Pengertian

Wayang Sawahlunto adalah nama salah satu jenis wayang kulit purwa yang terdapat di kota Sawahlunto dengan alamat : Sanggar Kesenian Wayang Kulit Bina Laras Jl. Sukarno-Hatta No. 13 Rt.02 Rw. III. Kl. Durian II Kecamatan Berangin Kabupaten Sawahlunto Propinsi Sumatera Barat.

Sampai saat ini kelompok kesenian wayang yang ada di Sanggar Bina Laras hanya tinggal satu-satunya di Kota Sawahlunto, dikelola oleh satu keluarga yang berupaya melestarikannya oleh karena  suatu panggilan jiwa. Upaya pelestarian yang dilakukan oleh satu keluarga tersebut diatas bukan menjadi sumber mata pencaharian melainkan atas dasar kesadaran ikut serta melestarikan bentuk kesenian tradisional. Selain kelompok kesenian Wayang Kulit Bina Laras yang tinggal satu-satunya, seperangkat wayangnyapun juga tinggal satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga tersebut.

Asal-usul  Wayang Sawahlunto

Tidak ada sumber sejarah yang otentik mencantumkan data-data sejarah mengenai asal-usul wayang di Sawahlunto Sumber yang ada hanyalah dari tradisi tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi,  terutama dari mantan pemain gamelan dan dari pemilik wayang yang ada di Kota Sawahlunto yang sampai sekarang tetap melestarikan tradisi wayang kulit Sawahlunto. Namun bila dilihat dari bentuk rupa atau boneka  wayang tidak dipungkiri bahwa wayang yang ada di Kota Sawahlunto berasal dari Jawa khususnya gaya Surakarta.

Menurut Sumiyar (80)  pengrawit/penabuh gamelan di Sungai Durian, Kota Sawahlunto, mengatakan bahwa pertama kali ada pementasan wayang kulit di Kota Sawahlunto adalah pada tahun 1901, bersamaan dengan eksisnya Pertambangan Batubara di Sawahlunto (Wawancara, 19 November 2010). Pendapat Sumiyar ini didasarkan pada pementasan Ki R. Ardjo Purwoko seorang dalang di Sawahlunto yang mulai pentas pada tahun 1901-1951 yang mana Sumiyar sendiri menjadi salah satu penabuh gamelan Ki R. Ardjo Purwoko. Pendapat ini juga diperkuat oleh H. Sajiman (Pemilik/Ketua Sanggar Wayang Kulit Bina Laras) dan Sriyanto (Dalang/Dosen Institut Seni Padangpanjang-Sumatera Barat) (Wawancara, 19 November 2010).

Lebih lanjut menurut Sriyanto bahwa sejarah lahirnya wayang di Sawahlunto tidak lepas dari kehidupan dan sejarah perkembangan  Kota Sawahlunto yang terkenal sebagai kota dengan hasil bumi dan tambang Batubaranya. Seperti diuraikan diawal, sejarah Kota Sawahlunto berawal ketika pada tahun 1855-1930 Eropa mengalami krisis ekonomi, yang  mengakibatkan  perekonomian Belanda diambang kehancuran, Pemerintah Belanda kemuudian mengganti  tapuk kepemimpinan di Batavia yang semula dijabat  oleh Jendral Van Limburg Stirum, Menurut pemerintah Belanda politik etis yang dijalankan oleh Jendral Van Limburg Stirum sudah tidak sesuai lagi, Jendral Volk  kemudian dikirim ke Batavia untuk menggantikannya, Politik baru yang diterapkan oleh Jendral Volk dirasa oleh bangsa Indonesia semakin tertekan dan terjadi ketimpangan-ketimpangan. Hal ini sehingga memicu pemberontakan dimana-mana.

Atas perintah Departemen Kehakiman Belanda, akhirnya Belanda menangkap dan membawa orang-orang yang dianggap mengganggu jalannya pemerintahan Belanda  untuk dibawa ke Sawahlunto. Setelah sampai di Sawahlunto para tahanan yang menurut pemerintah Belanda dianggap pemberontak, akhirnya dipekerjakan secara paksa untuk menjadi buruh dalam pengerjakan proyek2 besar Belanda. Para tahanan atau pekerja inilah yang kemudian disebut orang-orang rantai/keting hanger yang direkrut di Sawahlunto tahun 1862-1938. Para manusia rantai inilah orang-orang yang sulit mengelak dari kekejaman Belanda, puluhan ribu orang yang telah didatangkan dari beberapa pulau di Tanah air dengan menggunakan kapal uap yang berlabuh di Teluk Bayur kemudian dibawa melalui kereta api.

