maka panakawan adalah merupakan gambaran masyarakat jelata yang harus mendapat perlindungan dan pembinaan bangsa dan negaranya, maka berarti panakawan adalah sebagai lambang demokrasi tertinggi dalam seluruh kehidupan dunia fana ini. Mereka itu dewa, tetapi juga dahyang, dan sekaligus rakyat jelata.

Dari sisi tasawwuf, bahwa panakawan  yang berjumlah sembilan  itu adalah merupakan gambaran seluruh lubang vitalitas manusia, seperti sepasang lubang mata, sepasang lubang hidung,  sepasang lubang telinga, satu lubang pelepasan dan satu lubang alat vital manusia dan satu lagi lubang mulut. Lubang-lubang itu tadi adalah berpusat pada lubang tanpa tepi, ialah mata batin/ hati kecil manusia yang sanggup menggetarkan seluruh kehidupan manusia melalui wawasan-wawasan hijaburakhman di sektor etika, estetika, logika dan praktika yang tidak lepas dari unsur kelebihan dan kelemahan manusia itu sendiri.

  1. Semar

Sunan Panggung semakin yakin dan mantap untuk mensyi’arkan agama Islam melalui media pewayangan Cirebon, hingga semua tatanan ataupun aksesoris pagelaran secara sakral dan ritual wayang kulit Cirebon bernafaskan ajaran Islam. Visual wayang kulit yang telah dicontohkan oleh Sunan Panggung, perwujudannya disesuaikan dengan nilai-nilai falsafah agama. Dengan kepandaian sastra dan falsafah, maka Sunan Panggung membuat kesempurnaan bentuk wayangpun mengandung makna tuntunan agama. Seperti dicontohkan pada salah satu bentuk wayang Semar Cirebonan yaitu :

  • Berbadan bulat
  • Berwarna badan hitam dan bermuka putih
  • Bermata sipit
  • Dagu atau mulutnya diikat pakai rantai sampai ke kaki
  • Tangan kanan kelima jarinya dibuka
  • Tangan kiri kelima jarinya digenggam
  • Memakai gigi satu berwarna putih
  • Memakai kuncung (rambut di kepala).

Nama Semar berasal dari kata samarun atau ghoib, maksudnya bahwa Sang Pencipta atau Tuhan itu Maha Ghoib. Menurut akronim kata Semar ialah sesembahan ning masyarakat, arti dari masyarakat adalah manusia. Jadi maksudnya Tuhan Yang Maha Ghoib itu menjadi sesembahan manusia. Semar juga diartikan “Ning sesembahan iku ora samar” atau pada sesembahan itu tidak samar (tahu). Maksudnya bahwa manusia harus tahu atau tidak samar dan tidak ragu terhadap Tuhan Yang Maha Suci. Jangan sampai hanya kenal dan tidak tahu.

Awwaluddini ma’rifatullah

Artinya “Awalnya orang beragama harus tahu kepada Allah”.

  • Adapun berbadan bulat itu menandakan bentuk alam atau dunia itu bulat.
  • Berwarna badan hitam dan bermuka putih, artinya menunjukkan adanya alam kelanggengan atau akherat sehingga warnanya hitam, sedangkan bermuka putih mengandung arti adanya alam dunia atau alam padang, warna putih juga melambangkan kesucian. Selain itu juga makna warna hitam dan warna putih, apabila dimuarakan ke dalam ketauhidan Tuhan, maka berarti “Minal Ghoibi wasyahadati” yang artinya Tuhan itu yang ghoib dan yang tampak atau nyata. Adapun yang dimaksud ghoib, bahwa Tuhan itu ghoibing ghoib atau ghoibing dari yang ghoib yaitu Maha Ghoib sehingga tidak dapat dilihat dengan kasat mata biasa. Sedangkan Tuhan itu yang tampak atau nyata, artinya bahwa Tuhan bukan seperti makhluk atau jasmani manusia juga bukan seperti apa-apa. Tapi nyata disini artinya wajib adanya, sebab didalam sifat 20, bahwa Tuhan bersifat wujud artinya ada. Jadi ada itu mustahil kalau tidak wujud, tetapi wujud tadi bukan dhohir jasmani manusia apalagi makluk lainnya. Karena kalau jasmani manusia itu pasti terkena rusak, begitu pula dengan makhluk lainnya pasti terkena rusak dan bakal sirna. Sedangkan Allah SWT itu langgeng dan abadi, jadi mustahil kalau Allah itu berada pada wujud yang rusak atau terkena apes. Walaupun ada orang yang berasumsi bahwa nyata atau tampak itu dilihat dari kacamata batin atau mata hati, maka yang demikianpun bukan. Mengapa? Karena perlu kita pahami bersama, bahwa mata hati itu sanubari manusia itu juga tetap terkena rusak artinya orang yang beriman itu rumah Allah. Kalau ditafsirkan dengan pikiran yang sempit, bisa jadi akan terjerat dengan pahamnya sendiri, bahwa batin atau hati manusia beriman itu jadi rumah Allah, berarti Allah itu berada pada hatinya orang beriman atau dalam batin. Padahal bagi orang yang mau berpikir dengan akal yang tajam atau menggunakan dalil akli, sudah jelas yang namanya hati iti tiada lain adalah anggota atau anatomi manusia, jadi pasti terkena rusak juga. Kalau artinya Tuhan itu yang tampak atau nyata, maka kita kembalikan kepada dalil yang berbunyi “Aina robbi bi robbi” artinya yang tahu Tuhan itu hanya Tuhan.
  • Bermata sipit, artinya menggambarkan seorang yang sedang melakukan dzikir atau mengheningkan cipta kepada Allah SWT. Jadi maksudnya manusia harus senantiasa berdzikir dan berdo’a kepada Allah SWT, supaya selalu mengingat-Nya. Kemudian dapat diartikan juga, bahwa mata itu penglihatan, sedangkan sipit artinya kecil. Jadi maksudnya menurut penglihatan Allah SWT, bahwa semuanya itu kecil jika dibandingkan dengan Allah Yang Maha Besar.
  • Dagu atau mulutnya diikat pakai rantai sampai ke lali, itu mengandung arti bahwa segala ucapan manusia harus berhati-hati dan harus selaras dengan tindakan atau perilaku hidup sehari-hari. maksudnya ucapan itu harus dinyatakan dengan perbuatan yang benar.
  • Tangan kanan kelima jarinya dibuka, artinya menunjukkan adanya rukun Islam itu lima bagian, yaitu: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji. Selain itu juga dapat diartikan bahwa sempurnanya benar itu ada lima bagian, separti:
  1. Benarnya menurut diri pribadi.
  2. Benarnya menurut keluarga.
  3. Benarnya menurut masyarakat atau umum.
  4. Benarnya menurut pemerintah.
  5. Benarnya menurut agama.

Jadi maksudnya dikatan benar itu, kalau diakui menurut kelima bagian di atas dan jangan sampai benar itu menurut salah satu,

itu berarti tidak sempurna benarnya.

