TEGUH SUPRIYANTO lahir di Banyumas pada hari Sabtu Pon atau tanggal 7 Januari 1961. Ia adalah anak pertama pasangan R.Tarsan Soedibjo dengan Rr. Mas’ah Soedibjo. Dari darah ayahnya adalah keturunan ke 13 Sultan Hadiwijaya di Pajang sedangkan dari darah neneknya keturunan Yudonegoro II cicit Sultan Amangkurat Agung di Mataram. Oleh karena itu semasa kecil sudah mulai dikenalkan cerita wayang terutama buku Baratayudha dan Mahabarata dalam keluarga.

Bahkan salah satu keluarga kakeknya mempunyai seperangkat gamelan dan wayang sehingga sejak kecil suka menonton wayang. Semasa di SDN II Danaraja, Purwonegoro Banjarnegara Teguh suka sekali menggambar wayang di kardus sehingga ketika di kelas 5 sudah mempunyai wayang kardus sekotak yang sebagian besar buatan Teguh sendiri. Th 1972 Teguh tamat sekolah dasar dan melanjutkan studi di SMP Mandiraja hingga 1975.

Selanjutnya melanjutkan studi di SPG N Banjarnegara dan tamat 1979. Sempat mengajar sebagai pegawai negeri selama 2 tahun selanjutnya melanjutkan studi di Jurusan Sastra Daerah (Sastra Jawa) Universitas Sebelas Maret Surakarta dan lulus sebagai sarjana sastra tahun 1986. Pada masa studi di UNS itulah Teguh menemukan kembali hobinya mendalang dan banyak buku-buku teks Jawa Kuno yang dibacanya semasa studi di S1 dan sering mengikuti acara bulanan Rebo Legen di Natadiningratan tempat dalang kondang tersebut. Ia sering berdiskusi dengan dalang kondang Ki H Anom Suroto. Ia adalah penggemar berat dalang kondang tersebut bermula dari ayahandanya tahun 1974 membelikan kaset wayang Wisanggeni Lahir dalang Ki H Anom Suroto.

Tahun 1990 diterima sebagai dosen di IKIP Semarang yang di kemudian hari berubah menjadi Universitas Negeri Semarang. Sebelum menjadi dosen, ia sempat nyantrik di Sekar Podo Pimpinan dalang kondang di daerah Banjarnegara, yaitu Ki Sunyana pada 1988-1989. Pernah mendalang beberapa kali dan bahkan mendalang di RELC –Seameo Singapore (1992) ketika ada acara cultural meeting sewaktu mengambil studi diploma dalam penelitian bahasa.

Tahun 1994 melanjutkan studi S2 bidang ilmu sastra di UGM. Gelar Doktor Ilmu Budaya bidang ilmu sastra diraih pada 2006 di Universitas Gadjah Mada. Sejak bergelar Magister Humaniora ia sering menjadi nara sumber mengenai kebudayaan Jawa di RRI Semarang, diskusi di forum budaya seperti Paramesti, Embun Pagi, dan di kampus-kampus seperti Histeria Undip, dan Selasa Legen Unnes. Beberapa karyanya berupa naskah cerita wayang disampaikan di acara Dunia Seni seperti Kunjarakarna, Smara Dahana, Arjuna Wiwaha, Smaradahana. Beberapa buku antara lain Teks dan Ideologi, Penelitian Stilistika dalam Prosa terbitan Pusat Bahasa beredar di perpustakaan universitas terkemuka di dalam dan luar negeri.

Pernah beberapa kali diminta menjadi pengamat dan juri mengenai wayang, festifal wayang di Lampung, dan beberapa diskusi mengenai wayang di Taman Raden Saleh Semarang.Kini ia tinggal bersama keluarganya di Jalan Handayani 1 no 71 Perumahan Trangkil Sukorejo Gunungpati Semarang bersama Sutji Harijanti dan ketiga anaknya: Rr. Gusti Pandan Wangi, Rr.Gusti Rara Wulan, dan R Gusti Haryo Glagah Putih.