Manusia rantai sering mendapat siksaan yang sangat keji, lecutan cambuk dan pukulan tongkat dari mandor antek-antek Belanda maupun acungan senjata marsose-marsose  Belanda  menjadi makanan tiap saat Kehidupan di dalam tambang Batubara tak hanya gelap dari cahaya namun membuat gelapnya perasaan yang selalu ditekan dan mendapat perlakuan yang sangat-sangat tidak manusiawi. Banyak mandor pribumi yang tidak memihak kaum pribumi, justru sebaliknya hanya mencari muka dihadapan majikan-majikannya dan hanya nuntuk meraup keuntungan penjajah dan pribadi. Laksana tak ada ruang untuk istirahat dan melepas lelah, jeruji besi dan ruangan yang sangat sempitlah orang-orang rantai berdesak-desakan, satu-persatu jiwa mereka berguguran karena kelelahan, udara yang mereka hirup, kesakitan akibat  siksaan yang sangat brutal dan pedih.

Selain orang-orang rantai yang bekerja di tambang Batubara, juga terdapat kuli kontrak yang sebagain besar juga didatangkan dari berbagai penjuru di tanah air khususnya dari Jawa. Sehingga diperkirakan wayang tersebut dibawa oleh orang-orang kuli kontrak yang berasal dari Jawa.

Pada saat-saat senggang para kuli kontrak ini memerlukan hiburan sehingga mereka mengekpresikan diri  dengan berbagai kemampuan berkesenian diantaranya adalah mendalang atau mempertontonkan wayang kulit.

Silsilah Dalang

Keberadaan dalang yang pernah eksis di Sawahlunto menurut Sriyanto adalah sebagai berikut :

  1. Tahun 1901-1951 dalang Ki Raden Ardjo Purwoko. Pada tahun 1951 menggunakan perangkat gamelan milik Saniman, yang nama gamelan serta grupnya dinamakan Paguyuban LKU (Langen Kridha Utama). Ki Raden Ardjo Purwoko ini pentas setiap minggu di daerah Ombilin.
  2. Tahun 1930-1946 dalang Ki Jenggot.
  3. Tahun 1935-1968 dalang Ki Sukimin
  4. Tahun 1939-1976 dalang Ki Rono
  5. Tahun 1946-1950 dalang Ki Suradi.
  6. Tahun 1966-1994 dalang Ki Karjo
  7. Tahun 2005-Sekarang  dalang Ki Slamet yang berasal dari Kampung Subang-Jumapolo- Karangannyar (Jawa Tengah)
  8. Tahun 2008-Sekarang  dalang  Ki Sriyanto yang berasal dari Sukoharjo (Jawa Tengah).

Pada saat penelitian berlangsung, peneliti tidak dapat menggali informasi dari  dalang Ki Slamet  karena sedang ada keperluan di luar kota sehingga peneliti hanya dapat menggali informasi dari dalang Ki Sriyanto.

Ki Sriyanto S.Sn., M.Sn yang nama kecilnya bernama Bandung Sriyanto lahir di Desa Pulerejo, Krajan, Weru Sukoharjo Jawa Tengah 24 Juli 1975 . Ia anak Sukiyem dengan Diyaman Wardo Satoto. Namun sejak kecil Sriyanto diasuh oleh Suratmin. Sejak SD ia sudah bisa memainkan gamelan dan mendalang. Setelah lulus SMP ia melanjutkan pendidikan di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) Surakarta dengan mengambil Jurusan Karawitan. Setelah lulus SMKI ia melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi yaitu di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Surakarta, Jurusan Karawitan, lulus tahun 2000. Pada tahun 2003 ia diangkat sebagai tenaga honorer di Jurusan Pedalangan. Tahun 2003 ia mengambil Pasca Sarjana di ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta mengambil minat Pengkajian Seni, lulus 2007. Disamping kuliah ia juga menjadi salah satu crew karawitan ABDI (Amardi Budaya Dadi Indah) yang mengiringi dalang Ki H. Anom Suroto dari Surakarta

Pada tahun 2008 Sriyanto diangkat sebagai dosen Karawitan di Istitut Seni Indonesia Padang Panjang Sumatera Barat. Disamping mengajar di ISI Padang Panjang dia juga mengajar karawitan di Sanggar Wayang Kulit Bina Laras yang beralamat di Jl. Sukarno-Hatta no. 13 Rt. 02 Rw 3 Kl. Durian II Kec. Berangin – Sawahlunto setiap hari sabtu dan Minggu sampai sekarang.

Sriyanto juga melayani masyarakat jika ingin mengundangnya untuk mendalang baik di Kota Sawahlunto maupun di luar Kota Sawahlunto. Rata-rata pentasnya adalah 2 bulan sekali. Untuk menarik penonton khususnya masyarakat Sawahlunto Sriyanto mengadopsi bahasa Tangsi (bahasa khas Sawahlunto) ke dalam pertunjukan wayang kulit. Disamping itu dia juga menciptakan beberapa lagu/gending yang mengambil tema atau bernuansa Kota Sawahlunto antara lain : Mak Item dan Mars Sawahlunto.

Perlengkapan Pentas

Boneka Wayang

Walau diperkirakan pada tahun 1901 sudah ada pertunjukan wayang kulit namun perangkat wayangnya sampai sekarang sudah tidak terlacak lagi keberadaannya. Sedang wayang yang ada di Sanggar Wayang Kulit Bina Laras sekarang ada dua kotak atau  jenis yakni wayang kulit  lama dan wayang kulit baru.