  • Tangan kiri kelima jarinya digenggam, artinya bahwa manusia harus menggenggam rukun Islam yang lima dan menjalankan shalat lima waktu, begitu pula kesuksesan manusia hidup harus menggenggam lima macam: jujur, wekel (rajin), pintar, berani (kendel), benar. Karena manusia awalnya harus jujur, setelah punya jujur kemudian wekel atau rajin dan kalau rajin maka akan pintar, jika manusia sudah pintar maka dengan sendirinya timbul percaya diri menjadi kendel atau berani. Dari keempat tadi maka manusia harus melakukan dengan benar.
  • Memakai Gigi berwarna putih, artinya menunjukkan bahwa manusia harus gigih (kuat) dan kokoh imannya kepada Allah Yang Maha Esa, serta warna putih artinya suci. Jadi maksudnya bahwa Tuhan itu Maha Esa juga Maha Suci.
  • Memakai Kuncung Kencana Sari, artinya kuncung berasal dari kata Kun dan Muncung atau muncul dan timbul yaitu Kun Fayakun maka jadi-jadilah bumi langit seisinya. Kemudian kencana artinya emas atau mulya dari sari itu kembang, jadi maksudnya Tuhan menciptakan bumi langit seisinya, adalah untuk mengembangkan kemulyaan hidup manusia di dunia.
  1. Makna Cempurit Dan Tuding

Disamping menyempurnakan bentuk wayang kulit, Sunan Panggung juga membuat gagang untuk pegangan wayang kulit yang dinamakan “Campurip” dan “Tuding” yaitu alat penggerak tangan wayang kulit bermotifkan bawang siungan atau seperti siungan bawang dengan diberi tanda keratan lima kali, dan cara memegang wayang kulit menurut aturan yang benar adalah dengan menempelkan jempol/ibu jari di bawah bendolan atau bawang siungan yang berkerat lima kali. Isyarat itu mengandung makna, apabila orang sudah memegang dan melakukan rukun Islam yang lima, maka menjadi jempol atau sempurna Islamnya. Lalu pegangan wayang kulit dinamakan campurip artinya campuring urip atau campurna hidup yaitu campur hidupnya sang dhalang kepada wayang sebab wayang tidak dapat bergerak sendiri kalau bukan geraknya sang dhalang, juga wayang tidak bisa bicara kalau bukan ucapan sang dhalang. Jadi wayang itu merupakan gambaran manusia yang menyatakan “La khaula wala quata illa billahil aliyil adzim”, artinya tiada daya dan kekuatan manusia kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Agung, oleh karena itu kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta iti diibaratkan seperti wayang. Yaitu benar-benar tidak mengakui keberadaannya dan memang tidak bisa apa-apa, kecuali semuanya itu adalah kehendak sang dhalang. Demikian pula sirnanya diri manusia karena larut ke dalam samudra Illahi.

Tuding wayang itu berkerat lima kali, serta Tuding itu akronim dari kata tuduhing artinya petunjuk. Sehingga dapat diartikan, bahwa petunjuk kesempurnaan agama adalah petunjuk kesempatan manusia semenjak di kandung juga ada lima , yaitu:

  1. Irodat, yang meliputi
  2. Sawiya
  3. Loama
  4. Amarah
  5. Mutma,inah

Dari irodat huruf depannya I, lalu sawiyah depannya S, loama huruf depannya L, kemudian amarah huruf depannya A, serta mutma’anah haruf depannya M. Jadi kalau kita baca hurup depan dari kelimanya, maka berbunyi Islam. Dengan petunjuk yang lima macam di atas, bahwa Islam itu sudah ada lebih awal sebelum manusia dilahirkan ke alam dunia. Maka dari itu, setelah manusia dilahirkan ke alam dunia diwajibkan untuk mencari Islam agar bisa kembali menjadi Islam. Asalnya Islam kembali Islam. Sebab Islam adalah agama yang sempurna bagi manusia, artinya kesempurnaan Islam adalah manusia. Sebagaimana Allah menyempurnakan agama adalah Islam, Juga Allah menyempurnakan makhluk itu manusia. Jadi relevansi kesempurnaan antara Islam dan manusia yaitu Islam bukan manusia, manusia bukan Islam, tapi Islam itu manusia sesungguhnya. Apalagi orang tidak ketemu dengan Islam, maka sama halnya kelak tidak ketemu untuk kembali sebagai manusia. Karena Islam hanya bagi manusia bukan untuk makhluk lainnya.

  1. Gamelan

Sebelum menata wayang kulit di kedebog atau janturan, tetrapan gamelan terlebih dahulu kita pasang di atas panggung sesuai dengan posisi masing-masing. Adapun penempatan gamelan menurut pagelaran wayang kulit Cirebon, adalah sebagai berikut:

  • Kotak (peti) wayang di sebelah kiri dhalang (pemain wayang).

Kotak wayang sebagai tempat penyimpanan wayang setelah pagelaran selesai. Hal ini mengisyaratkan bahwa kita kelak apabila meninggal dunia, maka dimasukkan ke dalam liyang lahat (kubur). Jadi makna kotak wayang kulit adalah sebagai alam kubur (liyang lahat).

  • Gender di belakang tempat duduk dhalang dan dimainkan oleh istri dhalang atau seorang perempuan.

Gender akronim dari kata Mugen ing dederan artinya patuh pada nasehat/peraturan. Gender berfungsi sebagai pengiring nada ketika dalang sedang bercakap-cakap atau mendialogkan wayang, tetapi kalau dhalang tidak mendialogkan wayang, maka gender tidak dibunyikan (berhenti). Demikian pula mengandung arti bahwa kita harus patuh dan ta’at pada nasehat (peraturan) Allah SWT, karena yang dimaksud perkataan dhalang itu diibaratkan seperti firman Allah SWT. Jadi manusia (wayang) harus mengikuti nada agama Allah yang telah difirmankan-Nya. Dan apabila Allah tidak menfirnamkan sesuatu dalam kitab-Nya, maka manusiapun tidak melaksanakannya. Oleh karena itu genderpun tidak akan dibunyikan jika dhalang tidak sedang berbicara dalam pagelaran. Kemudian gender selalu dimainkan oleh istri dhalang atau seorang perempuan, itu artinya bahwa dalam bahtera rumah tangga seorang istri harus mematuhi nasehat/peraturan sang suami.

  • Saron (kening) dua pangkon di belakang gender.

Saron asal kata saru-an artinya menyimpang, sedangkan kening sinonim dari kata bening atau jernih. Jadi saron (kening) dua pangkon mengandung arti bahasa manusia jangan sampai menyimpang atau melakukan kesalahan tentang pengertian dan penerapan amar ma’ruf dan nahi munkar, tetapi kita harus jernih atau waspada, apakah yang dimaksud amar ma’ruf dan nahi munkar menurut Allah SWT. Sebab apabila menurut pengertian secara harfiah manusia, amar ma’ruf ialah menjalankan perintah Allah dan nahi munkar ialah amar ma’ruf dan nahi munkar? Karena dari segala perintah dan larangan Allah itu mengandung kemaslahatan bagi manusia dengan sesama yang disebut hubungan horizontal (Hablu minallah).

  • Gong disebelah saron (kening) di belakang kotak wayang serta penabuh harus menghadap ke belakang.

Gong dapat diartikan meng-iya-kan atau membenarkan. Juga gong kalau menurut bahasa Jawa kuna artinya besar. Sehingga makna gong pada wayang kulit Cirebon ialah membenarkan kebesaran Sang Pencipta. Dimana kebesaran itu dilambangkan pada 3 (tiga) macam gong di dalam pagelaran, yaitu:

  1. Gong kecil berbunyi “guk”, asal dari kata “angguk-angguk” menandakan gerak atau laku lampah. Artinya gerak atau laku lampak adalah Af’alullah.
  2. Gong sedang berbinyi”gung”, asal kata “Yang Agung”. Artinya Yang Maha Agung adalah Sifatullah.
  3. Gong besar berbunyi “ger”, asal dari kata “angger” atau langgeng. Artinya Yang Maha Langgeng adalah Datullah.

Kemudian penabuh gong harus menghadap ke belakang, itu mengandung arti bahwa manusia harus melihat ke belakang akan asal-mulanya diri serta harus tahu kembalinya diri. Yaitu dari tiga macam yang meliputi, Datullah, Sifatullah dan Af’alullah. Agar jangan sangsi dengan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. Selain itu pula gong dapat diartikan menurut secara umum bahwa bunyi guk, gung, ger yaitu jangan cuma angguk-angguk saja, kalau menyembah Yang Maha Agung itu harus angger (tetap).

Adapun aturan atau cara memainkan gong, yaitu memukul gong kecil 5 kali, yang tiga 3 lambat (lama) dan yang 2 cepat. Demikian melambangkan Shalat 5 waktu, yaitu 3 waktu lambat (lama) dan 2 waktu cepat. Adapun 3 waktu lambat (lama) adalah Isya menuju waktu Subuh, dari Subuh menuju waktu Dzuhur dan Dzuhur menuju waktu Ashar. Sedangkan 2 waktu cepat adalah Ashar menuju waktu Magrib dan dari Magrib menuju waktu Isya.

