SUMARI, lahir,  Sukoharjo 12 Juni 1970. Walau lahir bukan dari keluarga dalang, namun sejak kecil sudah menyenangi wayang.  Setiap kali ada pertunjukan wayang kulit maupun wayang orang di daerahnya sering kali diajak orang tuanya untuk menonton. Ketika kecil,ia suka bermain umbul yang bergambar wayang. Dalam keluarga Sumari salah satu kakaknya menyewakan perangkat sound system yang mengoleksi kaset-kaset wayang, khususnya dalang Ki Anom Suroto. Ia betah semalam suntuk mendengarkan kaset wayang diputar di tempat orang hajatan yang menyewa sound system kakaknya.

Selepas lulus  SPG tahun 1990, Ia ikut tes masuk PGSD, setingkat D2 untuk bidang keguruan Sekolah Dasar,sayang tidak lulus. Tanpa sepengahuan orang tuanya ia melanjutkan ke STSI Jurusan Pedalangan. Setelah dua tahun kuliah di STSI Surakarta, kebetulan saudara perempuannya akan menikah. Kesempatan tersebut digunakan untuk membuat kejutan untuk kedua orang tuanya dengan unjuk kebolehan mendalang. Sejak itu masyarakat mulai mengenal dan mengundangnya untuk mendalang.

Di STSI, Sumari termasuk aktivis kampus. Ia Lulus Sarjana Seni Pedalangan STSI tahun 1997. Dalam sebuah kesempatan shalat magrib berjamaah di sebuah sarasehan wayang di Yogyakarta, Ia untuk pertama kali berkenalan dengan Bapak Solichin. Ketika itu beliau adalah Ketua I SENAWANGI. Ia memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di SENAWANGI. Atas rekomendasi Pak Solichin terbitlah Surat Keputusan Senawangi No. 01 tahun 1997 tanggal 7 Maret 1997 yang ditandatangani Dr. Soedjarwo selaku Ketua Umum Senawangi. Sejak itu Sumari diangkat sebagai karyawan SENAWANGI, diperbantukan di bagian Litbang Senawangi. Sebagai Ketua Litbang SENAWANGI periode 1997-1999 adalah Ir. Haryono Haryoguritno dengan kantor di Rawamangun. Sejak saat itulah kiprah Sumari di SENAWANGI dimulai.

Tugas raksasa langsung menghadangnya,  Ia terlibat pada Proyek Penyusunan Buku Ensiklopedi Wayang Indonesia, sebagai penulis dan koordinator kontributor naskah.  Buku Ensiklopedi wayang telah disusun menjadi 6 Jilid diterbitkan oleh SENAWANGI dan dicetak PT Sakanindo Printama tahun 1999.

Sumari dikenal sebagai pekerja yang tekun,  gigih dan ulet. Dikenal sebagai penjaga gawangnya PDWI (Pusat Data Wayang Indonesia) SENAWANGI. PDWI merupakan pusat data elektronik dengan penyajian informasi multimedia. Dengan sarana teknologi ini diharapkan data dapat disusun dan informasi dapat disebarkan secara efektif dan efisien sesuai perkembangan zaman. Selain aktif di PDWI juga ditunjuk sebagai koordinator acara Talk Show “Cempala” kerjasama Senawangi dengan TVRI 2001-2006. Talk Show “Cempala” bertujuan menghibur sekaligus membuat pencerahan terhadap masyarakat penikmat wayang melalui diskusi interaktif, dengan wayang sebagai acuan.

Pada tahun 2001 atas perjuangan Ketua Umum SENA WANGI, Bapak Drs. Solichin, Sumari diangkat sebagai Pegawai negeri Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata yang diperbantukan di SENA WANGI. Seiring Kebudayaan dikembalikan ke Kementrian Pendidikan maka pada tahun 2014  status kepegawaiannya juga dialihkan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tahun 2002, SENA WANGI  mendapat tugas dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata agar menyiapkan proposal wayang Indonesia untuk diajukan ke UNESCO karena wayang akan diproklamirkan sebagai Masterpice of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Karya Agung Budaya Dunia. Selanjutnya SENA WANGI menugaskan kepada Sulebar M. Soekarman, Wiyono Undung Wasito dan Sumari untuk menyusun laporan dan dokumentasi “Wayang : The Traditional Puppetry and Drama Indonesia” untuk memenuhi aplikasi SENA WANGI kepada UNESCO. Setelah melalui serangkaian riset dan seminar selama enam bulan, proposal berupa laporan pencalonan Karya Agung Budaya Dunia selesai dan dikirim ke UNESCO.

Pada tanggal 7 November 2003 UNESCO menetapkan Wayang Indonesia sebagai a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau sebagai Karya Agung Budaya Dunia. “UNESCO Hereby Proclaims Wayang Puppet Theatre Indonesia, a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity”. Inilah kalimat yang tercantum pada Piagam Penghargaan UNESCO untuk wayang Indonesia. Kalimat sakti yang mampu mengangakat seni budaya wayang Indonesia ke pentas dunia. Prestasi budaya bangsa Indonesia yang luar biasa dan bisa mengangkat citra Indonesia di mata dunia.

Patut disyukuri di tengah-tengah krisis melanda tanah air, seni budaya wayang berhasil mencapai puncak prestasi. Dan Pada tahun 2005-2007 ditunjuk sebagai Koordinator Project Unesco,untuk  Pendidikan dan Pelatihan Pedalangan di 14 Sanggar Pilot Project UNESCO.

Disamping aktif di SENA WANGI juga aktif di PEPADI Pusat. Antara lain sebagai Bendahara II  PEPADI tahun 1997-2001. Anggota Bidang Diklat tahun 2003-2008 dan Ketua Bidang Diklat tahun 2008-2013.  Dengan kesibukan sebagai karyawan maupun pengurus SENA WANGI dan PEPADI Pusat Sumari menyempatkan diri mengambil kuliah Pascasarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE IPWIJA) dengan mengambil Program Studi Magister Manajemen, Konsentrasi Manajemen Pemasaran lulus tahun 2005. Disamping itu juga mengikuti Program Pengembangan Eksekutif Manajemen Proyek Pertunjukan Seni  tanggal 16-21 Mei 2005 di Lembaga Manajemen PPM.

Selain aktif di organisasi pewayangan dan pedalangan juga terlibat sebagai tenaga ahli penelitian dan pendokumentasian wayang Indonesia bekerjasama dengan Museum Wayang Jakarta. Penelitian wayang yang pernah dilakukan antara lain : Wayang Palembang (2009), Wayang Sawahlunto (2010), Wayang Banjar (2011), Wayang Sasak (2012), Wayang Jawatimuran (2013), Wayang Cirebon (2013), Wayang Bali (2013). Selain itu juga pernah ditunjuk sebagai tenaga ahli dalam sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara MPR RI lewat pertunjukan wayang diberbagai kota di Indonesia tahun 2010-2013. Pada tahun 2004 mendapat penghargaan  dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata atas partisipasinya yang luar biasa dalam bidang pewayangan.

Bersama Heru S. Sudjarwo dan Undung Wiyono menyusun buku Rupa dan Karakter Wayang Purwa yang diterbitkan dan dicetak Kaki Langit Kencana  tahun 2010. Ia juga menjadi salah satu Kontributor penulisan buku Tokoh Wayang Terkemuka yang diterbitkan SENA WANGI 2014. Tahun 2014-2015 pekerjaan raksasa terulang kembali. Ia ditunjuk sebagai Ketua Tim Revisi Buku Ensiklopedi Wayang Indonesia.