UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) adalah salah satu lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan dunia. Kantor pusat UNESCO di Paris, Perancis. Bagian warisan Tak Benda UNESCO dipimpin oleh M. Noriko Aikawa. UNESCO meiliki kantor perwakilan di Jakarta, di jalan Galuh II No.5 Kebayoran Baru. Mr. Philipe Delanghe memimpin bagian budaya di kantor UNESCO Jakarta.

Konvensi 1972 UNESCO mengenai Warisan Budaya dan Alam Dunia hanya mencakup warisan benda seperti monument, situs budaya dan pemandangan alam. Masyarakat dunia semakin menyadari pentingnya warisan lisan tak benda sebagai jati diri, kreativitas, serta pelestarian keanekaragaman budaya manusia. Warisan budaya tak benda yang sangat berharga ini semakin terdesak oleh berbagai sebab seperti globalisasi, konflik bersenjata, kerusakan lingkungan dan sebagainya.

Pada tahun 1989, UNESCO mengusulkan Perlindungan Warisan Budaya Tradisional. Kemudian Sidang Pleno UNESCO ke-29 pada bulan Nopember 1997 menyetujui Resolusi No. 29 yang menetapkan Peraturan mengenai Proklamasi Karya-karya Agung Lisan Tak Benda Warisan Manusia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO, dengan tujuan,

  1. Meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap nilai warisan budaya tak benda
  2. Mengevaluasi dan mendaftar situs dan warisan budaya tak benda
  3. Membangkitkan semangat pemerintah Negara supaya mengambil tindakan-tindakan hukum dan administrative guna melestarikan warisan budaya tak benda
  4. Mengikutsertakan seniman setempat dalam dokumentasi, pelestarian dan pengembangan warisan budaya tak benda.

Atas usul para pakar, dalam sidang pleno UNESCO tahun 2001 definisi Warisan Budaya Tak Benda telah ditetapkan “Peoples learned processes along with the knowledge, skills and creativity that inform and are developed by the, the products they create and the resource, spaces and other aspects of social and natural context necessary to their sustainability ; the processes provide living communities with a sense of continuity with previous generations and are important to cultural diversity and creativity of humanity.”

Selanjutnya dalam upaya melestarikan warisan budaya tak benda pada siding Pleno UNESCO ke-32 tahun 2003 ditetapkan Konvensi Untuk Melestarikan Warisan Budaya Tak Benda. Karya-karya agung, termasuk wayang Indonesia, tersurat dalam konvensi ini setelah Konvensi diratifikasi oleh 30 negara yang karya budayanya telah diproklamorkan oleh INESCO sebagai karya agung.

Setiap Negara boleh mencalonkan satu karya agung budaya untuk diproklamasikan setiap dua tahun sekali. Penyusunan berkas untuk calon proklamasi karya agung warisan budaya tak benda menyangkut uraian kegiatan berikut :

  1. Identifikasi. Pembuatan identifikasi karay agung warisan budaya tak benda
  2. Konservasi. Pembuatan arsip dan data budaya bangsa, museum-museum, melatih pakar konservasi, menggandakan arsip dan data mengenai warisan budaya tak benda.
  3. Pelestarian. Menyiapkan bahan untuk memasukkan studi warisan budaya tak benda dalam kurikulum sekolah, memberikan dukungan moral dan modal untuk individu dan lembaga di bidang warisan budaya tak benda. Mendukung riset ilmiah tentang warisan budaya tak benda.
  4. Dokumentasi. Penyelenggaraan festival, pameran, seminar tentang warisan budaya tak benda. Promosi yang lebih luas dalam media. Penyediaan informasi, menyelenggarakan pertemuan yang bertujuan melestarikan warisan budaya tak benda, serta upaya menetapkan kode etikanya.
  5. Perlindungan. Melindungi para pelaku dan pakar seni budaya tak benda, juga arisp dan datanya.

Berkas pencalonan Karya Agung Warisan Budaya harus berisi 5 unsur:

  1. Laporan tertulis dengan format yang ditetapkan UNESCO, harus berisi rencana lima tahun untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya tak benda yang dipilih.
  2. Dokumentasi lengkap dengan peta, foto, rekaman audio visual, izin tertulis untuk penggunaan bahan itu oleh UNESCO dan kepustakaan yang digunakan dalam riset.
  3. Film documenter professional dengan durasi maksimal 10 menit yang membeberkan ciri-ciri warisan budaya tak benda
  4. Bukti tertulis persetujuan dari masyarakat sumber budaya tak benda bahwa berkas yang diberikan kepada UNESCO merupakan informasi akurat dari warisan budaya tak benda yang dicalonkan.
  5. Daftar lima jenis budaya lain untuk dicalonkan pada proklamasi mendatang.

Berkas yang diajukan itu diperiksa oleh UNESCO sendiri, kemudian diperiksa oleh budayawan dan NGO internasional, baru diperiksa oleh delapan belas juri yang terdiri dari para pakar budaya dunia. Setelah segala persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan UNESCO dipenuhi dan disetujui, maka warisan budaya tak benda itu diproklamirkan oleh Sekjen UNESCO sebagai karay agung budaya dunia.

Wayang Indonesia dengan judul Wayang, Puppet Theatre telah diproses sesuai prosedur dan persyaratan UNESCO tersebut dan dinyatakan lulus dengan predikan “excellent” yang akhirnya diproklamirkan sebagai Karya Agung Budaya Dunia.

Setelah diproklamirkan, Negara yang bersangkutan harus member laporan berkala kepada UNESCO, dan dapat pula mengajukan permohonan bantuan dana untuk program lima tahun pelestarian dan pengembangan.

BAGAIMANA BISA

Wayang Indonesia mendapat penghargaan UNESCO

Sesuai peluang yang terbuka dari UNESCO, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melalui Deputi Bidang Seni & Film menugaskan SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia) untuk mempersiapkan pencalonan Wayang Indonesia sebagai karya agung budaya dunia tak benda. Wayang dinilai memiliki kualitas dan peluang besar untuk dapat memenuhi persyaratan dan prosedur UNESCO.

SENA WANGI segera membentuk Tim Riset untuk mengadakan penelitian yang lengkap dan mendalam terhadap wayang Indonesia. Dari 100 jenis wayang yang ada di Indonesia, SENA WANGI memilih 5 jenis wayang yang mewakili untuk diteliti yaitu :

  • Wayang Kulit Purwa Jawa, dari Jawa Tengah
  • Wayang Parwa Bali, dari Bali
  • Wayang Golek Sunda, dari Jawa Barat
  • Wayang Palembang, dari Sumatera Selatan
  • Wayang Banjar, dari Kalimantan Selatan

Riset kelima jenis wayang tersebut dilaksanakan di daerah-daerah asal, dengan mengambil foto, rekaman audio dan rekaman video pergelaran wayang, mewawancarai dalang, pengrawit, suarawati dan pakar wayang. Buku dan tulisan tentang kelima jenis wayang juga dipelajari. Setiap jenis wayang ditinjau dari tiga segi yaitu,

  • Sejarah
  • Seni, termasuk Seni Pedalangan, Seni Karawitan, Seni Rupa, Seni Sastra dan Filsafatnya
  • Sosial

Riset dilaksanakan selama lima bulan, dari April s/d Agustus 2002. Akhirnya hasil seluruh riset yang telah dilaksanakan dirangkum dalam Buku Laporan Ringkas Riset dan Lampiran untuk dikirim kepada UNESCO. Sebelum hasil riset dikirim, telah diseminarkan oleh para pakar dan seniman wayang, untuk mendapat persetujuan mereka bahwa hasil riset benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Buku laporan berisi banyak gambar berbagai jenis wayang dan perlengkapannya, peta, denah panggung, foto pergelaran, foto dalang dll.

Laporan berisi kepustakaan buku dan tulisan yang telah dipakai. Selain laporan tertulis, dikirim pula film dokumenter 10 menit dan hasil rekaman video masing-masing wayang yang telah dipelajari. Lampiran Laporan berisi Rencana Kerja Lima Tahun untuk mendokumentasikan, melestarikan dan mengembangkan budaya wayang dan seni pedalangan, dari tahun 2003 s/d tahun 2007, berikut jadwal kerja dan anggaran biaya yang dibutuhkan.

Tim riset telah melakukan pekerjaannya dengan baik, sehingga memenuhi segala persyaratan dan memuaskan pakar budaya, NGO, serta juri UNESCO, dengan hasil bahwa Wayang Indonesia diplokamirkan oleh UNESCO dan tampil terhormat sebagai Karya Agung Budaya Tak Benda Warisan Manusia (a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Kita bangsa Indonesia patut bangga terhadap prestasi budaya wayang yang telah mendapat perhatian besar dan penghargaan tinggi dari lembaga PBB seperti UNESCO atas penilaian pakar budaya dunia. Karena itu bukankah sebaiknya bangsa Indonesia memberi perhatian lebih pada budaya sendiri seperti budaya wayang. Lebih memilih wayang sebagai hiburan dan sebagai tuntunan hidup, ketimbang budaya pop Barat yang disajikan 24 jam sehari melalui media elektronik. Dan seyogyanya pula secara individu maupun lembaga pemerintah turut menyumbangkan dana dan tenaga untuk melesatarikan dan mengembangkan budaya wayang, supaya tidak habis ditelan masa.

Dasar UNESCO dalam menetapkan Wayang untuk diproklamirkan sebagai Karya Agung Warisan Budaya Tak Benda

Format berkas dan kriteria pencalonan warisan budaya tak benda ditentukan secara rinci dalam buku petunjuk UNESCO. Persyaratan administrative criteria itu dipakai sebagai patokan oleh juri untuk menilai karya budaya yang diajukan. Jenis budaya yang diajukan harus mengandung :

  1. Kadar nilai warisan budaya tak benda yang luar biasa
  2. Ungkapan budaya berniali tinggi dari segi sejarah, seni sosiologi, antropologi, bahasa atau sastra.

Selain kriteria tersebut, berkas pencalonan harus memenuhi enam persyaratannya yang tersurat dalam Peraturan UNESCO mengenai mengenai Proklamasi Karya Agung Warisan Budaya Tak Benda :

  1. Nilai luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia
  2. Berakar dalam tradisi budaya atau sejarah budaya masyarakat yang bersangkutan
  3. Berperan sebagai sarana pernyataan jati diri bangsa atau suku yang bersangkutan, fungsinya sebagai sumber inspirasi pertukaran budaya, sebagai sarana membuat rakyat semakin dekat satu sama lain, serta peran sosialnya masa kini dalam masyarakat yang bersangkutan
  4. Kegunaan dalam penerapan keterampilan dan sifat teknik yang diperlihatkan
  5. Peranannya sebagai tradisi budaya yang hidup
  6. Resiko budaya yang bersangkutan bisa punah karena kekurangan sarana untuk melestarikan dan melindunginya.

Beberapa NGO yang telah mengevaluasi berkas Indonesia tentang wayang, antara lain : International Council for Traditional Music, International Social Science Council, International Council for Philosophy and Humanistic Science, Union Internationale de la Marionnette (UNIMA-Persatuan Wayang Sedunia), International Theatre Institute dan International Council of Museums.

Dari 59 berkas yang dikirim dari berbagai Negara, ternyata Wayang Indonesia memenuhi segala syarat sehingga lulus dan diproklamirkan menjadi Karya Agung Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Ini merupakan prestasi SENA WANGI atas nama bangsa Indonesia.