Wayang kulit lama yang ada di Sanggar Wayang Kulit Bina Laras menurut pemiliknya yakni H. Sajiman dibuat pada tahun 1935. Pendapat ini juga diperkuat oleh Sumiyar (80)  pengrawit/penabuh, wayang tersebut pada awalnya milik Ki Sukimin yang mulai mendalang tahun 1935 dan meninggal tahun 1968.

Menurut Piah (istri Ki Sukimin) yang disampaikan oleh H. Sajiman bahwa wayang tersebut dibeli Ki Sukimin dari Kabupaten Sawahlunto Sijunjung dengan 5 ekor sapi pada tahun 1935 namun tidak disebutkan pemiliknya. Selanjutnya wayang berpindah ke dalang Ki Rono yang meninggal tahun 1976. Wayang selanjutnya dibeli oleh dalang Ki Karjo sampai meninggal tahun 1994. Setelah Ki Karjo meninggal, sejak 1998 wayang dibawa H. Sajiman sampai sekarang (2010).

Wayang Sawahlunto yang dibuat pada tahun 1935 tersebut berjumlah 90 buah. Wayang tersebut selalu dipamerkan setiap ada acara atau kegiatan-kegiatan di Kota Sawahlunto diantaranya hari jadi sawahlunto yang diperingati setiap tanggal 1 Desember. Sejak tahun 2005-2007 wayang tersebut dipakai Ki Slamet pada setiap kali mendalang (Wawancara 19 November 2010).

Menurut H. Sajiman, ada yang unik dari wayang versi lama tersebut yakni tokoh panakawan khususnya Semar, Gareng dan Petruk tidak mau dicampurkan atau disatukan dengan wayang lainnya. Ketiga wayang tersebut minta diselimuti kain putih. Bila ketiga wayang tersebut disatukan dengan wayang lainnya, maka akan memarahi H. Sajiman lewat mimpi. Dalam mimpi tersebut H. Sajiman merasa ditemui dan dimarahi orang tua berjenggot panjang. Dan setiap akan memainkan wayang tersebut terlebih dahulu harus disyarati antara lain dibacakan do’a, sholawat maupun tahlil terlebih dahulu.

Selain wayang kulit lama, di Sanggar Bina Laras juga terdapat gamelan dan wayang kulit purwa baru. Gamelan dan wayang tersebut menurut H. Sajiman dibeli dari Ki Tarso dengan alamat Jumapolo – Karangannyar – Jawa Tengah pada tahun 2007. Gamelan dan wayang versi baru tersebut dibeli atas bantuan Ir. H. Amran Nur, Walikota Sawahlunto sebesar 230 juta yang bersumber dari APBD Sawahlunto 2007. Seperangkat gamelan yang dibeli bernada slendo dan pelog. Sedang wayang versi baru tersebut berjumlah 300 buah.

Sejak adanya koleksi wayang kulit baru tersebut maka setiap kali ada pementasan di Sawahlunto mulai akhir tahun 2007 sampai sekarang selalu menggunakan wayang kulit koleksi baru.

Gamelan

Menurut Sriyanto, pada masa dalang Ki R. Arjo Purwoko tahun 1951 menggunakan perangkat Gamelan milik Bapak Saniman dari Kampung Surian, yang nama gamelan serta Paguyubannya dinamakan Paguyuban LKU (Langen Kridha Utama).  Gamelan tersebut sempat menjadi milik H. Sajiman dari Sanggar Wayang Kulit Bina Laras, namun Seiring dengan pembelian gamelan baru atas bantuan pemerintah Kota Sawahlunto maka gamelan lama sejak 2007 telah dikembalikan ke Saniman untuk mengiringi kesenian Kuda Lumping.

Gamelan baru yang ada  di Sawahlunto sekarang berada di Sanggar Wayang Kulit Bina Laras yang dipimpin oleh H. Sajiman. Gamelan tersebut dibeli bersamaan dengan pembelian wayang kulit dengan harga 230 juta dari Tarso dengan alamat Jumapolo-Karanngannyar-Jawa Tengah. Gamelan tersebut bernada slendro pelog kwalitas bahan dari perunggu dengan rancakan kayu berukir. Gamelan tersebut terdiri antara lain :

  1. Demung 1 Kempul & Gong
  2. Demung 2 Gambang
  3. Saron 1 Bonang Barung
  4. Saron 2 Bonang Penerus
  5. Peking Siter
  6. Kenong Rebab
  7. Ketuk Kempyang Kendang
  8. Slentem Suling
  9. Gender
  10. Gambang

 

Suasana latihan di Sanggar Bina Laras dengan seperangkat gamelan versi baru yang dibeli pada Tahun 2007. (senawangi.com-sumari)

 

Kothak  dan Kecrek

Kotak yang digunakan sebagai penyimpanan wayang Sawahlunto maupun sebagai pendukung pergelaran terbuat dari kayu dengan ukuran panjang ……. cm lebar …….cm dan tinggi 54 cm. Sedang kecrek terbuat dari monel.

Secara umum keprak/kecrek adalah perlengkapan dalang dalam pentas yang terbuat dari Perunggu/Monel berjumlah + 4 buah yang dimainkan oleh kaki kanan sang dalang guna lebih membuat suasana mantap dan meriah. Adapun teknis Keprakan terdiri dari :  sisiran dan jejakan  guna menghidupkan setiap gerakan wayang.

Kelir

Kelir yang dipakai dalam pertunjukan Wayang Sawahlunto Terbentang sebagai panggung pertunjukan, untuk menggelar cerita dan memajang boneka-boneka wayang dalam simpingan wayang di kiri dan kanan. Sebagai alat penerangan menggunakan  lampu bolam/listrik.

Kelir warna putih  dengan langit-langit warna hitam  dan hiasan kuning emas dibentang memakai bambu. (senawangi.org-sumari)

Tata Panggung

Berdasarkan pengamatan peneiliti saat melihat pertunjukan wayang di Kota Sawahlunto pada Rabu, 20 November 2010 penataan panggungnya  adalah sebagai berikut :

Unsur Garap Pakelrian

Lakon

Seperti halnya wayang yang berkembang di Jawa, wayang Sawahlunto juga mengambil sumber cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata. Disamping cerita Ramayana dan Mahabharata atas inisiatif dalang Ki Srianto juga mengadopsi sumber cerita sejarah yang berkembang di kota Sawahlunto seperti cerita Orang Rantai (Wawancara, 19 November 2010)

Cerita ini mengkisahkan orang-orang pribumi Indonesia yang dianggap pemberontak atau dianggap mengganggu jalannya pemerintahan Belanda, mereka itu ditahan dengan kondisi kaki dirantai. Orang-orang tahanan tersebut lalu dipekerjakan secara paksa untuk menjadi buruh dalam pengerjakan proyek-proyek besar Belanda. Para tahanan atau pekerja inilah yang kemudian disebut orang-orang rantai/keting hanger yang direkrut di Sawahlunto tahun 1862-1938. Para manusia rantai inilah orang-orang yang sulit mengelak dari kekejaman Belanda, puluhan ribu orang yang telah didatangkan dari beberapa pulau di Tanah air dengan menggunakan kapal uap yang berlabuh di Teluk Bayur kemudian dibawa melalui kereta api.

Sedang cerita atau lakon lain yang sering dipentaskan sesuai dengan even kegiatan yang sedang berlangsung maupun disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat yang mayoritas beragama Islam. Sep

erti cerita : Dewaruci, Bimasuci dll.

Bahasa

Sebelum kedatangan dalang Sriyanto pada tahun 2008, dalang yang ada di Sawahlunto yakni Ki Slamet masih menggunakan bahasa Jawa. Atas inisiatifnya ia mulai mengadopsi bahasa lokal yang berkembang di Kota Sawahlunto yakni yang disebut bahasa Tangsi. Bahasa Tangsi tersebut digunakan pada saat adegan-adegan intermeso seperti adegan Cangik-Limbuk maupun agedan Goro-Goro. Penggunaan bahasa Tangsi ini untuk menarik penonton diluar orang Jawa yang ada di Sahlunto untuk bisa menikmati wayang yang diindentikkan sebagai kesenian milik orang Jawa. Disamping itu juga diselingi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Mengingat orang Jawa sendiri khususnya generasi muda juga sudah sulit mengerti dan memahami bahasa Jawa.  Berikut ini contoh kosa kata bahasa Tangsi :

Ke/kuwe                                   = kamu

Pigi                                          = Pergi

Onde Mande                           = aduh biyung

Girahan                                   = cucian

Ndak Ketok                              = ndak kelihatan

Alah                                         =  sudah

Alun                                         = belum

Seketek                                   = sedikit/sethithik

Awak/ambo                              = saya

Beko                                        = mengko

Mangkonyo/mangkane            = makanya

Indak baa                                = nggak papa/ora papa

Dhewekan/surang                   = sendiri

Kam/kamano                           = kemana

 

Sabet

Sabetan adalah istilah untuk pengungkapan gerak melalui boneka wayang sehingga dapat mengungkapkan rasa atau suasana sesuai dengan yang dikehendaki untuk mencapai kemantapan. Dalam pertunjukan wayang Sawahlunto sabetan yang ditunjukkan oleh Ki Sriyanto tidak ada bedanya dengan pola sabetan yang berkembang di Jawa khususnya gaya Surakarta.  Hal ini mengingat Ki Sriyanto sendiri berasar dari Sukoharjo-Jawa Tengah dan telah menyelesaikan Pasca Sarjana ISI Surakarta Jurusan Pedalangan.

Iringan

 

Pola iringan karawitan yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang di Sawahlunto sama dengan pola yang berlaku di pakeliran gaya Surakarta. Namun karena keterbatasan Sumber daya pengrawit maupun Swarawati sehingga pola karawitan yang digunakan disederhanakan disesuai dengan kemampuan para pengrawitnya. Sebagai contoh dibawah ini urutan gending yang dipakai Ki Sriyanto pada saat pertunjukan yang berlangsung di Gedung Pusat Kebudayaan Kota Sawahlunto Rabu, 20 Oktober 2010 adalah sebagai berikut :

  1. Adegan Jejer I

– Lancaran Ricik-ricik, Lrs. Slendro Manyura

  1. Budalan Sabrang

– Srepeg Slendro Nem

  1. Adegan Limbukan

– Mars. Sawahlunto, Pelog Nem

– Lancaran Kijing Miring, Laras Slendro Pathet Manyura

– Lagu Tangsi: Ndak Ketok-ketok.

– Lagu Tangsi:  Dhewek-dhewekan.

  1. Budalan

– Lancaran Tropong Bang, Laras Pelog Nem

  1. Goro-Goro

– Lagon Mas Bejo.

– Lagu Pepeling, Slendro Sanga.

– Lagu Mak Itam, Laras Pelog.

– Lagu Aja Dipleroki, Pelog Nem

– Srepeg Sanga

  1. Adegan manyura

– Sampak/srepeg Manyura

Pada saat adegan intermeso seperti adegan Cangik Limbuk dan Goro-Goro, Ki Sriyanto mencoba membuat lagu sendiri yang mengambil tema maupun disesuaikan dengan kondisi yang ada di Kota Sawahlunto seperti :  Mars. Sawahlunto, Ndak Ketok-ketok, Dhewek-dhewekan, Mak Itam dll

Dibawah ini salah satu contoh notasi dan syair lahu Mak Itam karya Ki Sriyanto.

Sawahlunto Kota Tambang Berbudaya,
Alam subur makmur aman dan Sentosa,
Kaya akan hasil bumi dan Budaya,
Bagai Mutiara yang memanccarkan cahaya,
Rakyat hidup rukun damai sejahtera,
Saling menjaga persatuan dan kesatuan,
Demi tercapainya visi misi Sawahlunto
Sawahlunto Kota Tambang Berbudaya…..(Ki Sriyanto, S.Sn, M.Sn)

Syair lagu di atas merupakan karya cipta Sriyanto, S.Sn,M.Sn, yang pernah dipergelarkan dalam acara pergelaran Wayang Kulit purwa semalam suntuk pada perayaan HUT Kota Sawahlunto pada tanggal 28 November 2008. Pergelaran wayang kulit tersebut menampilkan tiga dalang antara lain Ki Sriyanto atau yang biasa disebut Ki Bandung Sriyanto kelahiran Sukoharjo-Jawa Tengah yang sekarang bekerja sebagai dosen di jurusan seni Karawitan ISI Padangpanjang, sekaligus menjadi Pembina Karawitan dan wayang di Paguyuban Bina Laras di Kampung Sungai Durian Kota Sawahlunto. Selain Ki Bandung Sriyanto  juga penampilan dari dalang Ki Slamet dari Sawahlunto dan Ki Yanto dari Pasaman Barat serta menampilkan pelawak dan artis kondang dari Jakarta yaitu Topan dkk. Dalam penggarapan lagu tersebut menggunakan instrument atau perangkat gamelan Jawa, dengan para pemain gamelan yang berasal dari “Paguyuban Bina Laras” yang ada di Kota Sawahlunto, dengan bantuan vokal putri atau pesindhen dari Pasaman Barat Ibu Neneng Bejo, dan Ibu Sutini dari Kota Padang. Syair lagu diatas merupakan suatu penggambaran Kota Sawahlunto yang sangat unik dan multikultural, dengan slogannya yang terkenal “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya,” yakni kota yang kaya akan hasil bumi, wisata Tambang, seni budaya, maupun adat istiadat. Keragaman adat dan budaya tersebut semakin menambah nilai tersendiri bagi Kota Sawahlunto, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan aset wisata dan budaya Kota Tersebut. Kota Sawahlunto dapat diistilahkan miniaturnya Indonesia, walaupun terdiri dari berbagai suku, adat dan budaya, baik Suku Minangkabau, Jawa, Sunda, Batak dan sebagainya, yang kompleks dengan berbagai jenis kesenian tradisi , seperti Randai, Kuda Kepang, Wayang Kulit, Karawitan Jawa, Karawitan Sunda, Campursari, Saluang Dendang, Talempong, Seni Tor-tor, Seni Tari, Salawaik Dulang dan sebagainya. Namun mereka hidup saling berdampingan dan menjunjung tinggi kebersamaan dan kegotong-royongan. Itulah NKRI, terus jaga kebersamaan untuk mencapai Visi dan Misi bersama.

Wilayah Pentas

Keberadaan boneka wayang Sawahlunto  versi lama dan baru sekarang berada di Sanggar Wayang Kulit Bina Laras yang di pimpin oleh H. Sajiman dengan Alamat : Sukarno-hatta No. 13 Rt 02 Rw III. Kalurahan Durian II Kecamatan Berangin Kota Sawahlunto. Boneka wayang kulit Sawahlunto versi lama yang diperkirakan dibikin pada tahun 1935 terakhir kali dipentaskan pada bulan Fevruari 2007 oleh dalang Ki Slamet.

Menurut pengakuan dalang Ki Sriyanto sendiri rata-rata pentas hanya 2 bulan sekali.  Melihat dari data penduduk bahwa 40 % penduduk Kota Sawahlunto adalah orang Jawa yang diharapkan menjadi segmen pasar terbesar untuk menanggap wayang kulit namun kenyataannya jauh dari yang diharapkan.

Pementasan wayang di Kota Sawahlunto yang rutin diselenggarakan adalah dalam rangka hari jadi Kota Sawahlunto yang jatuh pada hari 1 Desember. Selain itu juga masyarakat Jawa dalam menggelar resepsi pernikahan.

Disamping mendalang di Kota Sawahlunto, sriyanto sendiri jangkauan pentasnya juga sampai di luar Kota Sawahlunto antara lain di Kabupaten Pasaman Barat – Sumatera Barat.

Makna Wayang Sawahlunto

Kota Sawahlunto yang sangat unik dan multikultural, dengan slogannya yang terkenal “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya,” yakni kota yang kaya akan hasil bumi, Wisata Tambang, Seni Budaya, maupun Adat Istiadat. Keragaman adat dan budaya tersebut semakin menambah nilai tersendiri bagi Kota Sawahlunto, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan aset wisata dan budaya kota tersebut. Kota Sawahlunto dapat diistilahkan miniaturnya Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku, adat dan budaya, baik Suku Minangkabau, Jawa, Sunda, Batak dan sebagainya, yang kompleks dengan berbagai jenis kesenian tradisi , seperti Randai, Kuda Kepang, Wayang Kulit, Karawitan Jawa, Karawitan Sunda, Campursari, Saluang Dendang, Talempong, Seni Tor-tor, Seni Tari, Salawaik Dulang dan sebagainya. Namun mereka hidup saling berdampingan dan menjunjung tinggi kebersamaan dan kegotong-royongan. Itulah NKRI, terus jaga kebersamaan untuk mencapai Visi dan Misi bersama.

Wayang merupakan salah satu seni budaya yang hidup di Kota Sawahlunto yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1901. Kesenian wayang menjadi salah satu aset budaya yang mesti dilestarikan dan dikembangkan di Kota Sawahlunto. Menurut keterangan Ki Sriyanto sendiri keberadaan wayang sejak jaman penjajahan Belanda sampai sekarang hanya untuk sekedar hiburan. Bila pada jaman Belanda dulu seiring dengan penggalian batu bara yang dilakukan oleh orang rantai maupun kuli kontrak maka wayang hanya sekedar untuk hiburan untuk mengungkapkan rasa rindu akan kesenian leluhurnya yang berasal dari Jawa. Sampai sekarang pun wayang hanya sekedar sebagai hiburan khususnya oleh orang-orang Jawa yang berada di Kota Sawahlunto.  Wayang hanya dipentaskan pada saat perayaan-perayaan perkawinan itupun prekwensinya tidak banyak. Hal ini berbeda jauh dengan kondisi di Jawa, wayang sudah menyatu dengan kehidupan adat istiadat masyarakat pendukungnya. Di Jawa wayang tidak sekedar sebagai hiburan tetapi juga dipergelarkan untuk upaacara-upacara ritual seperti bersih desa, ruwatan anak sukerta. Wayang juga dimanfaatkan sebagai  media dakwah maupun dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, bahkan tidak jarang wayang dimanfaatkan oleh para politikus untuk media kampanye untuk mengumpulkan massa.

Masyarakat Jawa yang ada diperantauan khususnya di Kota Sawahlunto masih ada yang rindu dan mentaati kepercayaan-kepercayaan adat-istiadat leluhurnya namun juga tidak jarang mereka sudah luntur adat-istiadatnya bahkan bahasa kesehariannya pun mereka sudah banyak yang luntur bahkan dianggap tidak bisa berbahasa Jawa.

Faktor Internal

Sumber Daya

Kendala yang dihadapi group wayang kulit di Kota Sawahlunto adalah keterbatasan Sumber Daya Seniman yang sangat terbatas baik penabuh gamelan maupun swarawatinya. Setiap kali ada pementasan wayang di Kota Sawahlunto mesti sebagian penabuh harus mengambil dari luar kota Sawahlunto termasuk Swarawatinya.

Kendala berikutnya adalah tidak adanya regenerasi yang mau belajar baik dalang, pengrawit maupun swarawatinya. Kebanyakan pengrawitnya sudah berumur diatas 50 tahun termasuk swarawatinya.