Setelah gong kecil dibunyikan 5 kali lalu memukul gong sedang atau gong besar satu kali, artinya setelah kita melaksanakan shalat 5 waktu itu menghadap Yang Maha Agung, maka itu baru benar. Sebabnya gong sedang dan gong besar dipukul hanya satu kali, artinya Yang Maha Agung dan Yang Maha Besar itu hanya Allah Yang Maha Tunggal.

Ada pendapat orang yang mengatakan bahwa tidak boleh menggantung gong. Pendapat itu tidak salah, tetapi harus dibuktikan kebenarannya sebab pengertian menggantung di atas adalah menggantungnya manusia menyembah Alllah Yang Maha Agung alias tidak anger (tetap), maka menurut hukum syare’at agamapun tidak dibenarkan. Sedangkan bagi orang yang mau berfikir secara jernih bahwa pendapat tadi tidak tertuju pada visualisasi gong yang digantung tetapi bahasa itu merupakan simbolis. Sehingga di dalam bahasa itu mengandung arti kiasan yang halus kita ketahui maksud dan tujuannya, supaya jangan hanya percaya tetapi harus yakin tanpa percaya. Sebab orang yang hanya percaya, maka mempunyai sifat ragu-ragu dalam sesuatu hal, karena tidak tahu pada bukti yang dirasakannya. Tetapi bagi orang yang tidak konsekuen (jujur), maka percaya itu dianggap sama dengan yakin, kemudian asal yakin saja, padahal yakin demikian itu namanya atas dasar percaya. Adapun misalnya terjadi sesuatu yang kata orang lain disebut musibah atau bahaya, maka faktornya adalah karena anda mempunyai sifat ragu-ragu terhadap apa yang dilakukan dan dipahami. Oleh karena itu jika seseorang masih memperbedakan tentang paham dan menganggap bahwa paham sendirinya saja yang benar itu berarti orang tersebut belum yakin atau belum tahu pada hakekat agamanya. Akhirnya kita kembali kebenaran itu kepada Allah SWT, yang menganjurkan kita agar menjadi manusia yang berfikir dan menjadi manusia yang bimbang dalam beragama, sebab bimbang agamanya sama halnya bimbang kepada Allah SWT.

  • Klenang di sebelah kiri kotak wayang.

Klenang singkatan dari kata Klaten nang atau lupa kepada. Lalu dilambangkan dengan 2 buah klenang yang kanan dan kiri. Artinya bahwa kita tidak boleh lupa kepada Allah SWT apabila disaat enak atau tidak enak, disaat sehat atau sakit, disaat kaya atau miskin, dan sebagainya.

  • Kemanak di sebelah kiri kotak wayang di depan Klenang dan berfungsi sebagai pembantu dhalang untuk mengambilkan wayang pada janturan pada sisi kiri.

Kemanak padan kata dari kemenak yaitu berlimpah kenikmatan (enak). Dimana kemanak ada 2 buah yang dimainkan secara naik-turun atau ke atas-ke bawah. Jadi simbolis kemanak tersebut, bahwa manusia tidak boleh terlena kepada limpahan nikmat yang dirasakan, sebab sebentar akan naik dan tak lama akan turun. Begitu pula dengan kedudukan (jabatan) sementara di atas kelakpun akan ke bawah.

  • Kenong-Jengglong di belakang saron (kening)

Kenong mengambil kata dari kata Nongsongi atau memayungi, sedangkan Jengglong asal dari kata Jeglong yanitu rendah (di bawah). Jadi artinya bahwa kita harus bisa memayungi pada orang-orang yang berderajat rendah atau berkemampuan di bawah kita.

  • Penerus (Kedemung) di sebelah kiri saron sebelah kanan gong.

Penerus (kedemung) artinya melanjutkan atau meneruskan. Jadi maksudnya bahwa kita harus bisa melanjudkan ajaran-ajaran Allah yang telah diwariskan oleh orang tua kita, agar kelak anak-cucu kita jangan tersesat dalam kemunkaran.

  • Kendhang dan Bedhug di sebelah kanan agak ke depan dari kenong-jeglong.

Kendhang singkatan dari ngangken kandhang atau mengaku saudara. Macam kendhang ada 2, yang besar berbunyi ting-deng artinya penting gegandengan, yang kecil berbunyi pung-pung artinya mampang-mumpung atau sombong. Kemudian bedhug asal dari kata adhag-udhug atau takabur serta bedug adalah deng artinya sedeng (sederhana). Jadi maksudnya bahwa kita harus mengaku saudara kepada sesama manusia dengan cara mementingkan gegandengan, yang kecil berbunyi pung-pung artinya mampang-mumpung atau sombong. Kemudian bedhug asal dari kata adhag-udhug atau takabur serta bunyi bedug adalah deng artinya sedeng (sederhana). Jadi maksudnya bahwa kita harus mengaku saudara kepada sesama manusia dengan cara mementingkan gegandengan dan jangan mempunyai sifat sombong dan takabur, tetapi secara sederhana.

  • Bonang di sebelah kanan depan kendhang dan bedhug, serta menghadap ke arah dhalang.

Bonang singkatan dari kata babon dan lanang atau perempuan dan laki-laki. Artinya Allah menciptakan manusia dari jenis perempuan dan laki-laki.

  • Gambang di sebelah kanan bonang menghadap ke depan dekat janturan wayang sebelah kanan

Gambang asal dari kata gamblang atau jelas dan nyata. Lalu gambang berjumlah 20 wilah (bilah), artinya bahwa kita harus jelas dan nyata dengan sifat wajib Allah yang 20. Dari jumlah 20 yang selalu dipakai setiap hari adalah 17 dan 3 untuk sesorog. Hal ini mengandung arti bahwa 17 raka’at shalat 5 waktu setiap hari, sedangkan yang 3 sebagai sesorog adalah : 1. Cipta, 2. Rasa, 3. Karsa. Jadi maksudnya bahwa cipta, rasa dan karsa itu meliputi shalat kita setiap hari.

  • Suling di sebelah kanan saron (kening)

Suling singkatan dari suka eling. Lalu jumlah lubang suling ada 7 yang dihembuskan pada lubang yang 1. Jadi maknanya bahwa kita harus selalu ingat kepada tujuan hidup ini untuk kembali kepada Dzat Yang Maha Tunggal. Kemudian sulingpun berbunyi tulat-tulit dapat diartikan tulat itu telat (terlambat) dan tulit artinya sulit. Jadi artinya jangan terlambat selagi masih hidup di dunia untuk tahu pada tujuan kembali kepada Dzat Yang Maha Tunggal, sebab kalau terlambat maka akan sulit menemukan-Nya. Mengapa demikian? Karena Allah tidak akan menerima taubat seseorang apabila sudah menunggal dunia.

  • Kebluk (Cengkug) di sebelah kiri kenong jengglong

Kebluk artinya malas, sedangkan cengkug asal dari cengkeg artinya menduga-duga. Jadi maknanya bahwa apabila kita malas tidak mau membuktikan sendiri maka tidak tahu dan akan menduga-duga. Bunyi kebluk (cengkug) ialah ting-dung asal dari kata tempating atau dunungng. Artinya bahwa kita jangan hanya menduga-duga pada tempat-Nya atau adanya Allah Yang Maha Tunggal.

  • Beri (kecrek) di sebelah kanan tutup kotak wayang sebelah kiri gambang serta membantu dalang untuk mengambilkan wayang pada janturan sebelah kanan.

Beri asal dari kata mbeberi atau menjelaskan, sedangkan kecrek artinya heran. Jadi artinya apabila kita menjelaskan ketauhidan Tuhan janganlah merasa heran, sebab orang yang bisa menjelaskan ketauhidan Tuhan Janganlah merasa Heran, sebab orang yang bisa menjelaskan itu mestinya sudah tidak heran (tahu). Karena kosekuensinya orang yang menerangkan pengetahuan itu dasarnya harus tahu dahulu, juga orang yang mengajarkan pangaweruh itu asalnya weruh dulu.

  1. Tutup kotak wayang di sebelah kanan dhalang.

Tutup kotak wayang artinya tutup usianya manusia hanya Allah Yang Maha Tahu.

