SENA WANGI mendapatkan kehormatan menghadiri undangan Myanmar Theatrical Association untuk berpartisipasi dalam First International Puppet Festival dari tanggal 23 sd. 27 Maret 2018 di National Theatre Yangon. Agenda acara terdiri dari Workshop Budaya dan Festival.  

Keikutsertaan SENA WANGI dalam festival tersebut untuk tetap menjaga kepercayaan dunia lnternasional berkenaan dengan reputasi Indonesia di bidang Pewayangan.

Dalam First International Puppet Festival, Indonesia mengirimkan materi pertunjukan kolaborasi Wayang Kulit, Wayang Golek dan Wayang Orang yang dikemas dalam garapan yang menarik sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus bentuk pengembangan pertunjukan Wayang Indonesia. Pertunjukan Wayang berdurasi padat tersebut didukung oleh 5 orang artis yang hebat pada bidangnya yaitu :

  1. Santi Dwi Saputri Artist Wayang Orang
  2. Nanang Ruswandi Artist Wayang Orang
  3. Bimo Sinung Widagdo Artist Wayang Kulit
  4. Muchamad Irawan Artist Wayang Kulit
  5. Den Gala Artist Wayang Golek Sunda

dan sebagai pimpinan rombongan sdri Wahyu Wulandari.

First International Puppet Festival diikuti oleh 10 negara dengan urutan penampilan Myanmar, Thailand, Australia, Indonesia, Israel, India, USA, Cina, Perancis, Jepang.

Jumlah penonton yang hadir di National Theater Yangon saat Festival digelar tidak kurang dari 700 penonton, yang terdiri dari kalangan Pejabat setempat, Wakil dari Kedutaan terutama yang negaranya mengikuti Festival, Akademisi bidang Kebudayaan, Pelajar dan Mahasiswa, penonton umum.

Kontingen Indonesia yang mendapat giliran tampil urutan ke 4 rupanya telah ditunggu oleh sebagian besar penonton, mengingat Indonesia dipandang sebagai negara dengan beragam wayang. Tidak mengherankan ketika Wayang Indonesia tampil penonton sangat antusias. Tepuk tangan bergemuruh seusai penampilan Wayang Indonesia.

Namun ada hal yang tersisa untuk menjadi perenungan bersama ketika kita tampil pada ajang yang sama di belahan dunia sana. Kesenjangan mendasar dari makna “WAYANG” yang bukan sekedar “PUPPET” perlu mendapat perhatian. Sebagian peserta tampil hanya sebagai pertunjukan puppet yang menghibur, ramai, sementara Wayang Indonesia tampil dengan penuh syimbol syimbol dan nilai filsafati, karena bagi kita, WAYANG adalah “Wewayanganing Urip” tidak sekedar boneka yang dimainkan dengan menarik.

Tancep Kayon