Dengan minimnya prekwensi pementasan wayang yang ada di Kota Sawahlunto, memang profesi sebagai seniman pewayangan baik dalang, penabuh gamelan maupun swarawati belum dapat menjanjikan kehidupan yang layak. Kebanyakan para seniman yang terlibat dalam group wayang Sawahlunto mereka hanya sekedar profesi sambilan sedang profesi pokoknya adalah para karyawan perusahaan, pegawai, tani, pedagang, bahkan ada yang mantan anggota legislatif.

Keterbatasan Garap

Keterbatasan dalam penggarapan unsur-unsur pertunjukan Wayang Sawahlunto baik penguasaan gending-gending, maupun garapan iringan pakeliran dan sindenan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain latar belakang pendidikan yang rendah dan usia yang sudah lanjut dari para group Wayang kulit Bina Laras sehingga sangat sulit dan lama untuk menyerap dan menguasai karawitan yang diajarkannya.

Faktor Eksternal

Perubahan Sosial Masyarakat

Kemajuan yang terjadi akibat proses industrialisasi diantaranya telah membawa perubahan pada pola konsumsi, tata nilai serta hubungan kekeluargaan. Salah satu ciri yang tampak adalah kecenderungan hidup keras, individualisme dan kurang religius. Konsekwnsinya adanya akulturasi antara kebudayaan luar dan kebudayaan asli akhirnya sampai pada suatu batasan tentang toleransi yang membawa akibat perubahan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat ( Nanang Henri Riyanto 2001 : 114).

Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa sebagian besar penggemar wayang adalah orang tua sedang kaum muda lebih tertarik untuk menonton dangdut, campursari maupun band. Kecenderungan ini tidak lepas dari pola kehidupan sosial serta pergeseran tata nilai yang terjadi pada masyarakat. Menurut Nanang, tingkat pendidikan yang semakin tinggi juga merupakan salah satu hal yang menyebabkan adanya pergeseran tata nilai, karena ada kemungkinan sebagian nilai-nilai terdahulu dianggap tidah sesuai bahkan tidak rasional sehingga lambat laun ditinggalkan (2001 : 115)

Posisi Sawahlunto  yang sangat strategis dan penduduknya yang multi eknis membawa pengaruh budaya luar berkesempatan untuk secara lebih luas berakulturasi dengan kebudayaan setempat. Di sisi lain derasnya arus informasi yang membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam pemenuhan kebutuhan estetis dan hal ini merupakan acnacam bagi keberadaan Wayang kulit  karena salah satu fungsi kesenian ini sebagai hiburan mendapatkan tantangan dengan hadirnya bentuk-bentuk lain yang memiliki fungsi sama.

Tingkat apresiasi masyarakat yang mengalami pergeseran dengan semakin majunya tingkat kehidupan membuat adanya perubahan selera, termasuk diantaranya dibidang hiburan. Pada kelompok masyarakat tertentu bahkan terdapat suatu anggapan bahwa segala hal yang baru dan berasal dari tingkat kebudayaan yang lebih maju dianggap sebagai sesuatu yang baik (Nanang : 2001:115). Heterogenitas masyarakat Sawahlunto dewasa ini merupakan tantangan bagi group Wayang Sawahlunto untuk beradaptasi dan mempertahankan diri.

Perbedaan pandangan dan falsafah hidup yang berbeda adalah faktor yang menjadi kendala utama (Sulebar & Mikka 2001: 1). Budaya Jawa lebih sebagai budaya yang bersifat idealistik. Dalam pandangan ini, inti budaya bukanlah hal yang konkret, melainkan ide dan lambang sebagai inti dari kebudayaan. Sistem gagasan yang berbeda inilah yang menjadikan wayang tidak bisa berkembang di Sawahlunto (2001  : 1)

Popularitas Kesenian Lain

Menurut Nanang tidak dipungkiri bahwa kehidupan sebuah kesenian juga dipengaruhi oleh keberadaan kesenian lain (2001 : 117). Demikian juga halnya kehidupan Wayang Sawahlunto. Kesenian lain yang eksis dan digemari anak muda adalah Seluang Dangdut yang sampai sekarang masih ngetren baik bagi komunitas Jawa maupun Minang.

Antusiasme masyarakat khususnya generasi muda terhadap Saluang dangdut masih sangat besar. Setiap pementasan Saluang Dangdut dimanapun tempatnya selalu dihadiri masyarakat dalam jumlah yang besar.

Disamping Saluang Dangdut juga ada kesenian lain yang masih eksis antara lain : Kuda Kepang, Organ Tunggal, Campursari, Talempong, Salaweh Dulang. Kesenian selain wayang kulit mungkin dianggap lebih murah dan simpel dan dapat mendatangkan banyak orang.

Upaya Pembinaan dan Palestarian

Menurut Umar Khayam, seni dan dalang yang berada di belakang laju jamannya, akan kehilangan status dan fungsinya. Tontonannya sudah tidak mungkin lagi memberikan tuntunan kepada penontonnya. Dalang harus ikut maju tidak saja dalam praktek pedalangannya, tetapi juga dalam memenuhi tuntutan laju pertumbuhan jaman dengan ketiga aspek pokok yaitu Agama-Ilmu Pengetahuan dan Budaya (Umar Khayam: Gatra 1990 : No. 23 hal 8).

Hari depan Wayang Sawahlunto sangat tergantung kepada dalang dan komunitas seninya. Kalau dalang hanya sekedar sebagai praktisis pertunjukan (Pupet shower) tanpa kedalaman masalah-masalah yang terkait dengan Agama-Ilmu Pengetahuan dan perkembangan nilai-nilai kebudayaan, dia tidak bisa menyuguhkan tontonan yang sekaligus sebagai tuntunan. Bagaimana dalang bisa mengarahkan masyarakatnya? Bagaimana bisa menuntun dengan nilai-nilai kebaruan jika dalangnya tidak menguasai materi sebagai bahan tuntunan?

Untuk bisa memberi tenaga dan daya hidup Wayang Sawahlunto harus mereaktualisasi berbagi aspek yang bersifat ripta dan widya (spiritual dan intelektual). Meningkatkan ripta menyangkut peningkatan kualitas rasa yang bisa melibatkan penontonnya dalam berbagai perasaan. Wayang Sawahlunto harus meningkatkan dan mengembangkan performannya baik busana, gerak laku sabet, iringan musik, dan tata pentas. Segi lain adalah hal yang bisa memberi santapan jiwa dengan jalan menggali lagi nilai-nilai agama, etika, filsafat sekaligus mengajak penonton berpikir kritis lewat kritik sosial yang menggambarkan kelemahan manusia, piawai menyampaikan pesan-pesan praktis yang dibawakan panakawan.

Penggunakan bahasa Tangsi untuk mengembangkan ide-ide dan gagasan-gagasan dari wayang sebenarnya sungguh tepat. Hal ini dikarenakan konsep dan nilai merupakan faktor yang menentukan kebudayaan secara keseluruhan Melalui bahasa maka inti kebudayaan sebagai gagasan-gagasan bisa ditransformasikan.

Dari dalam tubuh Wayang Sawahlunto sendiri seharusnya menegaskan dan meneguhkan lagi fungsi dan peranan wayang di dalam masyarakat. Tentunya dengan upaya memperkuat berbagai aspek seni dan aspek sosialnya. Wayang Sawahlunto harus dapat dinikmati berbagai kalangan masyarakat dan pribadi. Peneguhan dan peranan dan fungsi itu antara lain adalah :

  1. Wayang Sawahlunto dikaitkan sebagai sarana Upacara Tradisi. Wayang bukan hanya semata-mata mempunyai fungsi hiburan tetapi juga mempunyai fungsi keagamaan dan tradisi. Mengaitkan lebih erat lagi fungsi wayang dalam upacara daur hidup dan tradisi-tradisi bagi masyarakat Jawa yang masih mempercayainya seperti : khitanan, pernikahan dan upacara kematian, ruwatan, bersih desa dll
  2. Wayang Sawahlunto sebagai sarana Hiburan. Fungsi hiburan ini harus didukung dengan meningkatkan mutu yang tinggi dan memiliki keindahan dalam dramatisasi yang baik dalam menggunakan berbagai suasana dan perasaan seperti kesedihan, kegembiraan, kecerdikan dan kelucuan, dialog dengan menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh semau kalangan masyarakat pendukung atau penontonnya. Sehingga penonton mendapat kepuasan dan kesenangan. Untuk memperluas pangsa pasar  dan menarik generasi muda khususnya bila perlu group wayang Sawahlunto perlu mencoba melakukan kolaborasi dengan kesenian dari kelompok masyarakat lain maupun kesenian yang sedang digemari oleh generasi muda yang ada di Kota sawahlunto.
  3. Wayang Sawahlunto sebagai Media Komunikasi Tradisional. Teater Tradisi Wayang dimana saja sangat ampuh untuk menyampaikan sebuah pesan. Wayang menjadi alat yang ampuh untuk menyampaikan pesan dan informasi. Terutama informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Informasi ini berbentuk dari yang tradisi sampai dengan informasi tentang hal-hal yang bersifat kekinian. Wayang Sawahlunto harus membuka diri untuk bisa dimanfaatkan sebagai media penyampaikan pesan-pesan pembangunan oleh pemerintah setempat bahkan kalau perlu bisa dimanfaatkan untuk media kampanye namun harus tetap menjaga etika dan estetika pergelaran wayang

 

DAFTAR PUSTAKA

Murtiyoso, Bambang

  • “Pertumbuhan Dan Perkembangan Seni Pertunjukan Wayang” Laporan  Penelitian

Nanang Henri Riyanto

  • “Wayang Timplong Nganjuk, Asal usul dan kehidupannya” .Skripsi

Sri Mulyono

1078    Wayang, Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya

Sutopo, FX.HB.

1988    “Teknik Pengumpulan Data dan Model Analisisnya dalam Penelitian Kualitatif”. Makalah Ceramah STSI Surakarta.

Umar Kayam

  • Seni Tradisi Masyarakat. Jakarta : Sinar Harapan.