  1. Batang Pisang

Kedebog pisang sebagai panggungnya wayang dipasang paling depan, dua batang kedebog pisang berjajar, yang paling depan pangkal pisang di sebelah kanan dan agak ditinggikan, lalu kedebog satunya di pasang lebih rendah dari yang di depan serta pangkal pisang di sebelah kiri. Kedua kedebog pisang di pasang memakai alat penyanggah yang disebut tapak dara. Selesai memasang kedebog pisang lalu memasang kelir (layar) dengan cara memasukkan tiang kayu runcing yang disebut gligen ke dalam lobang jahitan kelir dari sisi kanan dan sisi kiri, terus ditancapkan  ke kedebog pisang sambil ditarik kedua sisinya. Bagian atas kayu gligen diikatkan pada palang bambu yang disebut gotongan di atas kelir. Setelah kencang lalu bagian bawah kelir yang diberi lobangan ditancapkan ke gedebog dengan menggunakan pasak kayu yag disebut placek sampai merata lalu lobangan bagian atas kelir di kaitkan dengan tambang yang disebut pluntur ke palang bambu, disetiap lobang ditarik agar kelir menjadi kencang.

  1. Kelir

Kelir wayang kulit terbuat dari kain berwarna putih dan hitam. Yang putih berukuran panjang kurang lebih 4 samapi dengan 5 meter dan lebar kurang lebih 2 meter. Disekeliling kain putih dilapisi kain berwarna hitam dengan ukuran lebar kurang lebih 20 sampai dengan 30 cm. Adapun warna hitam bagian atas digunakan sebagai lelangit atau langit-langit, sedangkan warna hitam bagian bawah kelir digunakan sebagai lelemah atau sebagai tempat berpijaknya wayang yang dinamakan bumi.

Masud dari pada kelir berwarna putih itu menandakan adanya alam terang yaitu alam dunia, dengan kelir dilapisi warna hitam itu melambangkan adanya alam akherat. Maka adanya kelir berwarna putih dan hitam itu melambangkan bahwa Allah telah menciptakan dua alam yaitu alam dunia dan alam akherat.

  1. Dhalung

Dhalung digunakan memakai rantai serta jarak dhalung dari kelir kurang lebih 1 jengkal lima jari orang dewasa dan ujung dhalung yang disebut pelen kira-kira searah dengan wale-wale yang dibuat dari anyaman pelepah pisang yang di pasang di atas dhalung, agar dapat melingungi atap tarub dari nyala api.

Dhalung memakai sumbu kain lawe berukuran kurang lebih 20 meter di tekuk-tekuk seukuran lobang pelen dhalung, agar dapat dimasukkan ke dalam dhalung. Lalu diisi minyak kacang atau minyak goreng secukupnya, kira-kira batas pengisian minyak di periuk dhalung setinggi lobang pelen, agar jangan kelur (netes) ke ujung dhalung.

Untuk menarik sumbu dhalung memakai capit yang terbuat dari beri atau plat besi yang agak tebal. Kemudian di bagian bawah kedebog pisang diberi potongan pelepah pisang untuk menadahi abu dhalung atau jatuhnya api sumbu ditarik oleh dhalung.

Dhalung digantungkan persis di atas duduk seorang dhalung, dan jaraknya kurang lebih 1 jengkal di atas kepala dhalang saat duduk di bawah dhalung.

  1. Janturan Wayang

Pemasangan wayang kulit di kedebok sisi kanan dan sisi kiri yang ditancapkan secara berurutan disebut janturan. Sebelum itu kita buka dahulu tutup kotak wayang untuk dipasangkan pada posisi sebelah kanan tempat duduk dhalang, baru kemudian terlihat isi muatan wayang kulit di dalam kotak (peti) yang telah tersusun secara berurutan dan dilanjutkan memulai janturan dari bagian yang paling atas ialah sebagai berikut:

  • Kemangmang

Ialah wayang bergambar api yang membara (menyala). Gambaran ini menujukkan bahwa adanya makhluk yang diciptakan oleh Allah dari unsur api yang bernama sang Idajil (Iblis). Seperti yang tercantum di dalam Al-Qur’an: (15:27)

Waljanna Kholoqnaahu MinQoblu Minnaris Samuumi

Artinya: “Dan kami telah menciptakan Iblis sebelum Adam dari api yang sangat panas”. Namun proses terciptanya berawal dari Nurullah, Nurulah yang meliputi Nur Muhammad, dan Nur Muhamad yang meliputi pada api yang sangat panas kemudian menjadi Idajil (Iblis). Jadi adanya kemangmang dalam janturan pertama karena Iblis?Jin adalah makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah.

  • Manuk Beri

Ialah wayang kulit yang bergambar manuk (burung) yang dinamakan Beri. Kata Manuk berasal dari manukma atau menjelma, sedangkan beri akronim dari bersih ing diri atau suci. Jadi gambaran ini menunjukkan bahwa, adanya ciptaan Allah yang menjelma sebagai makluk yang suci, tidak memiliki nafsu dan senantiasa patuh pada segala perintah Allah ialah Malaikat. Sampai diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam juga mematuhinya. Dikarenakan mendapat perintah oleh Allah untuk bersujud dan patuh kepada Nabi Adam, sehingga Malaikat selalu mendampingi Adam atau manusia untuk mengatur segala urusannya dan menjadi saudara manusia yang paling dekat, semenjak manusia berada dalam kandungan, hingga dilahirkan ke dunia sampai datang ke yaumil akhir (meninggal). Jadi Malaikat diberi kewenangan oleh Allah untuk mengatur serta mengurus dari segala kebutuhan hidup manusia dengan setia mendampinginya. Oleh karenanya, kita manusia sedapat mungkin jangan melalaikan apalagi tidak mengetahuinya, karena sebenarnya Malaikatlah yang telah ditugaskan oleh Allah untuk membantu manusia dari segala urusannya. Tetapi apabila manusia tidak mengetahuinya, maka nanti Jin atau syetan yang akan menggantikan sebagi penolong manusia untuk menyesatkannya.

Jadi Manuk Beri dalam janturan itu melambangkan adanya Malaikat, makanya Manuk Beri dijantur setelah kemangmang sebab para Malaikat diciptakan oleh Allah setelah Iblis?jin.

  • Buta Sewu (Sasrabau)

Ialah wayang bergambar raksasa yang paling tinggi besar dibandingkan dengan wayang kulit yang lainnya serta bermuka dan berkepala banyak. Visualisasi wayang ini melambangkan tentang adanya adanya seorang ciptaan Allah yang berbadan tinggi besar dan mempunyai banyak anggota keluarga atau keturunannya sampai berjumlah sewu atau beribu-ribu umatnya yaitu Nabi Adam. Sedangkan petunjuk menurut Al-Qur’an diciptakan Nabi Adam tercantum di dalam surat: (15:26) yang berbunyi: “Walaqod Kholaqnaal Insaana Min Sholsholim Min Hama Immasnuun”

Artinya:”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang di beri bentuk”.

Buta juga dapat diartikan sebagai orang yang tidak dapat melihat. Isyaratnya jangankan melihat orang lain sedangkan keberadaan dirinya saja sampai tidak diketahuinya, maka hal ini benar-benar menunjukan sifat lahiriyah atau dhohirnya tidak tampak seakan-akan tiada. Keadaan ini kembali dalam kefitrahan manusia yaitu seperti bayi yang memang tidak mengetahui apa-apa sehingga keberadaan dirinya juga tidak diketahuinya. Jadi wayang buta itu melambangkan seorang bayi yang masih buta tentang hakekat hidupnya sendiri.

  • Buta Sangkala (Bethara Kala)

Kalau Buta menandakan kekosongan atau kebodohan manusia (Adam), Sangkala ialah waktu (masa). Jadi Buta Sangkala itu artinya masa kekosongan atau kebodohan manusia (Adam). Sehingga menurut riwayat yang dimaksud masa kebodohan adalah ketika Nabi Adam dan Hawa tidak mengerti akan bujukan Iblis untuk memakan buah kuldi (syajaroh) di surga. Sebagaimana firman Allah di dalam surat Al-Baqarah ayat:35: Wa Qolnaa Yaa Adamu Askun Anta Wazaujukal Jammata Wa Kula Minha Rogodaa Hai Syusyi’tumaa Wala Taqroba Hadzihis Syjarota Fa Takuunaa Minadzdzolimiin

Artinya: “Dan kami berfirman, Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makan-makannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzolim”.

Janturan wayang dari Buta sangkala melambangkan riwayat turunnya Nabi Adam dan Hawa ke muka bumi, juga mengisyaratkan seorang bayi yang telah dilahirkan ke alam dunia. Kemudian selanjutnya urutan janturan wayang di kedebog sebelah kanan:

– Buta Naga                               – Buta Plasta (Prahasta)

– Buta Ratu                                – Buta Banteng

– Bata Dewa (Yamadipati)         – Buta Kamasala (Buta Wewe)

– Buta Konjaya Karna

Semua janturan wayang dari buta sangkala sampai wayang Buta Kamasala (wewe) menggambarkan adanya Nabi Adam dan Hawa setelah berketurunan di dunia, dan manusia saat itu bertubuh tinggi besar yang disebut dengan manusia purba atau manusia saat itu bertubuh tinggi besar yang disebut dengan manusia purba atau manusia raksasa.

  • Janturan Wayang Ponggawa, seperti:

– Bethara bayu                           – Jaladara (Kakrasana)

– Bima (Jayasena)                      – Baladewa (Mandura)

– Jaka Bandung (Bima Urai)      – Kangsa

– Dursasana                               – Kangsa Badong

– Durmanggala                          – Brajamusti

– Burisrawa                                – Antawan

– Rahwana                                 – Gatotkaca

– Duryudana                               – Antarja

Dari tahapan janturan wayang di atas, menggambarkan adanya masa peralihan dari manusia purba menjadi manusia ponggawa, yaitu mulai ada kesempurnaan bentuk manusia dari berbadan raksasa menjadi ponggawa. Kata ponggawa artinya gagah atau berwibawa itu menampakkan pada kekuatan jasmani manusia, jadi saat itu faktor lahiriyah sangat mendominasi pada keberadaan manusia. Artinya tuntutan emosi (nafsu) manusia sudah dapat mempengaruhi pada fungsi jasmaninya. Maka dalam tahapan ini manusia mulai dapat mempengaruhi pada fungsi jasmaninya. Maka dalam tahapan ini manusia mulai dapat merasakan adanya kebutuhan dhohirnya, tetapi hati dan pikirannya masih lemah dan belum dapat mencerna atau menyadari akan tuntutan nafsunya sehingga untuk melaksanakan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, yang penting terlampiaskan nafsunya. Jadi pada jaman itu juga masih disebut jaman jahiliyah (kebodoran).

  • Janturan Wayang Ponggawa Wanara (Kera), yaitu:

-Subali                            – Hanoman

– Hanggada                    – Anila

 

Gambaran wayang Ponggawa Wanara adalah wayang bertubuh tegap seperti ponggawa namun berwujud kera. Dalam tahap ini menunjukkan bahwa periode jaman itu ada kehidupan manusia yang berujud seperti kera. Walaupun wujudnya seperti kera dan berbadan seperti manusia bukan berarti seperti teori evolusi Darwin yang menemukan penelitian bahwa evolusi manusia berasal dari kera, sebab teori itu berdasarkan paham materialisme, sehingga orientasi pemahamannya hanya bersifat benda. Padahal evolusi manusia dengan hewan itu sangat berbeda, kemudian semua juga tahu bahwa manusia itu berasal dari Adam yaitu manusia bukan hewan, inilah yang menyebabkan perbedaan manusia dengan kera. Begitu pula yang digambarkan dalam pewayangan berbadan manusia dan berwujud kera itu bukan meriwayatkan bahwa manusia berasal dari kera. Sebab dalam cerita pewayangan sendiri adanya manusia yang berujud kera itu berasal dari manusia yang memperebutkan cupu manik di dalam kolam, setelah naik ke daratan barulah berubah wujudnya menjadi kera. Jadi bukan diriwayatkan dari keturunan kera atau rama-ibunya bukan manusia, seperti Hanoman putranya Dewi Anjani yaitu seorang putri yang cantik, walaupun kemudian ceritanya Dewi Anjanipun berwajah kera, tapi aslinya adalah manusia.

 

Kalau kita pahami bahwa badan manusia dan wujud kera itu serupa tapi tak sama, serupanya dalam arti yang namanya badan itu sudah pasti ujud, tak samanya karena wujud itu belum tentu badan (tubuh manusia). Jadi yang dimaksud di dalam pewayangan selain meriwayatkan adanya jaman manusia kera yang konon sudah mempunyai kecerdasan akal, namun rupanya seperti hewan (kera), juga melambangkan tahapan manusia setelah beranjak dari kanak-kanak menjadi balig yaitu mempunyai kecerdasan akal.

 

  • Janturan Wayang Satriya, seperti:

– Bethara Indra                          – Konteya (Yudistira)

– Basudewa                                – Jukung Maradeya

– Bethara Kresna                       – Arjuna Wijaya

– Nayarana                                 – Rodeya

– Dipati Karna                            – Janaka

– Bethara Wisnu                         – Sanghyang Ismaya

– Rama Dewa                             – Arjuna

– Klana Dewa                             – Bethara Guru

– Begawan Palasara                  – Sukmajanegara

Dari susunan janturan wayang satriya melambangkan suatu riwayat kesempurnaan manusia yang diciptakan oleh Allah di muka bumi, dari manusia yang berbentuk seperti kera menjadi manusia yang lebih sepurna tubuh dan rupanya sampai kehidupan manusia sekarang. Dikatakan sempurna karena akalnya semakin cerdas dan perwujudannya juga semakin bagus jika dibandingkan dengan manusia sebelumnya. Sehingga yang namanya manusia harus semakin bagus dan semakin sempurna. Maka dalam tahapan kesempurnaan ini berarti manusia sudah mencapai tingkat dewasa. dilambangkan dengan wayang satriya, sebab sikap dan laku satriya itu jujur, halus tutur katanya dan tak pernah sombong apalagi takabur dengan sesamanya. Semua ucap lakunya menunjukkan suri tauladan yang baik. Karena satriya adalah orang yang sudah tahu pada jati diri. Satriya akronim dari kata sa=sawiji (tunggal), tri=(tiga), ya=yakin. Arti yakin pada tri tunggal yaitu :1. Datullah, 2 Sifatullah dan 3 Al’alullah. Artinya yakin pada: 1. Cipta, 2. Rasa, 3. Karsa. Setelah yakin pada dat, sifat, af’al dan cipta, rasa, karsa, maka satriya menjadi:

– Sidik paningale (waspada penglihatannya)

– Jujur pocapane (jujur ucapannya).

– Benar laku-lampahe (benar perbuatannya)

  • Janturan Wayang Putren (Putri), seperti:

Dewi Sumbadra, Dewi Srikandi, Dewi Arimbi, Dewi Kunthi dan sebagainya. Dari janturan wayang putri juga dapat kita artikan secara umum bahwa yang disebut putri asal dari kata pu adalah rapu (tua), tri itu tiga. Jadi katagori tua ada tiga macam, yaitu:

  1. Tua Sepah
  2. Tua Sepih
  3. Tau Sepuh

Adapun yang dimaksud Tua Sepah yaitu orang sudah berusia lanjut tapi tidak berisi atau kosong ilmunya seperti tebu yang telah diambil zat gulanya tinggal sepah (ampas) nya.

Tua Sepih yaitu orang yang sudah lanjut usia tapi tidak dapat memberikan manfaat ilmunya, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Tua Sepuh yaitu orang yang sudah lanjut usia makin bercahaya karena karomah ilmunya yang bermanfaat bagi orang lain, seperti cincin emas yang disepuh menjadi bercahaya dan menarik bagi yang melihatnya. Dan tua sepuh juga sudah mengetahui petuah hidupnya. Atau tua sepuh dapat diartikan tuanya tua atau tua sesungguhnya yaitu luar dan dalam memang tua.

