SHOLEH ADIPRAMONO, adalah seniman multi talenta, sebagai seniman tari juga sebagai seorang dalang baik wayang topeng maupun wayang kulit gaya Malangan. Ki Sholeh Adipramono mulai belajar mendalang sejak tahun 1969 dan pernah kursus pedalangan di Taman Budaya Surabaya. Latar belakang pendidikan kesenian yang diraih antara lain: SMKI Surabaya yang dulu bernama Konservatori dan pada tahun 1976, melanjutkan ASTI Yogyakarta pada tahun 1983 dan pernah mengenyam satu tahun di ISI Yogyakarta pada tahun 1984.

Ki Sholeh Adipramono sekarang aktif mengelola Padepokan Mangun Dharma di Kemulan Tulus Besar, Tumpang Malang. Sanggar tersebut bergerak dalam bidang seni pertunjukan, baik tari, karawitan, jaranan, macapat, wayang topeng maupun wayang kulit gaya Malangan.

Ki Sholeh Adipramono menikah dengan wanita  dari Amerika yang bernama Karen Elizabeth Sekar Arum, yang belajar sinden  dan dia juga mahir dan menguasai beberapa tarian termasuk tari Ngremo.

Ki Sholeh Adipramono aktif di organisasi pedalangan, pernah menjabat Ketua Umum PEPADI Kabupaten Malang, Seksi Litbang PEPADI Jawa Timur. Sesepuh Padatan Jawa Timur. Ia menulis buku Sesaji Raja Soya berisi tentang pengetahuan wayang gagrak Malang. Ki Sholeh juga menulis  naskah pedalangan wayang topeng dengan lakon Paseban Cikal Bakalipun Kitha Malang. Selian pentas di beberapa kota besar di Jawa Timur dan Jakarta, Ia pernah manggung di  Wisconsin Amerika, Los Angeles dan pernah ikut pameran wayang di Museum Padi Dunia.

Ki Sholeh Adipramono berkeinginan bahwa wayang kulit Jawatimuran gaya Malang juga sangat perlu diapresiasikan kepada khalayak. Caranya dengan mnyajikan garapan baru baik dari sisi sanggit, sastra, gending, sabet. Misalnya apabila  adegan Mandura sebaiknya dalang harus menyesuaikan dialog dengan menggunakan bahasa Madura.

Menurut Ki Sholeh Adipramono, ciri iringan wayang kulit Jawatimuran gaya Malang banyak menggunakan garapan karawitan laras pelog. Menurut sejarah seni gamelan sudah ada sejak pada zaman Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-8 sebelum kerajaan Singasari berdiri. Situs Kerajaan Kanjuruhan  terletak sebelah barat sungai Brantas, tepatnya di desa Kanjuruan, Kecamatan Sukun Kabupaten Malang. Pada zaman ini sudah ada embrio gamelan, dibuktikan dengan adanya prasasti Kacuk yang menyebutkan ada besalen untuk pembuatan gamelan/gangsa walaupun nadanya masih terbatas yaitu (1 – 6 – 5 : Ji, Nem, Ma).