SOLICHIN lahir di desa Nglawak, Kertosono, Jawa Timur pada Senin 10 Maret 1939. Anak desa dari keluarga petani ini tumbuh dalam masyarakat agraris dengan budaya tradisional yang kental. Walaupun di masa kanak-kanak sampai dewasa menempuh pendidikan modern, nilai-nilai tradisi Jawa tetap mewarnai sikap dan perilakunya. Berbekal budipekerti yang baik itu Solichin berusaha mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. Dengan ridho Allah SWT, Solichin berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan mulai bekerja di Departemen Perindustrian, Jakarta. Berbekal ilmu dari almamater dan pengalaman berorganisasi di HMI, karier Solichin dipemerintahan berjalan lancar dan berhasil menduduki jabatan eselon satu di Kantor Menteri Koordinator 9Menko). Karena prestasi kerjanya, pada tahun 1999 Solichin menerima anugerah Bintang Mahaputera Utama RI. Suatu penghargaan yang membanggakan.

Keberhalisan Solichin diperintahkan itu tidak lepas dari dukungan keluarga. Pada tahun 1968 Solichin menikah dengan Susilowati dan dikaruniai 3 putera puteri dengan dengan menantunya yaitu Sigit Setiawan Rahmi Lestari, Elok Satiti Ibnu Agung Mulyanto, Endah Lestari Wahyu Basuki Wiryawan dan 5 cucu yaitu Sahadewa Setia Prabantana, Hapsari Ataya Mulyanisa, Rafif Satria Mulyaputra, Rangga Wicaksana dan Rania Nareswari. Keluarga sejahtera merupakan kekuatan untuk meniti karier serta beramal ibadah.

Ditengah-tengah kesibukan keluarga dan bekerja melaksanakan tugas negara, Solichin masih aktif di pewayangan. Sejak kecil Solichin gemar wayang, belajar menjadi dalang wayang kulit dan mengurus organisasi wayang dan pedalangan. Solichin pernah menjadi Ketua Umum PEPADI Pusat dan hingga kini masih menjadi Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesoa (SENA WANGI) serta Katua Presidium Asosiasi Wayang ASEAN. Wayang dipacu untuk maju dan pada tahun 2003 UNESCO memproklamirkan Wayang Indonesia sebagai karya agung budaya dunia. Suatu prestasi budaya bangsa Indonesia yang membanggakan.