Wayang putri selain menunjukkan gambaran usia manusia yang sudah tua, menurut arti khusus juga putri mengandung falsafah put ialah puput (putus), ri itu diri, jadi putri artinya putus ing diri yaitu lepasnya jasmani manusia yang dinamakan mati.

  • Janturan Wayang Jabang

Digambarkan dengan wayang Jabang itu menunjukkan proses lanjutan manusia setelah berusia tua kembali seperti bayi, karena sudah tidak mempunyai daya kekuatan dan alam pikiran juga sudah pikun sehingga yang tampak itu tinggal nafsunya saja, yang apabila tidak segera dipenuhi akan marah dan terkadang sampai menangis, mau mandi, makan, apa saja kalau orang sudah mencapai taraf pikun itu persis seperti mengurus anak baru lahir. Tingkat pikun orang tua hingga kembali seperti jabang (bayi) jatidiri (tidak tua sepuh), sehingga masa tua itu menyengsarakan dan menyiksa. Tetapi lain halnya makna janturan wayang jabang itu menunjukkan tentang kefitrahan dirinya yang benar-benar sudah kembali kosong (ngadam). Karena sifat dhohir manusia itu asalnya tiada maka kembali tiada. Ketiadaan itu karena larut ke dalam samudra Illahi, lazimnya seperti gambar yang larut ke dalam air lautan atau sirnanya alam mimpi tatkala terbangun dari tidur. Itu semua perumpamaan bagi orang yang ketemu dengan jatidiri sehingga benar-benar suci seperti jabang yang baru dilahirkan.

  • Janturan Wayang Gunungan (Kayon).

Bagian akhir dari janturan wayang kulit di kedebog sisi kanan adalah wayang gunungan (Kayon). Menurut pengertian umum: wayang gunungan (Kayon) sebagai penutup akhir janturan wayang kulit, itu artinya melambangkan akhir hayat manusia setelah lanjut usia (masa tua).

Wayang Gunungan (Kayon) dipandang dari pengertian khusus: Gunungan kata dasarnya gunung yang artinya agung lan gunung yaitu luhur dan mulia, kemudian Kayon berasal dari bahasa arab yang bunyinya “hayun” artinya yang hidup. Sedangkan yang luhur dan mulia serta punya hidup adalah Allah. Jadi wayang gunungan/Kayon itu melambangkan adanya Sang Pencipta.

Dari semua janturan wayang kulit yang sebelah kanan itu menunjukkan riwayat Nabi Adam semenjak diciptakan hingga menurunkan umat manusia, juga hakekatnya adalah simbolis tentang asalnya manusia dan kembalinya manusia kepada Sang Pencipta secara sempurna. Yaitu proses dhumadinya manusia yang sebenarnya digambarkan dengan susunan janturan wayang kulit dijalur kanan, artinya bahwa manusia yang benar itu berada pada posisi (urutan) sebelah kanan.

Namun berbeda dengan janturan wayang kulit di sebelah kiri tanpa diawali wayang Kemangmang, Manuk beri, dan Buta Sewu (Sasrabau), juga tanpa diakhiri dengan wayang Putri dan Jabang. Sedangkan janturan yang lainnya sama dengan yang sebelah kanan. Adapun perbedaan itu karena janturan wayang sebelah kiri tidak ada:

– Wayang Kemangmang artinya tidak mengetahui hakekat nafsunya.

– Wayang Manuk Beri artinya tidak mengetahui hakekat saudaranya

– Wayang Buta Sewu artinya tidak mengetahui hakekat dirinya

– Wayang Putri/Putren artinya tidak mengetahui hakekat matinya.

– Wayang Jabang artinya tidak mengetahui hakekat kefitrahannya.

  1. Gunungan (Kayon) Di Tengah Kelir

Setiap pagelaran wayang kulit sebelum memulai gagalan atau lakonan, maka wayang Gunungan (kayon) terlebih dahulu ditancapkan di tengah kelir. Hal ini mengandung arti bahwa gunungan atau gunung berasal dari kata kang agung lan gumunung atau Yang Agung dan Yang Luhur yaitu sifatullah. Sedangkan Kayon asal dari kata Arab Hayun artinya hidup. Jadi maksudnya Gunungan (Kayon) tadi melambangkan adanya Allah Yang Maka Agung, Maha Luhur, dan Maha Hidup. Kemudian Gunungan (Kayon) itu lebih dahulu ada sebelum dimulainya sesuatu yang ada, maksudnya ialah Allah lebih dahulu (Qidam) sebelum ada apa-apa, sebab semuanya masih awang-uwung (Adam). Demikian karena Allah belum berkehendak untuk menciptakan sawiji-wiji (makhluk), sehingga masih berada pada alam ke-Tuhan-an (alam lahut) yang disebut dengan KUN. Oleh karenanya hanya Gunungan (Kayon) yang lebih dulu ada di tengah pakeliran. Wayang Gunungan (Kayon) awal dan akhir dalam pagelaran itu hanya satu, karena menyatakan bahwa Allah hanya satu (Allahuahad).

  1. Motif Gunungan Cirebon

Gambar Gunungan Cirebon berlukiskan

  • Wiwitan/Kayu/Kayon, arti hidup
  • Di atas Kayon ada kembang wijaya mulya, artinya di atas hidup ini kita harus dapat mengembangkan kejayaan dan kemulyaan dunia dan akherat
  • Wiwitan (pohon) dililit ular naga dan ditempeli simbar berwajah buta, juga bermacam-macam hewan. Gambaran itu melambangkan bahwa wiwitan (pohon) artinya hidup, ular naga artinya nafsu ing raga atau nafsu kenikmatan jasmani yaitu Loama dan Sawiya serta simbar berwajah buta artinya ngumbar angkara murka yaitu nafsu Amarah, Jadi artinya bahwa hidup kita ini jangan sampai terbelenggu oleh nafsu dan jangan ngumbar amarah, sebab kalau manusia terpedaya oleh nafsu dan amarah, maka seperti hewan yang tidak bersyahadat.
  • Manuk Beri (burung) Singabarong

Manuk akronim dari Manukma (menjelma), Beri singkatan dari bersih dari (suci), sedangkan makhluk Allah yang suci dan tidak mempunyai hawa nafsu adalah Malaikat. Kemudian Singabarong berasal dari kata Singa Bareng-bareng (selalu bersama-sama), sedangkan makhluk Allah yang senantiasa bersama-sama dan selalu mengatur segala urusan manusia adalah Malaikat. Jadi Manuk Beri dan Singabarong itu melambangkan adanya saudara kita yang paling dekat yaitu 4 (empat) Malaikat:

  1. Malaikat Sariyah
  2. Malaikat Ariyah
  3. Malaikat Mariyah
  4. Malaikat Aruman
  • Liman (gajah), kata Liman akronim dari lima dan iman, artinya rukun Islam dan rukun iman. Gambar liman bertangan 4 dan berkaki 2 melambangkan bahwa tangan adalah pegangan yaitu pegangan pada 4 (empat) macam
  1. Iman
  2. Tauhid
  3. Ma’rifat
  4. Islam

Sedangkan berkaki 2 artinya pada hukum syare’at dan hakekat. Sebab manusia apabila tahu tentang syare’at dan hakekat Iman, Tauhid, Ma;rifat dan Islam maka menjadi insan kamil atau sempurna seperti yang digambarkan pada wayang gunungan bagian bawah yaitu wadasan.

