Rincian

Sriwidari

SRIWEDARI termasuk perkumpulan Wayang Orang komersial yang tertua di Indonesia. Didirikan tahun 1911, perkumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas secara tetap di ‘Kebon Raja’- yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta, di pusat kota Surakarta. Setelah mengalami masa jaya selama puluhan tahun, Sriwedari pernah ‘tidur’ selama masa pen-dudukan Jepang, dan pada awal zaman kemerdekaan. Situasi saat itu memang membuat dunia seni lesu. Sriwedari mulai aktif lagi sewaktu keadaan mulai aman, tahun 1950-an.

Pada awal dekade 1960-an, kelompok Wayang Orang kebanggaan masyarakat Surakarta ini mencapai zaman keemasannya. Pada saat itu lahirlah seniman seniwati terkenal, di antaranya Rusman dan Darsi, serta Surono. Selain memiliki penggemar fanatik di Surakarta, kadang-kadang mereka diundang main di Istana Negara di Jakarta, atas undangan Presiden Sukarno. Mulai awal tahun 1980-an berbagai kelompok Perkumpulan Wayang Orang, mulai ditinggalkan penggemarnya. Begitu juga W.O. Sriwedari.

Di gedung pertunjukannya di pusat Taman Hiburan Sriwedari, misalnya, pada tahun 1989 — dari sekitar 600 kursi penonton yang tersedia, seringkali hanya terisi belasan orang penonton, sebagian di antaranya wisatawan asing. Meskipun semua penari dan penabuh gamelan mendapat gaji tetap selaku pegawai negeri, pamor W.O. Sriwedari tetap saja makin pudar, terutama sesudah Rusman dan Darsi meninggal dunia. Pada awal tahun 1992, bila hujan turun, sisi kanan gedung pertunjukan itu bocor sehingga airnya menggenangi lantai penon-ton bagian depan. Sejak awal 1993, dilakukan perbaikan menyeluruh terhadap gedung pertunjukan Sriwedari. Sebelum Perkumpulan Wayang Orang Sriwedari mengadakan pertunjukan secara tetap pada tahun 1911, pentas Wayang Orang di tempat itu diisi oleh berbagai perkumpulan Wayang Orang.

Pada tahun 1899, sewaktu Kanjeng Raden Adipati Sasradiningrat merampungkan tugasnya mendirikan Taman Sriwedari di Surakarta, yang mula-mula mengisi pertunjukan Wayang Orang di tempat itu adalah perkumpulan Wayang Orang pimpinan juragan Babah Lie Wat Gien. Pertunjukan hanya dilakukan pada acara maleman, yakni pada bulan puasa.  Sesudah itu, beberapa tahun berikutnya yang mengisi adalah perkumpulan Wayang Orang pimpinan juragan R.M. Sastratenaya. Kemudian pada sekitar tahun 1920-an, yang mengisi adalah para abdi dalem kepatihan.

Lokasi

Info Kontak

  • Address
    Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia