EKOTJIPTO, lahir di Trenggalek pada tanggal 28 Oktober 1940.  Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jendral Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI) pada masa bakti 1993 -1998. Selain itu ia juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum SENAWANGI pada tahun 1998-2003.  Sarjana Hukum lulusan Universitas Gajah Mada ini terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Pusat dari tahun 2003 sampai 2015.

Ekotjipto belajar mendalang sejak masa sekolah di SMA Surabaya. Waktu Ia kuliah di Yogyakarta, pengetahuan pedalangannya makin matang karena berguru pada Ki Nartosabdo, dalang idolanya. Walau hanya sebatas hobby/non professional Ekotjipto sering kali mendalang semalam suntuk di berbagai wilayah  Indonesia, dimana ia bertugas. Yang paling berkesan bagi lulusan Kursus Reguler Lemhanas angkatan XVII 1984 ini  adalah ketika mendalang di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) dan ketika mendalang pada malam tahun baru 1979 di kantor Bank Indonesia.

Penerima penghargaan Presiden RI Satya Lencana Kebudayaan (1995) ini  meniti karier di Bank Indonesia selama 32 tahun dan pernah menjabat sebagai Kepala Urusan Sumber Daya Manusia Bank Indonesia dan Direktur Bidang Pengawasan Bank. Hubungan dan jaringannya yang luas berhasil meyakinkan dan menggandeng berbagai sponsor swasta mendukung kegiatan pedalangan dan pewayangan.

Ketika menjabat sebagai Ketua Umum PEPADI Pusat Ia giat melakukan konsolidasi organisasi PEPADI dengan melakukan pembinaan pada tidak kurang 22 Komisariat Provinsi dan ratusan Komisariat Daerah Kabupaten/kota PEPADI. Beberapa program unggulan yang efektif untuk pelestarian dan pengembangan seni pedalangan adalah penyelenggaraan berbagai festival seperti Festival Dalang Bocah, Festival Dalang Remaja dan Festival Dalang Indonesia yang diselenggarakan secara berkesinambungan.

Penyelenggaraan berbagai festival ini bertujuan untuk membuat ajang aktualisasi pergelaran dan memotivasi kreativitas seniman pedalangan agar bisa muncul dan semarak secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten, provinsi sampai tingkat nasional. Ajang festival ini juga merupakan upaya regenerasi dan membuat masyarakat terkondisikan dengan kegiatan wayang. Ia berharap kegiatan pewayangan terkondisi dan selalu ada di setiap daerah hingga ke pusat. Programnya untuk memberdayakan sanggar pedalangan dengan menyelenggarakan pelatihan Dwijawara, bekerjasama dengan Kemendikbud.

Ekotjipto juga menggagas program yang sangat strategis untuk internalisasi nilai-nilai wayang kepada anak didik. Idenya adalah memasukkan mata pelajaran wayang ke dalam kurikulum Pendidikan. Modul bahan ajar sebagai materi pengajaran sudah lengkap hanya perlu langkah-langkah diskusi dan penyamaan persepsi akan kemauan antara Kemendikbud dan  PEPADI.

Pada masa kepengurusannya sebagai Ketua Umum PEPADI, Ekotjipto pernah menerbitkan  Majalah Dalang Kumandhang dan Newsletter Warta Pepadi

Sebuah prestasi akbar pernah ditorehkan ketika Beliau memprakarsai Festival Wayang Internasional WWPC (Wayang World Puppet Carnival)  2013 yang dihadiri oleh delegasi 46 negara dengan menggelar 64 pertunjukan. Sebuah event yang layak dicatat dalam sejarah pewayangan Indonesia. Festival ini makin lengkap kesuksesannya  karena mampu menghadirkan Wakil Presiden Budiono untuk membukanya. Gagasan WWPC diawali dengan berbagai diskusi yang melibatkan kalangan akademik (UNPAD, UGM, Airlangga, IKIP Mataram dan USU Medan). Diskusi ini untuk mencari dan mengidentifikasi kendala pengembangan dan pelestarian wayang Indonesia.

Berkat  perjuangan dan ketekunan Pak Ekotjipto yang tak kenal lelah, akhirnya wayang mampu menembus istana negara. Ketika era Presiden Soekarno, istana sering menyelenggarakan pergelaran wayang kulit. Namun Presiden-presiden berikutnya tidak pernah menggelar wayang di istana negara. Atas pendekatannya yang kuat pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono wayang masuk istana lagi. Ki Dalang Purbo Asmoro mampu menahan Bapak Presiden SBY hingga bertahan menonton sampai pagi.  SBY pada waktu itu mengundang semua menteri dan seluruh duta besar negara sahabat. Tentu saja para menteri tidak berani mendahului pulang sebelum Presiden jengkar. Di istana wakil presiden juga pernah diselenggarakan pergelaran wayang dalam rangka Penutupan Festival Dalang Bocah tahun 2012.

Ada beberapa cita-cita yang belum bisa direalisasikan. Ia berharap Pemerintah melalui Kemendagri dan Kemendikbud menerbitkan Peraturan Bersama. Dalam Peraturan atau Instruksi Menteri itu mewajibkan  setiap instansi pemerintah  seperti Gubernur, Bupati, Camat, Lurah untuk melestarikan kesenian tradisi khususnya wayang  setiap peringatan hari besar dan hari kemerdekaan.

Penyantun Dan Pendiri Sekolah SMP dan SMA Terpadu Hasan Munahir di Trenggalek, Jawa Timur ini juga berharap, LPP TVRI Dan LPP RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik memberikan slot time khusus untuk mendukung siaran wayang dengan beaya dibebankan pada APBD/APBN. Keinginan Pak Ekotjipto sederhana namun mulia, Ia ingin menghadirkan wayang di rumah-rumah.