  • Wadasan, singkatan dari kata wadah insan yaitu manusia. Dimana manusia diciptakan oleh Allah asalnya adalah fitrah (suci), tetapi setelah manusia dapat memfungsikan akal dan nafsunya lalu menjadi kotor jasmaninya. Oleh karena itu manusia menginjak aqil baleg diwajibkan untuk menuntut ilmu, agar dapat menemukan hakekatnya dirinya yang fitrah.
  • Pandan, berasal dari kata padan atau pada yaitu sama. Artinya lahir-batin manusia adalah sama sebab manusia mempunyai rasa yang sama, seperti kalau difitnah atau dianiaya itu sakit, maka orang lainpun sama merasa sakit. Begitu pula dengan anggota badan kita, kalau ada salah satu organ tubuh yang sakit, maka seluruh badanpun akan merasa sakit. Jadi artinya kita tidak boleh memfitnah atau menganiaya diri sendiri dan orang lain. Selain itu pandan juga beraroma wangi artinya manusia harus bisa menebarkan aroma kebajikan dengan sesamanya agar dapat merasakan semerbak wanginya hidup.
  1. Tetalu (Gagalan)

Sebagai tanda dimulainya suatu pagelaran dalam wayang kulit adalah tetalu (gagalan) yaitu dengan mengalunkan iramanya gamelan. Adapun irama tetalu (gagalan) diberi nama lagu Jipang Walaik, sedangkan tetalu dari kata dasar talu yang artinya kita milu (ikut), lalu jipang walik akronim dari ji itu ngawiji, pang adalah Pangeran, walik itu balik (kembali). Jadi tetalu jipang walik maksudnya ialah kita ikut manunggal kepada Allah untuk kembali yaitu Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un artinya sesungguhnya kita asal dari Allah dan kembali kepada Allah.

Tetalu senantiasa diawali dengan kendang kecil yang disebut ketipung, bunyinya pung-pung dan bedug bunyinya deng-deng-deng. Isyarat itu mengandung arti bahwa urip ning alam dunia iku aja mampang-mumpung lan aja adag-udug nanging kang sedeng, maksudnya kita hidup di alam dunia itu jangan lah takabur dan sombong, tetapi yang sederhana menurut perintah Allah SWT.

Setelah ketipung dan bedug dibunyikan, kemudian diikuti oleh bunyi gong dan gamelan yang lain secara bersama-sama. Bunyi tadi mengandung arti merukuni dan membenarkan bunyi peringatan tadi. Dan dilanjutkan dengan memainkan dengan gending/lagu jipang walik sampai selesai.

  • Merangdawa

Untuk sesaat lagu jipang walik berhenti, kemudian seorang dhalang menyalakan dhalang (alat penerangan pagelaran wayang kulit). Setelah dhalang nyala kemudian dimulainya gending atau lagu merangdawa sampai akhir dengan ditandai memperagakan perangan (mucuki) bagi anak dhalang sebagai generasi penerus. Adapun isyarat menyalakan dhalung oleh seorang dhalang artinya menyatakan bahwa Nurullah nyala dengan sendirinya, sebab murub ora kelawan den urubaken, nanging murub kersaning kiyambek. Artinya nyala tanpa dinyalakan, tetapi nyala atas kehendak Allah sendiri.

Kairing lagu merangdawa artinya itu medal terang (keluar cahaya), dawa ialah sedawane (selamanya). Jadi artinya cahaya Allah itu langgeng untuk selamanya yaitu sepanjang hidup dan kehidupan.

Dhalung sebagai alat penerang dalam pagelaran wayang kulit berbentuk tameng berukir dan periuk kuningan, sebagai wadah bahan bakar berupa minyak kacang/minyak sayur beserta sumber lawe, dan digantung di tengah-tengah kelir di atas duduk seorang dhalang, dan jarak antara api dhalung dengan kelir kurang-lebih dua jengkal lima jari orang dewasa, juga di atas nyala dhalung di pasang wale-wale (anyaman pelepah pisang) agar tidak membakar atap rumah atau tarub.

Disebut dhalung mengandung arti dhat luhung yaitu Allah SWT atau medalaken pitulung yaitu memberikan pertolongan. Jadi maksudnya ialah Dhat Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan serta menerangi kehidupan kepada seluruh makhluk-Nya. Nyala api dhalung sebentar terang  dan sebentar redup (gelap) itu menandakan keberadaan alam ini ada siang dan ada malam hari. Kemudian apabila dilihat dari depan kelir maka bayangan wayang itu bergerak hidup, artinya dengan kehendak Dhat Yang Maha Luhung maka manusia dapat bergerak hidup, bukan bayangan mati yang sedang menjalankan pentas di dunia ini. Sebab kalau mati tentunya dimasukkan ke dalam peti atau liyang kubur dan sudah tidak nampak di layar pentas lagi.

Pentas wayang kulit dapat dilihat dari dua arah, yaitu dari depan panggung dan di belakang panggung. Adapun isyarat dari depan panggung, maka yang terlihat hanya bayangan wayang bukan seorang dhalang. Artinya menurut hukum syare’at yang tampak adalah perwujudan manusia (makhluk), bukan Tuhan. Oleh karena itu jika ada manusia mengaku dirinya Tuhan, maka hukumannya musyrik yaitu dosa besar yang tidak dapat diampuni oleh Allah SWT. Sebaliknya kalau melihat pagelaran wayang kulit dari belakang panggung, tentunya akan terlihat seorang dhalang yang memainkan wayang di pakeliran. Simbolis itu artinya bahwa menurut hakekat adanya Allah yang menghidupkan manusia beserta alam seisinya. Oleh karena itu, seyogyanya pagelaran wayang kulit diupayakan untuk dapat dilihat dari dua arah agar kesempurnaan pagelaran itu dapat menggambarkan tuntunan tentang syare’at dan hakekat agama Islam.

  1. Dhalang Mulai Main Wayang

Seorang dalang duduk bersila di bawah dhalung (alat penerangan), lalu menarik sumbu dhalung untuk dinyalakan lebih terang. Setelah dhalung nyala terang kemudian memegang cempala (alat penotok kotak) terus ditotokan ke kotak sekali (1) menandakan lagu kaboran mulai dan diiringi nada bunyi gong kedua dhalang mencabut wayang gunungan dari tengah pakeliran untuk digerakan ke atas, kesamping kanan, kesamping kiri dan ditarik perlahan ke bawah sambil diiringi bunyi gong lalu hilang dari pakeliran.

Dari pengertian umum, bahwa dalang ialah singkatan dari medalaken piwulang, yaitu mengeluarkan atau memberikan tuntunan ajaran. Sedangkan apabila menurut pengertian khusus dhalang ialah Dhat Langgeng yaitu Allah SWT. Jadi kalau diartikan dari dua pengertian bahwa main wayang itu berarti bahwa Allah SWT mulai berkehendak untuk menciptakan sawiji-wiji (makhluk) di dunia. Dhalang mencabut wayang gunungan artinya Allah mulai bergerak dari alam lahut (ke-Tuhanan), lalu gunungan dimasukan hingga tidak tampak di pakeliran artinya Allah setelah bergerak lalu tidak berada di alam ke-Tuhanan. Setelah dhalang mengeluarkan wayang pada janturan awal artinya setelah Allah berkehendak kun-fayakun maka jadi-jadilah alam beserta makhluk seisinya. Adapun diiringi dengan lagu kaboran itu artinya kawoworan atau kecampuran yaitu kelipatan sifat hayat oleh Allah SWT.

Sehingga apabila diterjemahkan kedalam falsafah ritual pagelaran wayang kulit, semenjak wayang gunungan di tengah kelir, nyala dhalung, dhalang main wayang dan keluarnya wayang pada jejeran awal, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Wayang Gunungan di tengah kelir ialah melambangkan adanya cipta yang tersirat sebagai Datullah.
  2. Nyala Dhalung ialah melambangkan adanya rasa yang tersirat sebagai Sifatullah.
  3. Dhalang main wayang ialah melambangkan adanya rasa yang tersirat sebagai Af’alullah.
  4. Keluarganya wayang pada jejeran awal ialah melambangkan adanya karya yang tersirat sebagai wujudullah.

Mancaniti (Undur-Undur)

Selesai dialog dalam jejeran (adegan) pertama seperti diantara dengan keluarnya tokoh wayang dari hadapan sang Nata atau seorang raja yang ada di dalam keraton disebut mencaniti (undur-undur) yaitu menuju ke Pancaniti (paseban) diiringi dengan lagu undur-undur yaitu amit mundur dari dalam keraton menuju Pancaniti di luar keraton.

Ritual ini mengandung arti kalau panca itu lima, niti ialah peraturan. Jadi artinya lima peraturan, yaitu:

  1. Jujur dengan persaksian kita kepada Allah dan Muhammad di dalam syahadat.
  2. Wekel (rajin) melaksanakan perintah ibadah kepada Allah dengan sholat.
  3. Pinter (pandai) menyantuni anak yatim dan fakir miskin dengan menunaikan zakat.
  4. Kendel (berani) memerangi hawa nafsu agar terkendali dengan puasa.
  5. Bener (betul) ketemu dalam menepati panggilan Allah dengan jiarah dan naik haji.

Undur-undur berasal dari kata mundur atau kembali kepada Allah SWT. Adapun tatakrama atau cara yang harus ditempuh melalui rukun Islam yang lima di atas. Sedangkan untuk melaksanakan tatakrama atau cara adalah perwujudan syare’at ibadah kepada Allah SWT yang disebut wujudullah.

  • Tratagan (Tratag Rambat)

Setelah jejeran (adegan) kedua mancaniti, lalu melanjutkan perjalanan hendak menuju kesuatu tempat atau kedatangan tamu di luar keraton (istana) selalu diiringi dengan gending (lagu) tratagan artinya (tratag rambat) melambangkan terkejutnya hati manusia setelah kedatangan atau mendapatkan hidayah dari Allah SWT untuk menempuh cita-cita atau tujuan hidupnya, seperti mencari jati diri dalam beragama. Akan tetapi hati dan pikiran manusia senantiasa diperangi oleh nafsunya, sehingga kalau kita menang maka akan ketemu dengan tujuan, sebaliknya apabila kita kalah maka akan gagal menempuh suatu tujuan.

  • Lagu Klasik Yang Mengiringi Pagelaran Wayang

Dalam adegan wayang berikutnya banyak ragam dan bermacam-macam jenis lagu yang dimainkan sebelum pada adegan yang paling akhir di pakeliran, seperti lagu Cerbonan, Dremayon, Kiser, Bendrong dan sebagainya. Adanya beraneka macam lagu setelah adegan memakai lagu tratagan dan sebelum adegan akhir dalam pagelaran, itu menandakan bermacam-macam jalan atau tarekat ibadah menuju Allah SWT. Seperti tarekat Syatariah, Qodariyah, Naksbandiyah, Jabariah dan sebagainya. Sedangkan tarekat adalah suatu jalan atau laku ibadah kepada Allah SWT yang disebut sebagai Af’alullah.

  • Pacul Goang

Lagu pacul goang dikumandangkan pada setiap adegan akhir cerita (lakon). Yang dimaksud Pacul Goang adalah, kalau pacul akronim dari ngipataken kang muncul atau menepiskan sesuatu yang tampak, seperti rasa tinggi diri, takabur, tamak, serakah dan lain-lain. Yang menyertai sifat lahiriyah manusia. Sedangkan goang itu rusak yaitu menjadi tiada. Jadi artinya pacul goang adalah menepiskan rasa memiliki sesuatu supaya menjadi tiada. Karena semua yang ada pada diri manusia itu asalnya tiada, sehingga menjadi tiada.

Rasa tidak memiliki adalah pencerminan hakekat ibadah kepada Allah SWT yang disebut sebagai sefatullah.

  • Rumyang

Sebagai kata penutup pagelaran seorang dhalang mengucapkan gemah apaliwarna ngantos umyang suarane. Kemudian tutup gunungan diiringi lagu rumyang.

Adapun makna gemah apaliwarna, kalau gemah itu kumandang, apaliwarna itu bermacam-macam. Jadi arti sebelum kita meninggal dunia mengumandangkan kalimat toyibah (Lailaha Illallah) dan bermacam-macam nasehat sebagai wasiat. Kemudian ngantos umyang suarane artinya sampai ramai suaranya orang yang mengiringi perpisahan itu dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakannya.

Mengakiri pentas wayang dengan mengucapkan gemah apaliwarna berarti melambangkan manusia yang sadar sepenuhnya ketika menghadapi akhir hayatnya atau yang disebut husnul khotimah. Sehingga panca indranya senantiasa eling tan lali, tan pegot pujine maring Hyang Sukma yaitu tetap ingat tidak lupa, tidak terputus pujinya kepada Allah SWT karena yang memuji dan dipuji adalah satu, akhirnya mata tidak buta, telinga tidak tuli, mulut tidak bisu, hidung tidak tersengal dan rasa tidak sangsi untuk kembali kepada Allah dengan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Selain itu pula pada akhir pagelaran wayang ada juga dhalang yang mengucapkan “tutup lawang si gotaka”. Maka perlambang itu dapat diartikan tutup lawang adalah tutup pintu, si gotaka ialah si pengucap (lisan). Jadi artinya tutup pintu si pengucap (mulut), sehingga dapat menggambarkan manusia yang Summun bukan umyun fahum layar ji’un artinya orang yang buta, bisu, tuli dan tidak tahu kembali pulang ke jalan Allah SWT, yang disebut dengan su’ul khotimah. Sebab panca indranya tertutup tatkala menghadapi sakarotul maut.

Tutup lawang si gotaka juga dapat diartikan sebagai gambaran tutup usia manusia, karena tuntunanpun mengajarkan bahwa setiap yang berjiwa pasti mati. Akan tetapi yang mati adalah hukum syare’at manusia, sedangkan hakekat Allah tidak mati tetap Maha Langgeng (abadi) tan owah, tan gingsir, datan brasta lir pepadadhaning anyar. Artinya Allah itu abadi tidak robah, tidak hilang, tidak rusak seperti perwujudan yang baru (makhluk).

  • Monggang/Bala Bandhung

Lagu Monggang atau Bala Bandhung sebagai akhir lagu setelah tutup gunungan di tengah pakeliran untuk menghentikan kegiatan pentas.

Monggang akronim dari mong ginggang atau tidak mau berpisah, sedangkan Bala Bandhung, bala itu kaula atau hamba, bandhung ialah bersama-sama. Maka isyarat lagu Monggang atau Bala Bandhung mengandung arti tidak mau berpisah antara hamba atau kaula dengan Gusti. Akan tetapi kaula dan Gusti selalu bersama-sama, itu tunggal dan nunggal atau siji ora ngawiji atau satu tanpa bersekutu, seperti madu dengan manusianya atau kertas dengan putihnya.

Pencapaian jati diri manusia adalah merupakan tujuan ma’rifat ibadah kepada Allah SWT, yang disebut sebagai Datullah.

Sehingga awal akhirnya pagelaran wayang ialah menandakan asalnya manusia dari Allah dan akhirnya kembali pada Allah. Hal ini divisualisasikan dengan wayang Gunungan (Kayon) yaitu awal sebelum mulai main wayang dan akhir pagelaran wayang selalu digambarkan dengan wayang gunungan. Walaupun demikian mengapa gunungan awal tanpa wayang di pakeliran, tetapi gunungan akhir ada wayang di pakeliran, sedangkan gunungan awal dan akhir adalah sama. Kalau kita mau menghayati tuntunan di dalam pagelaran wayang kulit Cirebon, maka kita akan dapat menemukan mutiara Islam yang sesungguhnya.

 

Daftar Pustaka

Gorys Keraf

Ekspedisi dan Deskripsi. Ende-Flores : PT. Nusa Indah

Gottschalk, Louis

Mengerti Sejarah. Terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta : UI Press.

Mulyono, S

  1. Wayang, Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya. Jakarta : PT. Gunung Agung

Murtiyoso, Bambang

“Pertumbuhan Dan Perkembangan Seni Pertunjukan Wayang” Laporan  Penelitian

Nanang Henri Riyanto

“Wayang Timplong Nganjuk, Asal usul dan kehidupannya” .Skripsi

Sutopo, FX.HB.

1988    “Teknik Pengumpulan Data dan Model Analisisnya dalam Penelitian Kualitatif”. Makalah Ceramah STSI Surakarta.

Umar Kayam

Seni Tradisi Masyarakat. Jakarta : Sinar Harapan.

Rafan S. Hasyim

2012    Seni Tatah Sungging Wayang Kulit Cirebon, Pengantar Reka Visual dan makna Simbolik. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga kabupaten Cirebon : 2012

Bambang Harsrinuksmo dkk,

1999    Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jakarta : Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia.

Purjadi

2007    Pengetahuan dasar Wayang Kulit Cirebon. Cirebon : badan Komunikasi Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon

http://id.wikipedia.org